Mendadak Jadi Istri Muda

Mendadak Jadi Istri Muda
Masa lalu


__ADS_3

Awan putih, langit biru, mataharipun bersinar cerah pagi ini, secerah hati Ariana yang berbunga-bunga.


Pagi ini, Ariana sudah tampak berada di taman areal rumah sakit bersama dengan suaminya Orion. Wajah mereka berdua tampak ceria, Orion masih tampak duduk di kursi rodanya, Sedangkan Ariana berdiri dengan lututnya di sisi Orion, Seraya menyuapkan bubur buatannya.


"Kamu harus banyak memakan makanan asin, Supaya tenagaku cepat pulih." Ujarnya seraya menyuapkan sesendok bubur ke dalam mulut Orion. "Makan yang banyak ya, Agar kamu cepat sembuh!"Serunya lagi seraya tersenyum riang.


Mulut Orion terbuka, Menerima suapan dari tangan istrinya, Tetapi matanya tak bisa berhenti mengawasi wajah istrinya yang manis. Baginya istrinya terlihat makin menggemaskan saat bersikap manis. Mana mungkin ia akan sanggup melepaskan gadis manis di hadapannya itu untuk selamanya. Bahkan senyumnya pun sudah menjadi candu baginya, Bisa mencintai dan memilikinya adalah sebuah anugrah bagi Orion.


"Hei..kenapa kamu terus menatapku terus seperti itu, Aku kan jadi malu." Ariana sudah tampak salah tingkah sekarang.


"Aku memandangimu karena kamu cantik!" Kata Orion sembari mengulas senyum mempesonanya.


Deg..!! Jantung Ariana seketika berdenyut lebih cepat, Seolah mengalirkan perasaan hangat ke seluruh tubuhnya, Hingga membuat pipinya kembali bersemu merah.


Kenapa satu kata saja darinya , Dia bilang aku cantik, sudah membuatku begitu bahagia.


"Jangan menggodaku, ini areal rumah sakit, Malu kalo di dengar orang." Kata Ariana dengan setengah berbisik, Lalu kemudian menyuapkan suapan terakhir ke mulut Orion.


"Jadi kamu ingin aku menggodamu dimana? Di kamar begitu maksudmu." Matanya menatap jahil.


"Aiisshh..Aku tidak bilang begitu." Wajah Ariana auto merah bak kepiting rebus.


"Wah..kamu mulai genit ya sekarang, Apa kamu begitu tidak sabar menungguku agar benar-benar pulih." Kini dengan mengeringkan sebelah matanya.


Mulut Ariana menganga, Tak bisa berkata-kata. Ya ampun, apa lagi ini.


"Sudahlah mengaku saja, Kenapa kamu berharap aku cepat pulih, Pasti kamu ingin itu kan?" Tatapan matanya makin menggoda.


Ariana sudah tampak menggigit bibir bawahnya sendiri kuat-kuat. "Balok kayu ada nggak balok kayu?" Ariana mulai memasang wajah kesal sekaligus gemas.


"Untuk apa?"


"Untuk memukulmu,Agar otakmu yang geser bisa kembali seperti semula."


Seketika Orion memasang wajah horor."Itu namanya sih kamu mau membunuhku, kamu tidak serius kan sayang?"


"Haha..tentu saja!"


"Tentu saja apa?"


"Tentu saja aku serius."


"Serius apa, jangan setengah-setengah bicaranya." Orion sudah mulai memasang muka kesal.


"Serius mencintaimu sayang."


Kata cinta dari Ariana kini berhasil membuat pipi Orion gantian bersemu merah.


Cih apa Dia benar-benar sesenang itu mendapatkan pengakuan cinta dariku.


"Katakan sekali lagi, Aku ingin dengar."


"Tidak mau!"


"Ah dasar...hahaha..."


"Hahahaha..."


Pemandangan tentang keharmosinan mereka berdua pasti akan membuat iri kepada siapapun yang melihatnya. Termasuk oleh gadis kursi roda, Yang saat ini tengah menatap lurus ke arah mereka melalui jendela kaca kamarnya.


Mereka seolah sedang pamer kemesraan di hadapanku. Apa boleh aku pinjam kebahagiaan mereka walau hanya sebentar saja.

__ADS_1


******


"Permisi!" Ujar seorang gadis tiba-tiba, Membuat Orion dan Ariana seketika menghentikan gelak tawanya. Pandangannya pun langsung teralih ke asal suara. Kemudia mereka berdua saling tatap sejenak, Mata mereka berdua terlihat bingung. Dan tak lama pandangan mereka kembali pada gadis berkursi roda yang kini tengah hadir di tengah-tengah mereka.


Gadis dengan muka pucat itu pun berusaha tersenyum ceria."Maaf, Kalo kedatanganku telah mengganggu kalian, Sebenarnya aku hanya ingin berkenalan saja dengan kalian, Apa boleh?"


Ah..bukankah itu gadis yang kemarin berpapasan denganku di koridor rumah sakit. Ah kalungku ! Kenapa bisa ada padanya? dan bahkan ia mengenakannya di lehernya.


"Tentu saja, tidak apa-apa, Bukankah begitu Sayang?" Orion bertanya seraya melirik istrinya itu.


"Ah..iya, Tentu saja sayang.hemm.." Memaksa tersenyum, Ariana sedikit tersentak, Karena tadi tiba-tiba saja pandangannya teralih pada kalung yang di kenakan gadis itu.


Apa itu saling memanggil dengan sebutan sayang, Ingin pamer kemesraan di hadapanku rupanya.


Gadis berkursi roda itu pun sedikit mengepalkan tangan menahan rasa kesalnya."Terimakasih kalo begitu, Perkenalkan, Namaku Angel. Senang bisa berkenalan dengan kalian." Memasang senyum ceria yang dipaksa.


"Sama-sama Angel, Aku Orion dan ini istriku Ariana, Kami juga senang berkenalan denganmu." Orion berkata dengan suara datar, Ia hanya berusaha ramah pada gadis itu karena tahu riwayat kesehatan gadis itu yang di fonis tidak bisa bertahan hidup lebih lama lagi.


Jadi gadis itu istrinya, Kenapa tiba-tiba aku jadi merasa tidak suka ya.


"Padahal Aku sering melihatmu Orion, Kita juga sering berpapasan di koridor, Tapi baru kali ini aku memberanikan diri untuk berkenalan langsung denganmu." Kata Angel masih dengan ekspresi memasang senyum inosennya."Dan istrimu tentunya." Sambungnya buru-buru, Berharap Ariana tak curiga padanya. Jelas gadis itu tadi sekilas melirik ke arah suaminya, Seolah sedang meminta penjelasan.


"Tidak apa-apa Angel, Aku tidak keberatan suamiku berkenalan dengan gadis lain, Karena aku percaya bahwa cinta suamiku hanya untukku." Ujar Ariana akhirnya, Seolah menyadari ada gelagat kurang baik dari gadis yang sok lugu di hadapannya ini.


Cih..apa katanya. Suami..rupanya ia ingin aku tahu posisinya, Tidak apa-apa, Aku senang bermain sandiwara, Sudah lama sekali rasanya aku tak bersemangat seperti sekarang ini. Angel.


Aku ingin tahu, Apa rencanamu gadis licik, Kamu menemukan kalungku, Tapi tidak mengembalikannya padaku dan kini malah sengaja mengenakannya di hadapan kami, Jelas pasti kamu punya rencana. Aku tahu itu.' Ariana.


"Ariana sepertinya kamu sangat beruntung bisa menjadi istri dari seorang Orion, Dia itu sangat tampan dan juga baik sepertinya." Lagi-lagi tersenyum inosen.


Kenapa? Kamu iri?


"Ah iya..Ariana kamu juga gadis yang sangat manis sekali, Kamu cocok dengan Orion. Kalian memang pasangan yang serasi."


Hahaha..baru tahu ya!


"Iya..Orion itu baik sekali padaku, Dan dia bersikap manis hanya padaku saja." Jelas Ariana terdengar berlebihan, Ia merasa sedang tidak aman.


Huek..Rasanya aku ingin muntah mendengarnya. Dasar gadis aneh. Kamu hanya beruntung ,Itu saja. Tidak lebih.


Kini Orion hanya bisa mematung,Melihat kedua gadis di depanya bercakap saling memuji, Tapi matanya seolah memendam kekesalan di hati masing-masing.


"Benarkah? Aku harap Orion juga bisa bersikap manis padaku." Tersenyum tanpa dosa lagi "Eh..maaf, Aku hanya bercanda, Jangan anggap serius ya." Lanjutnya buru-buru.


Coba saja kalo berani, Bercandamu tidak lucu nona.


"Wah..wah..kalian baru kenal tapi bisa akrab begitu." Ujar Orion memecah kecanggungan yang sejenak terjadi tadi.


Kemudian kedua gadis itu seketika menatap horor ke arahnya.


Ah..apa aku salah bicara?


"Baiklah aku tak akan ikut bicara." Ujar Orion akhirnya.


"Oh iya Orion, Aku ingin memberikan sesuatu padamu."


"Apa?"


"ini." Angel menyerahkan sebuah bola kaca hias salju miliknya pada Orion. Kebetulan sekali Orion sangat penasaran dengan benda itu, Sekarang ia bisa dengan mudah untuk memeriksa apakah benda itu benar-benar yang pernah ia berikan pada seorang gadis keci di masa lalu.


"Itu kan milikmu, Kenapa tiba-tiba ingin memberikannya padaku?" Orion mengeriyitkan dahinya, merasa bingung tapi sekaligus penasaran juga.

__ADS_1


Sekarang giliran Ariana terdiam mematung, Melihat percakapan antara suaminya dan Angel. Serasa jadi manusia transparan karena tiba-tiba seolah tak terlihat.


Dasar genit, Berani-beraninya menggoda suamiku di hadapanku. Berasa pingin gigit tangan orang.


"Tidak apa-apa, Ambilah, Lagipula hidupku tidak akan lama lagi, Aku senang jika ada seseorang yang memilikinya."


"Iya..tapi kenapa ingin kamu berikan padaku? maaf aku tak bisa menerimanya."


"Kenapa?"


"Karena aku ingin menghargai perasaan istriku."


Deg...!! Kenapa ini rasanya sakit sekali, Hiks. Angel.


Sayang..Aku terhura, Eh salah..terharu. Huhu. Ariana.


"Ah..begitu ya, Maaf aku hanya tadi terbawa suasana. Aku pikir kamu mau menerimanya, Karena benda ini beharga untukku, Jadi aku ingin menyerahkannya pada seseorang yang aku su..ka..i." Suara Angel terdengar ragu saat mengucapkan kalimat terakhirnya.


Ah..gadis ini, Apa Dia benar-benar menganggapku tidak ada, Padahal aku jelas terlihat disini. Tapi masih berani mengatakan hal itu pada suami orang. Meskipun hidupmu tak lama lagi, Seharusnya kamu jangan membuang rasa malumu. Setidaknya pikirkan perasaan orang lain.


******


Epilog


Saat itu, lima belas tahun yang lalu, Seorang gadis kecil usia sekitar 4 tahun tertidur lelap di gendongan Ayahnya, Kepalanya tersandar di bahu ayahnya. Gadis kecil itu baru saja di temukan Ayahnya di sebuah taman karena sebelumnya sempat menghilang. Saat menemukan putrinya, Pria itu melihat putrinya tampak asik dengan anak laki-laki yang lebih tinggi darinya sedang berusaha menghibur putri kecilnya.


Lalu pria kecil tersebut memberikan sebuah bola kaca hias salju pada sang gadis kecil tersebut.


Tanpa terasa Saat gadis kecil itu tertidur di gendongan Ayahnya. Ia menjatuhkan bola kaca salju yang ada di genggaman tangannya ke atas jalanan berumput.


Kemudian bola kaca tersebut di pungut oleh seorang pria dewasa. "Benda apa ini? Wah sepertinya ini bagus sekali, Aku akan berikan pada putri kecilku, Pasti Dia akan menyukainya." Tersenyum seraya berjalan menuju putri kecilnya yang sedang bermain di taman bersama Ibunya.


"Sayang, Ayah punya sesuatu untukmu!" Ujar pria dewasa tersebut pada seorang gadis cilik yang sekarang ada di hadapannya, Yang tak lain dan tak bukan adalah putrinya sendiri. "Ta..da..!" Lanjutnya seraya mengacungkan benda yang di bawanya ke hadapan putri kecilnya.


"Wah..bola salju." Mata anak kecil itupun seketika berbinar. Kemudian tanpa aba-aba langsung menghambur ke pelukan Ayahnya.


"Apa kamu suka?" Ujar Pria dewasa itu seraya mengelus lembut kepala putrinya.


"Hem..Iya, Aku suka Ayah."


"Bagus..Kalo kamu suka jangan susah makan lagi ya!"


"Ibu..aku mau habiskan makananku." Ujar gadis kecil itu pada Ibunya yang sedang membawa sepiring makanan untuknya. Tadi mereka sengaja mengajak anak mereka ke taman agar mau makan.


"Nah..begitu dong anak manis." Kata sang Ibu seraya menyuapkan makanan ke mulut putrinya.


"Aaaa..Ya yang lebar..nah begitu makannya yang lahap, Itu namanya baru anak pintar."


"Angel mau kemana?" Teriak sang Ayah, Saat mendapati putrinya tiba-tiba berlari ke tengah jalan mengejar bola kaca salju yang terjatuh dari tangan kecilnya dan menggelinding ke tengah jalan.


"Angel awas!!!!" Sang Ayah berlari secepat mungkin, Kemudian ia mendorong tubuh putrinya ke sisi jalan untuk menghindari mobil yang nyaris saja menabraknya , Dan akhirnya sang Ayahlah yang tertabrak mobil tersebut.


Tak lama kemudian sudah banyak orang berkerumun untuk melihat keadaan pria yang baru saja tertabrak mobil tersebut hanya karena ingin melindungi putri kecilnya.


"Ayah..hiks..hiks.." Angel kecil nampak menangis sesenggukan di pelukan Ibunya. Tak di sangka Ayahnya pun pergi untuk selamanya.


Sejak saat itu, Bola kaca hias salju itu sudah menjadi benda beharga bagi Angel, Itulah sebabnya Angel selalu membawa benda tersebut kemanapun ia pergi. Karena menurutnya itu adalah benda pemberian Ayahnya yang berharga sebelum Ayahnya menghembuskan nafas terakhirnya.


Bisa di simpulkan, gadis kecil yang terlelap di gendongan Ayahnya adalah Ariana versi kecil. Dan Gadis kecil yang kehilangan Ayahnya adalah Angel versi kecil.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2