
Sepulang dari kantor polisi. Ariana dan Orion bergegas menuju rumah sakit jiwa untuk menjenguk Ibu Angga yang sedang di rawat disana. Tapi sayangnya Jam besuk sudah usai. Orion dan Ariana terpaksa harus menunggu hari esok untuk kembali menjenguknya.
Di tengah perjalanan. Tiba-tiba saja Ariana meringis kesakitan seraya memegangi perutnya yang tiba-tiba kram. Melihat itu wajah Orion seketika terlihat panik. Ia pun segera menepikan mobilnya ke tepi jalan yang tidak terlalu ramai.
"Ariana sayang. Kamu kenapa? Kamu sakit apa? Apa perlu kita ke dokter sekarang juga!" Serbu Orion dengan wajah paniknya.
"Entahlah, Tapi perutku rasanya melilit sekali. Sepertinya Aku akan segera kedatangan tamu bulanan?" Masih dengan meringis kesakitan.
Segera Orion mengeriyitkan dahinya. Menatap bingung pada Ariana. Bagaimana bisa kedatangan tamu tapi malah membuatnya kesakitan.Lagipula tamu apa yang di maksudnya? Orion masih berputar-putar dengan pikirannya sendiri.
"Tamu? tamu apa masudmu?" Akhirnya rasa penasarannya terlontar juga dari mulutnya.
Ariana tersenyum geli. Jadi Dia tidak tahu istilah itu? Hahaha dasar payah.
"Tamu bulanan itu maksudnya Menstruasi Orion. ltu kan pelajaran dasar waktu di sekolah."
"Ooohhh..Jadi maksudmu itu. Kenapa tidak katakan saja dari awal kalau kamu akan mens..mens..Hah..apalah itu. Merepotkan sekali menyebutkannya."
"Menstruasi Orion." Ujar Ariana dengan suara lembut.
"Ya..terserah apalah itu. Apa lagi tadi pakai istilah kedatangan tamu bulanan. Mana aku tahu kalo ternyata maksudnya itu." Sungut Orion merasa bodoh.
Ariana kembali tergelak melihat ekspresi Orion yang tampak lucu." Orion..Aku boleh minta tolong nggak. Sepertinya 'itu' ku sudah keluar. Aku takut tembus. Tolong belikan pembalut untukku. Mau tidak?"
"Hei..bicaralah yang benar. Aku tidak mengerti maksudmu?"
Lalu Ariana segera membisikkan sesuatu pada Orion. Memberitahukan kalo darah menstruasinya sepertinya sudah keluar. Ia harus segera mendapatkan pembalut. Kalo tidak maka darahnya akan mengalir kemana-mana.
Seketika Orion membelalakkan matanya. "Hah..apa. Masa' sampai seperti itu. Tapi aku kan pria. Apa tidak apa-apa aku membeli membeli pembalut?" Sambung Orion terdengar ragu. Tapi ia juga tak tega melihat wajah Ariana yang semakin pucat. Apa lagi mereka belum sempat makan siang tadi. Ia berharap urusan ini cepat selesai. Agar mereka bisa segera pulang ke rumah dan beristirahat.
*****
Orion segera melajukan mobilnya ke minimarket terdekat. Memarkir mobil. Dan segera berlari menuju ke dalam mini market.
Ia terlihat tampak canggung. Karena seumur hidupnya baru pertama kali ini ia harus membeli pembalut. Jadi ia tak tahu rupa pembalut itu seperti apa.
__ADS_1
Karena takut salah beli. Akhirnya dengan berat hati ia terpaksa menanyakan pembalut yang ia maksud pada sang kasir.
"Ih..ganteng-ganteng beli pembalut.hihihi." Ujar sang kasir yang merupakan wanita itu pada seorang kasir lainnya yang juga seorang wanita.
"Hihihi..untuk apa dan untuk siapa ya kira-kira ia membeli pembalut?"
"Mungkin untuk istrinya."
"Ah..tapi ia terlihat masih sangat muda. Mana mungkin buat istrinya. Mungkin buat pacarnya." Kasir Mini market itu malah asik bergosip sembari mencarikan pembalut yang di maksud Orion.
"Ah..semoga saja Dia tidak menggunakannya untuk hal yang aneh-aneh."
"Aneh-aneh yang bagaimana maksudmu?"
"Ya..semoga saja Dia tidak menggunakannya untuk mabuk."
"Hahaha..ada-ada saja kamu. Memangnya ada yang seperti itu. Hahaha."
Orion melirik tajam pada kedua kasir yang diam-diam menggosipkannya. Walaupun berkata dengan suara lirih seperti orang berbisik. Tetap saja Orion masih bisa mendengarnya.
"Berapa semuanya?" Ujar Orion saat barang belanjaanya sudah selesai di kemas. Tadi Ia tak lupa mengambil beberapa roti dan air mineral untuk Ariana.
"Mbak kasir yang cantik. Eh..tapi saya bohong. Hehe. Kalian berdua akan terlihat cantik kalo kalian bisa menjaga lidah kalian. Mengerti." Uajr Orion sarkas. Ia tak bisa menahan diri lagi.
Wajah dua kasir itupun menjadi memerah karena malu. Ia tak menyangka kalo Orion ternyata mendengar percakapan mereka tadi.
"Maaf kan kami, kalo kami sudah membuat anda tersinggung."
"Ya..aku maafkan. Tapi jangan di ulangi lagi. Kalian ingin tahu kan aku membeli pembalut ini untuk siapa? Kenapa tidak tanyakan saja langsung padaku dan kenapa malah berbicara yang tidak-tidak. Asal kalian tahu. Aku membeli pembalut ini khusus untuk istri tercinta ku. Terimakasih atas bantuanya tadi." Orion berkata sambil menatap tajam pada kedua kasir yang kini tampak tertunduk itu. Kemudian ia menuju pintu dan keluar.
"Ternyata benar untuk istrinya. Oh..ya ampun. Dia itu selain tampan. Ternyata sweet juga." Ujar seorang kasir yang terlihat kagum pada Orion. Dan temannya hanya mengangguk mengiyakan.
******
Sesampainya di Rumah. Ariana sudah terlihat seperti orang setengah pingsan. Wajahnya terlihat sangat pucat dan badannya pun terlihat lemas.
__ADS_1
Orion segera menurunkan Ariana dari mobil dengan membopongnya masuk ke dalam rumah. Lalu dengan hati-hati meletakkan tubuh mungil gadis itu di atas sofa ruang tamu.
"Wajahmu pucat. Dan badanmu sedikit demam. Apa kamu selalu seperti ini setiap kali menstruasi?" Ujar Orion seraya meletakkan punggung tangannya di dahi Ariana." Ini..minumlah!" Orion sudah tampak membuka tutup botol minuman mineral dan segera memberikannya pada Ariana.
"Apa kamu sudah enakan sekarang?" Tangannya dengan sigap menghapus sisa-sisa air yang masih menempel di bibir Ariana.
"Terimakasih Orion. Aku sudah agak enakkan sekarang. Itu semua berkat dirimu!" Memaksa tersenyum walaupun badannya masih terasa lemah. Satu tangannya ia letakkan di pipi Orion. Berharap bisa menghilangkan kecemasan di raut wajah suaminya itu.
Orion segera meraih tangan Ariana yang di letakkan di pipinya. Kemudian ia malah menciumi punggung tangan istrinya bertubi-tubi. "Tahukah kamu..Aku sangat kawatir tadi. Aku takut terjadi sesuatu padamu." Orion menatap wajah Ariana dengan tatapan lembut.
Ariana tersenyum. "Aku senang sekali. Akhir-akhir ini sikapmu begitu manis padaku. Padahal dulu kamu kan membeciku. Iya kan?"
Dulu kamu suka mengataiku gadis ceroboh. Payah, kampungan. Dan masih banyak lagi makian yang lainnya.
"Apa kamu merasa dendam padaku dengan sifat burukku dulu padamu?"
Ariana hanya menjawab dengan menggeleng pelan. Dari awal ia tak pernah membenci Orion. Hanya kesal saja. Sedikit. Tapi tidak sampai dendam.
"Apa kamu mau tahu kebenaran yang sebenarnya?" Orion mengelus kepala Ariana lembut. Kemudian ia berusaha melepaskan jilbab yang di kenakan Ariana. Setelah itu berusaha merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Kebenaran apa?" Ujar Ariana dengan suara lemah. Biasanya saat menstruasi ia tak separah ini. Tapi mungkin karena tadi di picu juga oleh telat makan. Jadi kondisi badannya benar-benar drop sekarang.
Orion masih mengelus rambut Ariana dengan lembut. "Sebenarnya Aku sudah menyukaimu dari awal kita bertemu. Tapi aku bingung karena kamu mengaku sebagai istri muda Ayah. Dan Aku sengaja mengulur waktu untuk menyelidikimu agar aku bisa terus bisa melihatmu. Apa kamu percaya itu? Lalu bagaimana denganmu?" Akhirnya apa yang di rahasiakannya sendiri dalam hati selama ini. Kini terunggkap sudah.
Jadi Orion sudah menyukaiku dari Awal. Sebenarnya Aku juga merasakan hal yang sama.
"Aku percaya. Karena aku juga merasakan hal yang sama. Hehe"
"Haiiss..jawaban macam apa itu. Aku cerita panjang. Kamu hanya copy paste saja." Mengacak rambut Ariana lembut.
Sesaat keadaan menjadi hening. Di luar terdengar rintik hujan mulai berjatuhan di atas genting.
Dua insan tersebut seolah terbawa suasana malam yang semakin larut. Di iringi pula oleh rinai hujan yang semakin deras.
Wajah Orion perlahan mendekat ke wajah Ariana. Kini bibir mereka bertemu. Mata mereka sama-sama terpejam menikmati ciuman yang panjang dan berlangsung lama di malam yang dingin itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
jangan lupa like dan vote nya ya kakak2 pembaca. Kasih bintangnya juga kalo bisa 😁. terimakasih 😊