
Tampak seorang pria paruh baya sedang berbincang ringan dengan pria yang lebih muda darinya. Di ruang keluarga. Seraya bermain catur. Sesekali mereka tampak tertawa-tawa. Entah apa yang mereka bicarakan.
"Apa kamu tidak berlebihan Jason ?" Ujar Pria paruh baya yang tak lain adalah Pak Alvian.
Yang di ajak bicara hanya nyengir kuda." Aku rasa tidak Tuan. Ini kan harinya mereka. Aku hanya membuat agar mereka bertindak yang seharusnya. Itu saja. Ya mungkin dengan cara yang sedikit konyol. Hehe."
"Memang apa saja yang kamu rencanakan?"
"Emm..tidak banyak. Hanya seperti mengganti remot pendingin ruangan dengan remot penghangat ruangan. Ya..yang begitu-begiitulah. Aku rencanaka agar semuanya seolah berjalan secara natural."
"Haha..kamu ada-ada saja Jason. Semoga rencanamu berhasil. Nanti aku akan memberimu bonus." Ujar Pak Alvian terlihat senang.
"Terimakasih Bos."
*******
Orion mau tidak mau harus memakai boxser dan singlet saja. Apa boleh buat. Hanya itu baju ganti yang tersedia di lemari. Sedangkan pakainya yang sebelumnya sudah basah dengan keringat. Dan celananya juga basah dengan air yang tiba-tiba mengucur di kamar mandi tadi.
Dengan santai ia melewati Ariana di kamar tidur setelah berganti pakaian di kamar mandi. Orion merasa sangat mengantuk. sehingga ia lupa kalo ada penghuni lain di kamar hotel itu selain dirinya.
"Aaaa..! Orion..Apa yang kamu lakukan. kenapa kamu hanya mengenakan itu?" Seru Ariana. Berteriak sambil menutup matanya sendiri.
Orion melihat ke arah dirinya sendiri. kemudian merasa malu. Ia benar-benar lupa dengan keberadaan Ariana.
Oh..Ya ampun. Kenapa aku ini ceroboh sekali sih.
"Memangnya kenapa. Mau berpakaian seperti apa suka-suka aku lah." Ujar Orion sambil berlalu dari hadapan Ariana. Ia pergi ke kamar mandi dan mengambil handuk untuk di lilitkan ke pinggangnya.
"Kenapa dia harus teriak-teriak seperti itu sih. Memangnya kenapa kalo aku hanya pakai boxer. Oh, ya ampun merepotkan sekali." Bergumam pada diri sendiri.
Tak lama kemudian Orion keluar dari kamar mandi. Wajahnya masih memerah karena malu. Tapi tetap saja ia akan berpura-pura sok cool.
"Hei..Kenapa kamu masih menutup matamu seperti itu? Atau jangan-jangan kamu ingin melihat yang lebih menegangkan lagi ya?" Ujar Orion seraya tersenyum jahil.
Ariana membuka matanya perlahan. "Haaahh..apa-apan sih kamu ini. Tadi bikin kaget saja."
"Kamu sendiri apa-apaan. Kenapa berpakaian seperti itu. Kamu sengaja ingin menggodaku ya? Iya kan?" seraya menatap Ariana dengan senyum nakal.
"Emm..tidak. Siapa yang mau menggodamu. Aku hanya menemukan baju ini di lemari." Wajah Ariana tampak mulai kawatir.
"Ah..masa' sih." Goda Orion lagi sambil melangkah ke arah Ariana.
"Hei..apa yang akan kamu lakukan?" Bahkan sekarang tubuhnya sudah mulai gemetar.
Orion.menghentikan langkahnya. Ia terlihat senang ketika melihat wajah Ariana yang ketakutan seperti itu.
"Memangnya apa yang kamu pikirkan?" Ujar Orion seraya tertawa geli. "Apa kamu mau melakukan itu sekarang juga?"
__ADS_1
Tiba-tiba wajah Ariana berubah merona merah mendengar ucapan Orion. "Emm..Aku..."Merasa ragu untuk menjawab.
"Kalo aku nggak." Ujar Orion Datar.
Kenapa dia bicara seolah-olah jadi aku yang menginginkannya. Memangnya siapa yang mau melakukan itu. Aku juga nggak mau kok. Ariana.
"Kita kan masih terlalu muda. Aku ingin melakukanya saat kita benar-benar siap nanti." Ujar Orion lagi. Sekarang mukanya berubah serius. Tidak terlihat main-main lagi.
"Aku juga berfikir seperti itu." Ariana menambahkan.
Aku juga tidak ingin terburu-buru. Baguslah kalo Orion juga berfikir seperti itu.
"Kamu tuh ya. Selalu saja copypaste kata-kata ku." Dengus Orion kesal.
"Tidak..siapa? Memang aku juga berfikir begitu juga kok." Ujar Ariana berusaha membela diri.
Kemudian hening sesaat. Orion melirik Ariana. Sebenarnya melihat Ariana berpakaian seperti itu. Ia takut tak bisa menahan diri.
"Hei..Kenapa kamu tak menutup tubuhmu dengan sesuatu. Kamu pikir kamu bagus memakai baju seperti itu. Cepat sana cari penutup." Ujar Orion sedikit ketus. Ia kembali lagi seperti biasanya.
"Ehh..Iya. baiklah." Ariana merasa sedikit gugup.
"Oh..ya ampun. Gerakanmu lamban sekali. Kalo lama-lama melihatmu dengan pakaian seperti itu nanti mataku bisa sakit."
Apa sih dia itu. Kenapa kembali marah-marah seperti itu. Ku rasa bukan matamu yang sakit. tapi otakmu yang sakit. Lagipula dimana aku bisa menemukan kain penutup.
Masih ada satu lagi. Lebih baik ku berikan pada Orion saja.
Ariana sudah tampak mengenakan handuk kimono saat kembali ke hadapan Orion. Kemudian menyerahkan handuk kimono yang satunya lagi pada Orion.
"Nah..Begitu kan bagus..Apakah yang satunya ini untukku?" Seraya meraih handuk dari tangan Ariana." Baiklah aku akan memakainya." Sambungnya lagi. "Hei..berbaliklah. Apa kamu sengaja ingin melihatku melepaskan handuk yang kupakai ini?"
"Ya..baiklah. Bawel sekali." Ariana membalikkan badanya. Sedangkan Orion. Melepas handuk yang melilit di pinggangnya kemudian mulai mengenakan handuk kimono yang sudah ada di tangannya.
"Apa kamu sudah selesai? Aku sudah mengantuk nih mau tidur."
"Ya aman. Aku sudah selesai memakainya. jadi kamu mengantuk. Kalo ngantuk ya pergi tidur sana."
"Tapi aku tidur dimana?" Ujar Ariana yang sekarang menghadap ke Orion.
"Tidur di tempat tidurlah. Kecuali kamu ingin tidur di lantai." Ujar Orion asal.
"Kamu saja yang di lantai. Atau nggak di sofa sana. Kamu kan cowok."
"Enak saja. Kenapa aku yang harus tidur di sofa. Kamu saja sana tidur di sofa." Ujar Orion seraya merebahkan dirinya sendiri di kasur. "Apa kamu sengaja ingin tidur disini juga bersamaku?" Lanjutnya seraya menyeringai nakal.
Hiihh..menyebalkan sekali. Kenapa sih dia itu kan cowok.kenapa nggak mau mengalah. Ya..Baiklah aku tidur di sofa saja.daripada tidur dengan manusia berhati dingin ini.Huft.'
__ADS_1
"Ya..baiklah. Karena aku waras jadi aku mengalah saja tidur di sofa." Seru Ariana seraya mengambil sebuah bantal dari sisi Orion untuk di bawanya ke sofa. Tapi entah kenapa tiba-tiba sesuatu membuatnya tersandung dan akhirnya tubuhnya jatuh menindih tubuh Orion. Bukan hanya itu saja. Sekarang bibirnya pun menempel pada bibir Orion.
Sejenak keduanya sama-sama kaget dan tertegun. Mata Ariana membulat tak percaya. Kemudian buru-buru bangkit berdiri. perasaanya sudah campur aduk sekarang.
"Maaf..aku..ti.dak sengaja tadi." Ariana terbata karena gugup.
Orion tersenyum senang. Seraya menyentuh bibirnya sendiri yang tadi tanpa sengaja di cium oleh Ariana.
"Kenapa harus minta maaf." Ujar Orion dan sekarang ikut berdiri di samping Ariana. Ariana belum berani menoleh dan takut melihat mata Orion.
Orion menyentuh bahu Ariana. Ariana merasa sedikit tersentak. Kemudian Orion membalikkan tubuh Ariana untuk menghadap ke arahnya. Ariana masih tampak menunduk. mungkin mukanya saat ini sudah mirip udang rebus. Merah merona karena malu.
" Setidaknya boleh kan kalo kita belajar berciuman. Aku akan mengajarimu." Ujar Orion seraya mengangkat dagu gadis itu dengan jari-jarinya. Kemudian mulai mendekatkan wajahnya pada Ariana. Bibirnya kini telah mencium bibir Ariana dengan lembut. Karena Ariana tidak pernah berciuman. Ia malah merapatkan bibirnya seraya memejamkan mata. Orion terus mendesak bibir Ariana agar bibir gadis itu mau terbuka. Dengan sedikit gigitan kecil. Kini bibir Ariana terbuka. Ciuman itu berlangsung lama. Seolah-olah Orion sedang menyalurkan perasanya yang sebenarnya.
Sedangkan Ariana. Entah kenapa ia pun tidak menolak. Ia membiarkan Orion mencium bibirnya. Kini bibir Orion mulai menyusuri telinga dan leher Ariana. Ariana pun mulai panik. Bukankah tadi katanya hanya belajar berciuman. Lalu kenapa ini. Begitu pikirnya. Entahlah. Tiba-tiba saja Orion ingin melakukannya. Ia hanya mengikuti instingnya. ini juga yang pertama kali baginya. Sebelumnya saat dengan Anesya hanya berciuman di bibir saja.
Orion terus saja menyusuri leher Ariana hingga ke bahunya. Ia sempat membuat tanda merah di bagian leher Ariana.
Setelah itu Orion sekuat tenaga berusaha menghentikan permainannya sendiri. la tak ingin terbawa suasana dan hal yang tak di inginkan terjadi. Ia ingin melakukan hal yang lebih ketika nanti ia benar-benar telah mengetahui perasaan gadis itu padanya. Saat mereka berdua sama-sama telah jatuh cinta.
"Maaf, maafkan Aku tadi berlebihan." Ujar Orion terdengar tulus.
"Iya..tidak apa-apa." Ariana masih tampak malu-malu.
"Tidurlah disini. Aku janji tidak akan macam-macam. Kita beri pembatas oke. Bagaimana menurutmu?"
"Ya, baiklah. Sepertinya itu ide yang bagus." Ujar Ariana seraya tersenyum.
" Ya, baiklah. Ayo kita tidur. Aku sudah sangat mengantuk sekali nih." Orion mengambil posisi di ranjang yang sebelah sana. Agar di sisi di tempat mereka berdiri bisa di tempati oleh Ariana.
Orion dan Ariana sudah tampak memasang pembatas dan terbaring di tempatnya masing-masing.
Mereka tidur saling memunggungi. Ariana tampak senyum-senyum sendiri mengingat kejadian tadi. Ia juga tidak tahu. Kenapa tadi ia tak bisa menolak. Semua mengalir begitu saja.
Sedangkan Orion juga sama seperti Ariana. la belum tidur. Masih mengingat kejadian tadi. Entah kenapa perasanya begitu bahagia. bahkan gadis itu tak menolaknya ketika ia menciumnya. Begitu pikirnya.
Hari sudah sangat larut. Tapi mereka sama-sama belum bisa memjamkan matanya.
"Hei..Ariana. Apa kamu sudah tidur?" Ujar Orion seraya membalikkan badanya menghadap gadis itu.
melihat tak ada respon. Orion mengalihkan bantal guling yang di jadikan pembatas.
Untuk memastikan gadis itu sudah tidur atau belum. Ia menoel pipi gadis itu lembut. Kemudian ia tersenyum sendiri. Tanpa pikir panjang ia melingkarkan tangannya ke tubuh Ariana. Kini ia tidur dengan memeluk gadis itu.
Sebenarnya Ariana hanya pura-pura tidur sejak tadi. Ia tidak ingin Orion melihat wajahnya yang merah padam karena kejadian tadi. Sekarang ia merasa terkejut mendapati Orion tidur dengan memeluknya. Karena tak ingin membangunkan Orion akhirnya ia pun ikut tertidur pulas.
BERSAMBUNG...
__ADS_1