Mendadak Jadi Istri Muda

Mendadak Jadi Istri Muda
Masalalu Alfian dan Samanta


__ADS_3

"Jadi..., yang di katakan Aska...," Orion masih belum hilang rasa keterkejutannya. Ia masih memandang ayahnya dengan tatapan tak percaya.


"Nanti saja ayah ceritakan. Saat ini yang terpenting kita harus mengejar Aska terlebih dahulu!" Sahut pak Alfian seraya melangkah keluar kamar dengan tergesa.


Meskipun Orion masih merasa kebingungan, akhirnya ia memutuskan untuk tetap mengikuti langkah ayahnya keluar kamar.


"Kita harus temukan adik mu secepatnya, sebelum dia jauh!" Kata pak Alfian yang sudah ada di dalam mobil, dan Orion juga sudah ada di belakang kemudi siap menginjak pedal gas dan mobilpun melesat pergi.


"Anak itu merepotkan sekali, naik apa dia melarikan diri!" Keluh Orion saat mobilnya sudah mulai melaju di jalan raya membelah ramainya jalanan ibu kota. Matanya mengawasi jalanan dengan seksama. Begitupun dengan ayahnya yang dengan teliti mengamati setiap mobil yang melintas di sisinya.


Kemudian mata Orion seolah sedang berpikir sejenak. "Oh..., aku tahu, pasti dia pergi ke rumah besar itu!" Ucap Orion dengan antusias. Ia pun segera menaikan kecepatan mobilnya.


Ayahnya yang duduk di sampingnya, menatapnya dengan mengangkat sebelah alis merasa bingung, "Rumah?"


"Iya..., yah, tadi siang aku melihatnya ada di sebuah rumah besar di jalan.Arteri bersama dengan seorang wanita paruh baya." Jelas Orion dengan mengalihkan pandangannya dari jalanan sejenak. Dan hampir saja ia menyerempet mobil lain yang ada di depannya kalo saja ia tak buru-buru menghindar.


"Fiuuhhh..., hampir saja!" Orion menghembuskan nafas lega.


"Hati-hati nak, itu bahaya sekali tadi!" Pak Alfian berusaha mengingatkan.


"Iya yah!" Jawab Orion singkat dan pandangannya kembali fokus ke jalanan.


******


"Ini rumahnya?" Seru pak Alfian saat mobil yang di kendarainya bersama Orion berhenti tepat di depan sebuah rumah besar yang tampak tak terawat. Ia memiringkan kepalanya untuk mengintip keluar.


"Iya, tadi siang aku melihat Aska ada di rumah ini?" Sahut Orion seraya melepas sit bell nya. Saat ia hendak akan turun dari mobil, tiba-tiba tangan ayahnya mencoba mencegahnya. Orion menatap ayahnya bingung. Kemudian mulai mengikuti arah pandang ayahnya. Dan sekarang ia mengerti.


Pak Alfian dan Orion berpandangan sejenak. Mereka baru saja melihat Aska yang mulai memasuki rumah itu. Dan sepertinya rumah itu juga di jaga dengan sangat ketat. "Kita harus punya rencana nak, ini terlalu berbahaya untuk kita!"


"Lalu apa rencana ayah sekarang?" Orion tampak menunggu.


"Lebih baik kita pulang dulu, biarkan untuk sementara waktu dia disini, setidaknya kita tahu kalo Aska baik-baik saja, dan aku yakin Samanta tidak akan menyakiti anak kandungnya sendiri!" Tanpa ingin banyak bertanya lagi, Orionpun akhirnya hanya mengangguk. Ia pun segera menyalakan mesin mobilnya kembali, lalu segera pergi dari sana.

__ADS_1


"Sebenarnya, apa hubungan ayah, dengan wanita bernama Samanta itu? Dan juga ayah kandung Aska?" Sempat di Liputi keheningan. akhirnya Orion tak tahan lagi untuk mengutarakan rasa penasarannya. Saat ini mereka masih berada di jalanan menuju pulang.


"Sebaiknya kita berhenti di sebuah cafe, biar ayah menceritakannya disana."


"Baik yah!" Sahut Orion menurut, dan ia ingat kalo di ujung jalan yang sedang mereka lalui itu ada sebuah cafe kecil yang terletak di sisi kanan jalan. Orion pun segera melajukan mobilnya ke sana.


Dherrtt...Dherrtt...


Tiba-tiba Hp Orion bergetar saat mobilnya tepat berhenti di halaman cafe. Ia pun segera merogoh saku celananya, kemudian memencet tombol hijau untuk mengangkat sambungan telepon yang masuk.


"Halo, sayang, kamu ada dimana?" Suara seorang wanita di ujung telepon sana terdengar panik. Dan Orion malah terkekeh kecil. Seolah pertanyaan Ariana istrinya itu terdengar lucu di telinganya.


"Kenapa? Kangen ya?" Goda Orion masih dengan terkekeh. Dan bersamaan dengan itu ia menoleh ke arah ayahnya, seketika ia sadar, saat ini ia sedang tidak sendiri. Padahal ia masih ingin menggoda istrinya.


"Aku sedang sama ayah di luar, nanti sejam atau dua jam lagi kami pasti pulang." Jawab Orion dengan nada sebiasa mungkin. Tiba-tiba ia merasa canggung dengan sang ayah yang tanpa sengaja mendengarkan rayuannya terhadap istrinya tadi.


"Yasudah ya, bye, assalamualaikum!" Ujar Orion lagi mengakhiri panggilan teleponnya.


"Nanti saja di rumah, sudah ya!" Orion pun segera mematikan sambungan telponnya dengan muka memerah menahan malu. Sedangkan Ariana tertawa cekikikan di tempatnya berada.


Huh..., ada-ada saja. Di saat seperti ini...Gumam Orion lirih.


******


Orion dan ayahnya sudah tampak di dalam cafe, mereka duduk di salah satu meja dan duduk berhadap-hadapan. Di hadapan mereka berdua juga sudah tampak tersedia dua cangkir kopi hangat yang mereka pesan sebelumnya.


Pak Alfian menyeruput kopinya yang masih tampak penuh, sedangkan Orion hanya mengaduk-aduk kopinya dengan sendok kecil di tangannya. Ia masih tampak menunggu cerita dari ayahnya yang dari tadi belum juga membuka suara dan membuatnya sangat penasaran.


"Dulu, sekitar 25 tahun yang lalu, aku, Samanta, dan ayahnya Aska, yang bernama James. Dulu kita adalah teman saat kuliah di luar negri." Pak Alfian meletakkan kembali kopinya ke atas meja sembari memulai ceritanya. Seketika Orion menghentikan aksinya. Memilih melipat tangannya di atas meja, lalu kemudian memberikan perhatian lebih pada cerita ayahnya.


"Lalu kalian bertiga terlibat cinta segitiga?" Celetuk Orion yang sudah mulai tak sabaran. Dan Pak Alfian pun hanya menggeleng pelan.


"Bukan, mereka berdua adalah teman dekat, bisa di bilang mereka adalah sahabatku. Karena hanya mereka berdua lah yang selalu menemani ayah dalam senang dan duka waktu itu!"

__ADS_1


"Lalu?" Orion semakin antusias.


"Samanta dan James saling mencintai, mereka sudah bersama sejak di bangku sekolah. Sudah sewajarnya jika Samanta merasa kehilangan saat James tiba-tiba pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya."


"Kata Aska, paman James itu mati karena ayah, ayah juga bilang, berhutang nyawa dengan orang itu, apa hubungannya semua ini?"


Pak Alfian terdiam mendapati pertanyaan Orion yang seperti itu. Ia pun meghela nafas pelan sebelum akhirnya menjawab. "Waktu itu, tepatnya15 tahun yang lalu, James dan dan Samanta memutuskan untuk menikah, dan tak lama kemudian mereka memiliki seorang putra yang mereka beri nama Aska."


"Sedangkan Ayah sudah lebih dulu menikah dengan ibumu, dan usiamu sudah menginjak Lima tahun saat itu. Dan saat itu, perusahaan yang berusaha ayah kembangkan kekurangan modal, dan James lah yang selalu menjadi investor setia ayah. Ia selalu memberikan suntikan dana hingga perusahaan ayah mengalami kemajuan yang pesat..." Pak Alvian terhenti. Mencoba memberi jeda pada kalimatnya.


"Tapi semakin tinggi pohon, pasti semakin tinggi pula angin yang menerpanya. Begitupun juga ayah, seiring dengan kesuksesan ayah. Banyak juga yang memusuhi ayah. Ayah mengalami banyak teror ancaman dari lawan bisnis ayah. Tapi James selalu berusaha dengan sekuat tenaga melindungi ayah. Sampai pada akhirnya, demi melindungi ayah, ia mengorbankan nyawanya saat seorang lawan bisnis ayah hendak menembak ayah dengan pistolnya, kebetulan James ada disana berusaha menghalangi peluru itu menembus tubuh ayah dan malah mengenai tubuhnya sendiri..."


Flash back 15 tahun yang lalu


"James! James! Bangun!" Alfian terlihat panik, bahkan air matanya sudah mulai mengucur, Orang yang di panggilnya dengan sebutan James itu sudah terkulai di lantai dengan berlumuran darah. Ia memangku kepala James yang sudah mulai tak sadarkan diri.


"JAMES!!!" Alfian beteriak histeris saat tak mendapati respon dari sahabatnya itu. Bahkan detak jantungnya pun sudah tak terdengar. Ia pun segera meletakkan kembali sahabatnya di.atas lantai dengan perlahan, kemudian segera bangkit berdiri dan berjalan ke arah pelaku penembakan itu dengan tatapan mengerikan.


Alfian terus berjalan tanpa rasa takut, hingga membuat orang yang ada di hadapannya gemetaran dan menjatuhkan pistolnya. Saat Alfian berusaha meraih pistol itu dari lantai, saat itulah pelaku penembakan memanfaatkannya untuk melarikan diri.


"Alfian, kamu...!" Sampai akhirnya suara itu terdengar dan mengejutkan Alfian. Ia melihat seorang wanita yang sangat di kenalnya sudah ada di ruangan itu. Matanya terbelalak melihat tubuh suaminya yang sudah terkulai di lantai dengan berlumuran darah. Dan yang lebih mengejutkannya lagi adalah, Alfian yang sedan menggenggam sebuah pistol di tangannya.


"Samanta, ini tidak seperti yang kamu bayangkan?" Alfian merasa panik, tapi ia tak berani mendekat, karena ia sadar pistol yang ada di tangannya itu pastilah menakuti wanita itu. Kemudian ia pun segera membuang benda itu ke segala arah.


"Tidak ku sangka, kamu pembunuh!" Tuduh Samanta seraya terisak.


"Samanta, ku mohon, dengar kan aku dulu..." Bujuk Alfian dan kalimatnya terputus.


"Sudah cukup!! Aku tidak percaya kamu tega!" Sela Samanta dengan suara semakin histeris dan tangisnyapun semakin pecah.


"Tapi bu--..."


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2