
Sore menjelang malam, secara dadakan dan tanpa perencanaan. Pak Alfian dan Orion memberanikan diri untuk mendatangi rumah besar milik Samanta.
Mereka tahu ini sedikit berbahaya, mengingat gaya hidup Samanta sekarang bak seorang mafia yang di kelilingi begitu banyak body guard. Entah sejak kapan wanita itu menjadi wanita yang mengerikan seperti itu. Itu seperti bukanlah Samanta yang dulu, yang saat suaminya James masih hidup.
"Cari siapa?" Seru seorang body guard yang menjaga rumah besar milik Samanta pada pak Alfian dan Orion. Sejenak ayah dan anak itu saling menatap kemudian pandangannya kembali teralih pada sang body guard.
"Aku mencari Samanta, apakah dia ada?" Ujar pak Alfian kemudian. Sejenak body guard itupun menatapnya curiga. Memperhatikan Pak Alfian dan Orion dari atas ke bawah. Rupanya dia hanya ingin memastikan apakah pria tua dan pria muda yang ada di hadapannya saat ini membawa senjata tajam atau semacamnya. Lalu kemudian dia seolah memberi isyarat pada temannya untuk segera memeriksa mereka berdua.
Sementara para body guard itu melakukan tugasnya, pak Alfian dan Orion hanya diam menurut. Dan benar, mereka ternyata tak membawa benda yang sekiranya mencurigakan.
"Ada urusan apa ingin menemui nyonya Samanta bos kami?" Tanya sang body guard yang tadi juga menanyai mereka.
"Katakan padanya, aku Alfian, ada yang ingin ku bicarakan dengannya!" Sahut pria paruh baya itu dengan nada senormal mungkin. Padahal sejak tadi dia merasa sedikit khawatir dan was-was.
Sang body guard itupun tampak berpikir sejenak, kemudian memanggil salah seorang temannya yang lain untuk melapor ke dalam memberitahukan pada bos mereka, kalo di luar sedang ada yang mencarinya.
Selang beberapa menit, body guard yang di suruh melapor tadi kembali keluar dan akhirnya mempersilahkan pak Alfian dan Orion masuk ke dalam rumah. Sejenak Pak Alfian dan Orion kembali saling menatap, sorot mata mereka seolah sedang saling meyakinkan. Kemudian keduanya mengangguk mantap dan mulai berjalan pelan memasuki rumah besar itu.
Di ruang tamu yang tampak luas itu, sudah terlihat wanita paruh baya yang masih menyisakan pesona kecantikannya, sudah tampak duduk di sebuah sofa dengan gaya seanggun mungkin. Wanita itu menyilang kan salah satu kakinya ke atas kakinya yang lain. Dan dagunya sedikt terangkat, menikmati segelas wine yang sudah ada di tangan kanannya.
"Aku tak menyangka, kalian punya nyali untuk menemui ku!" Serunya sambil meneguk winenya hingga tandas dan menyerahkan gelas kosong bekas minumnya pada bodyguard yang berdiri di sisi kanannya. Sang boy guard yang menerimanya pun bergerak mundur sedikit dan meletakkan gelas kosong yang ada di tangannya di meja kecil yang ada di dekatnya.
"Dimana Aska?" Seru pak Alfian kemudian tanpa ingin banyak berbasa-basi.
"Cih..., untuk apa kau menanyakannya, dia putraku, tentu saja dia aman bersamaku. Tapi aku sedikit kecewa padanya, karena sikap cerobohnya yang tidak sabaran, dia malah menghancurkan semua rencanaku, sekarang aku sedang menghukumnya, mengurungnya di kamar!" Jelas Samanta dan itu sontak membuat pak Alfian kaget hingga membuat mulutnya menganga.
"Kau sudah gila ya! Dia adalah putra kandungmu, untuk apa kau mengurungnya!" Kata pak Alfian dengan nada keras merasa tak terima, padahal selama Aska hidup bersamanya, Alfian tak pernah memperlakukan Aska seburuk itu. Setidaknya walaupun dulu dia sering mengabaikan anak itu. Tapi tidak pernah bertindak keras seperti yang Samanta lakukan terhadap Aska.
"Cih..., apa pedulimu, sekarang aku tidak membutuhkannya lagi, tanpa dirinya sebagai umpan. Sekarang mangsaku masuk dalam perangkap tanpa aku harus bersusah payah terlebih dahulu!" Samanta pun bangkit berdiri dan memandang pak Alfian dan Orion dengan sorot mata tajam secara bergiliran.
__ADS_1
"Maksud anda apa, apa yang akan anda lakukan pada kami?" Orion membalas tatapan tajam Samanta dengan sorot mata yang sama. Pria muda itu ingin menunjukkan bahwa dia tak merasa takut sedikitpun terhadap wanita yang kini seolah sedang berusaha mengintimidasinya juga ayahnya.
Samanta tergelak mendengar ucapan Orion. "Tentu saja aku ingin menghabisi kalian disini! Apa kalian faham sekarang!" Matanya kembali memperlihatkan sorot mata penuh rasa dendam dan kebencian.
"Samanta, apa salahku padamu? Kenapa kau begitu membenciku dan ingin menghabisi ku dan juga putraku?" Tanya pak Alfian dengan sorot mata lembut, berharap wanita yang ada di hadapannya itu akan sedikit sadar. Dan sebenarnya di sisi lain dia pun sedang berusaha mengulur waktu.
"Kalau masalah James, bukankah semua sudah jelas, bukan aku yang membunuhnya..."
"Ya...!! Memang bukan kamu yang membunuhnya, tapi gara-gara ingin melidungimu dia jadi terbunuh!" Suara Samanta berubah gemetar dan Isak tangisnya seolah pecah. Dia seolah tak bisa menahan diri lagi untuk meluapkan semua amarah yang dia rasakan selama ini. Baginya sudah sejak lama untuk menunggu hari ini agar semua dendamnya tuntas.
"Samanta...," Pak Alfian menggelengkan kepalanya lemah, merasa tak habis pikir. Wanita yang ada di hadapannya saat ini begitu mendendam padanya.
"Bagaimana caranya agar aku bisa menebus semua kesedihanmu dan membuat prasaanmu lega?" Alfian masih berusaha merendahkan nada suaranya. Berusaha membuat wanita yang terlihat kalap di hadapannya akan sedikit melunak hatinya.
"Serahkan seluruh hartamu pada Aska, dan jangan sisakan sepeserpun untuk Orion, bisa...?"
"Apa?" Pak Alfian kaget mendengar permintaan Samanta yang sepertinya tak masuk akal, begitupun juga dengan Orion.
"Kalo iya kenapa? Atau aku harus menghabisimu saja disini?" Samanta mulai mengeluarkan sebuah pistol dari saku celananya, membuat pak Alfian dan Orion terperangah.
Samanta tersenyum miring, "Kau pikir aku tak berani melakukannya? Anggap saja aku orang gila, di penjara setelah membunuh kalian pun aku tak akan menyesal." Ujar Samanta sambil mengarahkan pistolnya ke arah pak Alfian dan Orion. "Katakan padaku, siapa di antara kalian yang ingin mati duluan dan mengucapkan selamat tinggal?" Seperkian detik Samanta sudah mulai menarik pelatuk pistol yang ada di tangannya dan siap untuk meluncurkan peluru yang ada di dalamnya.
"Samanta, jangan gegabah, kita bisa bicarakan semuanya baik-baik!" Pak Alfian masih berusaha menenangkan Samanta tapi sepertinya itu tak akan berhasil. Wanita di hadapannya sudah seperti kerasukan iblis. Sorot matanya seolah sedang mengatakan, tak akan mengampuni mangsanya kali ini yang sudah ada di depan mata.
"Bersiap lah kalian untuk menjemput ajal," Samanta tergelak dan membahana ke seluruh ruangan.
"AYAH...! KAKAK...! AWAS...!" Tampak Aska yang baru saja menuruni tangga dengan secepat kilat berlari ke arah ayah dan kakaknya, berusaha menghadang peluru yang akan bersarang di tubuh mereka.
DUAR...
__ADS_1
Pelatuk pistol di tangan Samanta terlanjur terlepas dan akhirnya pelurunya malah mendarat ke tubuh Aska.
"ASKA...!!!" Teriak Pak Alfian dan Orion bersamaan. Peluru yang mengenai tepat di dada sebelah kirinya membuat tubuhnya langsung limbung dan terkulai di lantai.
Pletak...
Samanta menjatuhkan pistolnya ke lantai, kemudian menutup mulutnya dengan kedua tangannya, merasa terkejut. Dia baru saja menembak putra kandungnya sendiri.
"Maafkan saya nyonya, tuan muda berhasil melarikan diri dari kamarnya dan langsung menerobos kemari!" Ujar sang body guard yang tadi sempat mengejar Aska bermaksud untuk menghentikan aksinya dan Samanta masih terdiam seolah tak bisa berkata-kata, cairan bening tiba-tiba saja menetes dari sudut matanya tanpa bisa dia bendung.
Apa yang baru saja di lakukannya, pikirnya. wanita itu menahan Isak tangisnya yang hampir pecah.
"Orion, cepat hubungi ambulance!!" Ujar pak Alfian dengan wajah dan suara panik.
"Baik, yah!" Sahut Orion dengan tak kalah panik, dia pun segera mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Memencet nomor dengan tangan gemetaran.
"A...yah... maafkan a...ku!" Aska berkata dengan susah payah dengan nafasnya yang mulai tersengal.
"Jangan banyak bicara dulu nak, ayah mohon bertahanlah!" Ujar pak Alfian sambil berurai air mata, pria tua itu merasakan tangan Aska yang mulai mendingin.
Aska menggeleng pelan, kemudian mulai membuka mulutnya kembali dengan susah payah, "A...ku, sa...yang pa... da A... yah dan... kak O...rion...," Setelah menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba Aska mulai tak sadarkan diri.
"Aska..., Aska..., Bangun nak! Ayah mohon...!!" Pak Alfian pun mulai histeris sambil memangku kepala Aska di pangkuannya.
"Orion..., Aska...," Pak Alfian hampir tak bisa berkata-kata.
"ASKA..., BERTAHANLAH SEBENTAR LAGI...! Kamu harus hidup, karena aku belum sempat menghajarmu karena kamu sudah kurang ajar padaku dan Ayah, Ayo cepat bangun, buka matamu, aku mohon!" Orion pun sudah mulai sesenggukan.
Sedangkan Samanta masih terdiam mematung melihat Aska yang seolah tak berdaya dengan banyaknya darah di sekujur tubuhnya. Pemandangan itu mengingatkannya kembali pada James yang mati terbunuh karena di tembak. Dan kini Aska, mengulangi nasib yang sama dengan apa yang di alami oleh ayahnya.
__ADS_1
"Aska...," Lirih Samanta. Tapi dia tahu, Aska tak akan pernah bangun lagi.
BERSAMBUNG.