Mendadak Jadi Istri Muda

Mendadak Jadi Istri Muda
foto profile


__ADS_3

Orion dan Ariana sudah berada di dalam mall mewah sekarang.


"Hei..untuk apa kita datang kesini. Kemarin aku juga kesini dengan Aska."


Orion melirik tajam sekilas pada Ariana yang berjalan di sampingnya. Jalannya agak kewalahan menyamai langkahnya yang besar-besar dan cepat.


"Jadi kamu ingin jalan dengan Aska lagi?"


Eh..apa yang dia katakan? Nggak nyambung.


"Bukan begitu. Siapa yang mau jalan lagi dengan Aska. Aku kan cuma tanya kenapa kita kesini?"


"Ya jalan-jalan lah. Memang mau apa lagi?"


Hihh..Orang ini bisa tidak sih bicara tampa harus memyebalkan begitu. Berhenti sejenak. Mendengus kesal. Kemudian kembali berjalan di belakang Orion.


Tiba-tiba Orion menghentikan langkahnya secara memdadak. Ariana yang ada di belakangnya jadi terantuk oleh punggungnya yang lebar.


"Eh..maaf!" Ariana merasa gugup.


Orion tersenyum senang. Kemudian ia membalikkan badanya ke arah Ariana dan merubah ekspresinya menjadi kaku lagi seperti biasanya. "Kenapa kamu jalan di belakangku. Jalanlah di sampingku. Dan jangan lakukan hal ceroboh seperti itu lagi. atau jangan-jangan kamu sengaja cari-cari kesempatan untuk menyentuhku ya?" Seraya menatap Ariana lekat-lekat.


Eh..siapa juga yang mau menyentuhmu. Apa kamu sudah gila sungguhan. Kan kamu sendiri yang berhenti mendadak tadi.


"Bukan kah tadi.." Kalimat Ariana terpotong.


"Hah..sudah..sudah..bicaramu lamban sekali. apa kamu suka bengong seperti itu. Ayo kita cari tempat makan. Aku lapar. tadi belum sempat makan siang. "Sambil mengedarkan mata kesekeliling. Mencari restorant yang kira-kira sesuai dengan seleranya. Dan tak jauh dari situ. Terdapat restorant ala korea yang biasa jadi favoritnya bersama adik-adiknya jika makan di luar.


"Nah..kita kesana saja. Aku biasa kesana dengan Aska dan Haikal." Seraya melangkahkan kaki menuju kesana.


Ariana yang tadinya masih tampak diam. Buru-buru melangkah cepat untuk menyamai langkah Orion. Sekilas Orion tersenyum lagi melihat Ariana berjalan di sampingnya. Saat Ariana melirik ke arahnya tiba-tiba Orion mengubah ekspresi kaku miliknya lagi.


"Apa mukanya itu selau sperti itu. Tak bisakah dia tersenyum sedikit. Mukanya kaku sekali seperti kanebo kering." Gumam-gumam menggerutu lirih.


"Apa kamu bilang?"


Ah..apa dia dengar yang barusan ku bilang tadi.


"Aku sudah lapar sekali. Bolehkah aku pesan yang banyak nanti." Seraya tersenyum dengan dahi mengkriyit.


"Oh..tapi sepertinya kamu tidak bilang begitu tadi."


Aduh..Apa dia sungguh dengar yang ku ucapkan tadi. Kalo aku katakan yang sebnarnya. Aku bilang wajahnya seperti canebo kering. Pasti urat lehernya langsung keluar semua. Apa lagi dengan suaranya yang lantang. Bukankah itu akan memalukan natinya. Di tempat umum seperti ini lagi.


"Sungguh..Tadi aku hanya bergumam soal itu."


"Hah..Sudahlah lupakan. Lagi pula siapa yang ingin tahu kamu bergumam apa tadi."


Hihh...Bukankah tadi dia sendiri yang bertanya. apa dia sudah pikun. Rasanya aku ingin mencakar wajahnya yang menyebalkan itu. Gemas..gemas..aku gemas. Ariana mengepalkan tangan menahan emosi.

__ADS_1


Tak lama kemudian mereka sudah sampai di depan restorant ala korea tersebut. Pelayan restorant yang sepertinya sudah sangat mengenal Orion langsung menyambut Orion dan mencarikan tempat duduk untuk mereka berdua.


"Tuan mau pesan apa hari ini. Silahkan ini buku menunya. Sudah lama ya tuan tidak kemari. Coba lihatlah daftar menunya. Ada beberapa menu baru di restorant kami." Tersenyum ramah.


"Rasanya aku tidak perlu ini lagi." Meletakkan buku menu di meja." Keluarkan saja semua menu barunya. Aku dan calon istriku mau coba semuanya."


"Baik. Akan segera saya siapakan Tuan." Seraya berlalu.


Apa dia bilang. Calon istri katanya. Dia sedang tidak salah minum obat kan. Kenapa aku jadi ngeri dengan sikapnya.


Kenapa bengong dan memandangiku seperti itu?" Seru Orion sedikit ketus.


"Eh..nggak. Kenapa kamu pesan banyak-banyak. Menu barunya kan tadi banyak sekali. Nanti kalo tidak habis kan sayang."


"Bukankah tadi kamu bilang lapar dan ingin pesan yang banyak. Jadi nanti kamu yang harus menghabiskanya."


Muka Ariana langsung terlihat pucat. Makanan sebanyak itu. Bagaiman caraku memghabiskanya.


Tak perlu menunggu lama. Menu baru sudah siap tersaji di hadapan mereka. Meja yang ada di hadapan mereka tampak penuh dengan makanan.


"Nah makanlah." Seraya mengambil sumpit dan mengambil potongan daging untuk di letakan di sebuah pan panas.


Apa dia sungguh-sungguh ingin aku memakan semuanya? Apa dia akan membuatku terlihat seperti karung beras. Ariana turut melakukan apa yang di lakukan Orion.


"Bagaimana? Enak kan?"


Ariana hanya menjawab dengan anggukan sambil mulutnya penuh mengunyah makanan.


Bagaimana caraku menghabiskanya. Segini saja aku sudah merasa kenyang.


Dengan mulut yang penuh. Ariana berusaha sekuat tenaga untuk menghabiskan makanan yang tersedia di meja. Menu disert dengan es krim porsi besarpun di lahapnya sampai habis.


Melihat itu. Orion jadi senyum-senyum sendiri.


"Ternyata kamu hebat juga. Badanmu kecil. tapi makanmu banyak juga ya."


Ini karena kamu yang menyuruhku menghabiskanya tau. Perutku rasanya sampai mual.


"Baiklah. aku akan panggil pelayan dan membayar."


"Terimakasih Tuan. Lain kali datanglah lagi untuk mampir." Ujar pelayan pada mereka yang sudah beranjak pergi dari situ.


Ariana masih tampak kekenyangan. Ia berjalan dengan malas mengikuti Orion. Melihat itu Orion jadi tidak sabar. Ia pun menarik tangan Ariana untuk menyamai langkahnya. Sesaat mereka bertatapan. Entah kenapa tiba-tiba Orion tersenyum senang. Bola matanya terlihat seperti anak kecil yang tengah mendapatkan mainan kesayangannya. Ariana jadi tersipu malu. Mereka pun sama-sama terdiam dan berjalan beriringan sambil senyum-senyum sendiri.


"Kalian terlihat serasi sekali. Bolehkah aku minta tolong pada kalian?" Seru seorang wanita tua yang berada di sisi kanan mereka. Dan wanita tua itu berdiri membelakangi toko bajunya.


Ariana dan Orion saling pandang. Merasa bingung. Kemudian kembali mengalihkan padanganya kepada wanita tua itu.


"Ibu bicara pada kami?" Ujar Ariana sopan.

__ADS_1


"Iya nak. Maukah kalian berdua menolong ibu?"


"Menolong apa Bu?"


"Maukah kalian jadi model produk baruku. Aku punya produk baru jaket couple. Aku ingin mempromosikanya di sosial mediaku. Tapi aku tidak punya model yang memperagakanya.


"Lalu apa hubunganya dengan kami?" Dengan nada seperti biasanya. Keras. Ariana langsung mencubit lengan Orion dan menatapnya tajam. Sorot matanya seolah mengatakan. Dia hanya seorang wanita tua. Pelankan suaramu sedikit.


"Ya..maukah kalian menolongku. Pakailah jaket ini." Seraya menyerahkan jaket coulpe pada mereka berdua." Nanti aku yang akan mengambil foto kalian. Sekarang ayo cepat pakai."


"Maaf tapi kami tidak.." Kalimat Orion terputus karena lagi-lagi Ariana mecubit lengannya.


"Ya kami pasti akan memakainya dengan senang hati."


"Hei apa yang kamu katakan, aku tidak mau?" Kalimat Orion teredam oleh bekapan tangan Ariana. Dan wajahnya tetap memasang senyum pada wanita tua di hadapanya.


mau tidak mau akhirnya Orion menurut. dengan malas ia memakai jaket itu. Setelah rapih. Barulah mereka berpose dan siap di foto oleh wanita tua tersebut.


"Siap ya !" Wanita tua memberi aba-aba.


Ariana sudah tampak memasang senyumnya. Sesaat Orion melirik ke arah Ariana. Dan kini ia melakukan hal yang sama. Tersenyum paksa.


"Hasilnya bagus terimakasih ya." Ujar wanita tua itu senang. "Nanti akan ku kirim hasil fotonya juga pada kalian. Dan ambillah jaket ini. Anggap saja ini Endors dariku karena sudah memakai jasa kalian. Hee"


"Ya sama-sama Bu. Makasih juga jaketnya." Tersenyum. Lalu Orion menarik lengan Arianan untuk berlalu dari sana.


"Apa yang kamu lakukan sih. Kita kan nggak kenal orang itu. Bagaimana kalo dia itu penipu?"


"Heh..sudahlah. Lagipula dia terlihat orang baik-baik kan. Dia juga malah memberi jaket ini untuk kita."


"Cuma jaket murahan begini apa bagusnya." Menggerutu.


Tak lama kemudian terdengar pesan masuk di hp mereka berdua. Ariana berusaha membuka hpnya dan mendapati wanita tua itu telah mengirim foto dirinya dan Orion Tadi. Wanita tua itu juga mengirim hal yang sama pada Orion. Mereka berdua tadi sempat di mintai nomor hpnya oleh wanita tua tadi.


"Foto yang tadi." Ariana tersenyum senang.


"Bagaimana kalo kita jadikan foto profile what sapp." Ujar Orion memberi ide.


"Ide bagus." Seraya mengunggah foto tersebut ke what sapp. "Di what sapp mu juga ya." Masih dengan tertawa riang.


"Iya..iya..ini sedang ku lakukan."


selesai mengapload foto di what sapp. Mereka saling menunjukkan profile masing-masing.


"Lucu ya."


"Iya."


Dan mereka sama-sama tertawa.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2