Mendadak Jadi Istri Muda

Mendadak Jadi Istri Muda
Bukan anak-anak


__ADS_3

Hari yang di tunggu-tunggupun telah tiba. Ariana sudah berusaha keras untuk ini. Yaps..Hari ini adalah hari pertama ujian akhir semester di sekolahnya. Ia tampak tenang saat mengerjakan semua soal. Hanya dalam waktu beberapa menit saja ia sudah tampak selesai mengerjakan soal ujian di komputernya.


Teman-temamnya masih tampak sibuk mengerjakan soal ujian saat ia sudah mulai keluar kelas terlebih dahulu. Kemudian di susul Rachel di urutan ke dua setelah dirinya.


"Soal yang tadi lumayan susah ya?" Ujar Rachel yang kini sudah berada di luar kelas bersama dengan Ariana.


"Iya..Lumayan. Tapi kalo kita sungguh-sungguh dalam belajar. Kita pasti bisa mengerjakan semua soal dengan baik. Syukur-syukur benar. hehehe." Ariana terkekeh mendengar kaliamat terakhirnya sendiri.


"Ya..Semoga kamu benar. Kamu hebat juga tadi. Bisa mengerjakan soal dengan cepat. Bagaimana kamu melakukannya? Kamu juga kan seorang istri. Tapi kamu masih bisa belajar dengan baik." Rachel tampak tulus memuji. Terlihat dari matanya ia begitu kagum pada Ariana. Setidaknya Ariana juga sudah membawanya ke arah yang lebih baik.


Mereka mengobrol seraya melangkahkan kaki menuju kantin untuk menikmati jam istirahat.


"Haha..Aku tidak hebat. Aku hanya berusaha semampuku saja. Aku beruntung karena Orion tidak banyak menututku. Dia juga selalu mendukung dan menyemangatiku.hehe."


"Ah..iya..kamu beruntung mendapatkan suami yang baik seperti kak Orion. Seandainya aku juga bisa menemukan orang yang baik seperti dia..." Rachel terdengar ragu saat mengucapkan kalimat terakhirnya."Eh..maaf Ariana. Aku tidak bermaksud ingin juga bersama kak Orion. Aku hanya.." Di kalimat berikutnya Rachel tampak panik. Takut Ariana salah paham padanya.


Ariana pun segera memotong kalimat Rachel yang belum sempat terselesaikan. "Hei..tidak perlu panik begitu Rachel. Tenang saja aku tidak berpikir macam-macam kok tentangmu. Aku percaya kamu sudah benar-benar berubah. Tidak akan mengulang lagi kejadian waktu itu." Seru Ariana seraya tersenyum meyakinkan Rachel bahwa ia baik-baik saja. Tidak mengambil pusing perkataannya barusan.


Rachelpun terlihat menghela nafas lega." Syukurlah! Kamu pengertian sekali Ariana."


Ariana membalas dengan tersenyum. "Bagaimana hubunganmu sekarang dengan El?" Ujar Ariana tiba-tiba. Membuat pipi teman di sampingnya itu seketika memerah dan sedikit salah tingkah.


"Em..Kami sudah jadian sebelum Kak El pamit pulang ke luar negri kemarin." Ucap Rachel malu-malu.


Ariana membelalakkan matanya. "Wah..selamat ya Rachel. Apa hubungan kalian serius?" Ariana tampak penasaran.


Rachel masih belum menjawab. Sekarang mereka sudah berada di areal kantin. Sejenak mereka mlihat ke sekitar. Mencari meja kantin vaforit mereka. Beruntung belum ada yang menempati. Mereka pun segera duduk disana.


"Ayo ceritakan kisahmu dengan El. Tadi kamu belum jawab pertanyaanku." Ujar Ariana tampak antusias.


"Ya..Jadi sejak waktu Kak El mengantarkanku pulang dari rumah kalian waktu itu. Aku dan Kak El semakin dekat. Kami bertukar nomor Hp. Dan kami juga sempat jalan berdua beberapa kali sebelum akhirnya Kak El kembali ke luar negri kemarin. Katanya Ia akan menungguku untuk menyusul dirinya kuliah di luar negri." Wajah Rachel sudah makin memerah sekarang.


"Wah..manisnya. Semoga kamu dan Kak El juga bisa bahagia ya!" Ariana tersenyum. Mengatakan semuanya dengan tulus pada Rachel.

__ADS_1


"Ya..Semoga!"


******


Hari-haripun terus berlalu. Hingga ujian akhir sekolahpun telah berakhir dan tinggal tunggu hasil pengumuman kelulusannya saja.


Hari libur panjangpun datang. Ariana bisa sedikit bernafas lega sekarang. Meskipun masih was-was menuggu nilai hasil ujian yang akan baru keluar beberapa minggu lagi.


"Bagaima ujianmu sayang? Lancar?" Orion sudah tampak duduk di sofa ruang tamu.Duduk di dekat istrinya yang sedang asik menonton tv di hari senin pagi. Kebetulan hari ini Orion juga tidak ingin buru-buru berangkat ke kantor. Ia ingin menghabiskan waktunya bersama Ariana.Menemani liburannya di hari senin.


"Hemm..Alhamndulillah lancar. Tapi aku tidak bisa senang dulu. Aku kan belum tahu hasil ujiannya." Seraya mengganti-ganti chanel tv. "Kamu sendiri. Kenapa jam segini belum juga berangkat ke kantor?" Lanjutnya tanpa menatap suaminya. Pandangannya masih fokus pada tv.


Melihat itu Orion merasa kesal. Kemudian mengambil remot tv yang ada di tangan Ariana secara paksa.


"Hei..! Apa yang kamu lakukan? Kenapa menggangguku?" Sketika Ariana menghadap ke arah suaminya dengan memasang muka kesal.


"Salah sendiri. Kenapa bicara padaku tapi solah mengabaikanku." Ujar Orion tak mau kalah. Ia juga memandang tajam ke arah Ariana.


"Apa sih maksudmu? Sini kembalikan remotnya! Kenapa sih kamu itu kekanak-kanakan sekali." Dengus Ariana makin kesal.


"Coba! Ulang sekali lagi perkataanmu tadi." Orion pura-pura marah. Pandangan matanya di buat makin bulat membesar.


Jadi dia ingin mengajak bertengkar rupanya. Ya..baiklah. Aku tak kan mengalah kali ini.


"Aku bilang kamu kekanak-kanakkan. Kenapa memangnya?" Ariana berlagak menantang.


"Oh..jadi begitu. Sudah mulai berani ya kamu rupanya. Kamu tidak takut aku akan menghukummu." Orion berkata seraya memajukan wajahnya ke wajah Ariana.


Hah..Apa sih yang mau dia lakukan? Aku harus bisa menjaga diriku agar tidak pasrah begitu saja kali ini.


Ariana menggeser tubuhnya ke belakang hingga terhenti di lengan sofa. Orion terus saja mendesaknya hingga ia tak dapat bergerak lagi.


Sedetik sebelum akhirnya Orion kehilangan mangsanya. Ya..ia tidak bisa mencium istrinya karena istrinya sudah menutup wajahnya dengan bantal sofa yang tadi sempat ada di pangkuannya.

__ADS_1


Ariana tertawa geli saat melihat suaminya itu malah mencium bantal. "Jadi kamu mau menghukum bantal ini ya. Ya..ampun manis sekali. Haha!" Ejek Ariana seraya tergelak.


"Jadi kamu senang melihatku begini. Kamu senang hah..senang ya!" Membuang bantal dari mukanya. Kemudian tangannya mulai bergerak menggelitiki tubuh istrinya.


"Hei..hentikan ! lni geli. Aku tidak tahan. jangan mengelitiku terus!" Ariana berusaha menghindar. Tapi sepertinya sudah tidak sempat lagi. Kakinya sudah di kunci dengan kaki suaminya dengan cara di tindih.


Mereka berdua sama-sama tergelak sekarang. Nafas Ariana tampak tersengal saat Orion menghentikan aksinya. "Hah..sudah puas kamu sekarang!" Dasar kekanak-kanakkan!" Ejek Ariana lagi seraya tertawa.


Orion segera membelalakan matanya. "Apa kamu bilang. Coba bilang sekali lagi." Bicara dengan pura-pura mengancam.


"Orion itu kekanak-kanakkan. Dia itu sangat kekanak-kanakan sekali. Haha." Ariana malah mengejeknya berulang-ulang. Membuat suaminya semakin gemas.


"Baiklah..Kalo itu maumu. Kali ini aku tidak akan melepaskanmu." Sudah mulai bersiap membopong tubuh istrinya.


"Hei..turunkan aku!" Ariana berusaha memberontak. Tapi tenaganya pasti kalah jauh."Kamu mau bawa aku kemana? Lepaskan aku Orion!"


"Tidak akan!" Orion berjalan menuju kamarnya dengam masih membopong tubuh istrinya.


Apa maksdunya tidak akan.


"Hei..! Ku bilang turunkan Aku!" Pinta Ariana masih berusaha meronta.


Tapi mata Orion malah mengerling genit ke arahnya. "Aku akan buktikan kalo aku bukan anak-anak. Karena mungkin saja aku bisa membuat anak."


*A*pa? Bicara apa dia ini.


"Huaaaahh..Orion. Jangan macam-macam. Maafkan perkataanku yang tadi. Aku mohon!" Ujar Ariana saat Orion sudah berhasil meletkakan tubuhnya di atas ranjang.


"Aku tidak ingin dengar alasan apapun lagi darimu. Kali ini aku tidak ingin ada penolakan lagi. Lagipula ujianmu kan juga sudah selesai. Jadi bolehkan kalo aku..." Bibir Orion sudah mulai membungkam bibir Ariana yang tampak menganga tak percaya.


Ah ya ampun..Haruskah sekarang juga!


BERSAMBUNG....

__ADS_1


jangan lupa like dan votenya kakak. Biar aku makin semangat 😁. makasih 😊


__ADS_2