
Keesokan harinya, Ariana dan Orion kembali berjalan-jalan ke tepi pantai saat matahari sudah hampir tenggelam, Senja tampak indah membentuk dengan seluet jingga yang terpantul oleh air laut yang jernih. Serta di belai angin yang berhembus perlahan. Ariana dan Orion berjalan sambil bergandengan tangan, wajah mereka berdua tampak sumringah saat menikmati pemandangan pantai senja itu.
Perlahan gelappun menjelang. Ariana berinisiatif untuk mengajak kembali ke hotel untuk melaksanakan Shalat magrib berjamaah. "Sayang, sudah masuk waktu shalat magrib. Kita pulang yuk!" Seru Ariana pada suaminya.
"Baiklah, Ayo kita kembali ke hotel, sudah mulai gelap juga kan??" Ujar Orion sambil mengelus kepala istrinya yang terbalut hijab dengan lembut.
Saat mereka baru saja akan beranjak beberapa langkah menuju kembali ke hotel, tiba-tiba mereka di kejutkan oleh kehadiran seseorang yang sangat mereka kenal. Sean.
Orion dan Ariana tampak terkejut, begitupun dengan Sean. Ia tertegun menatap Ariana, dan itu membuat Orion kembali terbakar Api cemburu. "Darimana bro, mata bisa nggak biasa saja melihatnya!" Sergah Orion langsung tanpa basa-basi.
"Aku sudah biasa kok, jangan emosi gitu dong!" Sahut Sean dengan nada santai tapi menggunakan penekanan. Seolah merasa kesal juga pada Orion.
Dasar mas bucin, cemburuan banget. Mending istrinya buat aku saja deh.
"Cih...Kalo biasa aja, nggak usah sampai segitunya dong ngeliatinnya." Sungut Orion sambil memandang sinis pada Sean.
Tapi Sean seolah tak ingin terpancing. Ia pun segera memasang senyum elegannya seraya berkata. "Maaf ya, aku buru-buru nih, sudah gelap, aku duluan ya!" Seolah tak ingin meladeni Orion, Sean pun buru-buru berlalu dari hadapan Orion dan Ariana.
"Woi bro, Aku belum selesai bicara!" Seru Orion lagi sambil berteriak ke arah Sean yang sudah beranjak dari mereka berdua.
"Sayang! sudahlah! Jangan begini, malu kan di lihatin orang teriak-teriak begitu!" Ujar Ariana sambil memegang lengan Orion dan menatapnya dengan tatapan kawatir.
"Astaga! Aku hilaf sayang, maafkan aku, aku hanya kesal dia selalu menatapmu dengan tatapan seperti itu." Ujar Orion seraya mengusap mukanya sendiri dan menghembuskan nafasnya perlahan, berusaha meredakan emosinya sendiri.
"Yasudah sayang, mungkin dia nggak sengaja menatapku seperti itu, atau kamu saja yang terlalu perasa." Jelas Ariana berusaha memberi pengertian pada suaminya itu.
"Jadi kamu lebih membelanya daripada aku? Jadi kamu suka di tatap seperti itu sama dia?" Sungut Orion sambil melepaskan tangan Ariana yang kini melingkar di tangannya. Kemudian pergi meninggalkan Ariana dengan langkah besar-besar menuju hotel.
__ADS_1
"Sayang! Tunggu!" Seru Ariana sambil berusaha berlari-lari kecil untuk mengejar langkah suaminya.
Ya ampun, kenapa Orion jadi kekanak-kanakan seperti ini lagi sih.
*****
Sesampainya di hotel. Ariana dan Orion masih saling diam, mereka tidak jadi shalat magrib berjama'ah tadi.
"Sayang! kamu masih marah ya!" Bujuk Ariana pada suaminya yang kini sedang tidur memunggunginya. "Sayang, maafkan aku, aku nggak bermaksud membuatmu kesal seperti ini, maaf kalo aku salah, tapi jangan diamkan aku seperti ini, aku tidak tahan sayang kalo kamu diam begini." Bujuk Ariana lagi dengan suara lemah.
Perlahan Orion menggerakkan tubuhnya untuk menghadap ke arah Ariana. "Apa kamu benar-benar merasa menyesal sekarang? Aku nggak bisa kalo ada cowok lain menatapmu seperti itu, itu karena aku sayang padamu." Ujar Orion seraya mengelus pipi istrinya dengan lembut.
Ariana tersenyum, "Aku mengerti sayang, terimakasih ya sudah mencintaiku sebesar ini!" Ariana berpikir daripada berusaha untuk menyalahkannya, lebih baik berkata yang membuat hati Orion lebih tenang dan tidak kesal lagi padanya.
"Akhirnya kamu mengerti juga, makasih juga karena mau mengerti aku!" Orion sedikit beranjak dari tidurnya dan mulai mencium kening istrinya itu lembut.
"Kamu jangan marah-marah terus kayak tadi ya? Aku nggak suka kamu begitu." Rajuk Ariana seraya memanyunkan bibirnya bawahnya.
"Ingin apa??" Seru Ariana malu-malu.
"Ingin memakanmu!" Orion kini sudah menarik kepala instrinya untuk mendekat ke wajahnya. Sekarang hidung mereka sudah bersentuhan dan mata mereka saling bertemu tatap.
"Kamu mau apa?" Ujar Ariana sambil menahan nafasnya. Jantungnya berdetak sangat kencang. Orion selalu saja membuatnya berdebar-debar meskipun ini bukanlah yang pertama.
"Mau bikin cucu buat Ayah!" Seloroh Orion seraya mencium lembut bibir istrinya.
Dasar, ada-ada saja. Ariana tersenyum dalam diam.
__ADS_1
*****
Di tempat lain, Sean tengah duduk termenung di teras rumahnya dengan gitar di pangkuannya. Pikirannya entah kemana, seolah sedang memikirkan sesuatu yang sangat mengganjal pikirannya. Entah kenapa tiba-tiba saja bayangan senyum Ariana selalu muncul di benaknya. Ia benar-benar bingung. Ia sadar betul kalo Ariana adalah milik orang lain. Tapi hatinya tak bisa berbohong, kalo ia tertarik dengan gadis manis itu.
Di ambang pintu depan rumah sudah tampak Angel sedang berdiri memperhatikan sepupunya itu. Kemudian melangkah mendekat dan duduk di samping Sean. "Hei...Kenapa dari tadi diam saja!" Seru Angel dan itu berhasil membuat Sean terkejut.
"Astaga...Ternyata kamu, aku pikir siapa tadi!" Ujar Sean sambil mengelus dadanya karena merasa terkejut. "Sejak kapan kamu sudah duduk disitu? Kok aku nggak sadar kamu datang." Lanjut Sean seraya menatap penasaran ke arah Angel.
"Harusnya aku yang tanya gitu, kamu pikir aku siapa tadi? Pasti lagi mikirin seseorang ya dari tadi diam saja. Hayo lagi mikirin siapa?" Ujar Angel seraya berbalik menatap menyelidik ke arah Sean.
Sean pun buru-buru mengalihkan pandangannya ke segala arah. Ia tak ingin sepupunya Angel tahu apa yang tengah di pikirkannya. "Nggak mikirin apa-apa kok, cuma lagi mikirin mau masuk kampus mana? aku kan sudah lulus tahun ini." Sean sengaja mencari alasan agar sepupunya Angel itu tidak mendesaknya lagi.
"Hemmm...Bagaimana kalo kuliah di kota J aja, bareng sama aku. Nanti kan kamu bisa sekalian tinggal di rumahku, jadi aku bisa ada temannya deh!" Seru Angel tampak bersemangat.
"Wah...Boleh juga tuh idenya, nanti bantuin aku minta izin ayah sama ibu buat kuliah disana!" Sean juga terlihat antusias. Ia sangat rindu dengan suasana kota dan bosan dengan suasana pedesaan seperti tempat tinggalnya saat ini.
"Itu sih gampang, kalo aku yang bilang, pasti paman dan bibi akan mengizinkannya, kan sekalian buat menjagaku. Pasti boleh!" Terang Angel mantap.
"Iya...kalo kamu yang izinin pasti di bolehin, soalnya aku ini kan anak satu-satunya, mereka takut kalo aku tinggal jauh dari mereka, takut kesepian katanya." Kini wajah Sean tampak bimbang.
"Tenang saja Sean, ini kan juga demi masa depanmu, mereka pasti ngerti kok, kuliah di kota lebih bagus, nanti kan setiap liburan kita bisa kembali lagi kesini!" Angel berusaha meyakinkan Sean agar tak terlihat murung lagi.
"Terimakasih ya Angel!" Ujar Sean seraya tersenyum.
"Ya sama-sama, aku juga anak tunggal, kalo ada kamu nanti pasti aku nggak akan kesepian lagi." Angel tampak senang dengan rencananya itu.
"Semoga ayah dan ibu mengizinkan ya!"
__ADS_1
"Ya...Semoga!"
BERSAMBUNG.