
Aku pertama kali melihatnya di waktu yang salah. Di awal aku melihatnya sebagai pria tanpa seulas senyum di wajahnya. Dia tampak seperti orang yang paling membenciku. Dia seperti pria yang angkuh dan berhati batu.
Aku tak tahu jika keadaan bisa membalikkan semuanya. Kini aku melihatnya sebagai pria berhati hangat. Dan aku suka caranya yang hanya tersenyum untukku. Aku menyukai caranya yang membuatku merasa spesial dan betapa aku merasa beruntung mendapatkan banyak cinta darinya.
*Dia adalah cinta pertama dan sejatiku. Orion..Sang bintang yang menambah indah gelap malamku.
Kini sinarnya seolah meredup bersama dengan matanya yang kini tampak tertutup rapat. Entah kapan ia akan terbangun*.
Aku rindu senyumnya. Manjanya. Aku rindu semua yang ada padanya. Aku hanya bisa menyelipkan namanya dalam do'aku. Semoga ia segera terbangun dari tidur panjangnya.
Aku selalu tak sabar untuk menantikan hari itu. Menantikan hari dimana aku bisa kembali berada dalam pelukannya. dekapannya..aku rindu..aku rindu
Tolong bangunlah dan temui aku segera
Agar kita bisa kembali bercerita tentang hari esok. Mengukir kisah cinta kita bersama.
Ariana tampak mengusap air matanya berkali-kali sambil memandangi Orion yang terbaring lemah dari jendela kaca ruang ICU. Sudah hampir satu minggu Orion belum juga sadarkan diri sejak di hari kecelakaan waktu itu.
Rasanya baru kemarin Orion tertawa bersamanya. Hari-hari yang di lalui Arianapun tampak menyenangkan karena hadirnya Orion dalam hidupnya. Kini kekasih hatinya itu seolah membisu. Orion koma. Dan entah kapan ia akan kembali tersadar.
"Kakak Ipar," Kata seorang yang sudah sangat di kenal Ariana. Membuatnya menoleh. Ariana mendapati Aska yang berdiri tak jauh darinya."Jangan sedih. Aku yakin Kak Orion pasti akan segera sadar." Ujar Aska seraya tersenyum lembut.
Ariana mengangguk perlahan. Kemudian mendekat ke arah Aska. Ariana menoleh sebentar, Menatap Orion untuk yang kesekian kalinya. Membayangkan Orion akan kembali tersadar dan bisa menemui dirinya. Kemudian mulai duduk di bangku tunggu yang ada di dekat situ.
Ariana tak akan pernah berhenti berdo'a untuk kesembuhan Orion. Ia berharap masih ada keajaiban.
"Aku akan terus menunggunya, Hingga ia tersadar dan kami bisa kembali bersama-sama." Ujar Ariana lirih, Pandangannya tampak sayu. Tapi ia masih berusaha untuk bisa mengulas senyum di bibirnya.
Aska yang duduk di sebelahnya ikut tersenyum. Berusaha menguatkan kakak iparnya."Yakinlah Kak. Kak Orion juga pasti sedang berjuang untuk itu. Agar dia bisa kembali melihatmu lagi."
Ariana mengigit bibir bawahnya sendiri. Sejenak merasa ragu. Bagaimana kalo dia tak kan pernah kembali.
Pikiran buruk tiba-tiba saja berkelebatan di dalam kepalanya. Ia teringat perkataan dokter kemarin. Orion mengalami pendarahan di otak. Kecil kemungkinan untuknya bisa bertahan. Jadi jika ia benar-benar bisa terbangun dari komanya. Itu adalah benar-benar sebuah keajaiban.
__ADS_1
Air mata di sudut mata Ariana perlahan mengalir tanpa bisa ia tahan lagi. Membayangkan seandainya Orion akan meninggalkannya secepat itu. Entah bagaimana ia akan menjalani hari-harinya yang sunyi tanpa canda tawa lagi dari suaminya itu.
"Ya..semoga. Orionku cepat sadar dan pulih. Aku sangat kangen sekali dengannya." Seru Ariana akhirnya. Mencoba menepis pikiran buruknya sendiri.
*******
Karena keadaan Orion yang sedang terbaring lemah di rumah sakit. Keadaannya yang seperti itu pasti tidak memungkinkannya untuk mengurus perusahaan. Jadi untuk sementara waktu. Pak Alvianlah yang kembali menjadi pimpinan di kantor.
Beliau juga sangat terpukul dengan kejadian yang menimpa putranya itu. Beliau juga berharap putra kesayangannya itu segera sadar dari komanya. Dan bisa kembali sehat seperti sedia kala.
Tak hanya Pak Alvian yang tampak sedih. Haikal adik bungsunya juga terlihat sedih melihat keadaan kakak tersayangnya itu. Setiap pulang dari sekolah ia selalu menyempatkan diri untuk menengok Orion di rumah sakit.
Semua orang sepertinya berharap Orion kembali seperti semula. Teman-teman dan kariawan-kariawannya di kantorpun mengharapkan demikian.
Bahkan Anesya dan Renopun kini tampak sudah berada di rumah sakit untuk menjenguk Orion.
"Bagaimana keadaan Orion? Apa sudah ada perkembangan?" Tanya Anesya pada Ariana di ruang tunggu. Wajahnya terlihat kawatir. Kemudian sejenak saling tatap dengan Reno yang berdiri di dekatnya. Wajahnya juga sama kawatirnya.
Ariana hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya perlahan. Seolah ia sedang tak bersemangat untuk mengatakan apapun.
"Iya..Semoga saja harapan kita semua bisa di dengar oleh Tuhan. Orion akan segera sadar seperti sedia kala." Ariana berusaha mengulas senyum di bibirnya. Agar tak ada yang tahu kesedihan yang mendalam yang sedang di rasakannya.
Anesyapun menghambur ke pelukan Ariana. Seolah bisa merasakan apa yang di sembunyikan oleh Ariana." Sudah..tenanglah. Semua pasti akan baik-baik saja!" Mengelus punggung Ariana lembut. Tingkahnya terlihat layaknya seorang kakak perempuan kepada adik perempuannya.
Melihat itu. Aska yang sedari tadi diam saja. Saling tatap dengan Reno saat menyaksikan adegan mengharukan di depannya. Kemudian mereka sama-sama tersenyum. Merasa senang melihat Ariana dan Anesya bisa terlihat sebagai sepasang adik kakak yang saling menyayangi.
Sedangkan Ariana. Merasa kekuatan dan keyakinannya bertambah saat di peluk dan di semangati oleh Anesya. "Terimakasih Kak Anesya atas dukungannya." Kata Ariana setengah berbisik. Kemudian mereka saling melepas pelukan masing-masing.
Anesyapun tak segan mengusap sisa-sisa air mata Ariana yang menempel di pipinya. "Sudah ya. Jangan sedih terus. Kalo Orion tahu kamu begini. Dia juga pasti ikutan sedih. Jadi tersenyumlah!" Ujar Anesya lagi dengan suara renyah khasnya yang enak di dengar. Ia juga mengulas senyum ceria di bibirnya agar Ariana bisa turut tersenyum seperti dirinya.
******
Kini di ruang tunggu. Tinggalah Ariana yang sedang ngobrol ringan dengan Anesya. Sedangkan Aska dan Reno berpamitan ke luar untuk mencari makanan.
__ADS_1
"Orion dulu itu tidak setampan sekarang. Dia itu dulu pria cupu. Hahaha.." Anesya berusaha menceritakan hal-hal lucu mengenai Orion pada Ariana. Agar gadis manis itu sejenak bisa menghilangkan kesedihan yang ada dalam hatinya.
Ariana pun berhasil tertawa mendengar celotehan dari Anesya. Ia juga tampak antusias ingin mengetahui seperti apa suaminya dulu sebelum bertemu dengannya. "Hahaha..benarkah? Secupu apa dia dulu?" Tanyanya di sela-sela tawanya.
"Haha..pasti kamu tidak akan percaya dengan ceritaku!" Anesya membuat Ariana semakin penasaran.
"Ceritakan saja kak. Aku ingin dengar." Ariana jadi merasa tak sabar.
"Ya..Jadi dia itu dulu penampilannya cupu. Jadi aku mendadaninya supaya Dia jadi terlihat keren. Aku juga tahu dia dulu suka padaku tapi dia tidak berani mengatakannya. Jadi akhirnya aku yang menyatakan rasa sukaku duluan. Dulu lucu deh Dia itu. Hahaha." Anesya juga tampak bersemangat sekali saat menceritakan semuanya.
Jadi dulu, Orion pernah punya kisah yang sangat manis juga bersama kak Anesya. Tiba-tiba perasaan cemburu menelusup halus ke dalam hatinya. Membuatnya tak bersemangat lagi untuk ikut tertawa.
Melihat perubahan ekspresi Ariana. Anesyapun segera menyadarinya. Iya pun segera menghentikan gelak tawanya. Kemudian tangannya meraih tangan Ariana. "Jangan sedih. Itu hanya masa lalu. Karena sekarang yang ada dalam hatinya hanyalah dirimu. Orion sendiri yang mengatakannya sendiri waktu itu. Jadi maafkan aku jika ceritaku tadi membuatmu merasa tidak nyaman." Ekspresi wajah Anesya terlihat tulus saat mengatakan semua itu. Berharap Ariana juga bisa merasakan dan mau mepercayai perkataanya. Bahwa saat ini ia sama sekali tak bermaksud sedikitpun untuk merebut Orion darinya.
Ariana tersenyum. Mencoba memahami perkataan Anesya. "Iya..Kak..Tidak apa-apa. Lagipula tadi aku kan yang memaksamu untuk cerita."
"Kamu tenang saja. Aku tidak bernapsu lagi dengan Orionmu itu. Karena sekarang sudah ada laki-laki lain yang bisa menggantikan posisi Orion di hatiku." Anesya jadi tersenyum malu-malu saat mengatakan kalimat terakhirnya. Seperti orang yang sedang kasmaran.
"Apakah Orang itu Kak Reno?" Ariana seolah sudah bisa menebaknya. Karena tadi Reno terlihat perhatian sekali pada Anesya.
Dengan malu-malu Anesyapun mengangguk perlahan. "Iya..bagaimana kamu bisa tahu?" Ujar Anesya seraya tersenyum.
"Aku tahu dari cara Kak Reno menatapmu. Aku rasa Kak Reno benar-benar menyukaimu Kak." Ariana turut tersenyum. Merasa senang melihat wanita di sampingnya itu kini bisa menemukan kebahagiaannya sendiri.
Anesya tergelak." Haha..bisa saja kamu. Aku juga tidak tahu kenapa aku jadi suka juga padanya. Mungkin aku suka karena kesabarannya menghadapi sikapku yang suka semaunya ini." Terlihat sekali eksprsi bahagia terpancar di wajahnya. "Ah..maaf. Aku jadi malah curhat begini denganmu." Sambungnya merasa malu.
"Tidak apa-apa Kak. Anggap saja mulai hari ini kita adalah teman." Ariana berkata seraya mengacungkan jari kelingkingnya ke udara.
"Ah..ya baiklah. Kita teman sekarang!" Anesya meraih kelingking Ariana dengan kelingkingnya. Kemudian mereka berdua sama-sama tertawa dan kembali melanjutkan obrolan mereka.
Mereka benar-benar terlihat seperti sepasang Kakak adik yang saling menyayangi sekarang.
BERSAMBUNG..
__ADS_1
jangan lupa like dan vote nya. love u my readers 🥰