
Sepertinya keadaan Orion dan Ariana sudah mulai membaik. Dokter membolehkan mereka pulang ke rumah setelah tiga hari di rawat di rumah sakit. Karena Ibu Rima sangat kawatir dengan keadaan Ariana dan menantunya Orion. Beliau menyarankan agar mereka mau menginap di rumahnya untuk sementara waktu sampai keadaan mereka benar-benar pulih kembali.
Sedangkan Pak Alvian masih sibuk menyelesaikan pekerjaanya di luar kota yang tak bisa di tunda walaupun hanya untuk menjenguk anaknya Orion dan menantunya Ariana. Jadi semua urusan merawat Orion dan Ariana di serahkan pada besannya yaitu Ibu Rima.
Setelah perdebatan kecil antara Orion dan Ariana. Akhirnya mereka berdua menuruti kemauan Ibu nya itu. Bukannya kenapa-napa. Ariana hanya merasa sedikit kawatir tentang nanti saat di ruko Ibu.la harus tidur sekamar atau terpisah dengan Orion. Mengingat di rukonya hanya ada dua kamar saja. Yaitu kamar Ibunya dan kamar dirinya sendiri. Mau tidak mau pasti ia terpaksa harus sekamar dengan Orion. Mana mungkin ia bisa tidur terpisah. Kalopun harus tidur di kamar ibu. Pasti Ibunya akan menyuruhnya tidur di kamarnya sendiri bersama Orion. Lagipula kan sudah suami istri. Pasti begitu. Ariana sudah tahu pasti akan begitu jadinya. Jadi ia hanya akan memikirkan cara antipasinya saja jika nanti Orion macam-macam padanya. Ya ..seperti biasanya. Ariana takut tak bisa mengelak lagi kali ini. Toh memang itu hak Orion untuk melakukan itu padanya.Tapi...
"Ariana..!" Ini bubur untuk Orion telah siap. Kamu bawa ke kamarmu dan suapi Orion." Ujar Ibu yang sudah tampak menuangkan bubur yang baru matang ke mangkuk.
Ariana menghampiri Ibunya dengan langkah malas. "Ibu..Orion itu kan sudah besar. Kenapa harus di suapi segala. ltu namanya manja." Ujanrnya seraya memenyunkan bibirnya.
"Hei..jangan begitu. Bukankah dia sampai begitu karena berusaha memyelamatkanmu. Lagi pula melayani suami itu pahalanya besar. memangnya kamu tidak mau?"
Ada kata-kata Ibu yang mengena di hatinya. Orion sampai begitu karena berusaha menyelamatkannya. Ah..benar. Sebuah bayangan saat Orion harus berlutut dan tak membalas pukulan Angga dan orang-orang suruhannya kembali membayang di benaknya. Orion melakukan semua itu demi keselamatan dirinya tanpa memikirkan keselamatannya sendiri.
"Benar kata Ibumu. Melayani suami dapat banyak pahala loh. Memangnya kamu tidak mau?" Tiba-tiba Orion menyahut pembicaraan Ibu seraya tersenyum. Rupanya ia sedari tadi sudah berdiri di depan pintu kamar Ariana. karena merasa bosan berada di kamar terus ia berinisiatif untuk keluar dan malah mendengar percakapan antara Ariana dan Ibu mertuanya.
"Eh..Nak Orion. Kenapa keluar-keluar kamar. istirahat saja di dalam. lni Ariana baru saja akan menagntarkan bubur untukmu. Ariana yang akan menyuapimu. Setelah itu baru minum obat supaya kamu lekas sembuh." Ibu Arian berkata dengan lembut dan perhatian. Membuat hati Orion sedikit bergetar. Rasanya sudah lama sekali. REh bukan, Ralat. Bahkan tidak pernah sama sekali di perhatikan seperti ini oleh seorang Ibu.
Sedangkan Ariana masih diam. Memperhatikan ekspresi Orion yang tiba-tiba berubah. Wajahnya tampak terharu sekaligus senang dan sedih. Ah entahlah.
"Ibu..apa aku boleh memanggilmu Ibu?" Ucap Orion tiba-tiba.
Ibu Rima merasa tersentak. Kemudian beliau tersenyum. "Tentu saja nak. Kamu kan menantu Ibu. Jadi kamu juga sudah Ibu anggap seperti anak Ibu sendiri."
"Kalo begitu. Apa boleh aku memelukmu. Sebentar saja. Aku ingin tahu seperti apa rasanya pelukan seorang Ibu." Wajah Orion tampak semakin sendu.
__ADS_1
Apa dia sungguhan. Dia tidak sedang main drama kan? Kenapa dia bersikap melow begitu. Bukankah dia paling anti bersikap seperti itu. Ada apa dengannya. Ariana.
Ibu Ariana kembali tersenyum seraya menghampiri manantunya. Tanpa berkata apa-apa lagi ia memeluk Orion dengan penuh kasih sayang. Sedangkan Orion hampir saja menangis. Tapi ia berusaha sekuat tenaga untuk menahannya. Tenggorokannya terasa tercekat. Ada rasa haru, Bahagia, Sedih yang seolah memenuhi rongga dadanya.
"Sudah cukup Bu. Terimakasih." Ujar Orion seraya melepas pelukannya. Matanya masih tampak merah menahan air mata yang berusaha berontak meminta keluar.
"Yasudah..Kamu makan buburnya dulu di kamar. Biar Ariana yang akan menyuapimu." Seru Ibu seraya menoleh ke arah Ariana." Ayo suapi Orion nak." Lanjut Ibu.
Yang di mintai tolong malah tampak melongo ssetelah melihat adegan drama yang tampaknya sudah selesai.
"Ya..baiklah Bu." Ariana masih tampak kikuk. Belum pernah ia melihat Orion sedramatis itu. Pikirnya.
Orion pun kembali masuk ke dalam kamar dan di ikuti pula oleh Ariana yang sedang membawa semangkuk bubur di tangannya.
"Apa kamu masih benar-benar sakit?" Ujar Ariana saat sudah berada di dalam kamar dan menyupi Orion."Buka mulutmu?" Lanjutnya lagi. Tingkahnya seperti seorang Ibu yang sedang menyuapi anaknya.
"Hemm..Bubur ini tidak ada rasanya. Hambar. apa aku boleh makan Pizza atau makan yang semacamnya." Rajuk Orion manja.
"Jangan bicara macam-macam. Lekas habiskan buburmu dan minum obat. Agar tugasku jadi baby sistermu cepat selesai." Ariana menyuapkan suapan terakhir.
"Tapi aku bosan makan yang begini terus."
"Sudahlah jangan manja. Ini obatmu. Minumlah!" Ujar Ariana lagi seraya menyerahkan gelas dan Obat pereda nyeri pada Orion.
"Nah..Sekarang tidurlah dan beristirahatlah." Ariana tampak telaten mengurus suaminya itu. Ia membantu Orion untuk rebahan kemudian mulai menyelimutinya.
__ADS_1
"Hai..Lalu kamu tidur di mana?" Orion menatap Ariana dan membuatnya kikuk.
"Aku akan tidur di lantai saja." Ujar Ariana tanpa menatap balik ke Orion.
Orion segera menarik tangan Ariana yang akan segera beranjak dari sisinya. "Kenapa kamu memilih tidur di bawah? Aku maunya di temani sama kamu."
Mau tidak mau akhirnya Ariana membalas tatapan Orion." Jangan bicara macam-macam. Aku akan tidur di bawah supaya kamu tidak terganggu olehku. Nanti lukamu takutnya tertimpa tanganku atau kakiku." Ariana beralasan.
"Hei..Alasan macam apa itu. Aku tidak mau tahu. Aku ingin tidur di temani oleh kamu. Tidak peduli kamu akan menimpaku seperti apa. Asal kamu disisiku." Orion tersenyum manis. Pandangan matanya terlihat tulus. Seolah semua ucapannya mewakili perasaanya yang sebenarnya.
Ariana masih terdiam. Masih merasa tak menyangka banyak begitu kata manis keluar dari bibir Orion hari ini.
"Aku tahu. Kamu pasti takut ya kalo akau akan macam-macam padamu. Jangan kawatir. mungkin aku hanya akan sedikit macam-macam padamu. Hee." Goda Orion pada Ariana yang masih tampak terpana.
Seketika mata Ariana mendelik. Pura-pura marah. Lalu kemudian tertawa. "Baiklah..Aku akan menemanimu tidur disini. Tapi jangan macam-macam ya."
"Kalo sedikit boleh kan. Hehe ?" Goda Orion lagi.
"Hemm..Coba saja kalo berani." Ujar Ariana seraya memamerkan kepalan tangannya.
"Haha..Ampun aku tidak berani." Seraya menarik tubuh Ariana agar tidur di sisinya.
Sejenak Ariana merasa terkejut. Mata merekapun kini bertemu. Orion hanya tersenyum seraya mencium kening Ariana dengan lembut.
Seketika Ariana merasakan kehangatan yang terasa nyaman mengalir ke seluruh tubuhnya. Bahkan jiwanya. la tak menyangka akan sesenang ini bila berada di dekat Orion.
__ADS_1
Merekapun akhirnya tertidur dengan saling berpelukan.