
Setelah berlari ke pusat kemudi kapal tapi tak menemukan siapapun disana. Akhirnya Orion kembali ke dalam, dan segera menuju dapur yang ada di kapal tersebut untuk mencari sesuatu. Ia membuka setiap lemari gantung yang ada di dapur tersebut. Dan ya...Akhirnya ia menemukan sesuatu yang ia cari, yaitu obat penurun panas. Selesai menemukan itu ia pun segera mencari air mineral yang ternyata juga ada tak jauh dari situ, bukan hanya itu, ternyata terdapat banyak makanan ringan serta bahan makanan lainya yang seolah sudah di persiapkan. Tapi Orion tak mau memikirkan hal itu. Ia hanya meraih sebuah roti untuk mengganjal perut istrinya dan dirinya sendiri. Kemudian segera bergegas kembali ke tempat istrinya yang mana sedang demam saat ini.
"Sayang, aku kembali, bertahanlah! Aku mohon." Ujar Orion dengan panik saat sudah berada di hadapan istrinya. "Astaga suhu badannya makin panas dan ia pun belum sadarkan diri. Bagaimana caranya ia akan makan dan minum obat." Orion tampak berpikir sejenak. Kemudian setelah itu kembali berlari ke dapur dengan tergesa-gesa.
Wajahnya tampak panik sekali. Tak lama setelah itu ia menemukan teko berisi air panas. "Bagus!" Serunya. Kemudian ia kembali bingung. Ia harus menemukan suatu benda seperti baskom untuk menampung air panasnya. "Ayo...Berpikirlah Orion." Gumamnya pada diri sendiri. Lalu ia seolah menemukan ide. Ia membuka lemari dapur bagian bawah. Dan benar saja ia menemukan apa yang ia cari.
"Syukurlah, sepertinya wadah ini cocok untuk tempat air panas. Sekarang aku tinggal cari kain kecil untuk mengompres!" Ujarnya lagi pada dirinya sendiri sambil menuang air panas yang ada di teko ke dalam wadah berbentuk mangkuk tersebut.
Selesai dengan itu ia kembali membuka bagian lemari-lemari kecil yang ada di hadapannya dengan tergesa. Sebuah handuk kecil bersih akhirnya ia menemukannya. Wajahnya tampak senang. Ia pun segera bergegas kembali ke tempat istrinya berada.
"Sayang, aku akan mengompresmu, semoga kamu baik-baik saja. Aku tidak akan mengampuni orang yang sudah membuat kita begini. Terombang ambing di lautan lepas seperti ini." Gumam Orion sambil memasang Kompress ke dahi Ariana. Orion melakukannya dengan berulang dan sangat telaten.
Orion juga sebenarnya sangat lapar. Tapi ia tahan. Ia ingin makan saat istrinya juga sudah siuman. Ia tak ingin kenyang sendirian, sedangkan istrinya sedang berjuang melawan sakit.
Karena kelelahan, akhirnya Orion tertidur di samping Ariana dengan keadaan perut kosong.
******
Di tempat lain. Tampak Sean sedang menjemur rumput laut di pelataran rumahnya yang langsung menghadap ke arah laut. Seorang pria paruh baya tiba-tiba menghampirinya.
"Sean, kamu menyewakan kapal kita kepada siapa?" Tegur pria paruh baya tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah Ayahnya.
"Aku sewakan pada turis lokal. Kenapa Yah?" Ujar Sean sambil sibuk menata rumput laut di hadapannya.
__ADS_1
"Kok kamu nggak bilang dulu sama Ayah?" Pria paru baya tersebut mengerutkan dahinya. Tampak bingung. "Astaga...Ayah sudah janji dengan para turis dari Australia untuk menyewakan kapal ayah pada mereka malam ini." Lanjutnya lagi sambil menghela nafas berat.
"Ya...Ayah kenapa tidak bilang dari kemarin. Aku terima penawaran dari turis lokal tersebut karena mereka berani bayar mahal untuk menyewa kapal tersebut hingga tiga hari kedepan." Jelas Sean yang kini sudah tampak selesai dengan aktifitasnya menjemur rumput laut.
"Astaga...Sampai tiga hari? Lalu bagaimana cara Ayah menjelaskan pada para turis Australia itu? Mereka ingin nanti malam kapal itu harus ada!" Ayah Sean yang bernama Pak Hans itu tampak bingung sekarang.
"Ya...mau tidak mau ayah harus terus terang pada mereka. Mau bagaimana lagi. Kapal saja sudah tidak ada. Atau kalau tidak ayah rekomendasikan saja kapal Paman Ang tetangga kita. Nanti uang sewanya bisa di bagi dua. Kan lumayan. Jadi Ayah tidak benar-benar kehilangan pelanggan." Sean memberi ide.
Wajah Pak Hans pun jadi berubah senang. " Wah benar juga ide kamu, ternyata kamu pinter juga Sean." Puji Ayah seraya mengacak lembut rambut putranya tersebut.
"Anak siapa dulu dong!" Seloroh Sean seraya tersenyum.
"Anak Ayah lah...!" Kata Pak Hans dengan sedikit ragu. Karena sebenarnya Sean bukanlah anak kandungnya. Sean hanyalah anak angkat. Dan Sean belum mengetahui kenyataan tersebut sama sekali.
******
Ariana tersenyum. "Terimakasih sayang, karena sudah merawat dan menjagaku dengan sangat baik." Ujarnya sambil membelai lembut pipi suaminya. Kemudian setelah itu ia bergegas bangun dan segera menuju ruangan lain. Ia tak ingin mengganggu tidur Orion yang lelap.
Ariana menuju dapur. Perutnya terasa sangat lapar. Tapi ia tak suka jika harus makan camilan atau roti saja. Jadi ia berinisiatif untuk memasak. Pertama-tama ia memasak nasi di reakuker. Setelah itu ia mempersiapkan bahan makanan yang biasa di gunakan untuk memasak nasi goreng. Dan kebetulan sekali bahan makanan di kulkas dapur kapal tersebut lengkap. Seolah-olah benar-benar segala sesuatunya sudah di persiapkan dengan baik. Tapi karena perut yang lapar. Ariana tak mau memikirkan hal itu. Iya hanya berpikir ingin memasak makanan yang enak untuk suaminya dan dirinya sendiri.
Di dalam kamar. Perlahan Orion berusaha membuka kedua matanya. Saat terbangun ia segera melihat kesamping. Tapi ia tak menemukan istrinya ada disana. Wajahnya seketika tampak panik.
Dimana Arianaku.
__ADS_1
Ia pun segera bergegas ke luar ruangan untuk mencari istri tercintanya itu.
"Ariana!" Serunya sambil terus berjalan menuju dapur.
Dan ia merasa lega saat melihat Ariana ada di sana sedang menata nasi goreng buatannya di atas piring.
"Sayang! Kamu sudah bangun!" Seru Ariana seraya tersenyum. Sekarang dua piring nasi goreng spesial di hadapannya sudah tampak selesai di tata dan siap di hidangkan.
"Hemmm...Aku cari-cari ternyata kamu ada disini?Aku merindukanmu sayang, aku takut sekali waktu kamu pingsan tadi." Ujar Orion yang langsung memeluk Ariana dari arah belakang.
Ariana tersenyum. "Ya maupun sayang, lihatlah aku baik-baik saja sekarang, ini semua berkat kamu yang sudah dengan baik menjagaku." Ujar Ariana seraya berbalik menghadap ke arah suaminya.
Kemudian Orion mencium kening Ariana lembut. "Aku hanya berusaha menjadi suami yang baik sayang, jangan berterimakasih padaku. Karena ini sudah kewajiban ku untuk menjagamu." Seru Orion lagi sambil menatap lekat-lekat wajah istrinya itu.
"Ya...baiklah kalo begitu, ayo kita makan. Pasti kamu dari tadi belum makan juga kan? karena menungguku sadar dari pingsan?"
"Kok kamu tahu aku belum makan?" Orion memandang terkejut ke arah istrinya.
Ariana lagi-lagi tersenyum. "Karena kamu pernah bilang, tidak akan makan sebelum aku makan."
Sekarang gantian Orion yang tergelak. "Astaga...kamu masih ingat saja soal itu."
"Ya...karena aku percaya itu bukan sekedar rayuan atau omong kosong. Aku tahu kamu sangat baik. Aku merasa beruntung berjodoh denganmu Orion!" Mata Ariana tampak berkaca-kaca sekarang. Semua kehangatan kasih sayang yang di berikan Orion benar-benar menyentuh hingga ke dasar hatinya.
__ADS_1
"Sudahlah...Aku pun beruntung karena jatuh cinta padamu. Kita makan sama-sama ya!" Ujar Orion sambil memeluk kilas istrinya, setelah itu mereka menuju ruangan lain sambil membawa dua piring nasi goreng di tangan mereka masing-masing.
BERSAMBUNG.