Mendadak Jadi Istri Muda

Mendadak Jadi Istri Muda
Tuan putri dan pengawal


__ADS_3

Ariana mulai mendorong tubuh suaminya perlahan. "Aku mohon! Jangan sekarang. Tunggulah sebentar lagi sampai aku benar-benar tahu hasil ujianku. Dan setidaknya setelah resepsi pernikahan kita." Untuk hal ujian Ariana tidak berbohong. Tapi mengatakan soal resepsi itu jelas hanya sebuah alasan. Bahkan ia tak pernah bermimpi resepsi pernikahannya akan benar-benar di rayakan dengan megah oleh keluarga suaminya.


Orion segera menggeser tubuhnya sendiri ke belakang. Kemudian tersenyum. "Kenapa kamu selalu membuatku menunggu. Kamu sengaja ya. Supaya aku makin tergila-gila padamu." Serunya seraya menyangga wajahnya sendiri dengan kedua tangannya. Menatap Ariana dengan tatapan gemas.


Sebenarnya siapa yang membuat gila siapa. Justru kamu yang membuatku gila. Argghh..Jangan memandangiku terus seperti itu. Jerit Ariana dalam hati.


"Kalo di pandangi terus seperti ini. Wajahmu benar-benar manis ya. Pantas aku selalu ingin memakanmu." Ujar Orion lagi tanpa mengubah ekspersi wajahnya.


Wajah Ariana makin bersemu merah. Hentikan..Hentikan! Jangan membuatku makin gila.


Melihat Ariana masih terdiam dan terpana oleh kata-katanya. Orion mencubit gemas hidung Ariana agar istrinya itu tersadar dari keterpanaannya.


"Aduuuuh..sakit tahu!" Ringis Ariana yang kini tampak mengusap hidungnya sendiri.


Tadi itu apa? darimana ia bisa menggombal seperti itu. Hemm Orion kamu manis sekali. Aku juga jadi ingin mema...


"Haiiss...syah..Apa sih yang aku pikirkan." Menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri. Mencoba mengusir pikiran yang berkelebat dalam kepalanya.


Melihat itu Orion tergelak. "Haha..Kenapa kamu ini. Apa di kepalamu mulai memikirkan hal mesum." Orion menatap menyelidik.


Mata Ariana terbelalak. Bagaimana dia bisa tahu. Begitu kira-kira arti tatapan matanya.


Segera Ariana mengerlip-ngerlipkan matanya sendiri. Menyadari tinggkahnya sendiri yang tampak konyol di hadapan Orion. Bahkan kini ia tak tahu harus mengeluarkan penyangkalan apalagi untuk menyanggah perkataan Orion.


"Ti..dak..Aku..Tidak berpikir yang seperti kamu katakan. Lagipula mana mungkin aku berpikir seperti itu. Hah..!" Menjawab seraya memalingkan wajahnya dari Orion.


"Emm..Tapi sepertinya wajahmu tidak berkata demikian. Pasti karena perkataanku tadi benar kan?" Orion terus mendesak Ariana sampai-sampai wajah istrinya makin memerah.


"Hah..sudahlah. Hentikan perdebatan konyol ini. Aku mau keluar. Mau mandi!" Memasang wajah kesal. Kemudian bersiap turun dari ranjang.


Menyebalkan sekali!


"Wah..wah..bahkan kamu sekarang berani menggodaku dengan cara mengajak mandi." Orion menyeringai nakal.


Hah..Apa dia sudah gila sungguhan. Siapa juga yang mengajaknya mandi. Siapa juga yang sedang menggodanya.


Ariana mendengus kesal. Menatap tajam pada suaminya yang masih saja terkekeh menertawakannya.

__ADS_1


Kemudian Ariana memasang senyum paksa."Ya..ampun suamiku. Kamu itu manis sekali." Ujar Ariana seraya menyentuh pipi Orion lembut.


"Haha..tentu saja. Memangnya kamu baru tahu." Ujar Orion bangga.


"Tapi..lebih manis lagi. Kalo kamu diam saja. Dan jangan bicara yang aneh-aneh lagi ya!" Ariana menepuk-nepuk pipi suaminya perlahan. Ekspresinyapun berubah menjadi galak lagi setelah mengucapkan kalimat terakhirnya.


Hah..Apa? Rupanya dia sedang ingin membalasku tadi. Orion mengulum senyum penuh arti.


Saat Ariana ingin berlalu dari hadapan Orion. Tiba-tiba Orion menarik paksa tangan Ariana. Membuat tubuh gadis itu kembali menghadap ke arahnya.


"Kamu mau mandi kan? Sini biar ku bukakan bajumu." Masih dengan tatapan menggoda. Kemudian tangannya membuat gerakan seolah ingin membuka kancing baju tidur Ariana.


Ariana reflek mundur ke arah belakangnya beberapa langkah seraya menutup bagian dadanya dengan kedua tangannya. Matanya membelalak. Wajahnya tampak lucu.


"Kenapa sayang! Kenapa kamu lari? Aku kan sudah pernah lihat semuanya." Orion tak bisa menahan tawa gelinya. Matanya masih mengawasi Ariana dengan tatapan merasa lucu dengan tingkah istrinya.


"Ka..ka..pan kamu melihatnya." Mata Ariana berkedip-kedip tak beraturan. Merasa sangat malu dengan dirinya sendiri.


"Hahaha..Kamu itu naif sekali. Kita kan sudah pernah mandi bersama waktu itu. Masa' kamu lupa. Apa perlu aku ingatkan lagi." Tatapan Orion makin menggoda.


"Hah..sudah..sudah..tidak perlu!"


*******


Selesai mandi dan berpakaian. Ariana masih tampak mendiamkan Orion. Saat menikmati sarapan di meja makan. Bahkan Ariana tak mengeluarkan satu patah katapun pada Orion. Ia masih merasa kesal dengan sikap Orion yang tadi. Itu sama saja Orion seolah sedang menelanjanginnya. Ah..tidak-tidak. Ralat. Kata-kata itu membuat Ariana bergidik saat hanya membayangkannya saja. Jadi Ariana memilih kata menguliti dalam kepalanya. Itu sama saja Orion seolah sedang mengulitinya. Ulang Ariana dalam kepalanya. (Eh..bukannya ini omongan Author ya. Hehe).


"Hei..kamu kenapa? Masih marah soal tadi?" Ujar Orion seraya menghampiri tempat duduk istrinya.


Ariana masih terdiam. Belum ingin menjawab. Tangannya masih sibuk menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


Orion tersenyum melihat itu. Kemudian mengalungkan lengannya ke leher istrinya yang sedang duduk."Kamu itu pemarah juga ya ternyata. Aku kira kamu itu lembut. Haha..Sayang kamu itu lucu sekali." Orion mendaratkan ciuman di pipi Ariana dua kali. Berharap istrinya bisa menghentikan aksi ngambeknya.


Ariana bergeming. Seolah tak ingin peduli. Ia masih saja santai makan hingga suapan terakhir.


"Biar aku yang tuangkan air putih untukmu." Orion bergegas menuang air putih yang ada di teko ke dalam gelas. Kemudian segera memberikannya pada Ariana."Nah..ini ! Minumlah sayang. Habis makan pasti kamu haus kan ?" Kini badannya sudah berjongkok seraya memegangi gelas dan meminumkannya pada istrinya.


"Nah..sudah." Sekarang tampak mengusap bibir Ariana perlahan. Mencoba mengelap sisa-sisa air yang menetes di bibir Ariana."Aku sudah memperlakukanmu dengan baik tuan putri. Apa kamu akan tetap marah padaku?" Ujarnya lagi seraya meletakkan gelas ke meja dan tanpa mengalihkan pandangannya pada istrinya.

__ADS_1


Apa katanya. Dia menyebutku tuan putri. Haha manis sekali. Tapi kenapa aku malah merasa dia sedang memperlakukanku seperti bayi. Hmmm melihat dia semanis ini. Aku jadi ingin berbalik menggodanya.


"Emm..Jadi kamu ingin mendapatkan maaf dari Tuan putri rupanya. Tidak semudah itu. Aku punya keinginan lain. Apa kamu bersedia menurutinya wahai pengawalku." Ariana mengatakanya sambil berusaha menahan tawanya yang hampir pecah.


Apa? Haha..Dia menyebutku pengawalnya. Sudah di kasih hati malah minta jantung rupanya. Hemm..Jadi kamu ingin main drama Tuan putri sekarang. Baiklah aku akan menemanimu bermain-main sekarang.


"Wah..wah..Tuan putri ini sangat pintar rupanya. Pengawalmu ini akan bersedia melakukan apapun demi melihat tuan putri bisa tersenyum kembali." Mengerlingkan mata genit pada Ariana.


"Ehem..hem.." Ariana berdehem. Seolah-olah sedang mendalami perannya yang baru sebagai tuan putri. "Kamu tahu kan pengawal. Belakangan ini aku sibuk belajar. Dan itu membuatku sedikit bosan. Bisakah Tuan pengawal mengantarku jalan-jalan keluar untuk menghirup udara segar. Seperti jalan-jalan ke mall. Ke taman hiburan. Atau kemanapun. Yang penting hari ini aku ingin jalan-jalan."


Sekarang Ariana sudah tampak tersenyum. Sekarang tuan muda ini akan jadi pengawalku. Haha. Siapa suruh kamu mencintaiku dengan berlebih. Ah..senangnya. Mungkin suatu saat aku juga akan mencintaimu dengan berlebih. Pasti cintaku akan berlebih karena kamu juga menaburi aku dengan cinta yang berlebih seperti ini.


Orion tak tahan lagi untuk menahan gelak tawanya. "Hahaha..Baiklah Tuan putri! Apa perlu juga kita menginap di hotel. Agar aku bisa memberi pelayana plus-plus untukmu?" Seraya kembali mengerlingkan mata genitnya.


Seketika mata Ariana membulat. "Orion!! Kenapa kamu suka sekali menggodaku." Seru Ariana seraya memukul pelan pundak suaminya itu.


"Haha..Aku suka melihat mukamu yang memerah karena malu."


"Hentikan..! Hentikan..! Aku tidak mau dengar lagi!" Ariana sudah mulai menutup wajahnya sendiri dengan kedua tangannya karena malu.


Melihat itu Orion kembali terkekeh seraya berusaha membuka tangan yang menutupi wajah istrinya.


"Baiklah..Aku hanya ingin satu ciuman saja. Itu sudah cukup untukku."


"Memangnya kamu tidak bosan apa menciumku?" Sekarang matanya menatap Orion yang masih berjongkok di hadapannya.


"Ah..mana mungkin aku bosan. Aku malah kecanduan."


"Ah..tidak-tidak..!"


"Kenapa?" Orion menatap bingung. Ariana menutup mulutnya dengan satu tangannya.


"Bagaimana kalo kita melakukannya di hotel saja!" Ariana mengerlingkan sebelah matanya.


"Apa?"


BERSAMBUNG..

__ADS_1


Oh ya..jangan lupa like dan vote nya ya. makasih 😁


__ADS_2