Mendadak Jadi Istri Muda

Mendadak Jadi Istri Muda
Anesya dan Rachel yang merepotkan


__ADS_3

"Oh...ya ampun. kenapa Hp ku berbunyi terus sih. tidak tahu apa aku sedang sibuk belajar untuk UTS." Dengus Orion sambil meraih Hp yang tergeletak tak jauh dari Kasurnya. Di lihatnya banyaknya panggilan tak terjawab dari Rachel dan juga Anesya. Setelah itu ia malah mematikan Hp nya. Dan pandangannya kembali ke laptop."Merepotkan sekali gadis-gadis itu. Agresif sekali. Mereka pikir aku akan tertarik pada mereka apa ha."


Tok..tok..


Terdengar suara ketukan di depan pintu kamarnya.


"Ini satu lagi. Mau menggangguku juga rupanya." Gumam Orion seraya bangkit dari ranjangnya dan berjalan menuju pintu. kemudian membukanya.


"Ada apa?!" Ujar Orion ketus saat pintu telah terbuka dan mendapati Ariana sudah berdiri di depannya.


Kenapa sih galak banget.


Ariana tersenyum paksa. "Aku hanya ingin memberi tahumu kalo makan malam sudah siap. itu saja."


"Benarkah cuma itu? Jangan-jangan kamu datang kesini untuk menggodaku ya?" Orion kembali menjahili Ariana.


Oh ya ampun..bicara apa sih dia. Bukannya dia sekarang yang sedang menggodaku. Dengan tatapan mesum begitu.


"Tidak..jangan asal bicara ya. Kalo kamu mau makan aku sudah siapkan makanannya di meja. Dah..aku juga mau belajar dulu di kamarku." Ujar Ariana dengan nada senormal mungkin. la sangat tidak ingin berdebat dengan Orion. Tahulah..mana mungkin dia mau mengalah. Pasti ia akan selalu memutar balikkan fakta.


"Hemm..yasudah sana belajar. Jangan melamun mesum. Hehe." Goda Orion lagi.


"Wueekk..emang aku pikirin." Ujar Ariana kesal sambil berlalu dari hadapan Orion.


Tuh kan..aku bilang juga apa..Dia yang suka mikir mesum. Malah aku yang di tuduh. menyebalkan sekali.


Orion hanya tertawa geli sambil menggelengkan kepalanya.


"Jangan lupa shalat! jangan sampai otakmu yang mesum itu nanti di bakar di neraka. Hehehe." Ledek Ariana pada Orion saat ia sudah ada di depan pintu kamarnya sendiri.


"Berani ya kamu sekarang.." Orion pura-pura marah. Ia benar-benar merasa gemas dengan gadis itu sekarang.


"Wuek..!" Ujar Ariana lagi seraya masuk ke kamarnya dan menutup pintunya.

__ADS_1


******


Paginya ketika mengantar Ariana ke sekolah. Orion terpaksa harus berhadapan lagi dengan teman baru Ariana yaitu Rachel.


"Kak..kenapa sih semalam nggak angkat telpon dari aku?" Suaranya terdengar manja.


Orion hanya bisa tersenyum kecut. "Emangnya harus ya aku angkat." Nada suaranya terdengar sedikit ketus.


Kemudian Ariana menyenggol lengan Orion. "Jangan bersikap begitu. Bersikaplah baik sedikit padanya." Ujar Arian berbisik di telinga Orion. Sampai-sampai ia harus berjinjit karena tubuh Orion yang tinggi.


"Kenapa juga aku harus menurutimu?" Ujar Orion dengan suara yang lirih pula.


"Aku bilang lakukan saja. Apa susahnya sih." Ariana sudah mulai tampak kesal. Dan akhirnya ia menginjak kaki Orion agar Orion mau menurutinya.


"Augghh..Sakit tahu!" Seru Orion sambil meringis kesakitan.


"Kak Orion kenapa?" Ujar Rachel tampak kawatir.


"Iya..Aku nggak apa-apa. Sudahlah..Maaf semalam aku sedang belajar. Jadi aku tak mengangkat telponmu. Maaf ya." Ujar Orion dengan nada normal.


"Tapi besok-besok angkat ya kak. Rachel pingin ngobrol banyak sama kakak. boleh kan."


Aduuuhhhh..apa sih gadis ini. Merepotkan saja.


"Hemm..!" Jawaban Orion akhirnya.


Rachel tampak kebingungan dengan kata 'Hemm' dari Orion.


"Emm..maksud kakak ku. ltu tandanya iya." Akhirnya Ariana yang mentranslit perkataan Orion.


"Oh..jadi begitu. Kak Orion itu orangnya cool ya. Senang deh bisa kenal sama kakanya Ariana." Ujar Rachel lagi seraya tertawa riang.


Tapi aku tidak senang. Gumam Orion lirih.

__ADS_1


"Yasudah ya..aku harus ke kampus. Takut kesiangan." Ujar Orion datar seraya kembali ke dalam mobil kodoknya. Tadinya ia ingin naik motor. Tapi Ariana memaksa naik mobil butut itu saja.


Apa boleh buat. Walaupun Gadis yang sudah jadi istrinya itu kadang merepotkanya karena tingkahnya yang absurd. Tapi Orion sepertinya tak bisa menolak permintaan gadisnya itu.


"Dah..Kak Orion !" Rachel melambaikan tangannya pada Orion. Tapi mata Orion malah tertuju pada Ariana.


Ariana sudah membuatnya hampir gila. Tapi sekaligus membuatnya harus mati-matian berkata yang tidak sesuai hatinya.


*****


Di kampus. Wanita penggoda yang satunya lagi medatanginya. Anesya tampak terkejut melihat Orion menaiki mobil yang menurutnya bukan selera Orion.


"Aku tidak memyangka kamu ke kampus dengan mobil seperti ini." Ujar Anesya tampak tak suka dengan mobil kodok milik Orion.


"Memangnya kenapa? Mobil ini bagus kok. unik." Seru Orion datar. Sekelebat bayangan Ariana membayang di pikiranya. Bayangan saat Ariana betapa sangat menyukai mobil kodok itu. Mobil ini unik seperti dirinya. pikir Orion seraya tersenyum sendiri.


"Hei..Ada apa denganmu? Kamu tidak sedang sakit kan ?" Ujar Anesya lagi. Berusaha memyadarkan Orion yang seolah bertingkah aneh.


"Ya..aku memang sedang sakit. Tapi sakit ini membuat hatiku merasa sangat senang." Orion tersenyum lebih lebar lagi. Ia menyadari kalo Perasannya pada Ariana itu nyata. Nyata hingga membuatnya terlampau senang.


Anesya menatap Orion tak mengerti. "Oh..iya Rion. Kenapa semalam tak mengangkat telpon dariku? Apa kamu sudah memikirkan perkataanku waktu itu?" Anesya mencoba mengalihkan pembicaraan. Perkataan yang ia maksud waktu itu adalah tentang keinginannya menjadi istri muda Orion.


"Semalam ya..emm aku sedang bermesraan dengan istriku. Jadi maaf tidak menjawab panggilan telpon darimu." Orion sengaja memanas-manasi Anesya. Ia berharap dengan begitu Anesya akan menyerah.


Wajah Anesya seketika tampak tak suka." Oh..jadi begitu.baiklah tidak apa-apa. Aku tidak boleh merasa cemburu pada istrimu. Iya kan? Karena aku adalah calon madunya." Ujar Anesya berlagak normal. Entah karena apa ia sampai kehilangan urat malunya seperti itu.


Apa..? Aku tidak percaya ia mengatakan hal menggelikan seperti itu. Ku pikir ia akan menyerah setelah aku bicara begitu. Ternyata ia malah bertambah gila.


"Anesya..ku peringatkan padamu ya. berhentilah seperti ini. ini demi kebaikanmu sendiri." Ujar Orion akhirnya dengan nada serius. "Jangan buat dirimu terlihat menyedihkan di depanku." Lanjut Orion seraya berlalu dari hadapan Anesya.


Anesya terdiam. Tak bisa berkata-kata apa-apa lagi. Air matanya hampir tumpah di sudut matanya. Tapi sebisa mungkin ia menahannya. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat karena harus menahan emosinya yang hampir saja meledak. Tapi bukan sekarang waktunya untuk menyerah. Ia berjanji pada dirinya sendiri. Akan membuat hidup Orion bersama istrinya tak semudah yang mereka bayangkan.


Kalo aku tak bisa memilikimu. Siapaun juga tak ada yang boleh memilikimu.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2