
Orion sudah tampak memarkir motornya di pelataran kampus. Membuka helm dan menaruhnya di stang. Kemudian turun dari motor dan bersiap melangkah memasuki area kampus.
"Orion!" Seseorang memanggilnya dari arah belakangnya saat ia mulai menyusuri koridor kampus menuju kelasnya.
Orion memutar badannya. Menoleh ke asal suara. Kini pemilik suara itupun sudah tepat ada di hadapannya.
"Ada berita bagus nih. Kamu sudah tahu belum?" Ujar Reno si pemilik suara yang tak lain dan tak bukan sahabat baik Orion.
"Berita apa memangnya yang harus aku ketahui." Sahut Orion dengan muka datar seolah tak terpengaruh dengan omongan sahabatnya itu.
"Memangnya kamu belum tahu. Kalo Anesya sudah pulang dari Residensinya di jepang. Aku melihatnya tadi pagi di ruang dekan."
Orion masih tampak flat. Ia sebenarnya sedikit terkejut. Tapi bukan Orion namanya kalo tidak bersikap sok cool. "Memang apa hubungannya denganku?" Seraya melangkahkan kakinya kembali menyusuri koridor.
Reno memandang tak percaya. "Kamu bilang apa barusan! Dia kan pacarmu, kenapa kamu seolah tak peduli begitu padanya."
"Ku beri tahu satu hal ya. Kami itu sudah putus. Jadi kenapa aku harus peduli padanya."
Reno makin melongo tak percaya. "Memang kapan kalian putus. Kenapa aku tidak tahu?"
"HAH..Sudah..Sudah..Kenapa kamu itu berisik sekali. Mau putus atau tidak. Memangnya aku harus lapor padamu." Orion sudah mulai terusik. Ia tak ingin mengingat-ingat hal memyakitkan itu lagi. Hal saat Anesya memutuskannya secara sepihak lewat email.
__ADS_1
Setahun lalu. Gadis itu yang bernama Anesya larasati adalah salah satu maha siswi yang terpilih mendapat beasiswa progam residensi pelatihan dan pengembangan teknologi masa kini di jepang selama satu tahun. Dia memang gadis yang cerdas dan ambisius. Saat gadis itu menerima beasiswa tersebut. Ia sudah menjalin hubungan asmara dengan Orion selama setahun sejak mereka masuk ke vakultas yang sama. Dulu mereka terkenal sebagai pasangan paling serasi di kampus.
Namun, sejak kepergian Anesya ke jepang. Hubungan mereka jadi semakin renggang karena harus menjalin hubungan secara LDR. Anesya yang tidak tahan dengan hubungan jarak jauh. Memutuskan untuk putus dari Orion. Dalam email yang di tulisnya pada Orion. Gadis itu menjelaskan. Bahwa ia tidak bisa konsentrasi dengan progam residensinya di jepang karena hubungannya dengan Orion harus di jalankan secara LDR. Ia tidak bisa berhenti memikirkan seandainya Orion menjalin hubungan lain dengan seorang gadis tanpa sepengetahuanya. Begitu juga sebaliknya. Ia tidak tahu apakah ia juga bisa menjaga perasanya sendiri pada Orion. Ia takut akan bertemu pria lain dan tertarik pada priabtersebut. Pemikiran gadis itu sangat rumit. Ia tidak ingin merasa terhianati atau pun menghianati. Jadi hanya karena alasan itu. Alasan yang tak masuk akal bagi Orion. Gadis itu memutuskan Orion secara sepihak.
Orion tidak memyangka bahwa gadis itu akan berpikir sesempit itu. Bukankah Cinta dalam sebuah hubungan itu harusnya saling percaya dan menjaga kepercayaan, rela berkorban dan saling mendukung satu sama lain. Orion tak percaya Anesya malah meragukan cintanya dan kesetiaannya. Bahkan meragukan cinta dan kesetiaanya dirinya sendiri. Bagaiman bisa ia dulu jatuh cinta dengan wanita egois. Yang hanya peduli pada logikanya dan bahkan mengesampingkan perasaanya sendiri.
"Hei..Aku kan hanya bertanya. Kenapa mukamu harus seperti baju belum di strika seperti itu?" Reno menyikut pundak sahabatnya itu. "Hemm..Kalo kamu sudah beneran putus sama Anesya. Jadi apakah aku boleh mendekatinya?" Sambungnya dengan tersenyum sumringah.
"Haaah..Terserah padamu sajalah. Aku tidak peduli." Seru Orion yang tampak sudah berada di ambang pintu kelasnya dan bersiap untuk masuk. Kemudian duduk di tempat biasanya.
Reno mengikuti Orion duduk di sebelahnya setelah mengusir anak lain yang sempat duduk di tempatnya sekarang. "Kamu serius? Baiklah kalo begitu aku tak akan ragu-ragu lagi." Ujarnya dengan mata berbinar seolah sedang mendapat lotre bermilyar milyar. (hehe lebay).
Orion masih diam tak menjawab. Entah apa yang ada dalam pikiranya saat ini. "Lagipula aku juga akan segera menikah. Dua hari lagi." Akhirnya membuka suara.
"Pelankan suaramu bodoh." Orion berkata dengan setengah berbisik. Kemudian memperhatikan sekeliling. Memeriksa apakah tadi ada yang mendengar apa yang di katakan Reno. "Ini rahasia tahu." Lanjutnya setelah memastikan semua aman. Sepertinya tak ada yang mendengar tadi. Teman-temanya yang ada di kelas itu tampak sedang sibuk dengan gegetnya masing-masing.
"Lalu untuk apa kamu merahasiakan pernikahanmu." Reno bertanya dengan suara yang sangat lirih.
"Karena calon istriku itu masih bersekolah. Jadi tidak ada yang boleh tahu setatusnya saat ini." Ujar Orion dengan suara sama pelannya.
"Memangnya kenapa kalo semua orang tahu?"
__ADS_1
"Kalo semua orang sampai tahu. Nanti tidak ada sekolah yang mau menerimanya lagi karena sudah bersetatus menikah. Ingat ini rahasia. Jangan beri tahu siapapun mengerti. hanya kamu yang ku beri tahu dan ku undang."
Reno mengancungka jempolnya seolah sedang berkata oke rahasiamu aman di tanganku.
Teman-teman yang kini sadar dengan keanehan sikap mereka yang bicara sambil berbisik-bisik padahal mereka sedang berhadap-hadapan. Mereka melihat dengan sorot mata seolah sedang berkata. Apa mereka sudah gila. Kurang kerjaan. Apa mereka homo? Haha.
Sadar sedang di lihat dengan tatapan aneh merekapun segera menghentikan aktifitasnya berbicara dengan cara berbisik dan pura-pura duduk di bangku masing-masing. Bersikap normal seolah tak terjadi apa-apa barusan.
*******
Jam pelajaran kuliah telah selesai. Orion segera beranjak dari duduknya dan bergegas berjalan menyusuri koridor kampus menuju parkiran motor.
Saat ia tengah berada di parkiran motor sebuah suara mengagetkanya.
"Apa kabar Orion."
"kamu?" Menoleh ke asal suara.
"Sudah lama ya?"
Orion masib terdiam tak menjawab...
__ADS_1
BERSAMBUNG...