Mendadak Jadi Istri Muda

Mendadak Jadi Istri Muda
Istri Muda


__ADS_3

Perlahan tapi pasti. Keadaan Orion berangsur-angsur membaik. Sekarang ia sudah mampu untuk bicara dengan lancar. Tapi sepertinya badannya masih lemah. Hingga dokter menyarankan untuk sementara waktu ia harus menggunakan kursi roda.


Ariana mendorong kursi roda yang di tumpangi Orion ke taman yang masih ada di areal rumah sakit. Udara pagi yang segar sangat cocok untuk pemulihan kondisi Orion.


Kemudian mereka berhenti di sebuah pohon rindang di areal taman. Ariana sudah menenteng kotak makanan yang berisikan hasil masakannya sendiri.


"Ta..da! Sudah lama kan kamu nggak makan masakan aku?" Mengacungkan kotak makanan ke udaran di hadapan wajah Orion."Hari ini aku sengaja masak buat kamu saat dokter bilang kamu sudah boleh makan. Ya walaupun cuma bubur. Kerena lambungmu sudah lama tidak di isi makanan. Jadi Dokter menyarankan kamu harus mengosumsi makanan lunak seperti bubur untuk penyesuaian lambungmu." Ujar Ariana seraya membuka kotak makanan yang berisi bubur ayam buatanya sendiri.


Seulas senyumpun mengembang di bibir Orion. "Sudah lama juga aku juga tidak memakanmu. "Meskipun bermaksud menggoda istrinya. Tapi wajahnya masih terlihat datar. Mungkin ekspersi muka juga butuh penyesuaian.


"Haiiisss..Kenapa di saat-saat seperti ini masih juga sempat-sempatnya kamu menggodaku?" Ujar Ariana dengan pipi yang tiba-tiba bersemu merah karena malu. Tapi tangannya sudah nampak bersiap menyendok sesuap bubur. "Aaa..Buka mulutmu!" Ujarnya lagi seraya menyodorkan sesendok bubur ke mulut Orion.


Orionpun melahap buburnya dengan perasaan senang."Jadi kamu ingin aku menggoda gadis lain? kalo aku tidak boleh menggodamu. "Bicara setelah berhasil menelan bubur di mulutnya.


"Coba saja kalo berani!" Ariana pura-pura marah. Kemudian tersenyum seraya kembali menyuapi suaminya. "Kamu tidak boleh menggoda gadis lain selain aku. Kamu boleh tersenyum pada gadis lain. Tapi hatimu hanya boleh untukku." Ariana tertawa kecil. Terlihat menggemaskan.


"Hatiku untukmu. Lalu jika ragaku di miliki gadis lain boleh?" Berkata dengan ekspresi datar. Membuat Ariana kesulitan untuk membedakan perkataan Orion itu serius atau hanya sekedar bercanda.


"Apa maksdumu?" Suara Ariana terdengar lemah. Merasa ragu dengan pertanyaanya sendiri.


"Aku ingat di dalam tidur panjangku kemarin. Saat aku masih berusia 6 tahun. Aku pernah berkenalan dengan seorang gadis kecil Dan Ayah gadis kecil tersebut berharap aku jadi jodohnya." Masih berkata dengan ekspresi yang tak bisa di tebak.


Entah kenapa tiba-tiba saja dada Ariana berdebar sangat kuat. Aliran hawa panaspun seolah merayapi tubuhnya. Telinga dan matanya pun seketika terasa panas. "Hei..apa kamu serius? Kamu hanya bercanda kan. Hanya untuk menggodaku kan. iya kan?" Matanyapun kini tampak berkaca-kaca. Jelas ia cemburu. Rasanya panas sekali.


Orion menggeleng lemah. "Tidak. Aku tidak bercanda. Aku serius. Bahkan Ayah gadis kecil itu memberiku sebuah kalung perak berliontin setengah hati. Tapi aku lupa menaruhnya entah dimana."


Butiran bening si sudut mata Ariana bersiap meluncur tanpa aba-aba. "Jadi..Kamu ingin mewujudkan harapan Ayah dari gadis kecil di masa lalumu itu?"


"Entahlah..Tapi anehnya saat aku akan sadar dari tidur panjangku. Aku melihat bayangan gadis kecil itu yang seolah sudah menjadi dewasa. Dia menggenggam tanganku hingga aku bisa tersadar seperti sekarang ini."


Kenapa Dia tega sekali mengatakan semua itu padaku. Jadi kemarin dia bangun bukan karena aku. Tapi karena Gadis kecil yang ada di masa lalunya. Apa dia sungguh-sungguh dengan ucapannya.


Ariana mulai menyeka kasar air matanya yang sudah mulai jatuh ke pipi. "Jadi kamu ingin mencari gadis kecilmu itu. Yasudah sana pergi cari dia. Dan lupakan saja aku!" Mulai beranjak dari posisinya yang tadi berjongkok menyuapi Orion. Dan seklai lagi mengusap mukanya dengan kasar.


Air mata sialan. Kenapa terus saja keluar.

__ADS_1


"Hei..Kenapa kamu menangis sayang. Apa kamu cemburu?" Mata Orion menatap lurus ke arah Ariana yang sudah mulai membuang muka.


'Cih..apa-apaan Dia itu. Masih berani bertanya lagi!


"Kenapa aku harus cemburu. Kalo kamu ingin mencari gadis kecil itu. Yasudah cari sana." Berkata yang berlawanan dengan hatinya. Kemudian ia teringat kalung yang tempo lalu ia temukan di lemari Orion. Mungkinkah kalung itu yang Orion maksud? Gumam Ariana dalam hati.


Tangan Arianapun segera merogoh saku jaket yang di kenakannya. Kebetulan jaket yang ia kenakan masih jaket yang sama. Jaket yang mana ia memasukkan kalung perak berleontin setengah hati itu ke dalam sakunya.


"Aku baru ingat..Apa kalung ini yang kamu maksud?" Ujar Ariana seraya merentangkan kalung yang berhasil ia raih dari dalam saku jaketnya.


Orionpun memperhatikan dengan seksama. "Darimana kamu mendapatkannya? Bagaimana benda itu bisa ada padamu?" Mata Orionpun tampak berbinar.


Jadi Dia benar-benar menganggap benda ini benda paling berharga untuknya. Matanya sampai berbinar begitu.


"Aku menemukannya di lemari pakaianmu." Ujar Ariana datar. Seolah sudah tak ingin mengeluarkan satu patah katapun lagi.


Orion berusaha meraih kalung itu dari tangan Ariana. Tangannya yang masih lemah tampak bergetar saat mendapati kalung itu ada di tangannya sekarang.


Kenapa? Kamu senang kan sekarang ?Kenapa tidak mencari gadis kecil itu terlebih dahulu sebelum bertemu denganku. Kamu.menyakitiku tahu!


Masa' bodo kamu mau ngomong apa. Aku nggak mau dengar.


"Ariana!" Orion memanggil istrinya dengan suara lemah.


"Hemm."


"Menurutmu bagaimana? Apa aku harus mencari gadis itu?"


Mana aku tahu. Kenapa tanya padaku. Menyebalkan sekali.


"Hemm."


"Hei..kenapa bicaramu hanya hemm..hemm..saja. Apa kamu sedang sariawan?"


Menurutmu?

__ADS_1


"Sebenarnya aku merasa sudah menemukan gadis itu sebelum kecelakaan waktu itu. Apa kamu mau menemaniku untuk menemui gadis itu?"


Dasar nggak punya hati. Sudah gila ya? Kenapa mengajakku menemuinya?


"Kenapa repot-repot mengajakku. Temui saja sendiri. Nanti aku takut jadi penganggu pertemuan kalian yang sangat mengharukan itu kan?" Berkata dengan wajah cemebrut. Membuat Orion merasa lucu ketika melihatnya.


"Sayang ! Apa kamu cemburu?"


Sudah tahu pake nanya lagi. Apa lagi itu. Masih berani memanggilku dengan sebutan sayang. Dasar nggak tau diri.


"Bagaimana menurutmu soal... istri muda?" Orion berkata dengan sedikit ragu. Ada sedikit penekanan di kalimat terakhirnya.


Seketika Ariana membelalakkan matanya. Mulutnyapun menganga tak percaya. Apa dia sudah gila sungguhan. Berani-beraninya dia mengatakan soal itu di hadapanku. Dia itu anggap aku apa sih!


Ariana sudah mulai merasa geram. Ia pun segera melangkahkan kakinya besar-besar meniggalkan Orion begitu saja. Ia pun tak mempedulikan Orion yang berteriak-teriak memanggil namanya.


*****


Akhirnya Orion kembali ke kamarnya dengan di bantu oleh seorang suster yang tanpa sengaja lewat di areal taman.


"Tadi bagaimana bisa bapak bisa berada di taman ini sendirian. Seprrtinya kondisi anda masih sangat lemah. Jadi tidak mungkin kan anda ke taman sendirian?" Ujar sang suster yang sudah mulai mendorong kursi roda yang di tumpangi Orion.


"Suster! Kenapa anda cerewet sekali. Jangan panggil aku dengan sebutan bapak. Bahkan aku belum punya anak."


Sang suster pun sedikit tergelak mendengar ucapan Orion yang baginya tampak lucu." Lalu aku harus memanggil anda dengan sebutan apa? Kalo di lihat-lihat kamu tampan juga ya." Ujar suster yang masih tampak sebaya dengan Orion.


"Hei suster! Jangan mencoba menggodaku. Aku itu sudah punya istri. Dan ternyata dia itu cemburuan sekali." Mengatakannya seraya tersenyum terkulum.


"Oh..jadi kamu sudah punya istri? Kalo begitu bagaiman kalo aku jadi istri mudamu?" Berkata sambil terkekeh. "Hahaha Aku hanya bercanda. Habisnya kamu tampan sih. Aku jadi ingin menggodamu." Ujarnya lagi seraya tergelak.


"Sudah ku bilang jangan menggodaku!"


BERSAMBUNG....


😖😖😖😖

__ADS_1


__ADS_2