Mendadak Jadi Istri Muda

Mendadak Jadi Istri Muda
Persiapan bulan madu part 1


__ADS_3

Ariana baru saja membuka matanya, sepertinya tadi malam tidurnya sangat nyenyak. Ia bangkit dari tidurnya sambil mengucek-ngucek matanya yang belum terbuka sempurna sambil sesekali menguap. Ia merasa sedikit terkejut saat mendapati tak ada Orion di sisinya.


Orionku, dimana kamu?


Ia melihat ke arah jendela. Cahaya matahari yang sangat menyilaukan masuk menembus melewati jendela kaca besar yang tirainya sudah tampak terbuka.


Hemm..Ariana bergumam, apakah Orion sudah bangun? Pikirnya. Mengingat tadi setelah shalat subuh berjama'ah mereka kembali melanjutkan tidurnya.


Tak lama kemudian Orion muncul dari arah pintu kamar dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman.


Perlahan ia berjalan mendekat ke arah Ariana yang masih duduk di ranjang.


"Pagi sayang!" Ujar Orion seraya tersenyum dan segera meletakkan nampan makanan yang di bawanya di meja kecil sisi ranjang. Dan dengan segera mencium kening istrinya kilas.


Ariana masih tertegun dan tak bisa bicara apa-apa. Suaminya mendadak begitu romantis, begitu pikirnya.


"Lihat! Aku sudah membuatkan sarapan untukmu tuan putri!" Seru Orion dengan wajah sumringah. Ia kembali mengambil nampan yang sempat ia letakkan di meja kecil sisi ranjang tadi. Sekarang ia duduk dengan memangku nampan tersebut dan bersiap untuk menyuapi Ariana.


"Ya ampun Orion! Seharusnya aku yang menyiapkan sarapan untukmu, maaf aku malah bangun kesiangan." Ujar Ariana dengan nada sedikit bersalah.


Orion hanya tersenyum melihat ekspresi Ariana yang tampak bersalah. Kemudian ia mengelus pipi istrinya itu lembut. "Tidak apa-apa, aku lihat tidurmu sangat pulas, jadi aku tidak tega membangunkannya. Dan lagipula ini hanya sandwitch, ini mudah membuatnya, dan aku sudah biasa membuatnya." Jelas Orion sambil mengacak lembut rambut istrinya.


"Ya..tapi harusnya aku bangun lebih awal daripada kamu, dan menyiapkan sarapan untukmu." Rajuk Ariana tambah merasa bersalah.


Karena merasa gemas, Orion kini mencium kening dan pipi Ariana dengan lembut. "Sudah ku bilang tidak apa-apa, biasanya kamu yang menyiapkan sarapan untukku, kali ini gantian aku ingin memanjakanmu, mumpung aku masih punya banyak waktu luang. Jadi aku ingin memanjakan istri tercintaku ini." Seru Orion seraya menoel pelan hidung Ariana.


Mendengar itu Ariana jadi tersenyum dan tersipu malu. Sejak kapan Orion jadi pandai menggombal dan romantis seperti ini.


"Ya..tapi kita makan sama-sama ya? Kamu juga pasti belum sarapan kan?" Ujar Ariana menatap menyelidik wajah suaminya. Bersamaan dengan itu tiba-tiba terdengar suara dari perut Orion yang menandakan sedang lapar.


Akhirnya mereka tertawa bersama-sama. Merasa geli. "Ya..Aku juga sudah lapar dari tadi sebenarnya!" Seru Orion dengan muka bersemu merah karena merasa malu.


"Kalo begitu, biar aku yang menyuapimu." Ariana segera mengambil sepotong sandwitch dan mengarahkannya ke mulut Orion. "Buka mulutmu!" Serunya lagi sambil tersenyum.

__ADS_1


"Hemm..rasa sanwitch ini jadi bertambah enak bila di makan dari tanganmu!" Seru Orion seraya mengunyah sandwitch yang ada di dalam mulutnya.


"Hah..Mana ada begitu, dasar gombal." Sergah Ariana dan kini wajahnya tampak malu-malu.


"Siapa yang gombal, aku sungguh-sungguh!" Sergah Orion dengan menatap dalam ke mata Ariana.


"Sungguh-sungguh apa?" Ariana turut menatap ke arah mata Orion.


"Sungguh-sungguh mencintaimu!" Ujar Orion akhirnya seraya tersenyum. Ada ketulusan di dalam mata itu hingga terasa ke dalam hati Ariana.


"Aku juga sungguh-sungguh!" Ariana menatap tajam ke arah suaminya.


Sejenak Orion mengerutkan dahinya, merasa sedikit heran dengan ucapan istrinya. "Kamu pasti mau copy paste kata-kata ku kan?" Seloroh Orion seraya tersenyum jahil.


Seketika Ariana menggeleng cepat. "Bukan!"


"Lalu?"


"Sungguh-sungguh ingin selamanya bersamamu!" Ariana mengatakanya dengan sangat sungguh-sungguh. Betapa sekarang bisa merasakan cintanya pada Orion juga kian besar. Sampai-sampai takut jika harus kehilangan pria yang ada di hadapannya saat ini. "Jangan pernah meninggalkan aku, berjanjilah!" Seru Ariana lagi dengan nada serius. Matanya sudah mulai berkaca-kaca.


Ariana yang mendengar itu merasa sedikit lega. Tidak biasanya ia mudah untuk mengungkapkan apa yang ada di pikirannya. Sekarang ia mulai berani mengungkapkan apa yang di rasakannya terhadap Orion.


"Kalau begitu, tuan muda gantian suapi aku, aku juga lapar!" Ariana tersenyum dan mencium tangan Orion yang ia lepasan dari pipinya.


"Baiklah, nah sekarang makanlah!" Sekarang gantian Orion yang menyuapkan potongan sandwitch ke dalam mulut Ariana.


Pagi itu hati kedua insan itu terasa begitu hangat, sehangat sinar mentari pagi yang kini mulai beranjak tinggi.


*****


Setelah mandi dan rapi berpakaian, Ariana dan Orion keluar dari kamar dan turun ke bawah ke ruang tamu. Raut wajah keduanya tampak bahagia, mereka saling bercanda dan melempar tawa. Bahkan sekarang Orion tak canggung lagi untuk menggandeng erat tangan istrinya itu.


Di sofa ruang tamu sudah tampak ayah menunggu kehadiran mereka berdua.

__ADS_1


"Pagi yah!" Sapa Orion saat sudah berada di ruang tamu. Dan di ikuti pula oleh Ariana.


"Kalian duduklah!" Ujar Ayah seraya tersenyum. Beliau juga tampak bahagia melihat kebersamaan Orion dan Ariana yang tampak serasi dan bahagia.


Orion mulai duduk di sofa, Ia menarik tangan Ariana saat gadis itu memilih duduk agak jauh darinya. Ariana melakukannya karena merasa belum terbiasa dan malu.


"Kenapa duduk disitu, ayo disini di dekatku." Ujar Orion seraya menarik paksa istrinya untuk duduk dekat dengannya. Kemudian setelah itu melingkarkan tangannya ke pundak istrinya itu. Sepertinya sekarang ia tak ingin jauh-jauh dari Ariana. Dan seperti ingin menunjukkan kalo istrinya itu adalah miliknya seorang. Oh..ya ampun, aku kira ini agak berlebihan. Pikir author 😂.


Sejenak Ariana merasa sedikit canggung dengan sikap Orion yang terlihat berlebihan. Seharusnya ia tak perlu seperti ini, apalagi sedang ada ayah mertuanya. Tapi apa boleh buat. Orion memang suka seenaknya. Jadi kali ini Ariana hanya bisa menurut saja.


"Wah kalian makin mesra saja ya! Ayah harap sebentar lagi ayah akan segera menimang cucu!" Ujar Ayah seraya tersenyum penuh harap.


Mendengar itu, muka Ariana langsung bersemu merah karena malu. Apa-apaan, cucu? Pikirannya langsung melayang kemana-kemana.


Sedangkan Orion tampak santai menanggapi celotehan dari Ayahnya. "Apa ayah begitu menginginkan seorang cucu?"


"Tentu saja. Sepasang cucu yang tampan dan cantik, siapa yang tidak menginginkannya!" Ujar Ayah lagi seraya tergelak.


"Hemm..aku sih tidak keberatan, tapi tidak tahu dengan Ariana, bagaimana menurutmu sayang tentang harapan ayah?" Goda Orion pada Ariana yang kini wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus.


Ariana masih terdiam tak menjawab. Ia masih merasa sangat malu.


"Arianaku malu-malu rupanya.Haha." Ujar Orion seraya tergelak.


Apaan sih, Arianaku? Aku kan jadi malu.


"Oh..ya Orion, ayah sudah siapkan tiket bulan madu untuk kalian berdua. Kalian siap-siap ya ! Nanti malam keberangkatannya jam delapan."


Mendengar itu Orion dan Ariana langsung tercengang.


"Bulan madu?!" Ujar keduanya seraya bersamaan.


Ayah hanya mengangguk santai. "Bukankah itu salah satu cara agar ayah segera mendapatkan cucu, haha." Jawab ayah seraya tergelak.

__ADS_1


"Huft..Ayah..selalu saja dadakan!" Keluh Orion pada ayah. Tapi di dalam hatinya ia merasa senang.


BERSAMBUNG...


__ADS_2