
Hari pernikahan sudah semakin dekat. Tiggal sehari lagi Ariana akan sah jadi istri Orion Adriano. Membayangkannya membuat Ariana merinding. Seharian ini ia masih mengunci diri di kamarnya. Entah apa yang harus di lakukannya. ia merasa belum siap secara lahir dan batin. Sebuah pikiran konyol terbesit di benaknya.
"Kira-kira aku harus bagaimana ya nanti kalo aku harus satu kamar dengannya. Ah..Tidak..Tidak..Aku ingin minta tidur terpisah. Kan aku masih sekolah." Gumamnya pada diri sendiri. "Ehhgg..kenapa juga aku harus memikirkan hal semacam itu." Lanjutnya merasa kesal sendiri.
Ariana bergumam seraya berguling kesana-kemari. Pikiranya ngelantur kemana-mana. Akhirnya ia memutuskan untuk bangun dan keluar kamar.
"Duk.." Kepalanya seolah terantuk sesuatu saat membuka pintu kamarnya bermaksud untuk keluar darisana. "Augghh.." Mengaduh lirih dan matanya reflek mendongak ke sesuatu yang membuatnya terantuk tadi."Kamu!" Matanya membelalak kaget saat mendapati Orion sudah berdiri di depanya. Rupanya tadi ia terantuk dada Orion yang bidang.
"Makanya kalo jalan pake mata. Nunduk terus. Memang ada uang apa di bawah sana." Tersenyum meledek.
Sedangkan muka Ariana berubah masam. "Lelucon macam apa itu. Nggak lucu sama sekali. Lagian kenapa tiba-tiba sudah ada di depan pintu kamarku. Bikin kaget saja." sergahnya masih tampak kesal.
"Haha..Ternyata kamu bisa marah juga ya. Aku pikir kamu itu ratu senyum palsu."
"ngomong apa sih. Tambah nggak jelas saja, kamu belum jawab kenapa tiba-tiba sudah ada disini?"
"Tadi kata ibumu kamu sedang di kamar. Dan dia menyuruhku kemari. Tapi saat baru akan memgetuk pintu kamarmu malah kamu sudah keburu keluar kamar." Orion masih berdiri di sana sambil menyilangkan tangannya ke dada.
"Kenapa nggak telpon atau what sapp saja. Kan biasanya kamu nggak mau masuk rumah ini karena katamu rumah ini panas. Iya kan?" Dengan tatapan menyindir.
"Tapi sekarang nggak lagi." Tersenyum nakal.
*K*arena ada kamu. Untuk sesaat menatap Ariana dalam.
"Kenapa malah bengong?" Ujar Ariana dengan tatapan menyelidik.
"Ah..Tidak apa-apa. Kalo ku bilang nggak ya nggak. Begitu saja masa' aku harus menjelaskan juga sih." Seru Orion akhirnya. Dengan sedikit ketus. Ia tidak ingin Ariana mengetahui isi hatinya.
Aneh sekali orang ini. Kadang manis. Kadang ketus. Dasar kepribadian ganda.
"Terus kenapa kesini?" Ariana menatap tak mengerti.
"Aku kesini untuk mengajak kamu ke suatu tempat."
"Kemana?" masih terlihat bingung.
"Kamu itu cerewet sekali ya. Ya sudah sekarang kamu berganti pakaian. Baru setelah itu kita pergi."
"Ehgggh..Yasudah tunggu sebentar." Seru Ariana mulai kesal.
Entah kenapa Orion jadi latah. Tiba-tiba ia ingin turut masuk ke kamar Ariana.
"Hei..Kenapa mengikutiku ke kamar. Tunggu saja di luar. Bisa kan?" seraya mendorong Orion untuk keluar dari kamarnya. "Huh..Ada-ada saja, masuk ke kamar seorang gadis." Dengus Ariana setelah masuk ke kamarnya dan menguncinya.
Apa sih yang di pikirkan orang itu. bikin kesal saja. Jantungku, hah..Hampir saja mau lepas tadi. Tadi sebelumnya aku sempat berpikir kalo menikah harus sekamar dengannya bagaiman ya rasanya. Mungkin rasanya akan sama menegangkannya seperti ini. Huft.
__ADS_1
Sedangkan di luar kamar. Tampak Orion mengusap mukanya sendiri. Merasa malu pada dirinya sendiri. Mukanya memerah. "Apa yang ku pikirkan sih. Bodoh, kenapa juga aku tadi ikut masuk ke kamarnya. Hah..dasar payah." Gumamnya lirih seraya menuju sofa yang tak jauh darisana dan membating tubuhnya sendiri disana.
Tak berapa lama. Ariana sudah tampak rapih berpakaian. Ia keluar kamar dan menemui Orion di sofa ruang keluarga. Sejenak mereka bertatapan. Terlihat canggung. Mungkin karena kejadian tadi.
"Emm..kamu!" Bicara bersamaan. Kemudian diam sejenak.
"Aku.." Bicara bersamaan lagi.
"Yasudah kamu duluan saja mau bicara apa!" sela Orion cepat. Ia tak ingin kejadian tadi terulang lagi. Bicara bersamaan lagi.
"Emm aku cuma mau bilang kamu mau minum dulu tidak. Biar ku ambilkan. Atau langsung mau jalan saja." Ujar Ariana sedikit gugup.
"Tidak perlu repot-repot. Aku tahu di rumahmu pasti tidak ada minuman yang enak. Lebih baik kita langsung jalan saja."
Bisakah dia itu menjaga mulutnya sedikit saja. Tapi memang benar sih di rumah ku tidak ada minuman. Hehe. Cuma ada air putih saja. Tadi kan aku cuma basa-basi
"Yasudah kalo begitu kita jalan sekarang." Ujar Ariana dan bersiap melangkah menuruni tangga. Tapi saat ia melewati Orion. Tiba-tiba saja tubuhnya limbung karena kakinya tersangkut karpet ruang keluarga. Saat ia hendak terjatuh. Buru-buru Orion menangkap tubuh mungil gadis itu. Awalnya tubuhnya hampir jatuh tersungkur ke depan. Beruntung tubuhnya sudah di topang Orion akhirnya ia tidak jadi terjatuh dan ia malah memeluk Orion.
"Ah..Maaf. Maafkan aku." Ujar Ariana sangat gugup dan buru-buru melepas pegangannya sendiri pada Orion.
Orion tersenyum nakal. "Kenapa kamu harus minta maaf. Bilang saja kamu senang kan sudah ku pegangi tadi."
"Siapa yang bilang begitu. Aku kan tidak bilang. Darimana kamu tau? Eh..nggak. Maksudku kenapa kamu bilang begitu?"
Duuuuh..Karena gugup aku jadi salah bicara. seraya memegangi bibirnya sendiri.
Ariana kemudian mengikuti langkah Orion menuruni tangga. Sebelum keluar rumah mereka sudah berpamitan dulu pada ibu Rima.
*******
Singkat cerita. Orion dan Ariana sudah berada di restorant bergaya vintage. Restorant itu terdiri dari dua lantai. Dan ada juga rooftop nya. Orion sudah memilih tempat di rooftop. Karena dari sana bisa melihat pemandangan yang indah. Melihat keramaian kota saat senja tiba. Lampu-lampu kendaraan sudah tampak berkelap kelip di sepanjang jalanan kota.
Sambil menunggu menu tersaji di meja. Orion dan Ariana berbincang ringan.Tiba-tiba sebuah sapaan lembut dari seorang wanita membuat Orion terkejut.
"Hai..Orion. Ternyata kamu masih sering kesini juga." Tatapan Anesya seolah penuh arti. Seolah sedang berkata. Kamu saja selalu ingat tempat kesukaan kita berdua. Aku yakin kamu belum sepenuhnya melupakanku.
"Kenapa kalo aku masih sering kesini. Disini tempatnya bagus. Apa ada masalah denganmu?" Jawab Orion datar.
Sejenak melirik ke arah Ariana. "Ah..Tidak. Aku senang saja ternyata kamu masih ingat tempat kita berdua biasa kesini." Seraya tanpa malu duduk di sebelah Orion. "Aku gabung ya. Aku kesini sendirian. Jadi kalo aku gabung boleh kan? Aku harap kalian tidak keberatan."
Ariana hanya membalas dengan anggukan kecil. Sambil matanya seolah masih mencoba menerka-nerka gadis yang tengah duduk di samping Orion. Sedangkan Orion masih tampak diam saja.
Itu siapa? Kenapa gadis ini kelihatanya akrab sekali dengan Orion. Ariana.
Gadis ini. Dia pasti pacar Orion yang sekarang. Orion dengan gadis kampungan seperti itu. Apa nggak salah. Aku masih yakin Orion belum benar-benar melupakanku. Dia hanya sedikit kecewa padaku. Makanya dia jadi begini padaku. Anesya.
__ADS_1
"Hai aku Anesya. Aku dulu pernah punya hubungan dengan Orion." Ujar Anesya seraya menjulurkan tangannya pada Ariana.
Ariana yang tadi terdiam merasa sedikit tersentak. "Eh..iya. Aku Ariana." Ujar Ariana singkat.
Kenapa kamu nggak bilang kalo kamu calon istriku. Dasar bodoh.
Setelah perkenalan barusan. Suasananya jadi hening dan canggung. Hanya Anesya saja yang tampak antusias berbicara. Suaranya terdengar renyah dan enak di dengar seperti penyiar radio. Daritadi Ariana hanya banyak menunduk. Ia tidak mau melihat Anesya yang dari tadi sibuk menggangu Orion yang sedang makan. Bergelayut di tangan Orion. Berusaha menghapus sisa makanan di mulut Orion dan sebagainya. Ariana merasa risih dan ingin segera pergi dari tempat itu. Sedangkan Orion masih membisu ia seolah cuek dengan apa yang di lakukan Anesya kepadanya.
Entah bagaimana tadi. Akhirnya Ariana bisa bernafas lega. Kecanggungan ini berakhir juga pikirnya. Gadis itu tadi menerima telpon dari seseorang dan setelah itu ia pamit pergi.
Orion menatap Ariana lekat. Seolah sedang mencari sesuatu di mata gadis itu. Perbuatannya membuat Ariana jadi kikuk.
"Kenapa menatapku seperti itu?" Ujar Ariana malu-malu.
"Kenapa kamu sejak tadi diam saja?"
"Memangnya aku harus ngapain?"
Orion medengus kesal. Tatapanya seolah menyerah.
Kenapa kelihatanya tadi dia baik-baik saja. Harusnya kan dia cemburu.
"Orion!" Seru Ariana akhirnya. Saat mendapati perubahan sikap Orion yang tidak pernah bisa di tebak.
"Hemmm.." Menyahut tanpa melihat ke arah Ariana.
"Memangnya Anesya itu siapamu dulu? Kenapa kelihatanya kamu senang sekali di pegang-pegang olehnya tadi."
Seketika mata Orion kembali berbinar mendengar pertanyaan Ariana.
"Kenapa? kamu cemburu ya?" Ujar Orion seraya menatap menyelidik ke arah Ariana.
Ariana menggeleng cepat. "Tidak.." Kemudian memutar kedua bola matanya berusaha untuk mencari alasan. "Aku hanyan tanya saja. Memangnya tidak boleh."
Ekspresi Orion seketika berubah masam lagi. "Kalo tidak ,kenapa harus tanya-tanya segala."
Menyebalkan sekali. Gumam-gumam menggerutu.
Bersamaan dengan itu. Pelayan datang membawakan bill. Orion segera membayar dengan payment . Setelah pelayan berlalu. Orion juga segera beranjak dari situ tanpa menoleh ke arah Ariana lagi.
Terpaksa Ariana harus tergopoh-gopoh mengejarnya untuk menyamai langkahnya yang besar-besar.
Kenapa sih orang ini. Tindakannya selalu saja semaunya sendiri. Aku kan jadi tidak tahu apa yang sebenarnya ia inginkan. Kalo boleh jujur tadi sebenarnya aku sedikit cemburu.
BERSAMBUNG...
__ADS_1