Mendadak Jadi Istri Muda

Mendadak Jadi Istri Muda
Akhirnya mulai menemui titik terang


__ADS_3

Tapi Bu--..." Alfian masih berusaha Menjelaskan. Dan sepertinya percuma, Samanta tetap tak mau mempercayainya.


Tak lama kemudian, berdatangan lah para polisi di lokasi kejadian. Rupanya Samanta tadi sudah sempat menghubungi polisi.


"Tangkap pembunuh itu pak!" Perintah Samanta menggunakan bahasa di negri tempat ia tinggal saat itu.


"Samanta, dengarkan aku dulu!" Ujar Alfian yang pasrah tanpa perlawanan saat polisi mulai memborgol tangannya. "Saya tidak bersalah!" Seru Alfian yang kini berbicara dengan beberapa polisi yang menangkapnya dengan bahasa yang sama di gunakan oleh Samanta tadi.


"Sebaiknya anda jelaskan itu nanti di kantor polisi!" Sahut para polisi tersebut sambil tetap menggelandang Alfian untuk ikut bersama mereka ke kantor polisi.


Alfian sempat di jebloskan ke dalam penjara, karena Samanta sama sekali tak berniat untuk mencabut laporannya. Kemudian Alfian menyewa pengacara untuk menjamin dirinya. Lalu tak lama kemudian para polisi menemukan pelaku penembakan yang sebenarnya dan akhirnya Alfian pun bebas.


Saat bebas ia berusaha mengunjungi Samanta di rumahnya, tapi ia tak menemukan wanita itu di manapun. Entah karena syok atau karena apa, asisten rumah tangganya mengatakan sudah beberapa hari wanita itu sering mabuk-mabukkan dan tak pernah memperhatikan putra semata wayangnya lagi yaitu, Aska.


Kebetulan saat itu, bayi mungil bernama Aska sedang ada di gendongan Asisten rumah tangga Samanta yang sedang mengobrol dengannya.


"Nyonya sepertinya sudah tidak peduli dengan anak ini, kasihan dia!" Ujar Asisten rumah tangga tersebut.


"Kalo begitu biar aku saja yang merawat anak ini, boleh kah?" Asisten rumah tangga itupun tampak ragu saat harus menyerahkan Aska kecil pada Alfian.


"Tidak apa-apa, nanti aku akan bicara pada Samanta, nanti saat Samanta sudah mulai stabil kembali keadaannya aku akan mengembalikan putranya padanya. Oya..., dimana Samanta sekarang?"


"Ada di kamarnya tuan!"


Alfianpun segera menuju kamar Samanta sambil menggendong Aska kecil ditangannya.


"Kamu tenangkan saja dirimu dulu, biar aku yang akan merawat putramu!" Ujar Alfian pada Samanta yang saat ini seolah menatap kosong ke arah luar jendela kaca kamarnya. Sepertinya kepergian James membuatnya begitu terpukul hingga membuat jiwanya terguncang.

__ADS_1


Samanta hanya diam saja dan mengangguk. Lalu setelahnya Alfian pun bergegas keluar kamar dan membawa Aska kecil bersamanya. Beberapa minggu kemudian Alfian dan keluarga kecilnya, putranya Orion yang masih berusia 5 tahun saat itu, juga Aska yang masih berusia beberapa bulan. Alfian memutuskan untuk memboyong mereka semua pulang ke tanah air dan menetap hingga sekarang.


Semenjak saat itu, Alfian tak mengetahui lagi kabar berita tentang Samanta sampai akhirnya wanita itu kembali ke sini dan membuat kekacauan pada keluarganya.


Flash back off


******


"Oh..., jadi itu cerita yang sebenarnya?Kalo begitu kita harus mencari cara untuk menjelaskan semua ini pada Aska!" Ujar Orion antusias setelah selesai mendengarkan cerita dari ayahnya.


"Maunya ayah juga begitu, tapi kamu lihat sendiri kan, entah apa yang di katakan Samanta pada Aska, hingga anak itu benar-benar berbalik membenci ayah sekarang." Pak Alfian tampak kecewa dan sedih.


"Sabar yah, pasti masalah ini akan ada jalan keluarnya!" Ujar Orion berusaha menenangkan ayahnya dan pak Alfian pun hanya mengangguk meskipun raut wajahnya masih mengisyaratkan kegelisahan.


"Sebenarnya aku juga sudah menyelidiki wanita itu dengan seorang teman. Dan ternyata wanita bernama Samanta itu adalah dalang penusukan ku saat di bandara waktu itu!" Ujar Orion kemudian dengan suara sedikit ragu-ragu. Ia belum begitu yakin apakah ia harus menceritakan hal ini pada ayahnya yang kelihatannya sedang kalut saat ini.


"Apa?" Mata pak Alfian seketika terbelalak merasa terkejut. Dan Orion pun hanya mengangguk seraya menatap mata ayahnya dengan sorot mata meyakinkan.


"Tapi aku belum punya cukup bukti untuk melaporkan wanita itu ke kantor polisi. Kecuali...," Orion tampak memberi jeda pada kalimatnya, matanya seolah tampak berpikir.


"Kecuali apa?" Ayahnya menatapnya menunggu.


"Keculai aku bisa menemukan orang suruhannya waktu itu yang berhasil bebas dari penjara dan memaksanya untuk mengaku dihadapan polisi!" Ujar Orion mantap.


"Maksudmu, orang suruhan yang menusukkmu waktu itu?" Pak Alfian berusaha memperjelas maksud dari ucapan Orion, putranya. Dan Orion pun hanya mengangguk dengan sorot mata sangat yakin.


"Lalu apa rencanamu?" Tanya ayah kemudian.

__ADS_1


"Apa ayah tidak keberatan bila wanita bernama Samanta itu akan masuk penjara pada akhirnya?" Orion malah balik bertanya.


Pak Alfian pun langsung terdiam dan tampak berpikir sejenak. "Entahlah, aku sangat kecewa jika ternyata benar dirinya lah dalangnya. Bearti ia benar-benar berniat ingin mencelakai mu, tapi untuk apa? Untuk semetara waktu ini, aku akan berusaha menyelesaikan masalah ini dengan cara kekeluargaan. Mengingat jasa James yang begitu besar padaku, aku akan berusaha untuk memaafkan Samanta!" Jelas pak Alfian sekaligus menutup percakapannya dengan sangat bijaksana. Dan Orionpun hanya mengangguk tanda mengerti.


******


"Huft..., aku lelah sekali hari ini!" Ujar Orion saat sudah ada di kamarnya dan mulai merebahkan punggungnya yang letih di atas ranjang. Ia baru saja pulang bersama ayahnya tadi. Obrolan mereka sangat panjang tadi di cafe hingga membuatnya pulang larut malam dan sudah sangat terlambat dari waktu yang ia janjikan pada istrinya saat di telpon tadi.


Ariana yang ada di sampingnya tidur dengan membelakangi dirinya. Wanita itu marah karena Orion tak menepati janjinya.


"Sayang, jangan marah dong! Maafin aku!" Ujar Orion sambil memeluk tubuh istrinya dari belakang dan mulai menciumi tengkuk istrinya.


Ariana pun segera mengubah posisi tidurnya dan kini menghadap ke arah suaminya, dan mulai menatap pria itu dengan masam.


Orion tersenyum dan merasa gemas dengan tingkah istrinya, hingga ia berniat ingin menjahili istri tercintanya itu. Kini ia malah menciumi wajah istrinya bertubi-tubi.


"Hei..., apa yang kamu lakuin?" Ujar Ariana pura-pura marah.


"Menciummu!" Ujar Orion tanpa menghentikan aksinya. Ia malah menjalarkan ciumannya hingga ke leher dan membuat Ariana merasa kewalahan.


"Hei..., apa-apaan sih, hentikan!" Tolak mulutnya, tapi tubuhnya malah seolah menikmatinya.


"Ah..., Orion!" Ujar Ariana akhirnya dengan suara lemah.


Orion tersenyum melihat istrinya yang sudah bersikap pasrah sekarang, ternyata mudah menggoda istrinya, begitu pikirnya. Dan sekarang ia mulai mendaratkan bibirnya pada bibir istrinya, untuk sesaat mereka berciuman cukup dalam dan panjang. Orionpun mulai merapatkan tubuhnya pada tubuh istrinya. Tangannya pun sibuk menyentuh bagian tertentu dari istrinya. Untuk beberapa saat mereka msudah tampak polos tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuh mereka.


Malam itu mereka melakukannya lagi dengan penuh cinta yang bergelora di hati mereka masing-masing hingga mencapai puncaknya hingga mereka berdua kelelahan dan tidur di bawah selimut yang sama.

__ADS_1


Ariana mengeratkan pelukannya pada suaminya yang sudah tampak tertidur pulas di sampingnya. Sejenak ia tersenyum, lalu turut memejamkan mata. Kenapa tubuh suaminya begitu terasa pas baginya. Lalu ia merasakan kenyamanan dan larut semakin dalam menjelajahi mimpinya.


BERSAMBUNG.


__ADS_2