Mendadak Jadi Istri Muda

Mendadak Jadi Istri Muda
Pulang Sekolah


__ADS_3

Jam istirahat sudah tampak berbunyi rupanya. Anak-anak di kelas Ariana sudah mulai berhamburan keluar kelas. Hujan kecil rintik-rintik sedari pagi masih saja tampak turun di halaman sekolah. Tapi itu tak menyurutkan anak laki-laki untuk tetap bermain bola basket. Mereka masih tampak asik bermain sambil sesekali bercanda ria.


Langit masih tampak mendung. Saat Ariana memandangi lapangan basket dari kantin bersama teman barunya.Rachel.


Mereka memesan dua mangkuk bakso rupanya. "Hujan-hujan gini memang enak kalo makan yang hangat-hangat." Ujar Rachel yang sudah tampak tak sabar melahap bakso yang sudah tersaji di hadapannya. Begitu juga dengan Ariana.


"Kamu suka bakso juga ternyata. Hehe..makanan kesukaan kita sama." Seru Ariana seraya menambahkan saus di mangkuk baksonya.


"Nggak apa-apa selera makanan kita sama. Asal jangan suka dengan cowok yang sama. Hehe." Seloroh Rachel. "Ngomong-ngomong kamu sudah punya pacar belum?" Lanjutnya lagi.


Pertanyaan Rachel berhasil membuat Ariana tersedak kuah Bakso. "Huk..huk.." Ariana menepuk dadanya sendiri perlahan.


"Kamu kenapa? Kamu nggak apa-apa kan?" Seru Rachel seraya mengambil air mineral dan di serahkan pada Ariana. "Minum dulu nih. Kamu kenapa? Kok bisa sampai tersedak gitu."


Ariana segera meneguk air mineral yang di berikan Rachel tadi. Kemudian mengatur nafasnya yang masih tampak tersengal. "Makasih Ra." Ujarnya saat nafasnya kembali normal. Tapi matanya masih tampak merah karena aroma cabe yang menyengat dari kuah baksonya.


Rachel tersenyum. "Emangnya tadi aku salah bicara ya. Sampai kamu tersedak begitu."


Aku kaget sekali tadi. Aku bahkan sudah punya suami. Tapi mana mungkin aku mengatakan yang sejujurnya padanya.


"Nggak kok. Kamu nggak salah. Aku cuma kaget saja kamu ngomong begitu. Kalo aku prinsipnya nggak pacaran." Ujar Ariana yang masih tampak kikuk.


"Oh..gitu. Bagus dong. Aku juga mau ah kayak kamu. Hehe. Biar nanti langsung nikah aja."


Ariana hanya bisa tersenyum hambar mendengar celoteh Rachel. Bagaimana bisa ia berbohong. Tapi syukur deh kalo Rachel tidak curiga padanya. Dan malah ingin nggak pacaran juga seperti dirinya. Begitu pikir Ariana.


*****


Jam istirahat sudah usai. Seorang anak-anak laki-laki bertubuh jangkung tiba-tiba menghampiri Ariana dan Rachel yang baru ingin beranjak dari kantin.


"Hai..Ariana. Aku boleh nggak ngomong lagi sama kamu sebentar. Sebentar saja." Ujar Anak laki-laki itu yang ternyata adalah Angga. Seraya tangannya mengangkat kedua jarinya. seolah sedang berkata. Janji kok cuma sebentar saja. Mau ya. Begitu kira-kira sorot matanya mengisyaratkan.


Sesaat Ariana menoleh menatap Rachel. merasa tidak enak pada gadis itu lagi.


"Yasudah kalian ngobrol saja dulu. Biar aku ke kelas sendiri saja." Seraya tersenyum. Senyumnya seolah mengisyaratkan ia sungguh tidak apa-apa ke kelas sendirian.


"Makasih ya Ra." Ujar Ariana saat Rachel sudah melangkah pergi dari tempat itu.


Rachel tak menjawab hanya dengan isyarat tangan. Seolah berkata it's oke i'm fine.

__ADS_1


Kini tinggal Ariana dan Angga saja di kantin itu. Susana kantin juga sudah mulai sepi. Anak-anak lain juga sudah mulai masuk ke kelasnya masing-masing.


"Kamu mau ngomong apa. Aku takut guru sudah keburu masuk kelas." Ujar Ariana sedikit panik.


"Tidak..Aku hanya ingin tanya. Kamu berangkat dengan siapa tadi pagi?"


Mata Ariana terbelalak mendengar pertanyaan Angga barusan. Ia terlihat syok. Jadi tadi pagi Angga melihatnya. Aku harus jawab apa sekarang.


"Itu..aku..di antar seorang teman. Memangnya kenapa. Lagipula itu bukan urusanmu kan?" Ariana menjawab dengan sedikit gugup.


"Maaf..bukan maksudku mau ikut campur urusanmu. Kamu tahu kan. Kalo aku suka padamu. Aku begini karena aku peduli padamu. lagipula kalo cuma teman. Kenapa kelihatanya kalian mesra sekali tadi pagi?" Desak Angga dengan tatapan menyelidik.


Ariana sudah mulai berkeringat dingin sekarang. Tidak tahu harus menjawab apa lagi.


"Aku tahu kamu berbohong. pasti orang itu adalah orang yang sepesial bagimu. Iya kan? bisa jadi itu pacarmu. Tapi katanya dulu kamu nggak akan pacaran. Jadi bisa jadi orang itu adalah suamimu?" Ujar Angga lagi yang tidak juga mendapati jawaban dari Ariana.


Ariana tampak kesusahan menelan salivanya. Bagaimana bisa Angga bisa sejeli itu dalam menebak. "Maaf aku harus ke kelas dulu. Aku tidak ingin di hukum guru karena terlambat masuk kelas." Ujar Ariana sambil buru-buru berlalu dari hadapan Angga.


Aku sudah tahu semuanya Ariana. Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja.


******


Bel pulang sekolahpun berbunyi. Ariana dan Rachel keluar dari kelas secara beriringan. Mereka berjalan sambil bercanda ria. Sampai akhirnya mereka berjalan ke luar gerbang. Dan sudah mendapati Orion duduk di kap mobil kunonya menunggu Ariana.


Kenapa dia harus tersenyum manis seperti itu sih. kenapa juga harus di jemput olehnya. aku kan bukan anak kecil. Aku bisa pulang sendiri naik angkot. Lagipula kalo Rachel tanya tentangnya aku harus jawab apa.


Ariana melirik rachel yang ada di sebelahnya. Gadis itu malah tampak senyum-senyum sendiri seolah terpana melihat Orion yang tampan.


Sekarang Mereka berdua sudah ada tepat di hadapan Orion.


Rachel menyikut lengan Ariana dengan sikunya. "Katanya kamu tidak punya pacar. lalu ini siapa?" Ujarnya dengan suara lirih tapi masih bisa di dengar oleh Orion. Mata gadis itu juga masih menatap Orion dengan kagum.


"Aku itu suaminya Ariana." Sahut Orion datar.


"Bukan..Dia itu hanya asal bicara." Sergah Ariana cepat. "Dia ini kakak ku. Dia memang suka bercanda orangnya. Hehe." Ariana tersenyum paksa. Entahlah hanya itu yang terlintas di kepalanya. Pada akhirnya dia berbohong lagi.


"Apa yang kamu katakan bodoh. Gadis ini adalah...."Kalimat Orion terhenti karena bekapan tangan Ariana. Ia pun segera menarik tangan Orion untuk menjauh dari Rachel.


"Kamu ini kenapa sih. Kenapa kamu bilang aku ini kakakmu." Ujar Orion setelah Ariana membuka bekapan tangannya.

__ADS_1


"Pelankan suaramu. Memangnya kamu mau bilang kalo kamu itu suamiku. Kamu tidak sadar apa. Kalo ada yang mengetahui kita sudah menikah. Nanti aku bisa-bisa di keluarkan lagi dari sekolah."


"Hah..merepotkan sekali. Kenapa aku harus mengikuti sandiwaramu. Kamu pikir sekarang sedang main drama." Dengus Orion kesal.


"Sudah diamlah. Ayo kita kembali bicara pada Rachel. Aku tidak mau nanti dia curiga pada kita."


Ariana sudah tampak selesai berdiskusi dengan Orion. Sekarang mereka kembali mengobrol dengan Rachel yang tampak menunggu. Sepertinya gadis itu tak menaruh curiga pada Ariana.


"Nah..Rachel. Kenalkan. ini Orion Kakak ku."


"Rachel." Seraya mengulurkan tangannya pada Orion. Gadis itu tampak tak bisa mengalihkan pandangannya dari Orion.


Jangan sampai kebohonganmu itu akan mempersulit keadaanmu sendiri, Kamu benar-benar suka bersandiwara rupanya. gumam Orion seraya melirik ke arah Ariana.


Ariana menyenggol tangan Orion yang mengacuhkan uluran tangan Rachel. Matanya memberi isyarat agar Orion mau menjabat tangan Rachel.


"Orion !" Ujar Orion datar sambil menyambut jabatan tangan Rachel. Rachel berusaha tersenyum semanis mungkin di hadapan Orion.


Kenapa tingkah gadis ini aneh sekali. Jangan sampai gadis ini merepotkanku juga seperti Anesya. Oh..ya ampu Ariana apa yang kamu lakukan padaku.


"Emm..kak Orion. Rachel boleh nggak minta nomor kakak. plies!!" Ujar Rachel dengan gerakan memohon dan tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun pada Orion.


"Untuk apa kamu.."


"Sudah berikan saja." Ujar Ariana memotong kalimat Orion.


Orion medengus kesal. Kenapa ia malah menyuruhku memberikan nomorku pada gadis ini. Apa dia tidak merasa cemburu sedikit pun.


"Makasih kak." Ujar Rachel senang saat Orion sudah menuliskan nomornya sendiri di Hp Rachel."Oya..kak. Ariana. Aku kesan dulu ya. Jemputanku sudah datang. Dah kak Orion. Dah Ariana. sampai ketemu besok." Lanjut Rachel seraya tersenyum riang. Kemudian ia segera berlari ke arah mobil yang sudah menunggunya.


"Jadi kamu puas sekarang sudah membohongi gadis itu." Orion terlihat ketus.


"Hei..jangan bicara begitu. Rachel itu gadis baik. Jadi aku tidak ingin mengecewakannya." Ariana tampak merasa bersalah.


"Kamu selalu saja memikirkan perasan orang lain. lalu bagaimana dengan perasaanmu sendiri."


Juga perasanku. apa kamu tidak memikirkannya. Bagaimana bisa kamu tidak merasa cemburu ada gadis lain meminta nomor Hp suamimu. Aku kesal sekali padamu. Apa kamu tidak bisa menyadari perasaanku padamu. Apa di hatimu benar-benar tidak merasakan apapun terhadapku.


"Maksud kamu apa?" Ariana nampaknya benar-benar tidak peka. ia hanya diam termangu. la belum bisa mencerna kata-kata Orion dengan baik. Ia hanya menganggap Orion hanya kesal saja padanya seperti biasanya.

__ADS_1



BERSAMBUNG...


__ADS_2