
Tak lama kemudian, polisi sudah berdatangan untuk mengepung rumah Samanta.
"Jangan bergerak dsn coba-coba melarikan diri, kalian sudah di kepung!" Teriak seorang polisi dengan menggunakan pengeras suara, dan personil para polisi lainnya sudah bersiap-siap di belakang mobil mereka yang di jadikan prisai, sambil memasang ancang-ancang dengan memegang pistolnya. Bersiap membidik musuh jika saja ada yang coba-coba melarikan diri.
Rupanya sebelum pak Alfian dan Orion datang ke rumah besar itu, mereka berdua sudah bersiap-siap dengan menghubungi polisi terlebih dahulu. Tidak butuh waktu lama, akhirnya Samanta beserta anak buahnya berhasil di amankan dan di gelandang para polisi untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatan mereka di kantor polisi..
Uwiu... uwiu... uwiu...
Bersamaan dengan itu, mobil ambulance pun datang ke tempat kejadian perkara dan dengan segera memberi pertolongan pada Aska. Beberapa personil petugas rumah sakit pun segera bergegas membawa tubuh Aska ke dalam mobil ambulance.
Pak Alfian dan Orion turut ikut ke dalam mobil ambulance tersebut menemani Aska. Bersyukur denyut nadi di pergelangan tangan Orion masih terasa.
Pak Alfian dan Orion berharap, Aska masih bisa di selamatkan.
******
Di ruang tunggu rumah sakit, terlihat pria tua dan pria muda sedang berjalan mondar-mandir di depan ruang IGD dengan cemas yang seolah tak pernah lepas dari wajah mereka.
"Aku berharap Aska tetap bisa di selamatkan!" Gumam Orion sambil mengusap air mata di pipinya dengan kasar.
"Lebih baik kita banyak berdo'a nak, semoga adikmu mendapatkan keajaiban!" Pak Alfian menambahkan seraya berusaha duduk di salah satu kursi di ruang tunggu.
"Ayah lihat tadi, dia mengeluarkan darah begitu banyak, ah..., si bodoh itu, selalu saja bertindak bodoh, harusnya dia biarkan aku saja yang tertembak. Dasar Aska. Memangnya dia pahlawan!" Ujar Orion mengejek tapi tak bisa di pungkiri air mata kesedihannya kembali menetes.
"Tenangkan dirimu nak!" Pak Alfian mengelus punggung Orion lembut, berusaha menenangkan putra sulungnya yang terlihat kalut.
"Aku juga menyayanginya, Ayah...!" Ujar Orion kemudian dengan sesenggukan. Seolah sednag mengeluarkan kesedihan yang mendalam.
Tuk... tuk... tuk...
Tak lama kemudian terdengar langkah sepatu yang bergesekan dengan lantai koridor rumah sakit, terlihat beberapa orang dengan wajah panik berjalan ke arah mereka.
Ariana dan ibu Rima sudah tampak ada disana, di susul kemudian di belakang mereka Haikal dan ibunya, Fina.
"Bagaimana keadaan Aska?" Tanya Ariana dengan raut wajah sedih, dia melihat suaminya yang begitu frustasi kemudian menariknya perlahan ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Si bodoh itu...," Orion mulai menangis sesenggukan di dalam pelukan istrinya, "Dia tadi mengeluarkan banyak darah!" Orion melanjutkan kalimatnya di iringi tangisannya yang mulai pecah. Tanpa banyak bicara lagi, Ariana mengelus punggung suaminya bermaksud untuk menenangkannya.
"Tenanglah, semua pasti akan baik-baik saja, kita berdo'a saja untuk kebaikan Aska!" Ucap Ariana dengan suara lemah, dia juga sedang berusaha menahan kesedihan yang di rasakannya sama seperti suaminya.
"Kak Aska pasti akan baik-baik saja, tenang saja kak, dia kan kuat!" Celetuk Haikal dengan memasang wajah setegar mungkin. Fina yang ada di sampingnya mengelus kepala Haikal lembut seraya tersenyum. Wanita itu senang melihat putranya berusaha untuk menenangkan kakak sulungnya.
"Kamu benar Haikal," Sahut Orion seraya melepaskan pelukannya pada istrinya. Kemudian menghambur ke pelukan Haikal. Mereka berdua pun sama-sama tersenyum berusaha saling menguatkan satu sama lain.
"Semua pasti akan baik-baik saja!" Pak Alfian turut bergabung menghambur memeluk kedua putranya. Kemudian tangannya bergerak mengelus kepala kedua putranya dengan lembut.
"Huk...," Entah kenapa perut Ariana tiba-tiba merasa mual, dia menutup mulutnya dengan sebelah tangannya, dan tangannya yang lain memegangi perutnya.
"Nak, kamu kenapa?" Ibu Rima yang ada di sampingnya merasa panik.
"Entahlah, Bu. Tiba-tiba perutku terasa mual dan kepalaku sedikit pusing!" Sahut Ariana dan seolah sedang ingin menahan mualnya lagi, "sepertinya aku harus ke toilet, Huk...!"
"Sayang, biar ku temani!" Seru Orion sambil memapah tubuh istrinya berjalan menuju toilat.
"Apa yang terjadi padanya?" Tanya pak Alfian merasa bingung, dahinya mengeriyit saat menatap ibu Rima mengembangkan senyum simpul di bibirnya.
"Sepertinya sebentar lagi kita akan menimang cucu!" Jawab ibu Rima dengan mantap.
"Selamat ya!" Ucap Fina seraya menghambur ke pelukan Rima.
"Keluarga pasien, Aska!"
Suara seorang suster yang baru saja keluar dari ruang IGD mengagetkan mereka dan membuat semuanya menoleh ke arahnya.
"Ya, sus!" Jawab Pak Alfian dengan wajah yang kembali cemas seraya mendekat dan di ikuti pula yang lain.
"Dokter ingin bicara dengan keluarga pasien, perwakilan satu orang saja!" Jelas sang suster dan membuat pak Alfian dan yang lainnya saling tatap.
Ibu Rima mengannguk untuk memberi isyarat agar pak Alfian saja yang masuk menemui dokter, karena pria paruh baya itu adalah ayahnya.
"Biar saya saja,sus. Saya ayahnya!" Jawab pak Alfian akhirnya mantap.
__ADS_1
"Kalo begitu mari silahkan masuk!" Suster itupun membimbing Pak Alfian untuk masuk ke dalam ruang IGD.
"Syukurlah, putra anda telah melewati masa kritisnya, peluru yang bersarang di dadanya tidak sampai mengenai jantungnya, dan pelurunya juga sudah berhasil di keluarkan!" Sontak penjelasan dari sang dokter membuat pak Alfian terharu dan menitikkan air mata bahagia.
"Terimakasih atas bantuannya dok!" Ucap pak Alfian kemudian sambil menyalami sang dokter.
"Sama-sama pak, Tuhan masih ingin anak itu hidup rupanya!" Jelas sang dokter lagi sambil tersenyum dan menepuk pundak pak Alfian pelan. Dan Pak Alfian pun hanya mengangguk pelan sambil berusaha menyeka air matanya dengan satu tangannya.
"Dia sedang tidur sekarang, karena pengaruh obat bius, nanti setelah siuman baru akan di pindahkan ke ruang rawat inap, kalo begitu saya permisi keluar dulu ya pak!" Ujar sang dokter seraya berpamitan.
"Sekali lagi terimakasih dok!" Ucap Pak Alfian mengiringi kepergian sang dokter. Kemudian matanya teralih pada Aska yang kini terbaring lemah di atas brankar, sedangkan selang oksigen masih menempel di hidungnya, juga jarum infus menempel di salah satu tangannya. Melihat itu membuat hati pak Alfian terenyuh. Belum pernah pria paruh baya itu melihat Aska dalam keadaan selemah ini.
"Nak, syukurlah akhirnya kau selamat!" Ujar Pak Alfian kemudian sambil mengecup kening Aska lembut, "Kamu berhasil melewati masa kritismu, ayah senang dengan caramu bertahan, dan ayah bersyukur Allah masih memberikan ayah kesempatan untuk bisa melihatmu lagi di dunia ini!" Ucap pak Alfian kemudian sembari duduk di sebelah brankar tempat Aska terbaring.
Tak lama kemudian tangannya Aska bergerak sendiri, dan matanya juga tampak perlahan-lahan terbuka.
"Nak, kamu sudah siuman?" Pak Alfian langsung bangkit berdiri untuk memeriksa keadaan Aska. Sedangkan pandangan Aska masih tampak samar, dia belum begitu bisa melihat sosok ayahnya dengan jelas.
"Ayah...," Ucapnya kemudian setelah matanya terbuka sempurna.
"Aska...," Balas Ayah seraya tersenyum penuh haru, "Akhirnya kamu siuman, ayah senang sekali," lanjut pak Alfian seraya mengelus lembut kepala Aska.
"Di mana aku?" Mata Aska menerawang ke langit-langit, mencoba mengingat-ingat kejadian terakhir yang sempat dia alami.
"Ibu..., dimana dia?" Ujar Aska lagi saat mulai teringat sesuatu. Sebuah slide bayangan detik-detik ibunya menembakkan peluru ke badannya, setelah itu pandangannya menjadi gelap, dan dia pun terkulai tak sadarkan diri.
"Maaf..., ibu mu di bawa ke kantor polisi," Kata Pak Alfian dengan suara lemah, seolah ada sedikit rasa bersalah di hatinya.
"Aku rasa dia pantas mendapatkannya," Perkataan Aska membuat pak Alfian kembali mengangkat kepalanya dan menatap Aska tak percaya.
"Aku harap setelah ini ibuku akan menyadari semua kesalahannya, maafkan aku, ayah! Karena sempat meragukan mu...," Ujar Aska lagi dengan sorot mata tulus, membuat pak Alfian kembali menitikkan air mata haru.
"Nggak apa sayang, semua pasti akan baik-baik saja, nanti setelah kamu pulih, kita kunjungi ibumu di kantor polisi sama-sama!" Jelas pak Alfian seraya tersenyum lembut, membuat Aska merasa sedikit lega. Sepertinya ayahnya tidak membenci Samanta sama sekali yang merupakan ibu kandungnya.
"Terimakasih, ayah..., karena sudha mau memaafkan ibuku!" Ujar Aska lagi, dan pak Alfian pun hanya tersenyum seraya mengelus rambut putra keduanya itu dengan lembut.
__ADS_1
"Sekarang, yang terpenting adalah kamu pulih dulu!" Aska mengangguk dan tersenyum.
BERSAMBUNG.