
Azdan subuh berkumandang dengan kerasnya. Ariana pun terbangun seperti biasanya. Tapi yang membuatnya aneh pagi ini adalah penampilan Orion yang tampak agak berbeda. Ia sudah tampak mengenakan sarung dan peci pemberian darinya.Orion sudah lebih dulu bangun darinya tadi.
"Aku baru saja ingin membangunkanmu selesai wudhu tadi. Tapi kamu sudah bangun juga ternyata." Ujar Orion seraya mengecup lembut kening Ariana. Membuatnya tertegun sesaat. Seolah tak percaya dengan yang di alaminya pagi ini. Bagaimana bisa Orion bersikap semanis ini. Semalam juga. Begitu pikirnya.
Kenapa dia tiba-tiba suka menghujaniku ciuman di kening. Huaaahhh..Rasanya ini akan membuatku meleleh kalo dia terus-terusan begini.
"Kenapa malah bengong." Ujar Orion lagi seraya menempelkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke dahi Ariana untuk menyadarkannya. "Cepatlah ambil air wudhu. Kita Shalat bersama." Lanjutnya lagi seraya memasang senyum manis semanis gula-gula. (Ahai author lebay. Hehe).
"Ah..iya..baiklah. Tunggu ya!" Ariana segera bangkit dari ranjang dan segera menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Meskipun ia masih merasa sepicles dengan tindakan Orion yang tak biasanya. Ariana tetap merasa senang kalo Orion sedikit demi sedikit sudah mulai berubah. Menjadi lembut pikirnya. Membuat pipinya mengeluarkan rona merah.
Selesai shalat berjamaah berdua di kamar. Orion mengulurkan tangannya agar di cium oleh Ariana.
"Apa ini?" Ujar Ariana tampak terlihat bodoh.
"Masa' kamu tidak tahu. Ayo cium tanganku. Aku kan suamimu. Cepat lakukan." Ujar Orion seraya memasang muka serius." Nah begitu dong istri baik." Lanjutnya lagi seraya tersenyum saat Ariana menuruti kata-katanya.
Dari semalam tingkahnya aneh sekali. Dia nggak salah minum obat kan? Atau isi kepalanya jadi geser karena di pukuli kemarin itu.
"Hari ini kita mau ngapain ya? Aku bosan di dalam kamar terus. Aku juga tidak bisa pergi ke kampus. Ibumu pasti belum mengizinkannya. Tapi aku bosan. Hemm." Gerutu Orion sembari merebahkan tubuhnya kembali di kasur.
Sedangkan Ariana masih tampak sibuk membereskan mukenanya dan sajadah yang mereka pakai shalat tadi.
"Bagaimana kalo kita undang teman-teman main kesini. Aku undang teman-temanku. kamu undang teman-temanmu." Ariana memberi ide. Sekarang ia sudah tampak duduk di sisi ranjang. Di dekat Orion.
__ADS_1
Sesaat Orion menoleh ke arah Ariana. Mata mereka bertemu. Menimbulkan desiran di hati keduanya. Terasa samar dan halus menelusup ke hati. Menimbulkan rasa hangat yang mengalirkan kebahagiaan. Seolah hormon serotonin terisi penuh dengan membentuk bunga-bunga yang memenuhi seluruh ruangan di rongga dada. Membuat sesak namun terasa menyenangkan. kehangatanya pun terasa hingga ke pipi yang tiba-tiba memerah dengan sendirinya.
Ariana. Segera memalingkan wajahnya. Takut meleleh jika harus lama-lama menatap wajah suaminya itu.
"Idemu bagus juga." Ujar Orion seraya turut duduk di samping istrinya. Dan tanpa aba-aba ia melingkarkan tanganya di pinggang istrinya. Lalu kepalanya ia sandarkan di bahu istrinya juga.
Arina merasa tersentak. Desiran di hatinya semakin terasa dan nyata. Jantungnya pun berpacu dengan kerasnya. Ia takut Orion bisa mendengar deg-deg kan yang kini menyerangnya.
"Aku akan undang Reno kesini. Karena hanya dia sahabatku. Dan juga adik-adikku saja. bagaimana menurutmu?" Ujar Orion lagi saat mendapati Ariana yang tampak menegang. "Hei..kenapa sih kamu diam saja dari tadi." Sambungnya. Matanya kini beralih menatap Ariana dengan jarak yang sangat dekat. Sampai-sampai hembusan nafasnya sangat terasa di pipi Ariana.
Ya..Ampun apa sih yang dia lakukan. Kalo dia begini terus. Nanti aku bisa-bisa berhenti bernafas karena merasa sesak di dada.
Ariana reflek menggeser tubuhnya. Membuat jarak agar Orion tidak terlalu dekat dengannya. "Emm..sepertinya itu ide bagus. Aku juga sudah jarang ngobrol dengan Aska dan Haikal kan." Ariana tersenyum paksa seraya beberapa kali menyisipkan rambutnya ke telinganya. Berusaha mengurangi gugupnya. Ia tahu saat ini pasti ia sudah tampak salah tingkah di hadapan Orion. "Nanti Aku juga akan mengunudang Ria dan Abel sahabatku dari kecil dan juga Rachel. bagaimana menurutmu?"
"Jangan Undang Rachel." Orion tampak tak suka.
"Kamu itu bodoh atau apa sih. Dia kan tidak tahu setatus hubungan kita yang sebenarnya. Bukankah itu akan merepotkan saja nantinya. Kalo temanmu yang lain terserah. Asal mereka tahu setatus kita yang sebenarnya. Jadi kita tidak perlu berpura-pura di depan mereka."
"Maksudmu Ria dan Abel? Kamu kan juga sudah pernah melihat mereka di pernikahan kita. Aku kan sengaja mengundang mereka waktu itu." Ariana tampak antusias.
"Ya..Terserah lah siapa mereka. Asal jangan Rachel. lagipula kenapa sih kamu bikin semuanya jadi rumit. Kenapa kamu bohong padanya soal setatus hubungan kita yang sebenarnya. Apa kamu tidak merasa bersalah padanya. Bagaimana kalo dia tahu dan dia marah padamu. Tidak mungkin kan kita terus pura-pura di hadapannya."
Ariana mengigit bibir bawahnya sendiri. Perasaan tidak enak pada Rachel tiba-tiba menghinggapinya setelah mendengar penuturan Orion tadi. Dari awal ia memang sudah merasa bersalah pada Rachel. Bukannya ia mau terus-terusan bohong pada teman barunya itu. Hanya saja ia belum menemukan waktu yang tepat untuk jujur pada Rachel tentang semuanya. Ia merasa tak tega. Apalagi kelihatanya gadis itu terlihat menaruh harapan yang besar pada Orion.
"Emm..Orion. Bagaimana kalo Rachel suka sungguhan padamu?" Entah bagaimana pertanyaan bodoh itu keluar dari mulutnya.
__ADS_1
"Apa..? Apa kamu bilang!" Orion membelalakkan mata. Seolah tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Bagaimana gadis di depannya itu bertanya hal bodoh macam itu dengan suaminya sendiri.
"Iya..begitu. Kamu lihat kan. Saat dia melihatmu. Bagaimana cara dia memandangmu?" Suara Ariana terdengar ragu.
Orion menatap tak percaya. Perasan kesal sudah menggelayutinya sekarang.
Bagaiman bisa ia berkata seperti itu dengan wajah santai. Apa dia sama sekali tidak merasakan cemburu. Apa dia itu terlalu bodoh sampai-sampai tak ingin mempedulikan perasaanya sendiri. Orion.
Aku tahu. Pasti kamu akan mengataiku bodoh. Tapi aku ingin tahu bagaimana tanggapanmu. Karena aku juga tidak tahu sebenarnya apa yang ku rasakan padamu ini. Ariana.
"Kenapa kamu itu rumit sekali. Kalo dia suka padaku biarkan saja. Karena Aku hanya suka satu orang saja yaitu..." Orion ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Meskipun Ariana sudah sangat dekat dengannya. Tapi tetap saja ia masih takut mendengar kenyataan yang sebanarnya. Kenyataan kalo Ariana mencintainya atau tidak. Apalagi gadis itu perasaanya tidak bisa di tebak hanya dengan melihat ekspresinya saja. Bagaimana bisa Ariana pura-pura tidak tahu dengan perasaanya yang sebenarnya.
"Siapa yang kamu sukai?" Ariana berkata dengan polosnya.
Tentu saja kamu. bodoh. Masa' begitu saja tidak tahu. Benar-benar payah. Orion menggerutu dalam hati.
Jangan-jangan Dia masih suka pada Anesya mantannya itu. Jangan-jangan aku hanya pelariannya saja selama ini. Aku tidak mau tertipu dengan sikap manisnya itu padaku. Ariana.
"Ah..Sudahlah..Lupakan pembicaraan konyol ini. Intinya jangan undang Rachel. ltu saja. Dan satu hal lagi. Kamu harus bisa jujur pada perasaanmu sendiri mulai sekarang. Jangan sampai kebohonganmu akan membuat penyesalan pada dirimu sendiri."
Orion kembali merebahkan tubuhnya ke ranjang. Memalingkan wajahnya dari Ariana. perasaanya sudah merasa nyeri sekarang.
Gadis itu. Benar-benar tidak peka.
Orion menutup wajahnya dengan selimut. Mengumpati Ariana tanpa henti dalam hatinya. Moodnya benar-benar berantakan sekarang. Jadi Ariana itu memang tidak peka dengan semua kebaikan dan sikap manisnya selama ini. Pikirannya terus berputar-putar dalam kepalanya.
__ADS_1
Sedangkan Ariana masih tampak termangu sejenak. Memikirkan kata-kata Orion yang belum bisa ia cerna dengan baik. Namun ia memilih untuk tidak ambil pusing. Kemudian ia melangkah ke luar kamar untuk menyiapkan sarapan. Meninggalkan Orion sendiri dengan segala kekesalannya terhadapnya.
BERSAMBUNG...