Mendadak Jadi Istri Muda

Mendadak Jadi Istri Muda
Rahasia Haikal terungkap part 1


__ADS_3

"Halo, ibu! Apa kita bisa bertemu hari ini setelah aku pulang sekolah nanti?" Ujar Seorang anak laki-laki dengan suara berbisik walaupun ia sedang berada dalam kamarnya. Ia tak ingin siapa pun mendengarkan percakapan rahasianya dengan seorang wanita yang baru saja ia panggil dengan sebutan ibu.


"Haikal!" Bersamaan dengan itu sebuah suara berat memanggil namanya dari balik pintu kamarnya.


Cekklekk...!


Ayahnya sudah muncul di ambang pintu, Haikal buru-buru melempar hp nya ke arah belakang setelah sempat mematikan sambungan teleponnya. Wajahnya tampak menegang saat ayahnya datang menghampirinya.


Pak Alvian mengeriyitkan dahinya merasa bigung melihat putra bungsunya, Haikal yang tampak seolah sedang ketakutan saat melihatnya.


"Apa kamu baik-baik saja nak?" Tanya nya dengan lembut. Dengan wajah yang masih sedikit memucat, Haikal berusaha mengangguk.


"Ayo cepat sarapan. Nanti kamu telat ke sekolahnya. Ayah tunggu di bawah ya!" Ujar Pak Alfian seraya tersenyum dan menepuk kepala Haikal pelan.


"Iya... yah, nanti aku nyusul ke bawah!" Sahut Haikal dengan senyum samar. Sepeninggalan ayahnya keluar kamar, Haikal menghembuskan nafas lega.


Fiuuhhh...


Sesaat kemudian ia segera membereskan buku yang tadi sudah ia siapkan untuk ia masukkan ke dalam tas ranselnya. Wajahnya tampak sumringah memikirkan sesuatu. Kemudian ia pun segera keluar kamar untuk sarapan di lantai bawah, di meja makan bersama Ayah dan sodara-sodaranya.


"Bagaimana pekerjaanmu di kantor nak?" Tanya Ayah pada Orion di meja makan dan bersamaan dengan itu Haikal datang dan menarik sebuah kursi bersiap untuk duduk di meja makan yang sama. Sejenak ia melirik ke kursi di sebelahnya yang dua hari ini kosong. Itu tempat duduk Aska. Kakaknya itu sedang ada acara kemping di sekolah barunya di SMA. Dan Haikal merasa sedikit merindukannya.


"Sejauh ini baik-baik saja yah!" Sahut Orion sambil mengunyah makanan di mulutnya. Sedangkan Haikal sudah terlihat sibuk mengolesi rotinya dengan selai coklat kesukaannya.


"Um..., baguslah!" Pak Alvian mengangguk dan sudah tampak menyelesaikan sarapannya. "Lalu bagaimana dengan kuliahmu Ariana?" Matanya kini teralih pada menantunya yang duduk di sebelah Orion.


"Alhamndulillah lancar yah!" Jawab Ariana dan kemudian di angguki juga oleh Pak Alvian.


"Baguslah..., kalo semuanya lancar dan baik-baik saja! Lalu Haikal, nanti biar ayah saja yang jemput kamu di sekolahmu ya?" Tawar ayah tiba-tiba pada Haikal.


Uhuk... uhuk...

__ADS_1


Tiba-tiba Haikal tersedak. Pak Alvian pun dengan sigap mengambilkan air minum untuk putra bungsunya itu. Haikal merasa gugup karena tidak biasanya ayahnya mau menjemputnya pulang sekolah. Ia sudah terbiasa di antar jemput oleh sopir pribadi. Kenapa tiba-tiba ayahnya ingin menjemputnya saat pulang sekolah? apa beliau curiga? Pikir Haikal merasa cemas.


"Kamu makan pelan-pelan nak, jangan terburu-buru!" Ujar Pak Alvian sambil menyerongkan gelas berisi air putih ke mulut Haikal.


"Kenapa ayah tiba-tiba ingin menjemputku pulang sekolah?" Tanya Haikal setelah nafasnya sudah kembali teratur.


Pak Alvian tersenyum. "Ya..., karena sekarang ayah sudsh pensiun dan nggak ada kerjaan, lebih baik ayah yang jemput kamu pulang sekolah, biar ayah ada kegiatan!" Ujar pak Alvian seraya tersenyum.


Oh jadi karena itu, aku pikir karena ayah curiga kalo aku akan bertemu seseorang siang ini. Haikal menghembuskan nafas lega.


Tanpa sengaja Orion melirik ke arah Haikal. Ansk itu sudah beberapa hari ini tampak pendiam dan seolah ada yang di sembunyikannya.


"Kamu kenapa dek! Kok kayak nggak seneng gitu mau di jemput sama ayah?" Sergah Orion tanpa basa-basi dan membuat Haikal langsung tampak gelagapan lagi.


"Kak Orion, ngo--mong apa?" Sahut Haikal terbata. Ariana yang di samping Orion langsung menyikut lengan suaminya itu agar tidak menatap Haikal dengan tatapan mengintimidasi.


"Kakak nggak suka ya sama orang yang suka bohong!" Seketika badan Haikal membeku mendengar kalimat dari kakaknya.


"Orion sudahlah, jangan begitu dengan adikmu!" Tegur ayah kemudian pada Orion yang tampaknya tak bisa di peringatkan oleh istrinya.


"Ya deh, maaf!" Orion memutar bola matanya malas.


Haikal masih terdiam, ia tak mau menanggapi omongan kakak sulungnya itu. "Aku ke mobil dulu, aku berangkat yah!" Ujar Haikal kemudian seraya bangkit dari duduknya dan meraih tangan ayahnya untuk bersalaman. Bahkan ia sama sekali tak menatap ke arah Orion.


"Dih, gitu doang ngambek. Ambek gede!" Goda Orion yang hanya mendapat respon dingin Haikal. Anak itu sepertinya tak ingin menanggapi omongan kakaknya yang baginya sama sekali tidak lucu.


"Kenapa dia, aku rasa setannya Aska sudah pindah ke anak itu!" Orion menggelengkan kepalanya perlahan merasa geli sendiri.


"Kamu sih, kenapa sih suka jahilin adik sendiri!" Dengus Ariana dengan nada kesal lalu segera turut beranjak dari kursinya. Kemudian memutar badan meja di sisi kanan untuk berpamitan pada ayah mertuanya yang duduk di seberang tempat duduknya.


"Ariana pamit ya yah!" Seru Ariana sambil mencium punggung tangan ayah mertuanya. Pak Alvian membalasnya denfan anggukan seraya tersenyum, bersamaan dengan itu Ariana melirik suaminya dengan ekor matanya dengan tatapan sinis. Tapi Orion malah seolah tak peduli, ia masih tersenyum dan segera menyelesaikan suapan terkahir roti isinya.

__ADS_1


"Aku berangkat juga yah!" Yang kemudian beranjak berdiri dari kursinya dan beurusaha mengenakan jasnya yang tersampir di punggung kursi.


"Kalian hati-hati ya di jalan!" Teriak Pak Alvian saat Ariana dan Orion sudah berjalan ke luar rumah.


*******


Pulang sekolah.


Saat bel tanda pulang sekolah baru saja berbunyi. Haikal tampak tergesa membereskan peralatan sekolahnya yang kemudian ia masukkan ke dalam tas ranselnya. Setelah guru yang mengajarnya mengucapkan salam. Ia pun seperti tak ingin membuang waktu. Ia segera keluar kelas dengan langkah terburu-buru. Ia sudah janji untuk menemui seseorang saat ini. Dan sialnya waktunya tak banyak lagi, karena tiba-tiba saja ayahnya mengusulkan akan menjemputnya saat pulang sekolah. Untuk sebab itu ia harus pandai-pandai memanfaatkan waktu untuk menemui seseorang yang sering di temui nya belakangan ini. Ia tak ingin aksinya kali ini di pergoki ayahnya. Bisa-bisa ia tak kan di izinkan untuk bertemu lagi dengan orang tersebut.


Setelah berjalan dengan tergesa, akhirnya ia sudah mencapai gerbang sekolah. Sesaat ia melihat keadaan sekitar untuk memastikan apakah mobil ayahnya sudah terlihat di depan gerbang sekolah atau belum. Setelah memastikan semuanya aman, ia pun segera berlari ke seberang jalan untuk mencapai ke sebuah kedai kue kecil yang terletak disana.


Ia pun mulai memasuki kedai kue kecil itu untuk menemui seseorang yang ternyata sudah menunggunya. Orang itupun tersenyum seraya melambaikan tangan pada Haikal dan anak itupun mendekat ke arahnya dengan raut wajah bahagia.


"Apa Ibu, sudah lama menungguku?" Seru Haikal saat sudah berada di meja wanita yang di panggilnya dengan sebutan ibu.


Wanita itu hanya menggeleng pelan dan menyuruh Haikal untuk duduk.


"Maaf, Ibu, sebelumnya, aku tidak bisa lama-lama menemui mu kali ini, karena tiba-tiba saja ayah akan menjemputku pulang sekolah hari ini!" Ujar Haikal dengan wajah tertunduk merasa sedih.


"Tidak apa-apa, walaupun hanya bisa melihatmu sebentar saja seperti sekarang, ibu, sudah sangat bahagia!" Wanita itu tetap tersenyum meskipun merasa sedikit kecewa karena tidak bisa menatap wajah anaknya lebih lama seperti biasanya.


Wanita itu bernama Fina. Dan ia sudah membuka identitas aslinya di hadapan Haikal prihal siapa dirinya yang sebenarnya. Awalnya Haikal merasa kecewa karena mengira wanita itu telah tega meninggalkannya saat kecil. Tapi berkat kesabaran Fina untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, bahwa ia tak benar-benar ingin meninggalkan Haikal kecil, tapi ia melakukannya karena sangat terpaksa dan tak punya pilihan lain. Dan Hati Haikal yang sebenarnya juga merindukan sosok seorang ibu luluh juga pada akhirnya.


Beberapa Minggu belakangan ini mereka jadi sering janjian untuk bertemu di tmpat ini. Biasanya ia di temani oleh kakak keduanya yaitu Aska yang saat ini tengah kemping bersama teman-teman dari sekolah barunya.


"Ibu, aku pergi ya! Aku takut ayah sudah ada di depan gerbang sekolah dan tak mendapati ku disana. Dan Ayah pasti akan langsung menelpon ku, aku tak tahu harus menjawab apa! Aku takut beliau akan curiga padaku karena aku tak pandai berbohong seperti kak Aska!"


Fina pun terpaksa mengangguk dengan berat hati. Ia hanya bisa melihat wajah putranya sekitar sepersekian menit saja.


Tapi, saat ia baru saja beranjak dari kursinya, mata Haikal di kejutkan oleh kehadiran seseorang yang kini tengah memasuki kedai kue kecil tersebut. Haikal tak sempat lagi menghindar. Mata seseorang yang baru saja masuk itu kini tengah menatapnya tanpa ekspresi. Membuat keringat dinginnya keluar dengan sendirinya.

__ADS_1


Bagaimana dia bisa tahu aku ada disini?


BERSAMBUNG.


__ADS_2