
"Bodoh...! Kenapa orang suruhan kita bisa tertangkap polisi. Kalo sampai ia buka suara pada polisi, habis lah kita!" Ujar seorang wanita di suatu ruangan yang gelap, hanya bagian bibirnya saja yang terlihat di bawah sinar lampu remang-remang. Ia tampak menghisap rokoknya dalam-dalam kemudian menghembuskan asap nya dengan perasaan kesal.
"Itu karena kita tidak menyiapkan rencana cadangan. Karena ku pikir momentnya sudah tepat, awak media sengaja di undang ke bandara tersebut, agar bisa menyamarkan rencana pembunuhan ini, tapi sayang, gara-gara seorang gadis yang turut bersamanya, rencana ku jadi gagal berantakan." Jelas seorang pria yang berdiri tak jauh darinya.
"Seorang gadis? Siapa dia?" Sang wanita malah balik bertanya.
"Gadis itu adalah istri dari Orion." Jawab laki-laki tersebut.
"Hemm...Sepertinya aku punya rencana bagus kali ini!" Sang wanita mengulum senyum.
"Maksudnya Bos?"
"Nanti saja ku beri tahu, sekarang kumpulkan saja semua anak buah kita, nanti kita adakan rapat untuk membicarakan hal ini!" Ujar sang wanita sambil menjentikkan tangannya, bermaksud agar pria yang ada di hadapannya tersebut segera mematuhi perintahnya.
"Baik Bos!!" Seru pria tersebut sambil buru-buru berlalu dari ruangan tersebut.
*******
Beberapa hari di rawat di rumah sakit, keadaan Orion pun berangsur pulih, hari ini juga ia sudah perbolehkan untuk pulang ke rumah.
Sementara Ariana sedang sibuk membereskan barang-barang milik suaminya. Orion tampak sedang di periksa oleh dokter yang selama ini menanganinya di rumah sakit.
"Ya...sepertinya luka nya sudah benar-benar pulih, jahitannya juga sudah mengering, tapi untuk jaga-jaga sebaiknya jangan terlalu banyak bergerak dulu, sebaiknya untuk sementara waktu kamu harus menggunakan kursi roda sampai luka jahitannya benar-benar sembuh!" Jelas sang dokter yang sudah tampak selesai memeriksa Orion.
"Baik Dok!" Jawab Orion singkat.
"Nanti saya tuliskan resep obat lagi agar lukanya cepat sembuh!" Tambah sang dokter.
"Baik Dok, nanti saya akan ke ruangan dokter!" Sahut Ariana yang juga sudah tampak selesai dengan pekerjaannya membereskan barang milik Orion.
"Baiklah, saya permisi dulu, saya tunggu di ruangan saya!" Ujar sang dokter mengakhiri percakapannya dengan Orion dan Ariana.
"Baik Dok!" Ariana tersenyum mengiringi kepergian sang dokter dari kamar inap Orion.
*******
Selesai menebus resep di apotik yang masih dalam kawasan rumah sakit, Ariana pun kembali mendorong kursi roda yang kini di tumpangi suaminya tersebut ke pintu keluar.
Di pelataran rumah sakit sudah mobil berwarna hitam menuggu mereka berdua. Dari mobil tersebut keluarlah paman Jason yang sudah bersiap membukakan pintu mobil untuk Orion dan Ariana.
Tapi kali ini paman Jason tak sendiri, ada seorang lagi yang sudah menunggu di dalam mobil. Orang tersebut memiliki tubuh yang besar dan kuat.
Sesuai saran dari polisi. Pak Alvian sengaja menyewa beberapa body guard untuk mengawal putra sulung nya tersebut.
Di belakang juga sudah ada mobil berwarna sama yang di dalamnya juga sudah ada dua orang body guard. Dua orang body guard tersebut akan mengawal mobil Orion dari belakang.
Perjalanan pulang dari rumah sakit menuju rumah besar keluarga Adriano berjalan aman.tanpa gangguan.
__ADS_1
Namun tanpa seseorang pun yang menyadarinya. Sebuah mobil berwarna silver tampak sedang berhenti di sisi jalan di seberang rumah besar tersebut. Seseorang yang ada di dalam mobil tampak sedangengawasi. Rupanya mobil tersebut sudah mengikuti mobil yang di tumpangi Orion sejak pulang dari rumah sakit tadi.
"Halo Bos! Orion sudah pulang dari rumah sakit dan sekarang ia di kawal oleh banyak body guard." Ucap seseorang yang ada di dalam mobil silver di sambungan telponnya.
"Awasi terus, tapi jangan terlalu mencolok!" Perintah Orang yang sedang di telponnya.
"Baik Bos!"
Tut...Tut...Tut...
Terdengar sambungan telpon terputus.
"Ayo jalan!" Perintah si penelpon tadi kepada sopir yang duduk di sampingnya. Mobil Silver itu pun kembali melaju meninggalkan rumah besar keluarga Adriano.
******
Di tempat berbeda.
Di rumah keluarga besar Angel.
Angel, Sean dan Mama, juga Papanya sedang menikmati sarapan pagi sambil berbincang ringan di meja makan.
"Apa rencana kalian hari ini?" Tanya Ibu Casandra di sela-sela waktu sarapan, dan pertanyaan itu di arahkan pada Angel dan Sean.
"Rencananya kami mau ke kampus yang kami sengaja mau datangi,kami akan mendaftar ma!" Jawab Angel sambil menghentikan sendokkan nasi goreng di piringnya sejenak.
"Kalo aku sih nurut sama Angel saja Om!" Jawab Sean kali ini sambil sibuk mengunyah makanan dalam mulutnya.
"Ya...Papa dan Mama sih terserah kalian juga, yang penting kalian nyaman dan yakin dengan apa yang akan kalian pilih dan jalani selama pilihan itu baik untuk kalian." Pak Frans mencoba memberi nasehat.
"Oh...Papa so sweet, aku sayang deh sama Papa, soalnya Papa itu orangnya pengertian banget, nggak suka ngatur-ngatur kayak di sinetron." Seloroh Angel dan itu mengundang gelak tawa yang lainya.
"Bisa aja kamu Angel, emang kita lagi main drama ya!" Goda Sean sambil menyikut pundak Angel yang duduk di sebelahnya pelan.
"Emang kita lagi main drama kan? Kita kan lagi ada di dalam cerita novel." Seloroh Angel lagi.
Mama dan Papanya hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan mendengar celotehan dari putri semata wayangnya tersebut.
"Papa seneng deh, liat kamu kembali ceria lagi kayak gini! Dan di tambah lagi ada Sean disini,keluarga kita terasa lengkap, benar ngga Ma?" Ujar sang Papa dan itu pun di anggukki semua orang yang ada di meja makan tersebut.
"Kalian walaupun hanya sepupu, harus saling menjaga satu sama lain Ya!" Tambah sang Mama.
"Iya Ma!" Jawab Angel.
"Iya Tante!" Sean turut menjawab.
Selesai bicara, mereka pun melanjutkan sarapan pagi mereka hingga selesai.
__ADS_1
******
Di Rumah besar keluarga Adriano.
Ariana dan Orion sudah tampak memasuki kamar mereka. Ariana mendorong kursi roda yang di tumpangi suaminya hingga ke sisi ranjang king size milik mereka. Kemudian Ariana membantu suaminya untuk turun dari kursi roda dan membantunya rebahan di kasur tersebut.
"Kamu tunggu sini dulu ya! Aku akan ambilkan makanan untukmu, habis itu kamu minum obat!" Ujar Ariana sambil membenarkan letak kepala suaminya di atas bantal.
Orion pun tersenyum. "Makasih ya sayang, kamu sudah perhatian banget sama aku!"
Ariana pun balas tersenyum. "Jangan berterimakasih, ini kan sudah kewajiban ku, kecuali ada kamu ingin juga di perhatiin cewek lain!" Seloroh Ariana seolah sedang menyindir.
"Jadi aku boleh juga nih di perhatiin cewek lain selain kamu!" Goda Orion yang langsung membuat mata Ariana mendelik.
"Coba saja kalo berani!" Sergah Ariana sambil memanyunkan bibir bawahnya.
"Aku mana berani sayang, untuk apa aku punya istri muda, kamu aja nggak habis-habis aku makan!" Goda Orion lagi, kali ini pipi Ariana tiba-tiba merona merah.
"Udah ah gombal!" Ariana memalingkan mukanya.
"Aku nggak gombal kok, cukup kamu saja dalam hidup aku hingga nafas terakhir!" Seru Orion lagi sambil menyentuh pipi istrinya Agara mau melihat ke arahnya.
Ariana yang mendengar itu hanya bisa tersipu malu.
"Udah ah, aku mau ke bawah saja ngambil makan buat kamu, kalo lama-lama disini nanti aku bisa-bisa meleleh!" Seloroh Ariana yang langsung di sambut tawa oleh Orion.
"Pinter deh kamu ih!" Orion menoel hidung istrinya manja.
"Hemm iya dong, istri siapa dulu!"
"Istri siapa?" Orion pura-pura bertanya.
"Istri kamu lah!" Jawab Ariana dengan tergelak.
Saat mereka asik bercanda. Tiba-tiba saja handphone Ariana berdering.
Ariana pun segera merogoh handphone miliknya di dalam saku sweater yang di kenakannya.
"Tidak ada namanya, nomor siapa ini?" Ujar Ariana sembari memperlihatkannya pada Orion.
Sejenak mereka saling tatap.
"Coba angkat aja!" Saran Orion.
Ariana pun segera mengangkat sambungan teleponnya. "Halo! Siapa ini?"
BERSAMBUNG.
__ADS_1