Mendadak Jadi Istri Muda

Mendadak Jadi Istri Muda
Menjenguk Angga


__ADS_3

Pulang sekolah. Ariana sudah berdiri di luar gerbang sekolah. Menunggu Orion datang menjemputnya. Hari ini mereka sudah berjanji akan datang ke kantor polisi untuk menjenguk Angga.


Tak lama kemudian. Orion pun datang. Ia segera mematikan mesin mobilnya. Membuka pintu mobil. Sengaja turun untuk membukakan pintu mobil yang satunya lagi untuk Ariana. Sikapnya terlihat manis sekali. Membuat sepasang mata melihat iri ke arah mereka. Ya..dari kejauhan. Rachel memandang tak suka ke arah mereka. Ia berharap drinyalah yang di perlakukan seperti itu oleh Orion.


Saat Ariana bersiap masuk ke dalam mobil. Tiba-tiba Rachel datang menghampiri. Memasang wajah seceria mungkin. Aktingnya terlihat bagus. Sampai-sampai tak ada yang tahu. Sebenarnya dia itu sedang berperan antagonis atau sebaliknya. Haha..entahlah.


"Hai Ariana..Hai kak Orion. Apakah aku boleh nebeng pulang bersama kalian? Hari ini supirku tidak menjemputku karena izin sakit. Dan mamaku tadi menyuruhku untuk naik taxy saja. Tapi aku takut naik taxy. Jadi apa boleh aku ikut pulang bersama kalian?" Rachel melancarkan aksinya dengan sempurna. Terlihat natural.


Ariana dan Orion berpandangan sejenak. Tidak tahu harus menjawab apa. Sedangkan Rachel masih nampak menunggu dengan tatapan penuh harap.


"Ya..baiklah. Ikutlah bersama kami. Kami janji akan mengantarmu pulang dalam keadaan selamat. Jangan kawatir." Ujar Ariana seraya tersenyum. Kemudian pandangannya teralih pada Orion. Suaminya itu memandangnya dengan tatapan menusuk. Sorot matanya seolah sedang mengatakan kalo ia tidak suka dengan tindakannya yang tidak enakkan dengan orang lain. Orion pernah berkata. Kalo dirinya terlalu baik. Bisa-bisa orang lain malah akan memanfaatkannya.


"Tapi sepertinya tidak bisa. Karena kami harus pergi ke suatu tempat." Seru Orion akhirnya. Membuat Rachel tampak memasang wajah kecewa. Sedangkan Ariana memandang tak percaya ke arahnya. Tapi Orion tak peduli. Baginya semuanya harua jelas. Tidak ya tidak. Iya ya iya. Begitulah cara berpikirnya. Sederhana.


"Ah..sayang sekali ya. Padahal aku berharap bisa pulang bersama kalian. Tapi Kak Orion sepertinya keberatan. Biar nanti aku pesan taxy Online saja. Kalian pergilah. Aku tidak apa-apa." Rachel berkata yang tidak sesuai dengan isi hatinya. Terlihat jelas di wajahnya terpancar kekecewaan. Ia masih berharap bisa membuat Ariana merasa iba padanya.


"Ehhh..nggak..nggak..kami akan mengantarmu. Kami akan ke tempat yang kami tuju setelah mengantarmu. Jangan memaksakan diri naik taxy jika kamu merasa tidak nyaman. Takutnya nanti terjadi apa-apa padamu." Seru Ariana dengan sungguh-sungguh. Membuat Rachel kembali terlihat senang. Tapi tidak dengan Orion. Wajah suaminya itu terlihat benar-benar kesal sekarang. Tapi mau bagaimana lagi. Istrinya itu memang orang yang baik hati. Ia sudah bisa menduga pasti akan seperti ini akhirnya. Ariana tidak bisa untuk menolak siapapun yang meminta tolong padanya. Ia selalu saja mengedepankan orang lain daripada dirinya sendiri.


Di tengah perjalanan. Orion masih terdiam. Ia terlihat sedang fokus mengemudi. Sedangkan Rachel yang duduk di jok belakang sesekali mengawasi Orion dari kaca sepion.


"Kak Orion. Nanti di tikungan depan belok kanan ya !" Ujar Rachel berusaha membuka percakapan. Pandangannya belum teralih dari Orion. Berharap laki-laki tampan itu mau melihat balik ke arahnya.


"Ya..baiklah." Jawab Orion datar seraya membelokkan mobilnya ke arah kanan sesuai aba-aba dari Rachel.


Rachel hanya bisa tersenyum kecut dengan sikap dingin Orion terhadapnya.


"Wah Rachel..Kompleks perumahanmu mewah sekali." Ujar Ariana dengan tatapan kagum saat mereka melewati deretan rumah yang terkesan mewah. Ya..Rachel memang tinggal di perumahan mewah.Orang tuanya dua-duanya berprofesi sebagai dokter. Jadi wajar kalo dirinya bisa tinggal di kompleks perumahan mewah.


"Hei..jangan norak begitu. Kamu ini. Seperti tidak pernah melihat rumah mewah saja." Ejek Orion seraya memegang lembut kepala Ariana yang duduk di sebelahnya.


"Mamang kenapa kalo aku norak. Ya..ya aku tahu aku ini memang kampungan dan norak." Ariana tampak merajuk.


"Hei..kenapa kamu cemberut begitu. Aku hanya bercanda sayang. Walaupun kamu norak aku tetap suka." Seru Orion seraya tersenyum. Membuat Ariana jadi turut tersenyum bahkan pipinya kini merona merah karena senang.


Sedangkan Rachel hanya bisa menghela nafas panjang. Sial sekali. Sudah memaksakan diri untuk pulang bersama mereka. Eh..malah hanya harus melihat mereka bermesraan. Benar-benar Sial. begitu umpatnya dalam hati.

__ADS_1


"Rumahmu yang sebelah mana Rachel?" Ariana menghadap ke Rachel yang tengah duduk di belakang.


"Aku tinggal di rumah nomor 38. Depan sana. Sedikit lagi juga sampai kok." jawab Rachel masih berusaha memasang ekspresi senormal mungkin. Walaupun saat ini ia sedang terbakar api cemburu.


"Oh..disini rupanya. Nah..sudah sampai." Ucap Orion datar. Sepanjang perjalanan tadi ia sengaja menghindari bertatapan mata dengan Rachel. Ia tahu. Gadis itu terus saja mengawasinya dari kaca sepion."Kanapa belum turun juga." Sambung Orion. Berkata tanpa menoleh ke arah Rachel.


"Eh..iya. Ma..af..!" Rachel terbata. Ia masih bingung dengan sikap Orion yang sedingin itu padanya. "Terimakasih ya !" Lanjutnya pada Orion saat sudah turun dari mobil.


"Hemm.." Jawab Orion lagi-lagi terdengar menyakitkan untuk Rachel. Tapi Ia tak bisa berbuat apa-apa.


"Dah..Rachel, Sampai ketemu besok di sekolah." Ariana melambaikan tangan pada Rachel dengan senyum ceria. Sedangkan Rachel melambaikan tangannya dengan malas. Ia benar-benar merasa iri pada gadis itu. Orion bahkan tak melirik ke arahnya tadi hingga ia turun dari mobil.


******


Singkat cerita. Ariana dan Orion sudah tampak memasuki kantor polisi. Untung saja jam besuknya masih ada. Tadi mereka hampir saja terlambat jika tidak datang tepat waktu. Jam besuk hanya tinggal setengah Jam saja. Mereka berharap itu cukup untuk melihat keadaan Angga dan mengobrol ringan dengannya. Tak lupa Ariana juga sudah membawakan makanan untuk Angga.


"Ternyata kalian. Untuk apa kalian kesini. Aku tidak perlu belas kasihan kalian." Ujar Angga dengan tatapan sengit saat sudah duduk di tempat khusus menjenguk.


"Cih..jaga bicaramu. Siapa juga yang ingin menjengukmu. Aku malas sekali melihat anak tengil sepertimu. Sebaiknya kamu membusuk saja di penjara." Orion langsung tersulut emosinya.


Sesaat Angga menatap Ariana heran. Sorot matanya seolah sedang mengatakan. Kenapa gadis ini masih saja mau berlaku baik padanya padahal dirinya sudah hampir membuatnya celaka.


Sedangkan Orion menatap tajam ke arah Angga. Ada rasa cemburu menelusup ke dalam dadanya. Kalo bukan karena Ariana. Cih..Mana sudi ia melakukan semua ini.


"Kedatangan kami kesini. Juga untuk memberitahukan. Kalo kami akan mencabut laporan kami. Agar kamu bisa kebali bebas dan bersekolah. Tapi kami harus membicarakannya terlebih dulu dengan pengacara kami. Kami harap kamu mau bersabar." Ujar Ariana lagi. Dengan tatapan lembut dan tulus. Membuat Angga merasa menyesal telah berlaku jahat pada gadis itu. Gadis yang sempat mencuri hatinya. Tapi ia malah ingin mencelakainya.


Mata Angga sudah tampak berkaca-kaca karena terharu. Jika tidak ada Orion pasti ia akan sgera menghambur ke pelukan Ariana saat ini juga. Untuk mengucapkan banyak terimakasih pada gadis itu atas perhatiaanya terhadapnya.


Orion masih terdiam. Ia terus saja mengumpat Angga dalam hati. Berani-beraninya berandalan tengil itu memandangi istrinya seperti itu. Begitu kira-kira gema isi hatinya.


"Waktu kita tidak lama. Ariana! kamu sudah selesai kan bicaranya. Kamu sudah menyampaikan apa yang ingin kamu sampaikan. Ayo kita pulang. Jam besuk sudah usai." Ujar Orion akhirnya. Ia juga sudah tampak berdiri dari duduknya. Terlihat jelas dari wajahnya kalo ia tidak ingin lama-lama berada disana.


"Ah..iya. Sebentar masih ada sedikit lagi yang harus aku sampaikan." Ucap Ariana yang masih terduduk. Menatap Angga dengan tatapan memberi semangat. "Kamu pasti memikirkan keadaan Ibumu kan ? Tapi tenang saja. Mulai sekarang kami akan sering-sering mengunjunginya sampai kamu di nyatakan bebas nanti. Beri tahu saja kami di rumah sakit mana ibumu di rawat."


Cih..apa-apaan gadis ini. Siapa juga yang mau mengunjungi orang tidak waras. Merepotkan sekali. Gerutu Orion dalam hati.

__ADS_1


Air mata Angga benar-benar sudah ingin tumpah sekarang karena saking terharunya dengan semua yang di ucapkan oleh Ariana.


"Ariana..! Apa boleh aku memelukmu?" Ujar Angga tiba-tiba.


"Apa..!" Ariana terbelalak. Terlebih Orion. Bahkan tinjunya hampir mendarat di pipi Angga.


"Apa kamu sudah gila. Beraninya kamu mengatakan itu pada istriku !" Ujar Orion penuh dengan penekanan.


"Bukan begitu maksudku. Aku hanya merasa terharu. Aku hanya ingin memeluknya sebagai ucapan terimakasih." Angga berkata dengan memasang wajah tanpa dosa. Membuat Orion semakin murka.


"Biar aku saja yang menggantikan. Kamu ingin di peluk kan. Biar aku saja yang melakukannya." Ujar Orion seraya ingin memeluk Angga.


"Eh..tidak perlu. Aku masih normal. Aku tidak mau di peluk pria. Apa lagi pria sepertimu."


"Hayysss..apa maksudmu berkata seperti itu. Aku juga normal tahu. Menyebalkan sekali." Dengus Orion kesal.


Ulah Orion dan Angga membuat Ariana tertawa geli." Kalian lucu sekali. Haha..."


"Apanya yang lucu !" Ujar Orion dan Angga bersamaan. Mereka saling pandang sesaat lalu segera membuang muka.


Ariana kembali tergelak." Tuh kan kalian lucu sekali.Haha..."


"Diamlah..jangan samakan Aku dengan bocah tengil ini." Seru Orion benar-benar kesal.


"Ya..benar..Jangan samakan Aku dengan Pria aneh ini." Ujar Angga tak mau kalah.


"Cih..Siapa yang kamu bilang aneh." Orion sudah melotot sekarang.


"Haha..sudah-sudah. Kalian lucu sekali kalo sedang bertengkar. Mungkin setelah ini kalian bisa jadi.teman dekat." Ariana masih tergelak. Tingkah mereka membuatnya terhibur sepertinya.


Angga yang melihat Ariana tertawa ceria. Ia pun jadi ikut tersenyum senang. Gadis itu sepertinya bisa mengembalikan semangatnya yang sempat pupus.


Angga berharap suatu saat ia bisa menjadi orang yang lebih baik untuk membalas semua kebaikan Ariana.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2