
Kehidupan rumah tangga Ariana dan Orion kian bertambah mesra setiap harinya. Meskipun banyak ujian yang datang silih berganti. Tidak membuat cinta mereka goyah. Namun malah mempererat hubungan hati di antara keduanya. Tak terasa waktupun berlalu begitu cepat. Usia pernikahan mereka hampir menginjak satu tahun. Dan mereka belum sekalipun melakukan malam pertama. Ariana selalu berusaha menahan diri. Ia ingin melakukannya setelah lulus sekolah nanti. Dan sekarang gadis mungil itu sedang sibuk belajar demi mempersiapkan ujian akhir sekolahnya yang tinggal beberapa hari lagi.
Sedangkan Orion. Ia juga selalu berusaha menahan diri untuk tidak terburu-buru melakukan malam pertama. Ya..walaupun hampir beberapa kali ia memaksa istrinya untuk melakukannya. Tapi entah mengapa selalu saja ada halangannya. Tapi itu tak masalah baginya. Karena yang terpenting baginya adalah perasaan nyaman. Di dekat Ariana. Membuat Orion merasa nyaman. Bahkan ia kadang bingung dengan dirinya sendiri. Kenapa dia mau melakukan apapun demi menyenangkan istrinya itu. Baginya Ariana itu manis sekali. Ia gadis yang penurut dan juga baik hati. Entah apa jadinya hidup Orion tanpanya. Perasaanya sudah begitu dalam pada istri tercintanya itu.
******
Malam sudah mulai larut saat Ariana dan Orion baru saja pulang dari menjenguk Pak Alvian. Syukurlah. Kini keadaan Ayah Orion juga sudah berangsur membaik. Aska dan Haikal sudah turut menjaga Ayahnya dengan baik.
Orion segera mematikan mesin mobilnya saat sudah mulai memasuki garasi mobil rumah mereka. Ia pun buru-buru turun untuk membukakan pintu untuk Ariana.
Ariana tergelak. "Hahaha..Sayang! kenapa kamu selalu melakukan ini? Aku masih bisa membuka pintu mobil ini sendiri. Aku tidak ingin merepotkanmu." Ujarnya seraya keluar dari mobil.
Setelah itu Orion segera menutup pintu mobilnya kembali."Kamu tidak merepotkanku sayang. Akulah yang ingin memperlakukanmu seperti seorang putri." Tersenyum penuh makna.
"Oh..Ya Ampun. Orion..Aku sungguh tersanjung. Bagaimana mungkin aku tidak jatuh cinta padamu." Ariana turut tersenyum seraya menatap dua bola mata Orion yang juga sedang menatapnya.
"Jadi sekarang kamu mau mengakuinya kalo kamu jatuh cinta padaku. Maukah kamu mengatakannya sekali lagi. Aku ingin dengar lagi pengakuan cintamu itu sayang." Kini Tanganya meraih kedua tangan Ariana tanpa mengalihkan pandangannya pada wajah manis istrinya itu.
Ariana sedikit tersentak. Tiba-tiba jantungnya berdetak begitu cepat. Meskipun sudah sering menghabiskan waktu bersama suaminya. Tapi tetap saja mengungkapkan kata cinta itu pasti tidak mudah. Kegugupan pun mulai merayapi dirinya.
Orion masih nampak menunggu dengan tatapan penuh harap. Sedangkan Ariana terlihat makin menegang. itu terlihat dari caranya menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya dengan cepat.
"Kenapa aku harus mengulangnya lagi sayang. Bukankah tadi kamu sudah dengar?" Jawabnya akhirnya dengan mengeriyitkan dahinya. Berharap suaminya tak lagi mendesaknya untuk mengatakannya.
"Jangan menolak dan memberi alasan. Aku tidak butuh alasan. Aku ingin kamu mengatakannya sekali lagi. Dan ini perintah. Kamu mengerti!" Orion mengerlingkan matanya pada Ariana bermaksud menggoda istrinya yang sudah tampak frustasi.
Hah..apa-apaan dia ini. Sedikit-sedikit perintah.
"Ya..Ya..Baiklah. Dengarkan baik-baik ya Tuan muda. Jangan sampai kamu memintaku untuk mengulang kembali perkataanku." Ariana mengatakannya dengan sangat lancar. Lalu di detik berikutnya terdiam. Berusaha mengambil nafas dalam-dalam. Fiuh..kemudian menghembuskannya dengan cepat. "Aku cinta padamu Orion. Sangat mencintaimu sampai aku tak tahu harus mengatakan apalagi. Di hatiku, kepalaku. Seolah penuh sesak oleh dirimu. Aku tidak tahu bagaimana aku menjalani hidupku tanpamu. Aku selalu ingin ada disisimu sampai kapanpun itu. Aku beruntung bisa menjadi istrimu. Aku berharap kamu juga merasakan hal yang sama seperti diriku." Entah darimana Ariana bisa mendapatkan kalimat seindah itu dalam sekejap waktu. Membuat Orion terpana. Bahkan matanya sudah mulai berkaca-kaca.
Segera di peluknya tubuh istrinya itu. Di peluk dengan sangat erat. "Terimaksih atas ungkapan cintamu. Itu sangat indah dan manis sekali. Ternyata kamu tak sepayah yang aku kira." Orion bahkan tergelak setelah menyelesaikan kalimat terakhirnya.
__ADS_1
Payah?
Mendengar kalimat itu. Ariana segera melepas pelukan suaminya itu. Ekspersi wajahnya berubah cemberut. Kemudian menatap tajam pada suaminya yang masih tampak terkekeh. "Tahu begitu aku tidak akan mengungkapkan isi hatiku. Dasar payah!" Seru Ariana kesal. Kemudian melipat tangannya di dada dan membuang muka.
Orion kembali tergelak. "Haha..Maafkan Aku. Aku hanya bercanda tadi." Ujarnya seraya memegang pipi istrinya gemas.
"Huh..lepaskan! Tadi itu tidak lucu." Ariana masih tampak merajuk.
Orion kembali mengulangi aksinya. Memegang pipi Ariana. Namun kini seraya menempelkan bibirnya pada Ariana.
Di detik pertama Ariana merasa tersentak. Tapi lagi-lagi ia tak bisa memberontak. Tubuhnya kembali pasrah seperti biasanya.
Hah..selalu saja begini.
******
Di dalam rumah. Saat Ariana sedang di dapur sibuk menyiapkan makanan yang mereka beli tadi untuk makan malam.
"Hei..Orion! Apa yang kamu lakukan?" Memukul pelan tangan orion yang sudah melingkar di pinggangnya.
"Sedang memelukmu." Membenamkan wajahnya di bahu Ariana.
Ariana merasa geli saat Orion mulai menciumi tengkuknya dan lehernya berkali-kali."Hei..hentikan! Kamu tidak lihat aku sedang apa." Ariana berusaha melepaskan tangan Orion dari pingganggnya.
Tapi sepertinya Orion tak peduli. Ia terus saja melanjutkan aksinya. Bahkan tangannya sudah mulai menyelinap di balik baju Ariana.
Ah..ya ampun. Apa-apaan sih dia ini.
PRAAAANNKKK...!
Terdengar suara piring jatuh ke lantai. Puing-puingnya pun sudah mulai berserakan entah kemana. Karena berusaha menghindari kejahilan Orion. Ariana malah menjatuhkan piring yang ada di pinggir meja dapur.
__ADS_1
"Tetap di situ. Jangan bergerak. Biar aku saja yang memebereskannya." Orion pun segera bergegas mencari sapu dan penggi. Kemudian dengan segera membuang pecahan piring ke tempat sampah.
"Apa kamu terluka?" Ujarnya setelah selesai membersihkan lantai dari pecahan piring.
Ariana menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak..aku tidak apa-apa!"
"Syukurlah!" Mencium kening istrinya lembut.
"Aku tidak jadi makan malam. Aku sudah tidak berselera. Kalo kamu ingin makan. Makanlah sendiri. Aku akan ke kamarku untuk istirahat." Lanjutnya seraya mengelus rambut istrinya lembut. Kemudian segera berlalu masuk ke dalam kamar. Tampaknya ia merasa kecewa dengan sikap Ariana yang menolaknya tadi.
Ariana menatap punggung Orion yang menjauh hingga menghilang di balik pintu kamarnya. Tatapannya seolah penuh dengan rasa bersalah.
*******
Pagi harinya. Saat Orion baru saja bangun dari tidurnya. Ia melepaskan kaos yang di kenakannya. Bermaksud ingin mandi.
Sejenak ia beridiri di depan cermin. Kemudian tersenyum ketika memandangi tubuhnya sendiri di pantulan cermin. Ada beberapa tanda merah di bagian leher dan dadanya.
Melihat itu ia jadi teringat akan kejadian semalam. Saat tiba-tiba saja Ariana menerobos masuk ke dalam kamarnya.
Yang tadi malam itu seolah bukan istrinya.
Orion tersenyum lagi. Membayangkan betapa agresifnya Ariana tadi malam.
Tiba-tiba duduk di pangkuannya dan menghadap ke arahnya. Mengelus lembut bibir bawah suamimya dan kemudian menciumnya. Menurukan ciumannya hingga ke leher dan membuat tanda merah di sana. Tidak hanya itu. Bahkam lebih. Orion merasa lucu tiap kali mengingatnya.
"Lihat..Apa ini yang dia lakukan padaku. Dia tidak mengizinkanku membuka bajunya. Tapi dengan lancangnya dia membuka kaosku dan memberiku tanda ini." Ujar Orion pada pantulan cermin.
BERSAMBUNG...
jangan lupa like dan vote nya ya kakak2 pembaca. Terimakasih 🥰
__ADS_1