
Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam tampak sedang melaju denga kecepatan sedang membelah jalanan ibu kota yang sudah mulai gelap. Di dalam mobil itu tampak pasangan suami istri yaitu Orion dan Ariana yang masih saling diam sejak keberangkatanya dari rumah tadi. Supir yang tak lain adalah asistent pribadi ayahnya yang bernama Jason sesekali memperhatikan tingkah mereka dari kaca sepion. Sadar akan hal itu Orion melirik tajam ke arah Jason sang supir.
"Hai..Paman Jason. Apa menurutmu Ayah sedang merencanakan sesuatu. Kenapa Ayah tadi tidak membolehkan kami membawa barang bawaan. Bahkan hanya sekedar baju ganti. Apakah paman bisa menjelaskanya padaku?"
Mendengar itu Jason sedikit terkejut. "Ah..Saya tidak tahu soal itu tuan muda." berlagak tenang tapi sebenarnya tangannya yang sedang menyetir sudah mulai gemetar.
"Ah..mustahil. Paman kan tangan kanan Ayah. Mana mungkin Paman tidak tahu. Dari wajah Paman saja aku sudah tahu. Pasti ada hal yang tidak beres." Mata Orion tampak menyelidik.
"Emm..Ya saya hanya di suruh ayah tuan muda memepersiapkan segala sesuatu yang di butuhkan tuan muda dan nona muda nanti di hotel. Itu saja. Jadi tuan muda tidak perlu repot-repot lagi membawa barang-barang dari rumah."
menarik nafas lega Insting tuan muda boleh juga. Hehehe..Aku memang memyiapkan sedikit kejutan untuk tuan muda dan istrinya.
"Benarkah?" Dahinya mengkerut masih tampak belum percaya sepenuhnya.
"Benar Tuan muda. Hanya itu." Sambil melirik Orion dari kaca sepion.
Setelah mendengar jawaban itu Orion kembali diam. Pandangannya teralih pada gadis yang duduk di sampingnya. Ariana terus saja memandang keluar dari balik kaca mobil. entah apa yang sedang di pikirkannya. Matanya tampak gelisah. bahkan mungkin tadi ia tak mendengarkan obrolan Orion dengan Jason.
Melihat itu. Timbul keinginan Orion untuk mejahili gadis itu. Saat ini ia juga sedang merasa bosan. Menjahili Ariana mungkin akan membuatnya sedikit terhibur. Begitu pikirnya.
Orion memulainya dengan menyentuh tangan Ariana. Ternyata tangannya terasa dingin seperti membeku. Entah kedinginan karena AC mobil atau sedari tadi ia sebenarnya merasa gugup.
Ariana merasa tersentak saat mendapati tangan Orion tengah mengenggam tangannya. Ia melihat ke arah Orion dengan tatapan bingung. Sedangkan Orion hanya tersenyum kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Ariana dan membisikkan sesuatu padanya.
"Tanganmu dingin sekali. Apa kamu sekarang sedang merasa tegang. Aku tidak menyangka kamu tadi setuju-setuju saja dengan rencana Ayahku. Lihat saja nanti Aku akan memakanmu seperti singan yang sedang lapar. Aarrhhhggg....!" Bisik Orion seraya mengaung seperti singa di kalimat terakhirnya.
Mendengar itu Ariana langsung merasa merinding. Reflek ia mengibaskan tangan Orion dari tangannya. Ia pun segera menggeser duduknya untuk menjauh dari Orion. Wajahnya terlihat pias seraya mengigit bibirnya sendiri menahan ketakutanya.
Apa-apaan dia itu. Mau memakanku. Memangnya aku apa. Makanan? Huft..kata-katanya membuatku ngeri saja.
Melihat wajah Ariana yang berubah semakin pucat setelah mendengar kata-kata darinya. Membuat tawa Orion hampir pecah. Tapi ia menahannya seraya menatap Ariana dengan tatapan miris.
Baru segitu saja dia sudah pucat pasi begitu. Maka nya jangan sok imut di depan Ayahku. Haha.
********
Tak lama kemudian mobil sedan mewah yang di tumpangi mereka telah sampai di pelataran sebuah hotel bintang lima.
"Tuan Muda kita sudah sampai!" Ujar Jason yang tampak sudah mematikan mesin mobilnya.
"Ya..aku sudah tahu." Ujarnya seraya Turun dari mobil tanpa harus menunggu Jason membukakan pintu mobil untuknya.
Sedangkan Ariana masih tampak diam memaku di dalam mobil. Bahkan mungkin ia tak sadar kalo mobil sudah berhenti di depan hotel.
Sadar akan hal itu. Orion mengetuk pintu mobil yang ada di sebelah Ariana.
"Hei..nona, Sampai kapan kamu akan duduk di mobil. Kita sudah sampai tahu." Ujar Orion dengan sedikit kesal. Tapi tampaknya Ariana masih belum sadar juga dari lamunannya.
__ADS_1
"Apa-apaan gadis ini. Apa dia sungguh ingin Aku membukakan pintu untuknya." Gerutu Orion seraya membuka Pintu mobil. "Hei..cepat turun. Kita sudah sampai tahu. Di hotel. Kamu dengar itu." Lanjutnya setelah pintu mobil terbuka dan memberikan penekanan pada kata Hotel dengan bermaksud menggoda gadis itu lagi.
"Apa! apa kita sudah sampai hotel. Ma..af aku tidak tahu. Mungkin aku tadi sedang melamun." Ujar Ariana dengan terbata karena gugup.
Melihat itu Orion kembali menyeringai merasa menang. "Ayo cepat turun. Karena Aku ingin segera memakanmu." Berbisik ke telinga Ariana seraya meniup wajahnya lembut. Tampaknya Orion ingin membuat gadis itu pingsan karena ketakutan.
Dengan langkah gemetar Ariana mulai turun dari mobil. Tangan yang kini benar-benar dingin kembali di genggam oleh Orion.
Setelah itu Jason pamit untuk kembali ke rumah. Kemudian mobil yang mereka tumpangi tadi tak terlihat lagi oleh pandangan mata mereka. Orion segera memasuki lobi hotel seraya tetap menggandeng tangan Ariana. Seolah Aliran hangat dari tangan Orion mulai membuat tangan Ariana yang tadinya membeku kembali normal. Ia pun tampak kewalahan mengikuti langkah kaki Orion yang besar-besar dan cepat.
Tibalah mereka di meja resepsionis untuk cek in dan meminta kunci hotel. Saat itulah Orion melepas pegangan tangannya pada Ariana. Orion tampak sedang berbicara pada pegawai resepcionis. Sedangkan Ariana masih memandangi tangannya yang tadi di genggam oleh Orion. Sebelumnya tidak pernah ada seorang laki-lakipun yang pernah menggandengnya seperti itu kecuali Ayahnya yang selalu menggandengnya waktu kecil. Rasanya genggaman tangan Orion membuatnya nyaman.
Urusan kunci Kamar hotel tampaknya sudah selesai. Pegawai resepsionis itu telah menyerahkan kunci berbentuk kartu untuk kamar kelas sweetroom.
Orion kembali menggandeng tangan Ariana lagi.
"Jangan jauh-jauh dariku. Entahlah. Aku merasa ada yang mengawasi kita sejak kita turun dari mobil tadi. Mungkin ia juga sudah mengikuti kita sejak di jalan tadi." Ujar Orion seraya bicara lirih pada Ariana.
"Di mana orang itu."
"Jangan menoleh ke belakang. Nanti dia akan curiga kalo kita sadar telah di ikuti olehnya." Seru Orion seraya merangkul pundak Ariana sekarang agar Ariana tidak jadi menoleh ke belakang.
"Lalu apa rencanamu sekarang?" Ujar Ariana setengah berbisik di depan muka Orion.
Sekarang Orion bisa menatap wajah Ariana dengan sangat dekat. Entah mengapa ada perasaan ingin mencium bibir gadis itu. Tapi sekuat tenaga ia tepis semua keinginannya itu. Karena saat ini bukanlah waktu yang tepat.
"Oh..baiklah. Aku menurut saja padamu. Tapi apakah kita jalan dengan keadaan seperti ini." Ujar Ariana yang masih menyadari bahwa Orion sedang merangkulnya saat ini.
Seketika Orion merasa gugup. Padahal daritadi ia menjahili Ariana. Tapi kini malah dirinya sendiri yang terlihat gugup.
"Ya baik lah. Aku mengerti." Kemudian Orion melepaskan tangannya dari bahu Ariana dan kembali hanya menggenggam tanganya. Orion pun melangkah dan di ikuti pula oleh Ariana. mereka menuju lift yang tak jauh dari situ. dan di sebelah mereka tampak seorang pria mengenakan topi dan masker sedang menunggu lift di lift sebelah mereka.
Lift di depan mereka terbuka. Merekapun segera masuk dan memencet tombol ke lantai tujuan mereka.
Ada beberapa orang turut masuk ke lift yang mereka tumpangi. Tanpa segaja seseorang menyenggol Ariana hingga membuatnya hampir jatuh tapi ia segera berpegangan pada Orion. Ia jatuh ke pelukan Orion. Untuk sejenak mereka masih dalam posisi tersebut sampai liftnya terbuka.
Orion segera menarik Ariana keluar dari lift ketika pintu lift terbuka. Langkah Orion begitu tergesa-gesa.
"Hei..Orion kenapa kita harus lari-lari seperti ini?" Ujar Ariana tapi suaranya teredam karena Orion membekap mulutnya. Saat ini mereka tengah bersembunyi di tikungan koridor Hotel yang tampak sepi.
"Suuttt..diamlah. Pelankan suaramu. Aku yakin orang yang mengikuti kita tadi akan segera keluar dari pintu lift yang satunya lagi. Kita akan menjebak dia di sini. Mengerti. "Ujar Orion dengan suara berbisik. Ariana pun hanya bisa mengangguk. Setelah itu Orion melepaskan bekapan tangannya di mulut Ariana.
Benar saja. Tak lama kemudian sebuah langkah kaki terdengar mendekat ke arah mereka. Seorang pria bertopi dan masker yang terlihat mencurigakan. Saat langkah kaki itu benar-benar dekat ke arah mereka. Orion langsung saja menghadangnya.
"Aku tahu. Sejak di jalan tadi pasti kamu sudah mengikuti kami kan? katakan siapa kamu? dan apa maumu?" Ujar Orion pada pria misterius itu.
Menyadari dirinya sudah terjebak. Pria itu pun segera mengambil langkah kaki seribu. Tapi Orion tak tinggal diam. Ia mengejar pria misterius tersebut. Tapi sayang pria itu berhasil meloloskan diri setelah Orion berusaha meraih jubah panjang yang di kenakan pria itu. Ia melepaskan jubah itu dan berhasil lari.
__ADS_1
"Sial..Dia berhasil lolos." Ujar Orion kesal dengan nafas yang masih terengah-engah. sambil memegang jubah panjang milik pria misterius itu.
"Orion..apa kamu tidak apa-apa?" Ujar Ariana merasa kawatir seraya menghampiri Orion.
"Ya..aku tidak apa-apa. Tapi pria aneh itu berhasil lolos. Aku belum sepat tahu siapa dia. Dan apa tujuannya mengikuti kita."
Mata Ariana tertuju pada jubah yang ada di tangan Orion. "Mungkin kita kehilangan jejak orang itu. Tapi kita masih punya ini." Ujar Ariana seraya meraih jubah yang ada di tangan Orion.
"Memangnya ada apa dengan jubah ini."
Ariana tersenyum. "Lihatlah jubah ini. Pasti ada sakunya. Mungkin dari situ kita bisa mendapatkan petunjuk."
"Ah..iya kamu benar. Cerdas juga kamu. Coba kamu cari di jubah itu. Ada sesuatu atau tidak."
Ariana pun segera mecari setiap celah yang ada di jubah berwarana biru tua itu. Kemudian tangannya seolah sedang meraba sesuatu di salah satu sakunya.
"Ah..Dapat !" Ujar Ariana girang.
"Apa ini. Ini hanya sebuah kertas bon." Ujar Orion sedikit kecewa.
"Maksudku bukan yang ini. Tapi masih ada lagi nih sepertinya. Ah..iya benar kan." Tangan Ariana mengeluarkan sebuah Hp dari jubah tersebut.
"Apa ini? coba ku lihat." Orion meraihnya kemudian menyalakan hp itu.
Untung Hpnya tidak menggunakan kunci. Jadi Hp nya bisa terbuka begitu saja.
"Coba lihat. Disini ada foto-foto kita. Jadi mungkin tadi dia mengikuti kita sengaja untuk mengabil foto kita. Tapi untuk apa?" Ujar Ariana masih tampak bingung." Coba lihat juga ini." Sambung Ariana sembari memperlihatkan foto sekandal dirinya dengan Orion yang tersebar di internet.
Di dalam Hp tersebut hanya ada Foto-foto mereka dan tak ada foto-foto lain atau foto pemilik Hp tersebut yang bisa di jadikan petunjuk. Sepertinya Hp itu hanya di khususkan untuk mengintai mereka.
"Mungkin orang ini adalah orang yang sama. yang menyebarkan foto kita waktu itu di internet."
"Ya..kamu benar. Tapi untuk apa. Dan siapa dia?"
"Kalo itu aku juga tidak tahu. Mungkin orang itu adalah musuh bisnis Ayah. Ya..mungkin saja. Ia sengaja ingin membuat rumor buruk dengan membututi kita." Ujar Orion yang masih tampak berpikir.
"Baiklah..Mulai saat ini jadi kita harus lebih hati-hati lagi." Ujar Ariana menenangkan.
"Iya..kamu benar." Orion tersenyum. Ia merasa lega. Ternyata kecurigaanya selama ini salah. ternyata memang bukan Ariana yang menyebar gosip murahan itu. "Ya..kalo begitu ayo kita segera ke kamar saja. aku lelah. Ingin istirahat." Lanjut Orion seraya melangkahkan kakinya menyusuri koridor menuju kamar pesanan Ayahnya.
"Ah..ke kamar. Oh..ya ampun gara-gara masalah tadi aku sampai lupa kalo ada hal yang lebih penting. Bagaiman kalo Orion akan memakanku seperti singa yang lapar seperti yang dikatakanya tadi di mobil. Aduhh..bagaimana ini..apa aku harus lari..ah tidak..tidak..bagaimana ini.." Ariana yang tertinggal di belakang Orion seolah sedang berbicara dengan dirinya sendiri.
"Kenapa kamu masih di situ. Cepatlah aku sudah tidak sabar lagi nih." Ujar Orion lagi sambil mengedipkan sebelah matanya pada Ariana. Orion sengaja menjahilinya lagi.
"Apa..! Aduh..Mati Aku..Mati aku..! Wajahnya panik seraya berjalan menyusul Orion.
Orion yang kini tampak membalikkan badanya membelakangi Ariana tersenyum puas karena telah berhasil menjahili Ariana.
__ADS_1
BERSAMBUNG...