Mendadak Jadi Istri Muda

Mendadak Jadi Istri Muda
Rachel berhijab


__ADS_3

Setelah beberapa hari menginap di rumah Ibu. Akhirnya Orion dan Ariana kembali ke rumah mereka lagi yang berada di kompleks perumahan yang tersembunyi.


Pagi ini pun Ariana sudah tampak bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. begitu juga dengan Orion. Ia sudah tampak mengenakan baju rapih lengkap dengan sepatu dan tas ransel di punggungnya. Tak lupa juga mengenakan jaket couple yang juga di miliki Ariana.


Orion suka sekali dengan jaket itu.Walaupun awalnya ia bilang jaket itu jelek dan murahan. Tapi karena jaket itu couple dengan Ariana. ia jadi sangat menyukainya. Entah sejak kapan.


Sejenak ia tersenyum sendiri ketika mengingat kejadian waktu itu. Kejadian di mall saat bersama Ariana dan bagaimana sampai mereka bisa mendapatkan jaket itu. Bagi Orion itu adalah kenangan yang sangat manis yang tak kan pernah ia lupakan sepanjang hidupnya.


"Hei..kamu sudah siap ?" Tegur Ariana dari balik pintu kamar Orion yang nampak terbuka.


Orion segera menoleh." Kenapa kamu tidak ketuk pintu dulu. Kenapa muncul begitu saja seperti hantu." Sergah Orion ketus. Ia berharap Ariana tak melihatnya saat ia sedang senyum-senyum sendiri tadi.Bukankah itu akan terlihat memalukan. Pikirnya.


"Hei..kamu itu kenapa? Apa kamu salah minum obat tadi. Kenapa bicaramu ketus begitu.huft." Ariana memasang muka masam seraya berkacak pinggang. "Lihatlah..Pintumu sudah terbuka sejak tadi. masa' begitu saja aku harus ketuk pintu dulu. Kamu itu benar-benar merepotkan." Lanjut Ariana seraya berlalu dari hadapan Orion.


Ya ampun..Apa sih yang barusan ku lakukan. Kenapa aku keras padanya tadi. Huh..Ternyata memang susah mengubah kebiasaan buruk. Orion.


Orion segera mengejar Ariana ke ruang depan. "Ariana tunggu..maaf soal yang tadi. Aku belum terlalu terbiasa bersikap lembut. Maaf kan aku." Ujar Orion dengan tatapan tulus. Membuat Ariana tak bisa kalo tidak memaafkannya.


Ariana tersenyum. "Sudahlah..lupakan. lagipula hanya masalah kecil. Mulai saat ini bagaimana kalo kita janji. Kita akan saling memperbaiki diri. Agar kedepannya hubungan kita jadi lebih baik lagi." Sambungnya seraya mengacungkan jari kelingkingnya ke udara.


Orion turut tersenyum. Kemudian meraih jari kelingking Ariana dengan kelingkingnya. "Baiklah..Janji!" Lanjutnya. Kini jari tengah dan telunjuknya tengah menyentuh dahi Ariana lembut.


"Hei..kenapa kamu selalu melakukan ini padaku?" Ariana memutar bola matanya ke atas melihat jari-jari Orion yang tengah menyentuh dahinya. "Apa aku boleh melakukan hal yang sama padamu?"


Jari Telunjuk dan jari tengah Ariana kini juga sudah berada di dahi Orion. "Kamu tidak akan bisa menyentuh dahi ku. Pendek."


"Enak saja. Siapa yang kamu bilang pendek. Tuh buktinya aku bisa menyentuh dahimu." Sergah Ariana seraya menyeringai.


"Itu karena kamu berjinjit. Coba kalo kamu tidak jinjit. pasti kamu..." Kalimat Orion terputus.


"Auuugghh..!"Ariana terlihat kesakitan.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan sih. Kamu hampir saja terjatuh tahu. Dasar ceroboh."


Ternyata kaki Ariana tidak bisa menopang berat badannya lebih lama jika dengan posisi berjinjit. Itu yang menyebabkan ia nyaris saja terjatuh kalo saja Orion tidak sigap memegangi tubuhnya tadi.


"Maaf..aku kan Hanya ingin melakukan hal yang sama denganmu."


"Ah..kamu ini. Kamu kan bisa memintaku untuk merunduk sedikit." Ujar Orion seraya menundukkan kepalanya sedikit di hadapan Ariana. "Seperti ini. Ayo..Sekarang sentuhlah." Lanjutnya lagi seraya tersenyum.


Tapi melihat Orion yang tampak menggemaskan. Ariana malah tertarik untuk mendaratkan sebuah ciuman ke pipinya di detik pertama. Kemudian wajahnya berubah merona merah di detik berikutnya.


Orion terpana sesaat. Ia merasa senang Ariana mau menunjukkan perasaanya dengan perbuatan tanpa ia minta.


"Itu cukup lumayan." Seru Orion setelah tersadar dari keterpanaannya. Kemudian Ia berjalan mengikuti Ariana yang sudah lebih dulu melarikan diri ke teras rumah.


******


Tak butuh waktu lama. Orion dan Ariana sudah sampai di gerbang sekolah Ariana dengan mengendarai mobil kodok warna toska muda favorit mereka.


"Sudah sampai. Turunlah !" Ujar Orion dengan nada lembut. Serta memasang senyuman manis.


"Hei..kenapa kamu malah bengong begitu." Orion menyentuh pipi Ariana lembut. Membuat Ariana tersentak.


"Eh..su..dah sampai ya !" Ariana terbata. Mungkin karena gugup. Pikirannya masih berputar mengingat kejadian saat dirumah tadi pagi. Tentang ciuman di pipi. Ah..ada apa dengan dirinya. sepertinya ia menginginkannya lagi.


Apa..! lagi..? Gema suara hati Ariana.


"Hati-hati lah. Jangan melamun terus seperti itu." Kini malah gantian Orion mendaratkan ciumannya di pipi Ariana. "Aku tahu..kamu menginginkan ini kan tadi." Ujar Orion usai mencium pipi Ariana. Dan tak lupa memasang senyuman manis menawannya.


Pipi Ariana kembali merona merah. Apa tadi dia bisa mendengar suara hatiku. Oh..ya ampun. Kalo begini terus aku bisa meleleh.


"Baiklah kalo begitu..hati-hati di jalan." Ujar Ariana setelah keluar dari mobil dan pintunya pun sempat di bukakan oleh Orion tadi.

__ADS_1


Aku tidak menyangka Orion bisa semanis ini.


Orion hanya membalas dengan tersenyum. Kemudian kembali menyalakan mesin mobilnya. Menginjak pedal gas dan bersiap untuk pergi. Tapi tiba-tiba saja aksinya terhenti ketika ada seorang gadis berjalan ke arah mobilnya dengan setengah berlari.


"Pagi Ariana..Pagi Kak Orion!" Sapa Rachel dengan senyum riang. Sambil sesekali membenarkan jilbabnya yang tertiup angin.


Penampilan Rachel pagi ini. Sukses membuat Ariana dan Orion melongo. Rachel berhijab? Sejak kapan? begitu kira-kira yang terucap dari sorot mata mereka.


"Pagi juga Rachel !" Ujar Ariana akhirnya.


Sedangkan Orion masih terdiam dengan muka datar.


"Kalian kemana saja beberapa hari ini." Mata Rachel melirik ke arah Orion. Berharap mendapat tanggapan tentang penampilannya. "Kamu kemana beberapa hari ini tidak ke sekolah?" Lanjutnya. kini tatapannya mengarah pada Ariana.


"Emm..Aku..." Ariana seolah tak bisa menemukan ide untuk membuat sebuah alasan yang masuk akal. Mengingat ia juga tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya.


"Kami sedang ada urusan keluarga." Jawab Orion cepat. Ia tak ingin membuat Ariana dalam kesulitan. "Ya..jadi kami izin untuk sementara waktu karena harus menyelesaikan urusan keluarga tersebut." Orion menatap gadis itu sekarang. Berusaha untuk meyakinkan. Tapi tindakannya justru membuat Rachel merasa senang. Karena ia berharap Orion akan melihat penampilannya yang sudah berubah. Ia benar-benar ingin menarik perhatian Orion.


"Hei..Rachel. kamu tampak berbeda pagi ini. Sejak kapan ?" Tegur Ariana dengan memasang wajah senang.


"Emm..aku baru mulai kemarin. Kamu nggak masuk. jadi kamu nggak lihat. Bagaimana. Aku cocok nggak pake hijab?" Ujar Rachel seraya membenarkan hijab yang di kenakannya.


"Hemm..bagus. Kamu cantik." Seru Ariana tulus.


"Benarkah?" Mata Rachel sekali lagi melirik ke arah Orion. Ia benar-benar berharap Orion juga mau memberikan tanggapan." Kalo menurut Kak Orion bagaimana?" Lanjut Rachel tampak bersemangat.


Orion merasa sedikit terkejut."Kenapa harus minta pendapatku?" Ujar Orion malas. Tapi Ariana sudah mulai melotot ke arahnya. Sorot matanya seolah sedang mengatakan. Pujilah dia walau hanya sedikit. Jangan kecewakan dia.


Orion menarik nafas dan membuangnya cepat. "Ya..kamu bagus mengenakan hijab. Cantik." Ujar Orion akhirnya. Meskipun ia merasa tidak enak mengucapkan kalimat terakhirnya. Tapi mau tidak mau ia harus mengucapkannya setelah mendapat intimidasi tanpa suara dari Ariana. Sebenarnya dia malas mengatakan semua itu. Tapi semua ia lakukan demi Ariana.


Rachel tampak senang mendengar pujian dari Orion. Sebaliknya Orion melirik tajam pada Ariana.

__ADS_1


Sampai kapan kamu harus berbohong terus seperti ini !


BERSAMBUNG...


__ADS_2