
Di tempat yang berbeda.
Sean dan Angel baru saja akan menuju ke bandara. Masa liburan Angel telah usai. Begitupun dengan Sean. Kini waktunya mereka untuk melanjutkan studi mereka ke jenjang yang lebih tinggi. Pak Hans ayah Sean serta istrinya turut mengantar kepergian mereka.
"Hati-hati ya disana? Jangan kesehatan, tetap jadi anak yang baik ya! Jangan berubah. Jangan lupa untuk selalu memberi kabar pada ibu!" Ujar ibu Sean yang seolah masih berat untuk melepaskan kepergian putranya tersebut. Matanya sudah sembab karena dari semalam wanita paruh baya tersebut sudah menghabis kan waktunya hanya untuk menangis.
"Iya bu...Aku akan ingat selalu nasehat ibu. Jangan sedih dong!" Sahut Sean sambil berusaha tersenyum dan merangkul ibu nya.
"Belajar yang benar, biar bisa bikin bangga ayah sama ibu!" Tambah Ayah yang terlihat berusaha lebih kita di bandingkan ibu.
"Siaaappp Yah...!" Seloroh Sean sambil membuat gerakan hormat pada ayahnya.
Ayah dan Ibu nya hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum melihat tingkah Sean yang selalu berusaha menyenangkan kedua orang tuanya tersebut.
"Maaf paman, bibi, bukannya Angel mau mengganggu acara perpisahan kalian. Tapi sepertinya pesawatnya akan segera berangkat." Ujar Angel yang baru saja mendengarkan pengumuman lewat pengeras suara yang ada di bandara.
"Ah...iya, pergilah nak, hati-hati!" Ujar Ibu sambil memeluk Sean sekali lagi. Setelah itu Ayah juga turut memeluknya sebentar.
"Hati-hati, jangan lupa kabari kami setelah sampai disana nanti" Ujar Ayah sambil menepuk bahu Sean pelan.
"Pasti!" Jawab Sean yang kini mulai berjalan seraya menggeret kopernya. Sedang kan Angel buru-buru bersalaman dengan paman dan bibinya tersebut lalu kemudian mengikuti langkah Sean di belakangnya.
"Hati-hati!" Teriak Ibu kepada anak dan keponakannya tersebut.
Sean dan Angel pun menoleh seraya mengangguk dan melambaikan tangan.
******
Di rumah sakit.
Pak Alfian sepertinya tampak kesulitan menjawab pertanyaan dari Haikal prihal wanita yang kini tengah datang bersamanya ke rumah sakit. Sedangkan Haikal masih menatap Ayahnya dan wanita tersebut dengan wajah penasaran secara bergantian. Ia seolah sedang menunggu penjelasan dari ayahnya. Karena sebelumnya, saat tadi ia berusaha menelpon ayahnya, ternyata yang mengangkat adalah suara seorang wanita. Apakah wanita tersebut adalah wanita yang sama dengan wanita yang datang bersama ayah saat ini? Banyak pikiran berkelebat di pikiran Haikal. Yang jadi pertanyaan besarnya adalah, siapa wanita tersebut? Haikal merasa seolah tidak asing meskipun baru sekali ini melihatnya.
"Dia...dia hanya rekan bisnis Ayah!" Jawab Pak Alfian memberi alasan. Suaranya terdengar ragu karena merasa gugup. Tapi sebisa mungkin ia harus bisa menutupi kenyataan yang sebenarnya pada Haikal.
__ADS_1
"Baiklah, Apa Orion ada di dalam sana? Lalu dimana Ariana?" Ujar Pak Alfian lagi, berusaha mengalihkan perhatian.
"Iya Orion ada di dalam ruang IGD ini, dan Ariana sedang ada di dalam untuk menemaninya!" Jelas Anesya yang juga masih ada di situ.
"Apa Ayah boleh masuk ke dalam?" Tanya pak Alfian pada Haikal.
"Boleh saja yah, tapi tunggu kakak ipar keluar dari sana dulu, karena kata dokter hanya boleh satu orang saja yang boleh masuk ke dalam untuk menjenguk!" Jelas Haikal sambil matanya melirik ke arah wanita yang datang bersama ayahnya tadi. Wanita itu memandang Haikal dengan tatapan aneh. Dan itu membuat Haikal jadi penasaran.
Tak lama kemudian keluarlah Ariana dari dalam ruang IGD.
"Ariana!" Sapa Pak Alfian.
"Ayah! Sejak kapan datang!" Ariana langsung menyalami tangan pak Alfian.
"Aku baru saja sampai, oh iya...bagaimana keadaan Orion? Apakah dia baik-baik saja?" Pak Alfian terlihat panik.
Ariana pun tersenyum demi menghilangkan kekhawatiran di wajah Pak Alfian. "Orion baik-baik saja Yah, bersyukur tidak ada luka yang serius!"
"Oh...begitu, syukurlah!" Pak Alfian menghela nafas lega, begitupun dengan Haikal dan Anesya.
Dan semua yang ada di situ serentak mengaminkan do'a dari Anesya.
"Baiklah kalo begitu, sekarang boleh kan ayah masuk untuk menjenguk?" Tanya Pak Alfian dengan wajah antusias.
"Sebaiknya nanti saja yah, saat Orion sudah mulai di pindahkan ke ruang perawatan, lagipula ia baru saja tertidur lagi sekarang. Sisa obat bius di tubuhnya sepertinya masih mempengaruhinya. Jadi ia terus saja mengantuk. Tapi itu bagus untuk pemulihannya jika ia banyak beristirahat." Sebenarnya Ariana tak tega menjelaskan semua itu. Ia faham kalo ayah mertuanya tersebut sangat kawatir dengan keadaan putra sulungnya yang kini tengah terbaring lemah di ruang IGD.
*****
Tiba-tiba keadaan menjadi canggung. Ariana dan Anesya memutuskan untuk mencari makan di luar. Sedangkan Pak Alfian memilih untuk menunggu Orion di depan ruang IGD. Sedangkan Haikal memilih untuk ikut pergi bersama Kakak iparnya dan Anesya.
Fina yang merasa bingung, ia nekat untuk menawarkan diri untuk ikut bersama Ariana dan yang lainnya.
"Tunggu! Apa aku boleh ikut makan siang bersama kalian?" Ujar Fina seraya berlari-lari kecil untuk menyamai langkah Ariana dan Lainya.
__ADS_1
Seketika Ariana pun menghentikan langkahnya. Begitupun dengan Haikal dan Anesya. Kini mereka saling tatap dengan wajah heran.
Fina yang menyadari hal itu langsung menjabat tangan mereka satu-persatu seraya memperkenalkan diri. "Saya Fina!" Berkata sambil tersenyum.
Masa bodoh jika ia terlihat konyol. Pikir Fina. Yang penting saat ini ia bisa dekat putranya yaitu Haikal.
"Ya...baiklah tidak apa-apa kalo Tante mau ikut." Ujar Ariana akhirnya. Ia pun menoleh ke arah Anesya dan Haikal. Matanya seolah sedang meminta persetujuan mereka berdua.
Anesya dan Haikal yang mengerti akan hal itu,. dengan kompak mengangguk tanda mengiyakan.
Wajah Fina pun bertambah sumringah. Ia pun kembali menatap Haikal dengan tatapan aneh. Tatapan kerinduan yang mendalam. Ingin rasanya Fina memeluk putra kandung nya tersebut. Tapi apalah daya. Dia sudah berjanji pada Alfian tidak akan mengatakan siapa jati dirinya yang sebenarnya. Untuk sesaat ia menoleh pada Pria paruh baya yang duduk di depan ruang IGD. Seolah tatapan matanya sedang memohon agar ia di izinkan pergi bersama dengan putranya.
Pak Alfian pun faham. Ia hanya mengangguk dengan tatapan seolah sedang mengingatkan. Ingat janjimu! Begitu lah kira-kira isi pesan dari sorot mata pak Alfian.
Fina hanya balas tersenyum. Seolah sedang mengatakan. Tenang saja. Aku tahu batasan ku. Begitu kira-kira isi isyarat dari senyum nya.
Tak lama kemudian Fina, Ariana serta yang lainnya melanjutkan jalannya untuk mencari makan di luar.
Sesampainya di restorant.
Haikal dan Fina tampak memesan makanan yang sama, tidak hanya itu, pesanan minuman kesukaan mereka juga sama.
"Wah...Tante suka makanan dr an minuman ini juga?" Celetuk Haikal merasa senang karena ada yang menyamai makanan dan minuman favoritnya. Spagheti keju mozzarella dan jus Apel.
"Wah...kebetulan sekali ya!" Fina tersenyum. Tentu saja, mereka berdua kan ibu dan anak. Bukan sebuah kebetulan lagi jika mereka punya selera yang sama.
Kamu mirip sekali dengan ibu nak! Batin Fina merasa senang.
Dengan tanpa sungkan Fina menawarkan diri untuk menyuapi Haikal. "Makan yang banyak ya! Biar cepat besar!" Ujar Fina sambil menyendokkan suapan besar ke arah mulut Haikal.
Ariana dan Anesya yang menyaksikan hal itu, hanya bisa saling pandanga sejenak merasa ada yang aneh.
Siapa sebenarnya Fina ini?
__ADS_1
BERSAMBUNG.