Mendadak Jadi Istri Muda

Mendadak Jadi Istri Muda
Cemburu


__ADS_3

Gara-gara kedatangan tamu yang tak di undang itu. Keadaan menjadi hening sesaat. Semua yang ada di ruang keluarga Ariana saling menatap satu sama lain dalam keadaan bingung.


"Bagi yang belum mengenalku. Perkenalkan. Aku adalah Anesya." Ujar wanita cantik yang kini sudah berdiri di tengah-tengah mereka.


Ria dan Abel menatap bingung.


"Hai..Tante. Kamu ini siapa sbenarnya. Kenapa tiba-tiba muncul." Ujar Ria dengan polosnya.


'Kurang ajar. Apa..? Apa barusan yang dia bilang. Dia memanggilku dengan sebutan tante? Memangnya aku terlihat seperti tante-tante apa. Umpat Anesya dalam hati.


Sedangkan Reno dan lainnya tampak menahan tawa mendengar ucapan Ria yang polos dan berhasil membuat muka Anesya memerah menahan kesal. Selain Reno. Aska dan Haikal juga sudah mengenal Anesya. dulu. Orion pernah beberapa kali mengajaknya main ke rumah mereka.


"Maaf ya. Aku bukan tante-tante. Usiaku baru 20 tahun." Tersenyum paksa. Berusaha berkata dengan seelegan mungkin.


Bukanya kenapa-kenapa. Ria yang asal bicara itu melihat penampilan Anesya memang mirip tante-tante. Pikirnya. Make up yang lumayan tebal dengan pakaian agak kurang bahan. Juga high hills yang di kenakannya.


"Maaf kak, tapi kakak siapa?" Ujar Ria lagi. menyadari kesalahannya. Dan kemudian memanggil dengan sebutan Kakak.


Yang lain masih terdiam. Menunggu seraya menatap masih dengan tatapan heran.


"Biarkan dia bergabung Ria. Dia itu temannya Reno dan Orion." Ariana berkata dengan penekanan kalimat terakhirnya. tenggorokannya terasa tercekat ketika menyebut nama Orion. Tiba-tiba saja perasaan ngilu menelusup dalam hatinya. meskipun samar.


"Hei..Anesya kenapa kamu bisa sampai ada disini?" Reno akhirnya membuka suara.


Anesya belum menjawab. sejenak ia melirik Orion yang tampak tak peduli dengan kehadirannya. "Maaf ya semuanya. Bila kedatganku ke sini membuat kalian semua terkejut. Emm..Reno. Aku bisa sampai disini karena kamu tadi kan pasang setatus foto profilemu di WA. Kamu bilang sedang ada disini. Jadi aku cari tahu alamatnya melalui google map. Ternyata benar kalian ada disini." Lanjutnya seraya berkata dengan senyum dan suara khas renyahnya. Yang enak di dengar.


******


Tak lama kemudian. Saat hari sudah semakin larut. Teman-teman Orion dan teman-teman Anesya juga sudah pulang ke rumahnya masing-masing. Begitupun juga Aska dan Haikal. Yang juga pulang dengan mobil dan supir pribadi mereka.


Tinggallah Anesya sendiri di sana. Merajuk ingin bicara empat mata saja dengan Orion. bahkan ia juga tidak malu meminta izin dengan Ariana.


"Ariana boleh ya. Aku ingin bicara hanya dengan Orion. Berdua. Sebentar saja!" Ucapnya dengan gerakan tangan memohon.


Orion melirik Ariana Ku mohon katakan jangan.


"Baiklah..silahkan saja." Ujar Ariana tersenyum riang. Walaupun sedetik sebelumnya ia menatap Orion ragu. Ia berharap Orion sendiri yang akan menolak ajakan Anesya.


Jadi kamu sungguh ingin aku mengobrol dengannya berdua saja. baiklah. Jangan salhkan aku. Gumam Orion kesal.


"Baiklah..kita bicara di bawah saja. Di luar." Ujar Orion akhirnya.


Membuat mata ariana tampak terkejut. menatap ke arah Orion tak percaya. Ia ingin sekali menghentikan langkah Orion. Tapi tak bisa melakukannya. Bukankah tadi dia sendiri yang membolehkan mereka mengobrol berdua saja. Lalu kenapa sekarang malah ia malas merasa kawatir.


Kenapa dia malah diam saja, bukannya menahanku, baiklah kalo begitu.


"Ayo kita ke bawah." Orion memalingkan muka. Setelah sesaat tadi sempat menatap Ariana dengan tatapan tajam.


"Baiklah ." Ujar Anesya dengan tertawa riang. Sekilas ia juga sempat melihat ekspresi Ariana yang tampak kesal. Entah kenapa ia justru merasa senang. la malah berharap Ariana dan Orion akan bertengkar setelah ini. Dan itu akan lebih mudah baginya untuk merusak hubungan mereka berdua.


Orion dan Anesya sudah tampak di luar. Di pelataran ruko Ariana.


"Cepatlah. Aku tidak punya banyak waktu untuk mendengarkanmu bicara. Aku sudah sangat mengantuk dan ingin tidur." Ujar Orion ketus seraya menangkupkan tangannya ke dadanya dan mengedarkan pandangannya ke segala arah. Sebenarnya ia sudah merasa muak dengan gadis yang ada di depannya. Tapi ia terpaksa menuruti gadis itu untuk melihat reaksi Ariana.


"Kenapa kamu tiba-tiba ketus lagi sih. Aku kan hanya ingin lebih lama lagi ada disisimu. kenapa kamu nggak peka sih."


"Cih Jadi hanya itu. Kamu hanya membuang-buang waktu saja melakukan semua itu." Menatap ke arah Anesya dengan tatapan tak suka.

__ADS_1


"Aduh..Aduh..Orion. Mataku!" Anesya memegangi matanya sendiri.


Mau tidak mau Orion jadi merasa kawatir sedikit. "Hei..Kenapa kamu ini." Perhatiannya kini sudah teralih kepada Anesya. Gadis itu berhasil mengelabuinya.


"Aduh..Mataku. Entahlah..sepertinya ada sesuatu di mataku. Aduh perih. Bisa tolong tiupkan."


"Ah..kamu ini. Aku kira matamu kenapa. Sini biar ku tiup." Seru Orion seraya meraih kepala Anesya dan meniup di bagian matanya.


Dari atas. Dengan tangan gemetar dan ragu. Ariana sudah berdiri sejak lama di balik jendela kamarnya yang tertutup tirai. Dan akhirnya ia memberanikan untuk membuka tirai jendelanya. Betapa terkejutnya ia dengan apa yang di lihatnya. Adegan ketika Orion meniup mata Anesya. Terlihat seperti orang yang sedang berciuman jika di lihat dari jendela Ariana.


Anesya menyadari hal itu. Ia tahu Ariana pasti akan mengintip mereka dari atas. Jadi ia sengaja membuat posisinya seolah sedang berciuman dengan Orion.


Ariana pun segera menutup tirainya kembali. Dadanya kini berdebar dengan cepat. Rasa ngilu yang di timbulkan debaran dadanya terasa semakin nyata. bahkan matanya sudah mulai memerah menahan gejolak yang tak biasa. apakah ini cemburu. Tapi sebisa mungkin ia tak ingin menangis. Ia tak mau memiliki perasan ini terhadap Orion. Dia harus kuat. pikirnya.


"Sudah Rion. Mataku sudah tidak apa-apa. aku senang ternyata kamu masih peduli padaku." Ujar Anesya seraya menarik diri dari Orion.


"Sudahlah. Bagiku itu biasa saja. Cuma hal kecil. Semua orang juga akan melakukan hal yang sama jika kamu mintai tolong." Orion berkata dengan nada datar.


"Tapi bagiku itu berbeda. Aku merasa kamu masih memilik rasa untukku. Benarkan Rion." Berkata seraya menatap ke dalam Orion. seolah mencari jawaban disana.


"Sudahlah Anesya. Jangan membuat dirimu sendiri terlihat menyedihkan seperti ini. Kamu tahu ini tidak akan berhasil. Aku tidak ingin menyakitimu lebih lama lagi. Karena hatiku saat ini sudah milik orang lain. Jadi tolong berhentilah melakukan hal-hal konyol seperti ini. Jika kamu menginginkanku jadi temanmu aku masih bersedia. Tapi jika lebih dari itu. maaf aku tidak bisa. Jadi aku mohon. mengertilah." Ujar Orion dengan tatapan tegas. Semua yang keluar dari mulutnya adalah benar-benar yang ada dalam hatinya. Bahwa tak ada sedikitpun cinta tersisa untuk gadis yang mulai terisak di depannya itu.


"Jadi..Kamu benar-benar mencintai istrimu?" Air mata Anesya sudah mulai bercucuran. Ia menyekanya sesekali dengan kasar. Belum pernah ia menangis seperti ini di depan pria. itu karena dirinya angkuh. Tapi kini ia benar-benar tak kuasa.


Orion hanya mengangguk mantap. "Maafkan Aku. Dan lupakan saja aku." Ujarnya seraya menundukkan kepalanya dalam.


"Baiklah kalo begitu. Aku pergi. Terimakasih Orion sudah mengatakan semuanya. Setelah ini aku akan berusaha untuk melupakanmu." Berkata dengan masih terisak." Aku pulang ya. Dah." Sambungnya seraya masuk ke dalam mobilnya sendiri. Mulai menyalakan mesinya. Menginjak pedal gas lalu pergi.


Orion menarik nafas lega di detik pertama. kemudian ia tersenyum. Akhirnya ia berani mengakui perasaanya pada Ariana meskipun hanya di depan Anesya. Ia pun segera ingin beranjak ke atas untuk menemui istrinya itu.


"Hei..kamu belum tidur." Ujar Orion saat sudah membuka pintu kamar Ariana.


Orion tersenyum dan menghampiri Ariana. kemudian memegang pipi gadis itu agar mau melihat ke arah wajahnya. "Hei..kenapa kamu ini. kenapa mukamu jadi cemberut begitu."


"Lepaskan." Ujar Ariana kesal seraya membuang muka pada Orion. membuat Orion makin gemas dan ingin menggodanya.


"Katakan padaku ada apa.kanapa kamu tiba-tiba begini ?" Orion tak menyerah. la memegangi pipi gadis manis itu agar mau melihat ke arahnya lagi.


"Hentikan. Sudahlah. Aku tidak mau lagi bicara denganmu. Kamu tadi berciuman kan dengan Anesya. Aku melihatnya kok." Berkata seraya melepaskan tangan Orion dari pipinya.


Orion tersenyum. Ada rasa senang yang sedang menggelayutinya saat ini. Orion tahu Ariana sedang salah paham dengan apa yang di lihatnya tadi. Tapi Orion malah sengaja tak ingin mengatakan yang sebenarnya. Ia ingin melihat ekspresi Ariana yang tampak cemburu padanya.


"Jadi ceritanya kamu sendang cemburu ya!" Goda Orion seraya tersenyum.


"Nggak kok. Siapa bilang. Jangan GR." Ujar Ariana seraya menatap kesal pada Orion. Membuat Orion bertambah gemas.


"Sudahlah mengaku saja. Ekspresi wajahmu itu malah menunjukkan kalo kamu sedang cemburu. benar kan?" Menoel hidung Ariana lembut.


"Aku tidak cemburu." Kata Ariana bertambah kesal.


"Terus kenapa mukamu merah dan kesal begitu."


Tentu saja aku cemburu. Bagaimana mungkin aku tidak cemburu melihat suamiku mencium gadis lain. kenapa malah terus menggodaku.


Ariana terdiam. Tidak ingin berdebat lagi dengan Orion. Perasaanya sudah benar-benar kesal sekarang.


Melihat itu Orion malah langsung memeluknya. Membuat Ariana terpaku. "Aku senang kamu cemburu padaku. Meskipun kamu tidak mau mengakuinya. ltu tandanya kamu sayang padaku." Bisik Orion di telinga Ariana.

__ADS_1


Ariana berusaha melepas pelukan Orion. Hatinya masih gusar dengan adegan ciuman yang di lihatnya tadi. "Tadi..apakah kalian benar berciuman?" Suara Ariana terdengar ragu. Tapi hatinya terus mendorongnya untuk meminta penjelasan.


Orion lagi-lagi tersenyum karena senang. la tahu betul Ariana sedang cemburu saat ini. "Kalo iya kenapa?" Goda Orion.


"Kalo begitu. Jangan sentuh aku lagi." Ariana merasa kesal dan marah.


Dengan sigap Orion malah memeluk tubuh mungilnya lagi. "Hei..jangan marah. Aku hanya bercanda tadi. Tadi aku tidak sedang berciuman dengannya."


Ariana berontak. Mendorong tubuh Orion darinya. Masih tidak percaya dengan yang di katakan Orion." Lalu itu tadi apa. Tapi terserahlah aku tidak peduli." Sungutnya kesal.


"Tadi itu ia matanya kemasukan debu. Aku hanya berusaha membantunya meniup debu dari matanya. ltu saja." Jelas Orion datar.


Benarkah hanya itu? Ariana menggigit bibir bawahnya merasa ragu.


"Mungkin dia melakukannya agar aku terlihat sedang berciuman dengannya. Dan untuk memanas-manasimu agar kita salah paham dan bertengkar. Aku sudah jujur padamu. Percayalah." Ucap Orion dengan sorot mata yang terlihat tulus. Berusaha meyakinkan Ariana. la tahu Ariana belum sepenuhnya percaya dengan ucapannya.


Tak di sangka malah kini Ariana yang sendiri yang menghambur ke pelukan Orion.


Orion merasa terkejut. Namun sedetik kemudian mulai membelai rambut Ariana lembut." Jadi kamu benar cemburu tadi. Jadi apakah ini tandanya kamu juga sayang padaku?" Seru Orion senang.


Ariana tiba-tiba.merasa gugup. Ia buru-buru menarik dirinya sendiri dari tubuh Orion. Ia seolah tak menyadari dengan apa yang baru saja ia lakukan. la memeluk Orion barusan. Mukanya kini tampak merona merah karena malu.


Ya ampun. Apa sih yang aku lakukan.


"Kamu sudah ketahuan. Jadi mengaku saja." Sergah Orion seraya tersenyum.


"Mengakui apa?" Ariana bicara seolah-olah tak peduli.


"Cih..masih saja berkilah. Sudah ketahuan juga."


"Ketahuan apa?" Goda Ariana. la ingin membalas Orion. lngin membuatnya kesal.


"Dasar. Biar ku hukum kamu."


"Eh..kamu mau apa?"


"Salah sendiri tidak mau mengaku."


"Aduhh..Hentikan. lni sakit tahu. Kenapa kamu menggigit bahuku."


"Biar saja. ltu agar kamu mau mengaku."


"Mengaku apa sih."


"Masih pura-pura juga rupanya."


"Hentikan..Hentikan..lni geli tahu."


"Biar saja aku ingin menggelitikimu sampai kamu mau mengaku."


"Orion ampun!"


"Tidak ada ampun bagimu."


"Baiklah..Hentikan. Aku sudah tidak tahan lagi. Ya..Aku tadi cemburu padamu. apa sekarang kamu puas?" Ujar Ariana dengan nafas terengah-engah. Ia kelelahan karena Orion menggelitikinya tanpa henti.


"Akhirnya kamu mengaku juga." Memeluk Ariana. Tersenyum. Hatinya luar biasa bahagia sekarang.

__ADS_1


Begitupun juga dengan Ariana. Bersama Orion ia merasakan cinta tanpa harus mengatakan cinta. Arianapun mengeratkan pelukannya pada Orion. Membuatnya merasa nyaman.


BERSAMBUNG..


__ADS_2