
Keluargan Adrianao sudah berada di depan ruko milik keluarga Ariana. Ruko itu terletak di pinggir jalan raya.
"Apa benar ini tempatnya." Pak Alvian berusaha memastikan pada asistentnya yang sedang menyetir.
"Iya Pak. Tidak salah lagi."
"Tapi kenapa sepertinya sepi."
"Oh..mungkin di Ruko yang satunya lagi. ini ruko khusus butik. Mungkin di sebelah sana. di belokan gang sana dekat perkampungan."
Orion menatap ruko dan jalanan dari balik kaca mobil. Bukankah tempat ini tempat di saat aku menemukan Ariana di pinggir jalan sedang menungu angkutan umum malam itu. jadi waktu itu diam-diam pulang ke rumahnya.
"Apa kamu yakin?"
"Ya..tidak salah lagi, orang-orang bapak yang pernah kesini telah memberitahuku kemarin." seraya membelokkan mobil ke jalan yang hanya muat di lewati satu mobil."
"Apa kita sudah sampai? Aku sudah sangat kelaparan." Ujar Haikal yang duduk di samping Ayahnya.
"Apa dalam kepalamu hanya makanan saja yang kamu pikirkan? Dasar karung." Aska mencubit gemas pipi adiknya.
"Daripada kakak. Dalam pikiran kakak hanya ada Ibu muda. Eh salah..maksudku kak Ariana. Ingat kak. Kakak itu masih SMP. Huft."
"Apa yang kamu katakan, Dasar sok tahu."
"Aku tidak sok tahu. Bukankah semalam kakak mengigau menyebut namanya." Dengan senyum menggoda.
"Bicara apa kamu. Awas ya kamu. Mulai besok kamu tidur di kamarmu sendiri. Aku mau lihat apa kamu berani?"
"Jangan dong kak Aska. Ah kak Aska nggak asik." mukanya jadi berubah cemberut.
Orion menatap kedua adiknya dengan tatapan kesal. "Kenapa kalian berdua berisik sekali sih. Telingaku sampai sakit mendengarnya."
Kalo telingamu sakit sumpal saja dengan kapas agar tidak sakit. Dasar payah. Aska bergumam.
"Benar kata Orion. Kalian jangan berisik, kita sudah sampai. Ayo lekas turun."
"Yee..akhirnya. Aku sudah lapar dan ingin makan masakan kak Ariana." Seru Haikal bersemangat seraya keluar dari mobil.
Setelah itu di ikuti pula oleh Aska, Pak Alvian juga Orion turun dari mobil. Sedangkan Jason asistent pak Alvian mencari tempat untuk memarkirkan mobil.
Tak jauh dari situ. Mobil yang satunya lagi. yang berisi barang bawaan untuk keluarga Ariana. Juga tampak sedang memarkir mobil. setelah mobil terparkir. Dua orang pria dengan setelan hitam-hitam turun dari mobil membawa serta barang bawaan untuk keluarga Ariana. Seperti parsel buah-buahan segar.makanan ringan, minuman ringan,beberapa setel baju, make up, kue-kue dan masih banyak lagi. mereka harus sampai bolak balik beberapa kali untuk memindahkan barang dari mobil ke dalam ruko.
Banyak tetangga Ariana yang mulai berkerumun dan berbisik-bisik.entah apa yang mereka bicarakan. tatapan mereka seolah sedang mengatakan.Oh jadi itu keluraga calon suami Ariana. Kaya juga ya. tapi yang mana ya calon suaminya. Tapi sayang hanya gara-gara itu ia harus putus sekolah. Begitu kira-kira isi obrolan mereka.
__ADS_1
Sedangkan di ambang pintu sudah Tampak Ariana dan Ibunya tengah bersiap untuk menyambut kedatangan keluarga Adriano.
Mata Aska dan Orion tak berhenti menatap Ariana.
"Kak Ariana terlihat cantik hari ini." Ujar Aska tulus.
Cih..seperti itu di bilang cantik. Lihat dandananya, pakaiannya juga, kampungan sekali. Orion menggerutu sendiri mendengar Aska yang tengah memuji Ariana.
"Ah..kamu bisa aja Aska. Aku kan jadi malu." Tersenyum riang.
"Tapi Aska benar. Kamu terlihat cantik hari ini nak." Pak Alvian turut memuji.
"Jadi maksudnya kemarin-kemarin aku tidak cantik begitu." Tersenyum bercanda.
"Haha bukan begitu.maksudnya kamu terlihat lebih cantik hari ini." Aska terlihat jadi salah tingkah.
"Iya aku mengerti." Tertawa bersama.
"Kenapa masih berdiri disini. ayo semuanya kita masuk. Aku sudah masak untuk semuanya ayo kita makan dulu. sudah masuk jam makan siang kan?" Ujar Ibu seraya menjabat para tamu.
Semua beranjak masuk, Bahkan Haikal terlihat sudah makan duluan. Sepertinya ia benar-benar lapar. Hanya Orion yang masih tampak di luar.
"Kenapa kamu masih berdiri disitu. Ayo sini masuk." Seru Ayahnya dari dalam.
Ariana reflek menatap ke arah Orion yang sedang memperhatikanya dari tadi. Orion hanya menyeringai padanya. Dan Ariana membalas dengan mngacuhkanya tak peduli. Merasa kesal Orion pun berjalan ke luar dari kerumunan keluarganya.
"Aku mau keluar sebentar untuk mencari udara segar. Rumah ini membuatku kepanasan."
"Orion..ah anak itu !" Ayahnya merasa tidak enak pada ibu Ariana. "Maafkan kelakuan anakku ya. Ia memang suka seenaknya kalo bicara." Menghadap ke arah ibu Ariana.
"Tidak apa-apa, aku tak kan memasukkanya ke dalam hati. ayo silahkan di lanjutkan makannya."
"Terimakasih Rima, kamu pengertian sekali." Seraya kembali melanjutkan makannya.
"Kak Orion tunggu, Aku ikut." Haikal berlari mengejar Orion.
Pak Alvian jadi bertambah tidak enak dengan sikap anak-anaknya. Melihat itu Aska berusaha menghibur Ayah.
"Ayah..apa ayah mau coba masakan ini, yang ini enak sekali. Ternyata masakan tante Rima juga enak." Puji Aska pada Ibu Ariana. agar Ayah merasa lebih baik perasaanya.
"Terimakasih pujiannya. Kamu manis sekali." Ibu Arianan mengelus lembut kepala Aska.
Pak Alfian merasa sedikit terhibur dengan sikap manis Aska dan tersenyum.
__ADS_1
"Kalo enak di habisin ya Aska makanannya." Ariana tersenyum riang.
"Siap kak."
suasananya jadi hangat berkat Aska. Ia memang terlihat lebih dewasa di bandingkan Orion.
Askapun turut membantu membereskan bekas makanan untuk semua tadi. Ibu dan Ariana merasa senang dengan pembawaan Aska yang sopan dan menyenangkan.
sedangkan Pak Alvian tampak sibuk dengan hp nya. mungkin ia sedang berusaha menelpon Orion yang belum juga kembali.
Ibu Ariana menghampirinya dan berysaha mengajaknya untuk mengobrol.
"Oh ya..daritadi aku tak melihat Adrian. dimana dia?"
"Oh..Suamiku Adrian sudah meninggal lima tahun yang lalu. Dan ya aku juga tak melihat Clara. dimana dia apa ia tidak turut denganmu?"
"Sebelumnya aku minta maaf kalo aku tidak tau tentang berita kematian Adrian. Maafkan aku. Lagipula kita sudah lama sekali ya lost contak."
"Iya..tidak apa-apa. Oya dimana clara?"
Mata Pak Alvian tiba-tiba berubah sedih. "Clara meninggal saat melahirkan Orion."
"Oh..maafkan aku. Aku tidak bermaksud.."
"Tidak apa-apa." Menyela.
"Kalo Clara sudah meninggal. Lalu Aska dan Haikal anak siapa?"
"Entahlah...sejak karirku menanjak. Ada beberapa wanita mengaku-ngaku telah ku hamili. Dan mereka menitipkan anaknya padaku. Karena tak tega aku merawat mereka seperti anakku sendiri."
"Jadi..?"
"Ya..Aska dan Haikal bukanlah anak kandungku."
"Apa mereka mengetahuinya?"
menggeleng. "Aku belum menemukan waktu yang tepat untuk mengatakan kebenaranya pada mereka berdua. Biarlah untuk saat ini mereka menganggapku sebagai ayah kandungnya."
"Tapi kenapa kamu mau cerita padaku. Apa Orion juga tau?"
"Tidak..aku tidak memberitahu Orion. Entahlah saat menceritakan semuanya padamu aku merasa lega."
Tak jauh dari tempat mereka sedang berbincang. Seseorang sudah berada disana untuk mendengar semua perbincangan mereka. Ia tengah bersembunyi di balik tangga dan mendengarkan dalam diam.
__ADS_1
BERSAMBUNG...