
Ariana membuka matanya perlahan. la mengerjab-ngerjabkan matanya agar bisa terbuka sempurna. Setelah itu di pandanginya ke sekeliling. ruangan itu tampak putih. Ia berharap yang di alaminya kemarin dengan Orion hanya mimpi. Tapi tidak. Ternyata semua adalah nyata. Karena ia merasakan sakit di bagian tengkuknya saat ia mulai menggerakkan tubuhnya.
"Dimana aku?" Ujarnya seraya meringis kesakitan menahan sakit di bagian tenngkuknya. Dengan susah payah ia berusaha untuk duduk.
"Kakak Ipar. Kamu sudah bangun. Syukurlah." Ujar Aska senang. Di sebelahnya juga tampak ada Haikal yang turut tersenyum senang.
"Dimana Aku?" Ulangnya lagi.
"Kakak ipar ada di rumah sakit. Kakak pingsan kemarin." Ujar Aska berusaha menjelaskan.
Jadi aku sudah pingsan dari kemarin dan baru sadar sekarang. Lalu bagaimana keadaan Orion?
"Lalu..bagaimana dengan Orion. Apa dia baik-baik saja?" Wajah Ariana sudah mulai tampak panik.
"Kak Orion..Emmm.." Aska seolah ragu untuk mengatakannya. Sesekali ia berpandangan dengan Haikal dengan tatapan sedih.
"Kenapa kalian tidak menjawab. Dimana Orion sekarang. Aku harus melihat keadaanya." Ariana bangkit dari pembaringanya. Ia tak peduli lagi dengan sakit yang ia rasakan di bagian tengkuknya. Ia segera membawa serta impus yang masih mengalir di tangannya untuk keluar kamar.
"Kak Ariana mau kemana. Tenanglah sedikit."
"Bagaimana aku bisa tenang. Aku ingin melihat Orion sekarang juga!" Matanya sudah mulai berkaca-kaca. la benar-benar kawatir terjadi seusatu yang mengerikan pada Orion. mengingat kemarin Ia babak belur di pukuli Angga dan dua orang suruhannya.
Ariana tergesa keluar kamar. Kemudian ia menuju kamar yang tak jauh dari situ. Tampak di depan kamar Orion berdiri Reno sahabatnya.
"Kamu temannya Orion kan?" Ujar Ariana saat sudah berada di depan kamar rawat Orion. Ariana ingat Reno pernah datang ke pernikahannya dengan Orion. "Apa Orion ada di dalam? bagaimana keadaanya?" Serbu Ariana pada Reno. Rupanya ia sudah tampak tak sabaran.
Reno hanya tertunduk lesu. Membuat Ariana semakin penasaran. Setelah tadi Aska dan Haikal juga memasang ekspresi yang sama seperti Reno.
Sebenarnya ada apa ini? Kenapa semua orang tampak sedih.
Ariana membuka pintu kamar Orion perlahan. Di lihatnya Orion sudah terbaring dengan tertutup selimut rumah sakit.
Air matanya kini tak terbendung lagi. Reno, Aska serta Haikal mengikutinya masuk ke kamar Orion.
"Orion..lni tidak mungkin kan. Orion..bangun..!" Ujar Ariana seraya mengguncang-guncangkan tubuh Orion dengan keras.
"Auuggghhh...Ini sakit tahu. Rupanya kamu ingin membuatku mati sungguhan ya." Ujar Orion Akhirnya seraya membuka selimut yang menutupi wajahnya.
__ADS_1
Sontak Reno, Aska dan Haikal tertawa cekikikan. Rupanya ini juga bagian dari rencana mereka untuk mengerjai Ariana.
Wajah Ariana yang tadinya pucat kini berubah menjadi merah merona karena malu. Seketika ia mencubit perut Orion gemas bercampur kesal.
"Augghh..sakit tahu. Kenapa malah mencubitku."
"Salah sendiri kenapa pura-pura mati."
"Hei..ini semua rencana mereka. Aku hanya menurut saja."
"Ia benar Ariana. lni semua rencana kami. Agar Orion bisa tahu perasaanmu yang sebenarnya." Reno menjelaskan di sela-sela tawanya.
"Jadi ini kerjaan kalian. Maaf ya tadi aku sudah mencubitmu." Ujar Ariana seraya tersenyum manis di depan Orion.
"Kelihatanya kalo kita disini hanya akan jadi pengganggu saja. Mari kita keluar. Dan biarkan mereka berdua pacaran. Hehe." Ujar Aska seraya mengerlingkan mata nakal pada kakaknya. Bermaksud menggodanya.
"Bicara apa kamu ini." Seraya melempar adiknya itu dengan bantal rumah sakit wajahnya tampak merah karena malu.
"Haha..Kak Orion memang suka pura-pura.huuu..." Haikal menambahkan.
"Sudah..sudah...kalian keluar sana. Dan berhenti menggodaku."
"Apa..! Jadi kamu ikut-ikutan juga menggodaku." Orion pura-pura marah pada sahabatnya itu.
Tak lama kemudian keadaan menjadi hening. Hanya tinggal merak berdua. Ariana dan Orion di kamar rawat Orion.
"Hei..jadi kamu mengkawatirkanku?" Orion memulai percakapan.
"Tentu saja. Memangnya kenapa?" Ariana berusaha bicara dengan nada senormal mungkin. Padahal daritadi jantungnya sudah berdegup tak karuan.
"Tidak apa-apa. Aku senang kamu mengkawatirkanku." Ujar Orion seraya tersenyum dan meraih tangan Ariana dan mengarahkanya ke pipinya.
Ariana sedikit tersentak. Denyut jantungnya seolah berpacu semakin cepat dan hampir melompat dari tempatnya semula.
"Apa..kamu benar-benar sudah baik-baik saja?" Ariana merasa gugup. Entah seperti apa sekarang rona mukanya.
"Hemmm..." Ujar Orion seraya memandang wajah Ariana lekat.
__ADS_1
Ariana tak kuat lagi menahan degup jantungnya. la pun berusaha menarik tanganya dari pipi Orion.
"Auugghh..sakit!" Orion mengaduh karena Ariana tanpa sengaja menyenggol memar di sisi bibir Orion.
"Maaf..aku tidak sengaja." Ariana tertunduk malu.
"Apa aku boleh minta obatnya?"
Ariana tersentak dan mendongakkan wajahnya. "Obat apa?"
"Itu..muaachh..muaachh.." Orion memonyongkan bibirnya sendiri.
Ariana pura-pura marah sekarang. "Hei..kenapa lagi sakit begini kamu masih saja sempat berpikir mesum. Huh."
"Ayolah..jangan begitu. Kamu ingin aku cepat sembuhkan?" Godanya lagi.
"Tidak mau. lni rumah sakit. Kalo ada yang lihat gimana?"
"Jadi kalo nggak ada yang lihat kamu mau?"
"Huh..bukan begitu juga." Ariana mendengus kesal. "Oh..lya Orion setelah aku pingsan apa yang terjadi. Siapa yang membawa kita ke rumah sakit." Ariana berusaha mengalihkan pembicaraan.
Wajah Orion berubah jadi tidak suka. "Kemarin Reno datang dengan membawa polisi. Sebelumnya aku sudah beritahu Reno lokasi kita di sekap lewat what shapp."
"Oh..jadi begitu. Lalu bagaimana dengan Angga ?"
"Mafia kecil itu sudah di amankan di kantor polis terdekat bersama dengan dua orang suruhanya. Hah..anak kecil itu menyedihkan sekali. Kecil-kecil sudah jadi berandalan."
"Tapi dia begitu karena ada alasannya. Kamu ingat kan dia bilang ibunya di rawat di rumah sakit jiwa. Bagaimana kalo kita mengunjungi Ibunya?"
"Huh..Kenapa sih kamu harus peduli dengan orang lain. Padahal diakan hampir mencelakaimu." Dengus Orion kesal.
"Bukan begitu Orion, tidak baik membalas keburukan dengam keburukan. Tapi kita harus bisa membalas keburukan dengan kebaikan. Agar mata rantai keburukan itu bisa terputus dan hanya ada kebaikan yang menyambungnya." Ariana tersenyum.
Lagi-lagi kata-kata Ariana merasuk ke dalam jiwa Orion. Aliran positif yang di transfer Ariana membuat Orion merasakan kedamaian bila ada di dekat gadis itu.
Kamu memang gadis yang baik. Tidak salah aku mulai jatuh cinta padamu.
__ADS_1
BERSAMBUNG...