
Aku tidak pernah tahu. Kalo jatuh cinta itu ternyata semenyenangkan ini. Kalo saja aku terlambat datang waktu itu. Kalo saja aku tidak berpura-pura jadi istri muda Pak Alvian. Apakah Orion ku akan tetap menjadi jodohku ? Hahaha..Aku selalu ingin tertawa setiap kali membayangkan hal yang tak terduga waktu itu. Membayangkan harus menikah dengan pria jutek,Yang angkuh dan dingin. Aku selalu bilang Orion ku berhati batu. Tapi sekarang nyatanya aku bahagia. Bersama Orion aku bisa tersenyum setiap hari. Orionku itu sekarang manis sekali. Aku selalu ingin ada di sisinya. Dia selalu berjuang untuk kebahagiaanku. Jadi aku ingin membalas cintanya dengan sama besarnya.
Ariana dan Orion tampak sedang menikmati es krim di sebuah kedai. Mereka berdua tampak asik bercanda. Membuat siapapun yang melihatnya akan merasa iri. Mereka pasangan muda yang begitu serasi. Yang prianya tampan dan yang wanitanya manis. Ariana memang tidak terlalu cantik. Tapi Dia itu manis. Senyumnya layaknya candu untuk Orion.
"Hei..jangan memandangi ku terus seperti itu. Aku kan jadi malu." Ujar Ariana seraya menghentikan aktifitasnya menyuapi es krim ke dalam mulutnya. Kini ia tampak salah tingkah di hadapan suaminya sendiri.
"Habisnya wajahmu itu lucu sih. Aku jadi ingin terus melihatnya !" Ujar Orion masih dengan menatap ke arah Ariana seraya tersenyum.
Haha..lucu katanya. Memangnya aku badut.
"Coba lihatlah. Kamu makan es krim sampai belepotan begitu kayak anak kecil." Sekarang tangannya sudah mulai memgambil tisu di meja. Kemudian beranjak dari duduknya. lalu mengelap mulut istrinya dengan tisu di tangannya."Nah..sudah!" Lanjutnya seraya duduk kembali.
Ariana masih saja terlihat kikuk saat Orion bersikap manis padanya. Rasanya jantungnya selalu berdegup kencang saat tiap kali berada di dekat suaminya. Seolah aliran cinta dari Orion mengaliri seluruh jiwanya. Menjadikannya hangat dan seolah berbunga-bunga. Ingin terus seperti itu selamanya.
Ariana tersenyum seraya meraih tangan Orion yang ada di atas meja. "Aku berharap kita akan terus seperti ini selamanya. Aku berharap cintamu tak kan pernah berubah untukku. Aku berharap hanya maut yang akan memisahkan kita." Menatap dalam ke dua bola mata Orion.
Kenapa dia bisa tiba-tiba mengucapkan kalimat seindah itu.
Orion meraih genggaman tangan Ariana dengan tangan yang satunya lagi."Aku janji akan melakukan apapun untuk memenuhi semua harapanmu itu Tuan putri." Ujarnya dengan tersenyum. Kemudian mencium lembut punggung tangan istrinya.
Ariana tergelak. "Haha..kenapa masih menyebutku dengan sebutan Tuan Putri. Baiklah kalo begitu.Ehem.." Ariana berdehem. Kemudian mengubah ekspresi wajahnya dengan sedikit serius. "Pengawal! Rasanya aku sudah mulai sedikit bosan ada disini. Bisakah kita pindah ke tempat lain. Emm..sepertinya aku ingin ke suatu tempat yang menyenangkan. Bisakah Tuan pengawal mengantarkan aku ke tempat yang ku mau?!"
Hahaha..Jadi Dia ingin main drama Tuan putri lagi.
"Tentu saja Tuan Putri. Pengawalmu ini siap mengantarkanmu ke manapun Tuan putri mau." Berdiri dari tempat duduknya dan kemudian tangannya membuat gerakan seperti pengawal sungguhan.
Ariana kembali tergelak. Merasa lucu dengan tingkah suaminya. "Haha..Sepertinya pekerjaan menjadi pengawalku mulai cocok untukmu Tuan muda."
Orion ikut tergelak. "Haha..Kalo begitu Ayo!" Mengulurkan tangan pada istrinya.
__ADS_1
Ariana menyambut uluran tangan suaminya dengan tersenyum. "Kamu akan membawaku kemana Tuan pengawal."
"Tentu saja ke tempat-tempat yang kamu mau Tuan putri." Mengerlingkan sebelah mata pada istrinya.
Lagi-lagi Ariana tergelak. "Hahaha..Apa kita akan benar-benar melanjutkan Drama tentang Tuan putri dan Pengawalnya? Hahaha..Kalo begitu antar Aku untuk menemui seorang pangeran!" Serunya ingin menggoda suaminya.
Mata Orion mendelik. "Siapa yang kamu maksud dengan pangeran? Bukankah aku yang cocok jadi pangeran." Orion berlagak memprotes.
"Hahaha..Bukan. Kamu kan pengawalku." Ariana masih ingin menggoda suaminya.
"Hahaha..benar juga ya. Kalo begitu aku adalah pangeran sekaligus pengawal. Jadi kamu tak perlu mencari pangeran lain lagi."
"Cih..mana ada begitu. Drama macam apa ini." Ariana pura-pura merajuk.
"Ada lah. Kan ceritanya aku yang buat. Jadi judul daramanya adalah Pangeran tampan itu pengawalku. Haha.."
"Haha..Kan memang benar kan aku tampan." Menoel hidung istrinya gemas.
"Ya..deh ya..Yang tampan. Hemmm..."
Mereka masih saja terus bercanda dan tertawa saat sudah mulai keluar dari kedai Es krim. Pembicaraan konyol yang sedang mereka bicarakan membuat mereka merasa geli sendiri.
Hingga saat mereka mau memasuki mobil. Tawa mereka masih terdengar cekikikan hingga membuat mereka sakit perut.
Dan di saat yang bersamaan. Seorang anak kecil dan ibunya yang juga baru keluar dari kedai es krim. Anak kecil laki-laki itu membawa bola di tangannya. Tiba-tiba bolanya menggelinding ke jalanan. Melihat itu Orion tergerak ingin menolong Anak kecil itu mengambilkan bolanya.
"Sebentar sayang. Sepertinya ada yang sedang memerlukan bantuan." Ujar Orion seraya mengehentikan gelak tawanya. Kemudian bergegas ke jalanan yang tampak sepi itu untuk mengabil bola yang menggelinding disana.
Orion berhasil mengambil bola itu. Dan saat hendak kembali ke seberang jalan. Tiba-tiba mobil dengan kecepatan tinggi melesat ke arahnya.
__ADS_1
"ORION AWAS...!" Seru Ariana dengan panik. Tapi syukur Orion mampu menghindar.
Tapi tiba-tiba saja muncul lagi mobil dari arah yang berlawanan yang juga hampir menyerempet tubuh Orion. Tapi lagi-lagi Orion berhasil memghindar.
Ariana yang tadi harap-harap cemas. Merasa sedikit lega. Ia tersenyum. Padahal sedetik sebelumnya ia punya firasat ada hal buruk akan menimpa Orion.
Dengan langkah santai Orion berusaha menuju tepi jalan. Tapi lagi-lagi. Sekarang sebuah motor melaju dengan kecepatan tinggi menyerempet tubuh Orion dengan kencang.
Tubuh Orion terpental ke belakang. Hingga membuat kepala belakangnya terbentur trotoar.
"ORION...!" Jerit Ariana seraya berlari ke seberang jalan.
Air mata Ariana tak bisa di bendung lagi. Firasat buruknya seolah menjadi kenyataan. Kini ia menangis seraya memangku kepala Orion yang sudah mulai berlumuran darah."Orion bagun! Jangan tinggalkan aku sendirian di dunia ini. Bukankah tadi kamu sudah berjanji akan berusaha memenuhi semua harapanku. Orion..! bangun.. !" Tangis Ariana makin pecah. Di periksanya denyut jantung Orion. Masih berdetak. Semoga masih ada harapan pikirnya.
Orang-orangpun sudah mulai mengerumuni mereka berdua.
"Sebaiknya kita segera bawa ke rumah sakit terdekat." Seru seseorang memberi ide.
"Ya..benar. Tolong bantu ya bawa ke mobil. Siapapun yang bisa menyetir. Tolong antar kami ke rumah sakit terdekat." Ujar Ariana seraya mengusap sisa-sisa airmatanya. Di saat seperti ini ia tak boleh kehilangan akal.
*******
Di rumah sakit. Orion sudah tampak memasuki ruang isntalasi gawat darurat untuk mendapatkan pertolongan pertama.
Seluruh tubuh Ariana seolah gemetar. Kakinya terasa lemas dan lunglai. Bercak darah Orion menempel banyak di bajunya. Akhirnya Ia terduduk di ruang tunggu dengan air mata yang mulai mengalir lagi.
Kamu harus bisa bertahan. Kamu harus memenuhi janjimu padaku. Ku mohon Tuhan. Selamatkan Orionku. Jangan pisahkan kami sekarang. Beri lah sedikit waktu lagi untuk kisah kami.
BERSAMBUNG....
__ADS_1