Mendadak Jadi Istri Muda

Mendadak Jadi Istri Muda
Rencana untuk Ariana


__ADS_3

Tut...Tut...Tut...


Sean mematikan sambungan telponnya, ia berpikir akan menelpon lagi nanti setelah menyelesaikan urusannya. Saat ini ia sedang berada di sebuah kampus ternama di kota J bersama dengan sepupunya, Angel. Kedatangan mereka ke kampus adalah untuk mendaftar kuliah di kampus tersebut.


"Habis ini kita jalan-jalan yuk?" Ajak Angel pada Sean, saat ini mereka tengah berjalan di sebuah koridor kampus menuju ruang administrasi.


"Hem...boleh!" Jawab Sean datar.


"Aku akan ajak kamu keliling kota J, Yeiii...pasti seru, sudah lama juga aku nggak jalan-jalan karena nggak di bolehin sama mama dan papa. Sekarang mumpung ada kamu yang jagain aku, pasti di izinin sama mereka!" Ujar Angel tampak antusias.


Sean hanya menanggapi dengan tersenyum tipis.


Angel pun menghentikan langkahnya sejenak. Kemudian menatap menyelidik ke arah sepupunya, Sean.


"Kenapa tiba-tiba menatapku seperti itu?" Heran Sean yang turut menghentikan langkahnya.


"Kamu itu yang kenapa! Dari tadi di ajak ngobrol tapi seperti nggak semangat gitu, lagi mikirin apa sih?" Angel memanyunkan bibirnya seraya protes.


Sean hanya tertawa kecil. "Kamu itu peka banget sih, iya aku memang lagi mikirin sesuatu, tapi Yasudahlah nggak penting juga!" Ujar Sean sambil kembali melangkahkan kakinya. Angel pun juga kembali melangkah mengikuti Sean.


BRUG...!!!


Seseorang menabrak Sean dari arah yang berlawanan.


Seketika banyak kertas berhamburan ke lantai.


"Maaf." Ujar Sean sambil buru-buru membantu merapikan kertas yang berserakan di lantai.


Gadis yang menabraknya tadi masih terdiam. Ia melirik sekilas pada Sean sambil tangannya sibuk merapikan kertas yang sudah terkumpul kembali di tangannya. Lalu ia pun bangkit berdiri.


"Tidak perlu meminta maaf, aku yang salah, aku yang jalan terburu-buru hingga menabrak mu tadi!" Ujar gadis itu datar.


"Ini!" Sean menyerahkan kertas milik gadis tersebut yang masih ada di tangannya. "Lain kali hati-hati ya!" Ujar Sean lagi seraya tersenyum.


"Iya...terimaksih!"


"Abel!!"


Terdengar seorang gadis lain meneriakkan nama gadis yang bertabrakan dengan Sean tadi. Ia berteriak dari jauh dari balik punggung Sean.


Pandangan Abel pun teralih pada gadis yang tengah memanggilnya tadi. Tangannya melambai seraya tersenyum. "Maaf ya, aku permisi dulu, temanku sudah menunggu!" Seru Abel, kemudian berlari-lari kecil ke arah temannya.

__ADS_1


Sesaat gadis itu menoleh ke arah Sean untuk sekali lagi, sebelum akhirnya menghilang di tikungan pertama.


"Cie...yang baru masuk kampus, tapi sudah ketemu cewek!" Goda Angel seraya menyikut lengan Sean.


"Apaan sih, cuma kebetulan aja!" Elak Sean seraya tersenyum.


Abel!


Sean menggumamkan nama si gadis yang baru saja di temui nya seraya tersenyum.


"Cie...senyum-senyum!" Goda Angel lagi. Dan itu membuat sepupunya makin salah tingkah.


"Sudah ah, ayo lanjut ke ruang administrasi!" Sean berusaha mengalihkan perhatian sepupunya agar berhenti untuk menggodanya.


*******


"Halo! Halo...! Siapa ini?" Ariana mengulang pertanyannya setelah dari tadi tak mendapati jawaban dari si penelpon.


Tak lama kemudian terdengar sambungan telpone yang terputus.


"Siapa sayang?" Tanya Orion sedikit penasaran.


Ariana menggedikkan bahunya. "Entahlah, sambungan telponnya tiba-tiba terputus!" Ujar Ariana sambil mengalihkan ponselnya dari telinganya.


"Ya...mungkin!"


Ariana pun tersenyum. "Lebih baik aku sekarang ke bawah, ambilin makanan buat kamu!" Ujar Ariana lagi seraya beranjak dari duduknya.


"Yasudah, tapi jangan lama-lama!" Seru Orion sambil mengulum senyum penuh arti.


Ariana mengerutkan dahinya merasa bingung, "kenapa?" Ujarnya dengan wajah polos.


"Kalo lama-lama nanti aku rindu!" Jawab Orion seraya tertawa kecil. Ia senang sekali melihat wajah istrinya yang tampak polos. Padahal ia hanya ingin menggodanya saja.


"Huh...Dasar!" Sungut Ariana sambil turut tertawa.


"Baiklah aku nggak akan lama-lama, palingan setahun kemudian baru balik!" Goda Ariana balik.


"Coba aja kalo bisa, palingan keburu kamu yang kangen duluan sama aku!" Orion tak mau kalah.


"Pasti kamu yang kelimpungan tanpa aku!" Balas Ariana yang juga tak mau kalah.

__ADS_1


"Nggak, kalo aku nggak ada pasti kamu yang kangen duluan!"


"Nggak lah, pasti kamu yang kangen duluan."


"Kamu!"


"Kamu!"


Mereka sama-sama tak mau mengalah dan akhirnya tertawa. Saat mereka berdebat seperti ini, itu mengingatkan mereka pada saat awal-awal bertemu. Berawal saling berdebat dan berakhir dengan jatuh cinta.


"Sudahlah, berdebat dengan kamu nggak akan pernah menang!" Sungut Ariana pura-pura marah.


"Nah pinter, itu kamu tahu, jadi kamu mengalah saja!" Sergah Orion seraya tersenyum puas.


"Ya baiklah tuan muda, aku mengaku kalah, tapi aku tetap jadi pemenang di hati kamu kan?" Ariana pun tersenyum dan segera berlalu setelah mengucapkan kalimat terakhirnya.


"Woh...!" Orion tampak sepichless, darimana istrinya bisa menemukan kalimat sebagus itu. Batin Orion seraya tersenyum sendiri.


********


Sebuah mobil silver sudah tampak terparkir rapi di halaman sebuah rumah besar namun tak terlalu mewah. Dari dalam mobil tersebut keluarlah beberapa orang pria yang menggunakan setelan hitam-hitam. Tepatnya ada empat orang pria. Dan penampilan mereka layaknya mafia yang ada di film-film action.


Dengan langkah tenang mereka pun mulai memasuki rumah besar tersebut. Di depan pintu sudah ada penjaga yang juga mengenakan pakaian yang sama. Penjaga itu hanya diam dan membiarkan mereka masuk.


Sesampainya di dalam. Mereka sudah di sambut oleh seorang wanita yang tak lagi muda tapi masih memiliki paras yang cantik. Wanita itu duduk di sebuah sofa ruang tamu dengan gayanya yang elegan. Di sisi kanan dan kirinya nampak berdiri dua orang pria yang berpawakan seperti body guard.


"Bagaimana?" Wanita itu bertanya menggunakan kalimat yang ambigu.


"Seperti yang saya bilang tadi di telpon Bos, Orion sudah kembali dari rumah sakit, ia pulang ke rumah Pak Alvian ayahnya di temani oleh istrinya. Dan mereka di kawal oleh beberapa body guard!" Jelas seorang pria yang merupakan tangan kanan wanita tersebut.


"Ck" Wanita itu berdecak mengejek. "Bukan yang itu! Kalo itu aku juga sudah tahu bodoh! Maksud ku bagaimana perkembangan berita orang suruhan kita yang ada di penjara? Bukankah tadi aku sudah menyuruhmu juga untuk datang menjenguknya. Dan haruskah aku menjelaskan lagi dengan detail padamu hah!" Ujar sang wanita dengan nada marah.


Pria yang merupakan tangan kanannya tersebut, mendadak wajahnya berubah pias. Dan tiga pria yang beridiri di belakangnya seolah sedang menahan tawa mereka. Pria itu pun menoleh ke arah anak buahnya. "Diam kalian!" Sentaknya dengan nada lirih. Kemudian pandangannya kembali pada wanita yang ada di hadapannya.


"Oh...masalah itu sudah beres bos. Kami tadi datang menjenguknya. Dan mengancamnya, jika dia berani buka suara tentang siapa dalang penusukan Orion. Maka kami tidak akan segan-segan untuk menghabisi keluarganya!" Ujar sang pria dengan tersenyum licik.


"Hemm...bagus! Lalu bagaimana rencana mu untuk gadis itu?"


"Siapa bos?" Ujar pria di depannya kebingungan.


"Siapa lagi kalo bukan Ariana, istrinya Orion. Aku ingin lewat dia, Orion jadi menderita dan mati perlahan-lahan. Haha!" Wanita itu tergelak. "Dengan begitu, putra kandungku Aska, akan dengan mudah menjadi pewaris tunggal keluarga Adriano!" lanjutnya dengan penuh ambisi.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2