Mendadak Jadi Istri Muda

Mendadak Jadi Istri Muda
Kejutan ulang tahun untuk Orion (Part 2)


__ADS_3

Orion segera menghampiri Ariana dan Aska dengan tatapan marah. Yang di tatapnya merasa kaget sekaligus bingung. Tanpa bicara sepatah katapun, Orion segera mencengkram kerah baju adik laki-lakinya itu. Hampir saja tinjunya mendarat di pipi Aska kalo saja Ariana tidak segera menghentikan tangan Orion.


"Aaarrgghh...!! Menyebalkan." Akhirnya mendorong tubuh Aska ke belakang hingga tubuh anak laki-laki yang hampir setinggi dirinya itu limbung di dekat sofa.


Orion kemudian segera mencekal tangan Ariana dengan perasaan kalap. Menarik tangan gadis itu agar mau mengikutinya ke dalam kamarnya.


"Orion..Lepaskan ! Kamu menyakitiku." Berontak Ariana. Tapi apalah daya. Tentu saja tenaganya kalah jauh dari Orion.


Sedangkan Aska berusaha bangkit berdiri di bantu oleh Haikal. Kini ia sudah tampak berdiri di hadapan Orion. Berusaha menghalangi langkah kakaknya itu.


"Hentikan Kak Orion. Jangan begini. Aku bisa jelaskan semua kesalah pahaman ini !"


"Minggir !! Jangan ikut campur !" Seru Orion seraya menabrak pundak Aska keras.


Kemudian masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya.


Ariana belum pernah melihat Orion semarah ini. Benar-benar menakutkan. Tatapanya bahkan seolah ingin mengiris.


Orion segera melempar tubuh mungil istrinya itu ke ranjang. Ariana yang masih merasa ketakutan berusaha menggeser tubuhnya ke belakang. Tangannya mencengkram seprai dengan kuat. Tubuh Orion makin mendekat dan mendesaknya.


"Kenapa ? Berani-beraninya kamu mengurai rambutmu di depan laki-laki lain. Katakan ! Apa kamu ingin menggodanya ?" Kini bahkan tubuhnya sudah mulai menindih tubuh istrinya. Amarahnya membangkitkan gairahnya. Ia terus menyusuri leher Ariana. Dan tangannya sudah gentayangan di bagian tubuh Ariana.


'Apa maksudnya dengan laki-laki lain. Bukankah Aska itu adiknya. Masa' Dia cemburu sampai segitunya. Apa dia sudah gila.'


"Tapi bukankah Aska itu Adikmu ? Aku juga tidak bermaksud untuk menggodanya. Sungguh." Ariana meringis. Merasa kawatir. Apalagi tangan Orion sudah mulai menyelinap di balik bajunya.


"Benarkah ? Lalu yang ku lihat itu tadi apa ?" Orion masih belum menghentikan aktifitasnya yang tadi. Kini bahkan bibirnya memagut bibir Ariana lembut.


'Walaupun sedang marah. Ternyata dia masih bisa bersikap lembut.'


"Buka !"


'Apa maksudnya ?'


"Buka mulutmu !"


"Augghh...!" Jerit Ariana kesakitan. Rupanya tadi Orion menggigit bibir bawahnya agar mulut istrinya itu mau terbuka.


Sekarang bibirnya kembali menyusuri leher dan bahu Ariana.


"Tiba-tiba aku ingin melakukan itu sekarang." Orion sudah mulai membuka baju Ariana.


'Ah..Apa ? Kenapa kalo marah Dia jadi begini.'

__ADS_1


"Tapi Orion. Aku tidak bisa." Ariana medorong tubuh Orion perlahan. Membuat wajah suaminya itu tampak cemberut.


"Kenapa ? Padahal aku sedang ingin." Mencoba memeluk istrinya lagi.


" Bukan begitu. Tapi aku kan sedang halangan. Aku sedang datang bulan." Mengangkat wajah suamminya yang sempat di benamkan di bahunya tadi.


"Ahh..menyebalkan sekali. Kenapa harus datang bulan saat aku ingin melakukannya." Dengus Orion kesal.


'Mana aku tahu. Memangnya datang bulan ini aku yang mengatur.'


"Lebih baik kita segera keluar saja. Tidak enak dengan Aska dan Haikal yang sedang menunggu di luar. Tadi itu kami sedang menyiapkan kejutan untuk merayakan ulang tahunmu."


"Memangnya hari ini hari ulang tahunku. Bahkan Aku sendiri lupa hari ini hari apa !"


'Hah..dasar.'


"Yasudah Ayo kita keluar !" Ujar Ariana seraya mendorong tubuh Orion agar segera beranjak berdiri dan bergegas keluar. "Keluarlah lebih dulu. Aku akan menyusul nanti. Aku akan merapikan pakaian ku dulu."


"Apa kamu perlu bantuanku untuk merapikan pakaianmu ?" Berusaha menggoda Ariana. Sepertinya amarah sudah mulai mereda.


"Jangan mesum. Aku bisa merapikannya sendiri." Ariana pura-pura marah.


Orion tergelak. Merasa lucu dengan wajah Istrinya yang masih saja tampak malu-malu seperti biasanya.


'Ya ampun..kenapa sikapnya jadi berlebihan begini sih. Lalu dia sendir tadi itu apa. Diam-diam menemui Rachel. Tapi Dia malah tak mau menjelaskan apapun juga padaku.'


******


Orion Keluar kamar lebih dulu. Kemudian di susul dengan Ariana yang sudah tampak mengenakan hijab. Kemudian Orion mengapit erat tangan Ariana. Seolah sedang menunjukkan kemesaraan mereka berdua. Matanya melirik tajam pada Aska. Sorot matanya seolah sedang mengatakan. Jangan ganggu gadisku. Meskipun itu kamu. Tetap saja aku akan merasa cemburu. Apa lagi dulu kamu juga pernah bilang kamu menyukainya.


Akhirnya Aska bisa menghela nafas lega saat melihat Orion dan Ariana terlihat baik-baik saja. Bahkan sekarang tampak terlihat mesra.


"Kak Orion. Maafkan soal yang tadi ya !" Ujar Aska seraya tersenyum kalem.


Orion memasang wajah tak peduli. Walaupun sebenarnya tadi Dia benar-benar terbakar api cemburu."Ya..sudahlah. Aku maafkan. Tapi aku hanya ingin peringatkan sekali lagi padamu. Jaga lah jarak dengan Ariana. Kalo tidak. Nanti hatiku bisa terluka." Tersenyum memandang Ariana seraya mengerlingkan mata genitnya.


'Ya ampun. Apa-apaan sih Dia. Berlebihan sekali.' Ariana mengeriyitkan dahinya.


"Kak Orion. Cepetan dong tiup llilinnya. Cacing-cacing di perutku sudah mulai lapar nih sepertinya.hehe." Celetuk Haikal. Berusaha memecah kecanggungan yang sesaat tadi terjadi.


Semua jadi menoleh ke arahnya seraya tertawa.


"Baiklah..mana kue ku ?" Orion menghampiri meja makan yang sudah ada kue tard disana.

__ADS_1


Segera Ariana menyalakan korek untuk membakar lilin ulang tahun.


"Nah sudah siap ! Jangan lupa berdo'a dulu, baru setelah itu tiup lilinnya." Aska memeberi aba-aba.


"Jangan mengajariku cerewet. Aku bukan anak kecil lagi." Dengus Orion kesal. Mungkin Ia masih kesal dengan kejadian tadi.


Cih..Aska berdecak seraya menggelengkan kepalanya. Merasa heran dengan tingkah Kakaknya yang masih saja tampak kekanak-kanakkan.


Orion terlihat sedang memejamkan mata seraya menengadahkan tangannya berdo'a. Setelah itu lagu tiup lilin segera menggema ke seluruh ruangan.


Selesai meniup lilin, Segera memotong kuenya. Dan potongan pertama tentu saja di berikan pada Ariana. Baru setelah itu potongan berikutnya di berikan pada adik-adiknya.


"Ini untukmu Kak Orion !" Haikal berusaha menjahili Orion dengan mengoles cream kue tard ke wajah Orion.


"Aku juga. Ini untukmu !" Aska turut melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan Haikal. Terakhir Ariana juga melakukan hal yang sama.


"Ah..Kalian. Sengaja ingin megerjaiku ya. hahaha." Bersiap mebalas pada Haikal, Aska dan Ariana.


"Lakukan kalo kamu memang hebat Kak." Ejek Haikal.


"Jadi kalian ingin menantangku rupanya.Haha."


Suasana kembali menjadi ceria. Meskipun Orion pemarah. Tapi sebenarnya ia pemaaf juga.


******


Keesokan paginya di sekolah. Ariana berpapasan dengan Rachel di koridor sekolah. Ariana berusaha mempercepat jalannya. Ia sengaja ingin menghindar.


"Ariana ! Tunggu !" Rachel yang melihatnya segera menghentikannya.


Ariana masih terdiam. Belum ingin membalikkan badannya untuk melihat ke arah Rachel.


Rachel tampak menunggu. "Aku tahu kamu pasti marah padaku. Iya kan ?" Ujar Rachel akhirnya.


Ariana Menghela nafas panjang, kemudian menghembuskannya dengan cepat. "Tidak. Aku tidak marah." Menggigit bibir bawahnya sendiri. Merasa ragu dengan apa yang di ucapkannya barusan. Benarkah ia memaafkan Rachel semudah itu.


"Aku tidak ingin memaksamu untuk memaafkanku atau apalah itu. Aku hanya ingin memberi tahukan satu hal padamu. Aku dan Kak Orion tak ada hubungan apa-apa. Bahkan kemarin dia menolakku dengan tegas. Karena cuma dirimu yang ada di kepalanya dan hatinya. Tak tersisa sedikitpun untuk orang lain"


DEG..! Dada Ariana bergetar.


'Benarkah Orion mengucapkan itu semua ?'


Tiba-tiba seulas senyum mengembang di bibir manis Ariana.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2