
Warning
Dilarang mengedarkan mengedarkan novel ini tanpa ijin penulis dalam bentuk apa pun maupun audio , budidayakan menghargai karya orang lain ,
Terimakasih
Jam sudah menunjukkan jam 7.30 , Dicky sedang berbincang dengan mertuanya di ruang keluarga , sedangkan Vivi sibuk membantu ibunya , tepatnya sibuk mencicipi masakan yang ada di meja , Ira hanya diam melihat tingkah putrinya itu , “ ibu mau bicara” ucap Ira yang tentunya membuat Vivi menghentikan tangannya yang mau mengambil kentang goreng .
Vivi menatap wajah ibunya yang terlihat sedih “ ada apa ma? Jangan bilang mama sama papa bertengkar” asumsi Vivi , berlahan dia berjalan ke ibunya yang dari tadi memperhatikannya di tempat duduk meja makan.
Ira tersenyum simpuendengar ucapan putrinya itu “ Andik akan melanjutkan sekola di Eropa” ucap ira menatap wajah putrinya yang kini sedang melongo mendengar ucapannya itu , “ papa dan mama juga ikut kesana” imbuhnya
Vivi bernafas lega mendengar kalimat akhir ibunya itu “ aku pikir dia pergi sendiri” ucap vivi , ia selama dia di Korsel dia sering merindukan ibu dan ayah sekaligus adiknya , walau mereka sering mengunjunginya , dia merasa lega saat tau adiknya akan melanjutkan sekolah di Eropa dan di temani oleh kedua orang tuannya , jika belum menikah mungkin dia akan merasa iri pada adiknya , karena harus di tinggal sendiri “ ini pasti rencana papa”.
“ Benar pria tua itu yang membuat keputusan , kau tahu kan dia itu sangat keras kepala” ucap Ira jengkel , mengingat perdebatannya dengan suaminya yang berakhir kekalahan untuknya . Kini dia merasa tenang karena putrinya bisa menerima dengan mudah , ' dia sudah lebih dewasa ' gumamnya dalam hati , “ kau harus jaga cucu nenek dengan baik” ucap Ira yang kini sedang mengelus perut rata putrinya
“ Tentu saja , tanpa diminta aku akan jaga dua puluh empat jam non stop” ucap vivi sambil terkekeh ,
Mereka melanjutkan pembicaraan mengenai Vivi harus lebih dewasa saat menghadapi sesuatu , agar menjadi istri yang baik dan ibu yang baik dan menjaga kesehatan tubuhnya , dan masih banyak wejangan lainnya yang di ucapkan oleh Ira
Sedangkan di ruang keluarga Yusman juga berpamitan pada menantunya dia meminta menantunya untuk menjaga putrinya dengan baik , tidak boleh ada yang kurang sedikit pun , saat mereka asik dalam pembicaraan bel rumah berbunyi , reflek Yusman berjalan untuk membuka pintu
“ Selamat malam om” sapa Alex saat Yusman membuka pintu rumah , Alex membawa buah segar di tangannya .
“ Ayo cepat masuk semua sudah menunggu” ucap Yusman mempersilahkan Alex untuk segera masuk “ kau sendiri?” ucap Yusman setelah Alex berada dalam rumah , dan Yusman menutup pintu rumahnya.
“ iya om , mana tante?” ucap Alex saaat tak melihat seorang pun yang ada di ruang tamu.
“ Ada di dalam , ayo” ajak Yusman berjalan ke ruang keluarga , yang langsung di ekori oleh Alex ,
“ kau?” seru Dicky Tak percaya ,
“ kau lagi” imbuh Vivi yang baru saja dari ruang makan.
“ Alex sudah datang , jangan hiraukan mereka berdua” ucap Ira langsung berjalan kearah Alex
“ ini untuk Tante” ucap Alex sambil memberikan parselnya pada ira.
“ Kenapa kau repot repot segala , tapi terima kasih , ayo duduk” ucap Ira ramah , dia berjalan melewati Vivi , Vivi menggaruk kepala melihat keakraban orang tuanya dan Alex , sekaligus bertanya tanya siapa sebernya pria play boy itu “ papi kok bisa kenal sama cowok play boy ini” ucap Vivi yang memilih duduk di samping suaminya , sedangkan Dicky menahan tawa saat mendengar ucapan istrinya itu ,
Ucapan vivi membuat Yusman tersedak mendengar kalimat yang di ucapkan putrinya , Alex sedikit tersenyum mendengar julukan yang diberikan oleh Vivi ' play boy' gumamnya dalam hati ,
“ kurasa kau harus di masukkan ke pesantren , untuk memperbaiki cara bicaramu” ucap Yusman , Vivi membuka mulutnya saat mendengar kalimat yang di ucapkan ayahnya itu.
“ jangan bercanda mana ada ibuk ibuk hamil dikirim ke pesantren” seru Vivi sambil bergelayut ke suaminya , sengaja mencari perlindungan.
“ apa sih kalian mulai ribut , apa sekalian dua duanya boyong ke pesantren” ucap Ira menengahi anak dan bapak itu .
“ Kok berdua” seru Vivi dan Yusman bersamaan ,
“ biar sama sama introspeksi diri” ucap Ira , yang kini sedang menata kue kering di atas meja “ kalian membuat Alex tidak nyaman dengan kelakuan kalian yang kekanakan , cepat makan jangan hiraukan mereka” ucap Ira sekaligus menyuruh menantunya.
Dicky mengambil beberapa kue untuk dirinya dan istrinya yang manja itu.
“ Gak apa apa kok te , Udah lama gak lihat hal yang berharga seperti ini” ucap Alex sambil mengigit kue kering yang di buat oleh Ira , “ kue bikinan Tante masih enak seperti dulu” puji alex
“ oh iya kalian berdua dulu satu sekolahan ya?”
Saat Dicky dan Alex menjawab pertanyaan Ira , Vivi sudah menyela terlebih dulu “ mana ada” seru Vivi yang tengah asik mengunyah kue bikinan ibunya itu
__ADS_1
“ aku tidak berbicara dengan mu ok” ucap Ira pada putrinya , ingin rasanya dia menjitak jidat putrinya itu
Hah” seru Vivi wajahnya memerah karena malu “ maksud mama mereka berdua” ucap Vivi sambil menunjuk Alex dan Dicky bergantian , yang dipanggil i oleh ibunya itu “ kok mama bisa tahu” ucap Vivi heran ' apa mama sempat jadi peramal sebelumnya' gumam Vivi dalam hari kemudian menepis jauh jauh pemikirannya itu .
“ dulu Alex tinggal sama kita , rumahnya bersebelahan dengan rumah kita” ucap Ira , Alex dan Dicky mulai paham arah pembicaraan Ira saat ini.
Vivi mencerna ucapan ibunya , sekilas dia terbayang dengan kejadian penculikan yang akhir-akhir ini iya alami dalam mimpi.
Vivi menatap Alex seksama seolah mencari kesamaan antara bocah kecil yang ada di dalam mimpi nya dan pria yang kini sedang menikmati kue kering buatan ibunya itu .
“ kau mau?” tawar Alex sambil mendorong piring berisi kue kering ke hadapan vivi , saat menyadari Vivi mengamati nya.
“ aku tahu kau tidak akan percaya begitu mudah” ucap Yusman yang kini sedang memegang album dengan bingkai usang di tangannya “ coba kau lihat ini” imbuh Yusman sambil memberikan album yang ada di tangannya pada putrinya itu .
Setelah menerima album dari ayahnya vivi membuka sampul album itu , dia melihat foto anak perempuan kecil berusia sekitar 4 tahun yang terlihat mengemaskan , dengan rambut di kuncir seperti pohon kelapa , yang sudah pasti Vivi mengenali siapa bocah kecil itu , yang tak lain adalah dirinya sendiri , dia membuka halaman berikutnya Vivi sibuk memandangi isi album ,
Yusman memang sengaja tidak menceritakan kilas cerita kehidupan putrinya saat kecil , dia lebih memilih untuk menunjukkan foto foto itu , karena dengan begitu putrinya akan dengan mudah menerima keadaan saat ini , dari pada mendengar dari dirinya.
“ aku tak menyangka bocah kecil ini berubah menjadi play boy , sebenarnya ini yang menjadi pertanyaan besar dalam pikiran ku , apa ayah tidak salah mengenali orang” ucap Vivi setelah selesai melihat foto foto dirinya dan Alex, semua orang yang ada di sana terkekeh mendengar ucapan vivi , dia memang melihat kesamaan antara Alex dan bocah kecil itu. “ sebenarnya sudah cukup lama saya mengingat kejadian penculikan itu” ucap Vivi sendu dia tak menyangka pria yang diberi predikat buruk oleh dirinya itu alah pria yang telah menjaganya.
Yusman dan istrinya bersyukur saat mendengar ucapan putrinya itu , yang sebentar lagi akan menyandang status sebagai seorang ibu itu “ kamu baik-baik saja kan?” maksudnya senang setelah mengingat kejadian itu “ apa perlu pergi ke dokter untuk mengecek kondisi mu” imbuhnya khawatir.
“Tidak perlu aku baik-baik saja” jawab vivi antusias saat melihat raut wajah ayamnya yang berubah khawatir.
Di tengah-tengah perbincangan mereka andi baru saja keluar dari kamarnya “ma aku lapar” ucapnya seketika membuat semua orang mengolah ke arahnya.
“Oh ya hampir lupa ayo kita ke ruang makan makanannya sudah dingin”ucap Ira , seni wanita itu segera melangkahkan kaki ke ruang makan untuk menghangatkan masakan.
Andik dan Alex terlihat akrab seperti bukan pertama kalinya mereka bertemu “ kalian sudah pernah bertemu sebelumnya” ucap Vivi penasaran.
Sontak saja Alex langsung melihat ke arah sumber suara “ iya , ini sudah kali kedua aku ke sini” ucap Alex diiringi senyum di bibir nya .
“ Kalian gak menginap saja di sini” ucap Ira Vivi , dan Alex , berpamit pulang sedangkan jam sudah menunjukkan jam 11 malam , karena keasyikan bercerita mereka lupa waktu ,
Alex hanya tersenyum mendengar tawaran Ira , sambil menyalami tangan Ira kemudian di beralih ke Yusman ,
“ Aku gak bawa baju ganti” ucap Vivi saat menyalami ibunya “ besok aku akan menginap disini” imbuhnya.
“ baju kamu ada banyak di kamar” sahut Ira kemudian tersenyum sambil mengecup pipi kanan dan kiri putrinya itu.
“ maksud aku baju suami aku” sanggah Vivi yang tak mau kalah dengan ibunya.
Ira hanya tersenyum mendengar ucapan putrinya “ hati hati aku tidak mengantar sampai depan”
Tin-tin
“ Dasar gak sabaran” ucap Vivi melangkah lebar keluar dari rumah orang tuanya .
**
Beberapa pelayan menyapa mereka setelah masuk ke dalam rumah itu , sedangkan Dicky berjalan mendahului istri nya dengan wajah dongkol , dia terus berjalan masuk ke dalam kamarnya tanpa mendengarkan panggilan istrinya , sedangkan pelayan yang ada di sana bingung dengan sikap Dicky , mereka memilih segera meninggalkan ruangan itu , agar tak mengganggu kedua pasangan itu
“ Kamu marah , gara-gara aku cium Alex” seru Vivi dengan wajah tanpa dosa mengingatkan suaminya kejadian saat mereka berada di depan rumah orang tua Vivi.
Flashback
Alex” panggil vivi sembari berjalan ke arah pria yang mau menaiki mobilnya ,
Mendengar Vivi memanggilnya Alex sontak memutar tubuhnya ke sumber suara itu , sesaat Alex tercengang saat menerima pelukan dari Vivi , hal itu sama dengan yang di rasakan oleh Dicky yang melihat kejadian itu dari dalam mobilnya bisa bisanya istrinya itu memeluk pria lain di hadapannya.
__ADS_1
“ terima kasih telah menjagaku” ucap Vivi sambil melepas pelukannya , dengan gerakan kilat Vivi mengecup pipi Alex kemudian berbalik badan berjalan ke tempat mobil suaminya ,
Alex sadar kecupan Vivi hanya mewakili hubungan kakak dan adik tak lebih dari itu dan rasa terima kasih, seulas senyum terukir di bibir nya , Alex menyidik ngeri saat melihat tatapan Dicky dari kaca mobil yang ingin membunuhnya, dengan langkah kilat dia segera masuk ke dalam mobil kemudian melanjutkan mobilnya.
“ ayo” ucap Vivi setelah memasang sabuk pengaman , dia menatap wajah suaminya yang menatap mobil Alex dengan tatapan ingin membunuhnya pria itu , “ Aku hanya bermaksud berterima kasih pada Alex” ucap vivi menjelaskan kesalahannya .
“ Tetap saja aku tak suka wanitaku memeluk apalagi mencium pria lain” ujar Dicky sambil melajukan mobilnya, sedangkan wajahnya masam .
“ Aku hanya mengecup tak menciumnya” ucap Vivi dengan nada manja sambil memeluk lengan suaminya , sedangkan Dicky fokus pada jalan yang ada didepannya. Flashback off
Tanpa diduga berputar arah langsung menarup dagu wanita yang membuatnya cemburu tak berarti , karena dia tau maksud istrinya hanya saja dia benar benar tak rela bibir istrinya itu menyentuh orang lain selain dirinya , Dicky ******* bibir itu dengan lembut , membuat Vivi menikmati perbuatannya “ aku tak ingin ada yang ke dua kali mengerti” perintah Dicky , yang dipanggil i oleh istrinya , jika tadi Vivi belum siap dengan tindakan suaminya kini dia menggalakkan kedua tangannya pada leher suaminya , keduanya saling menatap penuh hasrat ingin memiliki yang tak di tutup-tutupi , mereka kembali berciuman cukup lama , sebelum kedua insan yang sedang mabuk cinta itu berpindah ke dalam kamar.
Season 1 berakhir , tunggu season 2 nya akan segera hadir dengan pemain yang sama hanya saja lebih sedikit menegangkan ,
Warning
Dilarang mengedarkan mengedarkan novel ini tanpa ijin penulis dalam bentuk apa pun maupun audio , budidayakan menghargai karya orang lain ,
Terimakasih
__ADS_1