
Akhir pekan.
Di sebuah restoran mewah , Vivi sedang menunggu suaminya, sudah hampir 1 jam suaminya masih belum kelihatan batang hidungnya, membuat Vivi merasa dongkol.
“ Aku tak menyangka akan bertemu dengan mu di sini” sapa seorang pria berambut pirang dengan mata sipit, yang berjalan ke arahnya langkah kaki pria itu sedikit pincang.
“ ada apa dengan kaki mu, seperti kau dalam keadaan yang tidak sehat” sahut Vivi , saat melihat Samuel berada 2 meter dari tempatnya duduk.
“ Ada kecelakaan kecil” sahutnya santai “ kenapa kau sendirian, bagaimana kalau aku menemanimu ”imbuhnya kemudian duduk, berhadapan dengan Vivi, meski wanita itu belum mengiyakan tawaran nya.
“ ok” sahutnya “ aku pikir kau sudah kembali” ucap Vivi, sambil menatap wajah Samuel.
“ ada hal yang harus aku selesaikan terlebih dulu, sebelum aku kembali” ucap Samuel
Vivi mengangguk seolah-olah dia paham dengan maksud pria yang duduk di hadapannya itu “ Kau mau pesan apa, biar aku panggilkan pelayan” tanyanya tak ingin membuat orang menemaninya tanpa makan atau minum apa pun.
“ Tidak perlu” sahut Samuel “ apa kau ada waktu luang besok” ucapnya ,
“besok” ucap vivi mengulang kalimat Samuel, sambil berpikir sejenak “ ku rasa tidak ada” ucapnya
“ bagaimana kalau kita keluar bersama sebagai ganti aku menemanimu sekarang” pintanya dengan wajah memelas
Vivi menautkan alisnya apa apa ini, dia bahkan tak meminta pria berambut pirang itu untuk menemaninya, kenapa kesannya dia harus balas Budi,
Melihat reaksi Vivi dia segera berucap“ aku ingin membelikan barang untuk kenalanku, tapi aku tak tahu harus membeli kan dia apa”
Vivi menarik nafas panjang” baiklah aku akan menemanimu, Tapi hanya sebentar, kau Taukan” ucapnya
“ iya aku tau, ini untuk yang terakhir kalinya” ucap Samuel sambil tersenyum ramah , seulas senyum licik tersungging di bibirnya tanpa sepengetahuan wanita hamil yang ada di hadapannya itu.
__ADS_1
Di saat bersamaan
Dicky berjalan mondar mandir menunggu hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Ryan dan timnya, di sebuah ruangan yang dipenuhi teknologi tinggi.
“ apa masih lama” ucapnya tak sabar, pasalnya sudah hampir satu jam lebih dia menunggu hasil pemeriksaan, jangan kan hasil cart yang di berikan oleh Bryan sampai saat ini belum bisa di buka.
“ coba kau ingat-ingat hal yang selalu dia inginkan” Tanya Ryan, sambil mengutak Atik komputer yang ada di depannya
“ membunuh orang” sahut Dicky, apa lagi yang diinginkan si gila itu jika bukan membunuh orang.
“jangan Bercanda” sahut Ryan kesal, sambil memijat pelipisnya.
Dicky berpikir tentang apa yang diinginkan oleh Bryan, mengingat semua perlakuan Bryan selama ini terhadapnya, sejahat jahatnya Bryan pria gila itu tak pernah melakukan sesuatu tanpa perhitungan, samar samar dia ingat saat Bryan menembaknya, terdengar satu tembakan setelah dia terjatuh karena tembakan yang dia terima dari Bryan, tembakan yang di arahkan untuk dirinya “ keluarga” ucap Dicky, dia memantapkan hati setelah mengingat apa yang telah terjadi selama ini, dia akan menanyakan langsung apa yang sebenarnya terjadi selama ini pada Bryan .
“ kau yakin” sahut ryan, menatap Dicky dengan penuh tanya, pasalnya dia lebih percayalah jika Bryan lebih menginginkan membunuh orang dari pada sebuah keluarga
“ kau tulis saja” ucapnya
“ sial” umpat Dicky kesal , dia baru ingat kalau dia menyuruh istrinya menunggu nya di restoran “ setelah ada kemajuan kabari aku” ucapnya setelah memakai jas yang dari tadi di taruh di sandaran kursi, dengan langkah cepat dia segera meninggalkan tempat itu.
Sedangkan Ryan fokus mengerjakan pekerjaan nya “ dasar, lembur deh” serunya kesal, sandi yang baru saja dia masukkan ternyata berhasil membuka cart.
Dicky baru saja masuk ke restoran dia mendapati istrinya dengan seorang pria berambut pirang, dia tak tahu siapa pria itu karena Samuel duduk membelakangi nya,
“ Sayang, kenapa kau lama sekali, aku hampir berakar karena terlalu lama menunggumu” ucap Vivi saat melihat suaminya berjalan ke arahnya.
“ maaf, ada hal yang harus ku urus, nanti aku akan ganti rugi karena telah membuat mu menunggu lama” ucapnya setelah mengecup kening istrinya,
Samuel yang melihat kejadian itu secara langsung , membuat pria berambut pirang itu mengepalkan salah satu tangganya, ada gurat kesal yang tersirat di raut wajah pria bermata sipit itu
__ADS_1
“ siapa dia?” tanya Dicky dengan nada rendah pada wanita cantik yang tengah mengandung anaknya itu, walau sebenarnya dia sudah tau siapa pria berambut pirang itu, Hanya saja akan lebih etis jika dia menanyakan pada istri tercinta nya.
“ dia Samuel teman ku yang pernah aku cerita kan waktu itu, kami tidak sengaja bertemu di sini” papar Vivi.
Dicky tersenyum kecil , kemudian dia duduk di samping istrinya “ terima kasih bro sudah mau menemani istri aku” sapa Dicky .
“ is ok, karena kau sudah datang aku akan pergi” sahur samuel ramah , dia melihat jam Tangannya, kemudian berdiri
“ tidak usah pergi , bagaimana kalau kita makan malam bersama” tawar Dicky, walau sebenarnya dia tidak rela makan malam romantisnya di ganggu orang lain, setidaknya dia perlu basa basi.
“tidak , terima kasih , seseorang sedang menungguku” Sahut Samuel.
Dicky mengangguk i ucapan Samuel.
“ hati hati di jalan” ucap Vivi pada samuel.
“ iya Kau juga, duluan bro” pamitnya pada kedua pasang suami istri itu, kemudian berjalan keluar restoran, seulas senyum licik tersungging di wajahnya.
Dicky melihat Samuel berjalan sedikit pincang saat pria itu berjalan keluar restoran. Curiga, sesaat dia curiga sebelum istrinya memanggil namanya. Setelah beberapa saat mereka pindah ke ruang VIP restoran untuk makan malam.
__ADS_1