
Suasana ruang makan, hal yang tak terduga terjadi saat Stella merasa tegang karena keberadaan Bryan, namun tidak dengan bara bocah dengan wajah yang di penuhi bedak itu, meminta agar di suapi oleh Bryan, hal itu membuat Stella yang melihat merasa bersalah karena telah memisahkan kedua pria itu, namun segera dia menepis perasaan itu, tak mengenal satu sama lain sejak awal adalah pilihan yang tepat pikirnya.
Tatapan mata Dicky tak pernah lepas dari tindakan Bryan, takut jika si gila itu tiba-tiba kambuh dan menyakiti keponakan nya.
Hal yang menakjubkan , itulah yang ada di pikiran Vivi saat melihat Bryan menyuapi bara, suatu saat dia akan melihat hal yang sama, melihat suaminya di buat repot oleh anaknya.
“ jangan terlalu besar dan terlalu kecil om” ucap bara, saat Bryan menyuapi potongan steak padanya, dia menatap potongan daging sapi yang ada di ujung garpu, sangat kecil seperti ukuran sate ayam lalat .
“ Dasar bodoh” ejek Dicky sambil memotong daging sapi yang ada di piringnya, Vivi menoleh menatap suaminya, dia heran pada pria tampan itu kenapa selalu menyulut api pada kakak iparnya yang gila itu.
Bryan menatap nya dengan sinis “ aku sengaja memotong daging nya lebih kecil, agar kau lebih mudah untuk mengunyahnya” ucap Bryan pada anak kecil itu.
Mendengar ucapan Bryan, bara langsung membuka mulut dan mengunyah daging itu “ wah benar, lebih cepat halus” Ucapnya setelah beberapa saat.
Bryan menatap Dicky dengan tatapan mengejek, dia kembali menyuapi bara.
Apap apaan ini bukankah mereka berdua terlihat seperti anak kecil pikir Vivi saat melihat kelakuan kedua bersaudara itu yang kekanak-kanakan sekali di usia mereka.
“ Sayang biar aku yang menyuapiku” ucap Dicky sambil tersenyum.
__ADS_1
Vivi tersenyum getir kemudian dia menerima suapan dari suaminya, kini dirinya yang harus menjadi korban sikap kekanakan suaminya itu.
Beberapa saat kemudian
Bryan berpamitan untuk pulang, sedangkan bara sudah pergi entah ke mana, Vivi dan Dicky mengantarnya di depan mansion.
“ Hati hati, ingat jangan kesini lagi” ucap Dicky setelah Bryan masuk ke dalam mobilnya.
“ tak perlu khawatir, aku akan sering sering kesini untuk makan malam” sahut Bryan seulas senyum tipis terukir dibibir, sedangkan Dicky menatap nya dengan tatapan tajam.
“ apa kau sudah miskin, sampai sampai numpang makan di tempat ku” sahut Dicky dengan nada mengejek.
“ dasar gila, tak tahu malu” umpat Dicky kesal, Vivi mengambil nafas panjang kemudian dia masuk ke dalam mansion.
Malam ini menjadi malam yang panjang bagi Stella dan putranya, tak henti-hentinya bara menceritakan apa yang dia lakukan hari ini terlebih saat bersama dengan Bryan, miris itulah yang dirasakan Stella saat ini, dia tau anaknya itu membutuhkan sosok seorang ayah.
Dicky terbangun saat istrinya sudah tertidur pulas, dia berjalan ke meja tempat dia tadi menaruh kotak kecil dari kakaknya yang gila itu, dia tak mengira jika Bryan akan dengan cepat mendapatkan informasi yang dia perlukan, dia membuka kotak kecil berwarna biru terdapat sebuah cincin berlian, Dicky menyidik melihat isi kotak itu bisa bisanya sigila itu memberi kan cincin, Kemudian dia segera mengambil Cincin terdapat cart kecil yang di selipkan di sebelah cincin berlian itu. Segera dia mengambil cart tersebut, dan mengembalikan cincin berlian itu pada tempatnya.
Dia menatap cart yang ada di tangannya, besok dia berencana meminta Ryan untuk membuka isi cart itu, karena dia yakin jika sigila itu tidak akan membuat kemudahan untuk nya.
__ADS_1
Sampai di apartemen miliknya Bryan tidak dapat mengalihkan pikirannya dari bocah bertubuh mungil itu, setelah bertahun-tahun dia bisa merasakan tatapan mata yang tidak takut padanya, apalagi di usia bocah berusia 4 tahunan itu, seulas senyum tipis terukir dibibir saat mengingat wajah cemong bocah itu, sorot mata anak itu mengingatkannya pada seseorang, seseorang yang penting dalam hidupnya.
Sudah berhari-hari dia tak mendapat kan kabar tentang wanita itu, di mana wanita itu bersembunyi?, Sebegitu bencinyakah wanita itu pada dirinya?, Pertanyaan itu selalu terlintas dalam benak nya, walau sebenarnya dia sendiri sadar, dan tau jika wanita itu benar benar membenci dirinya, semuanya tentang dirinya.
Jika dia di berikan kesempatan untuk bertemu dengan wanita itu, akan di pastikan jika wanita itu tak akan pernah pergi lagi dari hidupnya, bagaimanapun caranya dia akan membuat wanita itu tetap tinggal, sekali pun menggunakan cara yang licik untuk yang kedua kalinya.
__ADS_1