
Hari berikutnya
Bagas sudah sadar , wajah pria itu pucat , slang infus masih menempel di salah satu pergelangan tangannya , keadaannya akan membaik dalam beberapa hari ke depan.
Di kamar itu hanya ada Dicky yang menemani, sebenarnya Bagas tak ingin mengacaukan perasaan putranya saat ini , dengan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu “ papa minta tolong , tolong lindungi Stella dari Bryan” ucap Bagas pelan
Dicky menatap nya tak percaya , apa-apaan ini , mengapa dia harus melindungi wanita itu , wanita yang tidak ada hubungannya dengan dirinya saat ini “ kanapa harus aku , banyak polisi di luar sana kenapa tidak menyuruh mereka saja ,ayah tahu kan aku sedang melindungi istriku dari pria gila itu , aku tidak ada waktu untuk melindungi wanita lain” sahutnya kesal , kemudian berdiri berjalan meninggalkan ayahnya sendiri , dia heran bisa bisa nya ayahnya itu meminta hal yang mustahil dia lakukan apa lagi untuk penghianat itu.
Bagas sudah menduga putra bungsunya itu akan merespons seperti saat ini “ kau berhutang Budi padanya” ucap Bagas , ucapannya itu membuat putranya menghentikan langkah kakinya dan langsung menoleh ke arah nya .
Dicky benar benar tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar “ jangan mengada Ngada , aku tak pernah berhutang apapun padanya” sahutnya kesal
“ Dia berkorban untuk mu , Bryan mengancamnya jika dia tidak menuruti apa yang dikatakan Bryan , Bryan akan menyakiti mu , semua itu dia lakukan untuk mu , aku baru mengetahui itu” ucapnya sambil menatap wajah putranya yang diam seribu bahasa “ temukan wanita itu , aku hanya ingin kau menjauhkan Bryan dari dia , sembunyikan dia sejauh mungkin dari Bryan” pinta Bagas
Perasaan Dicky benar benar kacau saat ini , kenapa dia baru mengetahui hal itu setelah bertahun-tahun , dengan rasa resah dia berjalan keluar dari ruangan itu.
tanpa sepengetahuan mereka vivi mendengar percakapan mereka tanpa sengaja saat dia memberi tahu suaminya jika Dimas baru saja menelepon.
Vivi menarik nafas panjang , berpikir jika semua akan baik baik saja , walau sebenarnya dia merasa sangat terkejut karena apa yang dia dengar, “ semua hanya masa lalu” ucapnya pada dirinya sendiri, kemudian keluar dari persembunyiannya .
Karena Bagas sudah siuman , mereka berdua kembali ke mansion .
“ apa kau akan pergi ke kantor?” tanya Vivi pada suaminya, sedangkan jam sudah menunjukkan jam 11 siang, mereka baru saja sampai di mansion sekitar 20 menit yang lalu, dapat di lihat dengan jelas jika suaminya itu banyak pikiran, selama perjalanan pria itu lebih diam dari pada biasanya.
“ Iya , banyak hal yang harus aku urus, seperti nya malam ini aku akan pulang malam , kau bisa istirahat dulu jangan menunggu ku” sahutnya , sambil membenarkan dasi yang melingkar di lehernya.
Vivi tersenyum “ jangan terlalu malam , jangan lupa makan” ucapnya sambil mengambilkan jas suaminya, gelisah itulah yang dirasakan saat ini.
__ADS_1
“ iya , gak akan terlalu malam” sahut Dicky , dia berencana untuk segera menemui Stela , ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi “ ya sudah aku berangkat dulu” pamitnya
“ iya hati hati , aku dan anakku menunggu kepulangan mu” sahut Vivi, suaminya itu pergi setelah mengecup keningnya.
Setelah suaminya pergi Vivi masuk ke dalam mansion , dia berpikir apakah dia harus mengikuti suaminya, tapi jika dia melakukan itu malah akan membuat keadaan mereka semakin rumit ke depannya, dia akan menunggu ayah dari anak yang ada di dalam perut nya itu mengatakan sendiri apa yang sebenarnya terjadi “ semua akan baik-baik saja” ucapnya sambil mengelus perutnya yang semakin membesar.
Vivi berencana untuk membaca buku di perpustakaan yang ada di mansion, dia cukup malas untuk keluar hari ini apa lagi cuaca saat ini sangat terik, lebih baik dia menghabiskan waktu di dalam ruangan. Mungkin nanti sore dia akan keluar ke pantai yang berjarak tak jauh dari mansion , jika Dia tak malas.
Di apartemen Bryan , seorang pria baru saja masuk ke apartemen nya itu,
“ aku tak menyangka kau akan datang se cepat ini , bukannya kau masih mempunyai beberapa hari untuk berlibur” sapa Bryan , saat melihat pria yang tak lain adalah Jay , penghianat yang sedang di tunggu tunggu kedatangan nya. Bryan sedang menikmati hidupnya yang sempurna dengan segelas wine di tangannya, tanpa harus bekerja keras untuk mendapatkan uang.
“ aku rasa ada hal besar sampai sampai anda minum wine pada siang hari” ucap Jay , dia tahu persis sikap Bryan, setelah beberapa tahun dia mengikuti pria gila itu dia mengetahui hal hal kecil yang dilakukan oleh Bryan.
“ Benar karena Nil kembali dengan selamat setelah kecelakaan yang menimpanya beberapa bulan lalu” ucap Bryan , Nil adalah orang yang sangat setia pada Bryan sudah bertahun-tahun pria itu mengikuti nya , pria yang telah berhasil membuka kedok Jay , pria yang telah melaporkan hal itu kemarin.
“ Nil , Nil kembali” ucap Jay gagap, raut wajah berubah tegang sesaat, namun dia segera menutupinya .
Dengan sedikit gugup dia menjawab pria gila yang ada di hadapannya itu “ tentu itu kabar yang sangat membahagiakan” sahutnya, Jay menundukkan pandangannya seulas senyum licik tersungging di bibirnya , dia bersyukur bahwa tindakan nya selama ini masih belum di ke tahu i, walau gagal membunuh Nil waktu itu tak apa karena masih ada waktu lain untuk melenyapkan pengikut setia si gila yang sedang menyesap wine di siang bolong itu.
“ apa yang akan kau lakukan jika orang yang kau percaya menghianati mu” tanya Bryan yang langsung membuyarkan pikiran licik Jay ,
“ maksud tuan” tanyanya terbata, sambil menatap Bryan.
“ apa langsung di bunuh dalam satu kali tembang , atau perlu di sayat dulu kulit nya” ucapnya seulas senyum membingkai di bibirnya.
Siapa yang mengkhianati ? Apakah Nil menghianatinya?’ kalimat itu hanya ada di pikiran Jay “ jika aku di khianati , aku akan membuat orang itu menderita seperti yang tuan lakukan selama ini” sahut nya
__ADS_1
“ Kau memang satu nya orang yang sangat mengenal ku” sahut bryan
Jay tersenyum mendengar hal itu , tujuan nya mengikuti pria gila ini sebentar lagi berhasil hanya menunggu waktu dimana si gila dan keluarga tercintanya hancur. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing .
**
Dicky berada di dalam mobil yang terparkir di salah satu perumahan kecil sederhana yang ada di pinggir kota , dia menatap sekeliling seolah mencari seseorang.
Seorang wanita baru saja keluar dari salah satu rumah sederhana itu menggandeng anak kecil di sampingnya.
Tampa pikir panjang Dicky keluar dari dalam mobil, dia berjalan ke arah wanita dan anak nya itu , wanita yang tak lain adalah Stella.
Mata Stella terbelalak saat dia melihat pria yang sempat mengisi hatinya selama bertahun tahun berada di depan matanya , pria yang selalu ingin dia hindari selama ini , reflek dia menarik anaknya kearahnya,
“ aku sudah bilang aku tak mau di gendong ma” ucap bara , karena dia ingin berjalan sendiri tak mau di perlakukan seperti anak kecil , namun tak ada respon dari Stella dia matung di tempat ,
__ADS_1