
“ jangan di tahan kali mau tertawa saja , tertawa Samapi puas” ucap Alex saat melihat Dicky “ dan kalian” serunya
“ Siap komandan” sahut mereka kompak
“ Push up 20 kali” ucapnya dengan nada suara tegas ,
“ Siap komandan” jawabannya serempak , kemudian mulai melakukan perintah Alex , tanpa perlawanan.
“ Kau terlalu kekanak-kanakan” ucap Dicky “ ada yang ingin aku bicarakan” ajak Dicky sambil berjalan ke dalam mansion , tanpa menjawab Alex mengikuti langkah Dicky masuk ke dalam mansion .
Disebuah ruang kerja yang dipenuhi dengan rak buku di sekeliling tempat itu Dicky dan Alex duduk berhadapan di sofa yang tersedia, jendela yang menghadap ke kebun buah yang ada di samping mansion , mereka berdua berdiskusi tentang hal yang akan mereka hadapi sekaligus mencari jalan keluar yang aman untuk mereka.
“ bukankah sebaiknya kalian berdua berbicara layaknya keluarga terlebih dulu , dari pada bersitegang seperti saat ini” saran Alex walau bagaimanapun Bryan adalah saudara Dicky , ada sebaiknya mereka berbicara satu sama lain .
Dicky hanya diam mendengarkan saran dari Alex, ada benarnya mereka untuk berbicara , namun semua itu tidak akan terjadi mengingat sikap Bryan terhadapnya beberapa tahun lalu yang hampir membunuhnya , dengan satu tembakan yang hampir menembus jantungnya , jarak peluru yang bersarang di dadanya berjarak 2 inci dari jantungnya pada saat itu “ kau tahu tadi malam dia menyerang mansion , dia menargetkan istriku , apa kau pikir aku hanya bisa diam saja saat seseorang berniat untuk menghabisi orang yang aku cintai , sebelum dia sudah mengambil stela dari ku , dan karena rasa tak puasnya itu dia ingin menyingkirkan istriku namun kali ini aku tidak akan membiarkan dia lolos begitu saja” ucap Dicky sinis
Alex yang sebelumnya ingin menengahi kedua bersaudara itu kini emosinya tersulut saat mendengar adik angkat nya dalam bahaya “ aku setuju dengan rencanmu” sahut Alex kesal.
“ kalau di pikir bukannya belum ada satu jam saat kau menyuruhku mengajak dia bernegosiasi” sindir Dicky
“ kau tahu kan manusia dalam waktu bisa berubah pikiran” sahutnya cuek “ bukannya kau punya pengawal pribadi yang terlatih , kenapa kau masih membutuhkan bantuan ku” imbuh Alex mengingat bawahan Dicky memiliki kemampuan yang sama dengan agen yang dia operasikan.
“ apa kau lupa , aku tidak bisa membersihkan namaku jika aku sepenuhnya menggunakan mereka , aku butuh bantuanmu karena kau intelijen khusus negara , yang bisa melakukan hal tersebut dalam naungan hukum negara, kau tahu kan aku warga negara yang baik sekaligus ta'ak aturan” ucap Dicky dengan nada santai “ dalam hal ini kau tak malah akan tangkapan ikan yang besar , dia di atas Herlambang jadi kau tak akan rugi , dengan begini kita bisa sekali tepuk dua ekor nyamuk mati” imbuhnya.
‘ bisa bisanya dia berbohong tanpa berkedip sama sekali' gumam Alex dalam hati saat mendengar ucapannya Dicky untuk menyakinkan nya “ untuk mangsa itu aku ingin dia di tangkap hidup hidup , dengan cara begitu aku bisa mencabutnya sampai akar” ucap Alex karena dia tak ingin kejadian saat dia hendak menyergap Hermawan malah menemukan hal yang tak diinginkan , tidak sesuai rencana awal semua itu malah membuat rencana nya berantakan.
__ADS_1
“ Akan ku usahakan” sahut Dicky ,
Vivi dan Cika keluar ke kebun buah yang ada di sekitar mansion , pemandangan yang hijau dan banyak pohon buah yang berbuah , membuat mereka berdua asik memetik buah buahan yang rencananya akan di bikin rujak buah dan salad , pohon buah itu terdiri dari pohon mangga , anggur , nanas dan buah buahan tropis laingnya seeprti buah naga.
“ ini pasti enak , apalagi kalau matang dari pohon” ucap Cika saat memetik mangga Dengan wajah berbinar, ada dua pelayan yang berjalan mengikuti Vivi dan Cika membawa keranjang buah di tangan mereka, kemudian menaruh ke dalam keranjang.
“ benar kalau kau makan buah segar setiap hari kau bisa kesini setiap hari” sahut Vivi yang sedang memilih buah mangga yang akan dia petik “ lagi pula aku tak ada kerjaan disini” imbuhnya
“ Aku tak bisa kalau setiap hari , tapi aku akan berusaha untuk kesini satu Minggu sekali” sahut Cika , awalnya Cika berpikir akan sulit untuk dekat dengan Vivi , Lantara status sosial mereka yang bagaikan langit dan bumi , namun kenyataannya tak seperti yang dia bayangkan , wanita berbadan dua bukan orang yang akan membedakan seseorang dengan status sosialnya , jika melihat sekilas Vivi dia terlihat seperti orang yang sombong , tapi jika sudah saling kenal maka akan beda ceritanya .
“ Vivi” teriah Anis sambil berjalan ke kebun buah , teriakan Anisa membuat kedua wanita yang sedang memetik buah itu menoleh bersamaan ke arah sumber suara.
“ Akhirnya kau kesini” sapa Vivi ,
“Ya karena aku takut tak kebagian buah” sahut Anisa sambil melihat sekeliling kebun buah “ wah benar benar fantasi” serunya saat melihat penataan kebun ,yang di penuhi buah tropis.
Mereka saling berjabat tangan dan menyebut nama masing-masing ,
“ Ya sudah ayo cepat panen buahnya , atau kita sudahi saja soalnya di dalem sudah ada” ucapnya
“ terus ngapain kamu di sini kalau udah ada yang di petik” sahut Anisa yang mau memetik buah mangga sendiri
“ aku Cuma mau ajak Cika berkeliling” sahutnya
“ Jadi Cuma Cika yang mau di ajak keliling” sahut Anisa
__ADS_1
Mereka melanjutkan berkeliling kebun karena Anisa merajuk ingin memetik buah sendiri ,
Like like vote dan komen
__ADS_1