Menikah Dengan CEO

Menikah Dengan CEO
Episode 137


__ADS_3

Stella segera menutupi bekas luka yang ada di tangan nya dengan lengan handuk  yang tanpa sengaja tersingkap.


Semua barang yang di bawa pelayan sudah berada di dalam kamar Stella Vivi pergi , Stella melihat bekas luka yang di berikan oleh pria gila sekaligus ayah dari anaknya itu, yang dia perlukan saat ini hanya sembunyi , sembunyi dari psikopat gila itu.


*


Di dalam kamar, Vivi baru saja selesai berganti baju, wanita berparas cantik itu duduk di bangku panjang di depan meja rias menatap pantulan wajah nya di cermin sambil menyisir rambutnya.


Vivi menyidik ngeri saat melihat luka di tangan Stella, bukan karena jijik melihat bekas luka itu melainkan dia merasa takut ada Bryan , dapat di pastikan jika luka yang ada di tubuh Stella adalah perbuatan pria itu.


“ apa aku boleh memeluk mu” suara Dicky membuat Vivi tersadar dari lamunannya, bahkan belum mendapatkan jawaban dari dirinya pria tampan itu langsung memeluk tubuhnya dari samping , sambil menghadiahkan beberapa kecupan di leher jenjang miliknya.


“ Sayang , mereka menunggu kita di bawah, jangan lakukan itu sekarang” ucap Vivi mengingat kan pria mesum itu.


Dicky berdecak , kemudian menghentikan perbuatannya “ apa kau masih marah karena keputusan yang aku buat” ucapnya sambil menatap lekat wajah istri, yang sudah di prediksi akan meledak ledak karena keputusan yang dia buat secara sepihak tadi.


Awalnya dia memang marah dengan keputusan suaminya itu, setelah di pikir pikir dia sekarang hidup di jaman modern bukan jaman batu, dia lebih memilih memikirkan solusi dari pada marah marah tak jelas, yang malah akan memperkeruh keadaan “ kau tahu kan aku itu wanita yang sabar dan juga berhati lapang , walau awalnya sedikit keberatan namun aku bisa menerima hal itu” ucapnya dengan nada membanggakan diri.


Dicky tersenyum mendengar ucapan istrinya “ Kau benar , kau wanita yang berhati lapang” sahut Dicky dengan nada memuji “ sayang bagaimana kalau aku menikah lagi” goda Dicky


Vivi menatap tak suaminya , andai kata tatapannya itu bisa membunuh sudah pasti Dicky sudah tergeletak tak bernyawa saat ini “ lakukan itu  jika kau mau , akan ku kirim kau dan istri mudamu ke planet mars” sahut Vivi kesal.


Dicky terkekeh mendengar ucapan istrinya itu “ memang istri ku yang baik sekaligus kejam” sahutnya sambil memeluk istrinya.


**


Hari berikutnya


Seperti biasa Dicky sudah berangkat ke kantor, Vivi menemani bara bermain begitu pun Stella, Canggung pastinya apa lagi Vivi sendiri bukan tipe orang yang akan langsung akrab, namun sikap Stella berbanding terbalik wanita itu mengajaknya berbicara , dalam sekejap mereka berdua jadi akrab .

__ADS_1


Seorang pelayan dengan raut wajah tergesa gesa menghadap ke Vivi “ nyonya tuan kecil”


“ bara kenapa” sahut Vivi , sedangkan stela sudah berlari ke arah kolam untuk melihat keadaan anaknya karena khawatir. Vivi menyusul di belakang.


“ tuan kecil dia menuang sabun cuci ke dalam kolam” ucapnya dengan nada rendah.


Vivi bernafas lega “ kau hampir membuatku jantungan” sahut Vivi , dia segera mempercepat langkahnya “ apa yang kau lakukan , dia masih kecil , tidak tahu apa apa” ucap Vivi saat melihat Stella memarahi anaknya yang sudah membuat kolam di penuhi busa sabun, entah dari mana anak kecil itu mendapat kan


“ walau masih kecil tapi dia harus tahu mana yang benar dan mana yang salah” sahut Stella pada Vivi kemudian menatap bocah kecil yang dipenuhi busa di tangan dan tubuhnya “ cepat minta maaf sama Tante” ucapnya dengan nada tinggi apda bara. Dia benar-benar tak enak hati pada Vivi , bagaimanapun mereka hanya menumpang bisa bisa nya membuat keributan seperti ini


“ Tante bara minta maaf” ucapnya sambil menjewer kedua telinganya “ bara janji gak bakal mengulangi lagi” imbuh bocah kecil itu dengan raut wajah sedih.


“ iya Tante maafin , sekarang bara pergi mandi dulu” ucap Vivi , mendengar ucapan Vivi bara segera pergi dengan pelayanan yang tadi menemaninya.


“ maaf , kalau aku mendidik nya lebih baik dia tidak akan membuat keributan seperti saat ini” ucap Stella


“  iya tidak apa apa , namanya juga anak kecil , yang penting kita tidak pernah bosan untuk mengingatkan mana yang baik dan mana yang buruk” sahut Vivi santai “ ya sudah ayo masuk” ajaknya.


Percayalah tak semua wanita mempunyai sikap yang suka merebut miliknya wanita lain, orang yang pernah di sakit tak akan menyakiti orang lain , karena dia tau bagaimana rasanya di sakiti.


**


Jika waktu dapat di ulang berapa pun harganya pasti akan dibayar, ibarat sebuah kaca, jika sudah jatuh tak akan bisa di buat seperti semula lagi, penyesalan akan mendatangi orang orang yang tak pernah menghargai, entah itu waktu, maupun perasaan orang lain, menyesal itulah kalimat yang bisa mewakili perasaan Bryan saat ini, menyesal telah menyakiti wanitanya, menyesal telah mengabaikan ketulusannya, menyesal karena telah melindungi dengan cara yang salah.


Banyak nya orang yang menginginkan nyawanya, jika tak bisa melukainya mereka akan beralih pada seseorang yang ada di sampingnya, satu satunya cara adalah membuat wanita itu seolah tak berarti apa-apa baginya, dengan begitu akan membuat para musuhnya akan mengabaikan keberadaan Stella, masih teringat jelas saat wanita itu tergeletak bersimbah darah di depan matanya setelah menerima satu tembakan dari para musuh yang mengintainya.


Sebuah ruang baca , pria bertubuh tinggi masuk untuk menyampaikan laporan pada Bryan “ ku harap kau tak mengecewakan ku” ucap Bryan sambil membaca buku yang ada di tangannya, tatapannya beralih pada Nil yang berdiri di hadapannya.


“ aku sudah menemukan keberadaan nyonya, hanya saja sejak kemarin dia tidak kembali ke kediamannya” ucapnya.

__ADS_1


Bryan menatap benda yang ada di tangan Nil “ lanjutkan” serunya, sambil memijat pelipisnya.


“ Saya menemukan ini di kediaman nyonya” ucapnya sambil memberikan kantong plastik pada Bryan.


Karena penasaran Bryan langsung membuka kantong plastik itu “ obat” Ucapnya , kemudian kembalikan menatap Nil.


“ obat itu, obat khusus untuk penderita kanker, untuk meredakan rasa sakit yang menggerogoti tubuh” papar Nil, Nil sendiri adalah seorang dokter profesional dia bisa mengetahui segala macam obat.


Wajah Bryan memucat “ Maksud mi dia mengidap penyakit itu” sahutnya,


“ tidak , dosis obat ini di berikan pada anak kecil” ucap Nil.


“ Maksud mu dia sudah mempunyai keluarga”


“ kurang lebih seperti itu” Sahut Nil.


“ Kau bisa pergi, selidiki dengan detail, jangan kembali sebelum memberikan hasil yang memuaskan” sahut Bryan, emosi itulah yang dia rasakan saat ini.


Mendengar perintah bosnya , setelah mengangguk kepala Nil segera melangkah keluar.


Like


 


Like


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2