
Erica baru saja masuk ke dalam apartemennya dia melempar tas dan juga jaz yang dia kenakan ke atas sofa , “bisa bisanya tidak punya kesempatan sama sekali” serunya kesal sambil menjatuhkan tubuhnya di atas sofa , mengingat saat di kantor dia tidak memiliki waktu untuk bertemu dengan dicky jangan untuk bertemu dengan pujaannya itu untuk makan siang saja dia hanya punya waktu 30 menit karena pekerjaan yang sangat menumpuk dengan titelnya yang kuliah di luar negeri tentu saja dia akan merasa malu kalau tidak bisa mengerjakan pekerjaan yang menumpuk di atas meja nya.
“ ternyata kerja kantoran tidak seenak yang aku bayangkan” ucapnya sambil merenggangkan tubuhnya, dirinya yang terbiasa menggunakan tubuhnya untuk mendapatkan uang tentunya merasa lelah saat bekerja menggunakan otak.
“ aku harus memanggil reno untuk menemaniku malam ini” ucapnya sambil meraih ponsel kemudian menelepon pria bernama reno \, reno adalah salah satu pria yang dekat dengan erica \, walau reno tidak sekaya dicky tapi lumayan untuk memuaskan dirinya di atas r****ng
※※※
“ bagai mana apa terasa enak” tanya vivi , mereka berada di dalam kamar ,
“ kau membuatku tersiksa” seru dicky , beberapa menit yang lalu istrinya itu menawarkan diri untuk memijat dirinya.
“bukannya berterima kasih aku mau memijatimu” sahut vivi
“terima kasih” ucap dicky “ tapi aku akan jauh berterima kasih kalau kau turun dari punggungku” imbuhnya karena istrinya itu kini duduk di atas punggungnya , sedangkan dia sendiri tidur tengkurap di atas ranjang.
__ADS_1
“ kau sering melakukan ini padaku , kenapa aku tidak boleh” ucap vivi kesal.
Dicky menarik nafas panjang mendengar ucapan istrinya itu “bagai mana kalau aku ganti posisi, setelah itu kau boleh duduk di atas tubuhku , aku tidak keberatan sama sekali” ucapnya dengan nada menggoda “ aku akan menyerahkan tubuhku padamu sepenuhnya” imbuhnya
“itu mau mu” seru vivi , kemudian membaringkan tubuhnya di atas punggung suaminya , hening seketika “kau tahu?”
“ hemzz?”
“ kau bau kecut belum mandi” ucap vivi , walau sebenarnya yang dia cium bukan bau kecut tubuh suaminya melainkan bau maskulin parfum yang digunakan oleh suaminya itu.
“ aku tidak perlu mengucapkan kalimat itu , karena ada bukti nyata yang mewakili kalimat itu” ucap vivi , sambil menatap lekat wajah suaminya “ tapi aku tidak tau apa kau benar benar mencintaiku” imbuhnya , perasaan bimbang tentunya ada apa lagi pernikahan mereka berawal dari perjodohan , bahkan usia pernikahannya masih seusia jagung, dari pada membenam sendiri atau menerka neraka perasaan suaminya dia memberanikan diri untuk menanyakan pertanyaan itu pada suaminya
Dicky tersenyum mendengar pertanyaan istrinya “ sudah lama, aku menyukaimu , sebelum perjodohan itu terjadi” ucap dicky , istrinya itu melongo mendengar ucapannya “sudah aku duga kau akan menertawakan aku” imbuh Dicky
“ benar itu salah satunya , tapi bukankah tidak pernah ada kesan yang menarik waktu itu” ucap vivi , dia mengingat dengan jelas kejadian saat itu , bahkan mereka berdua sering berselisih paham, saat itu vivi merasa sangat tidak suka dengan sifat dingin dicky .
__ADS_1
“ bagi mu tidak menarik , tapi tidak bagi ku , sifatmu beda dengan wanita wanita yang pernah aku temui, tidak pernah memakai wajah palsu di hadapanku” ucap dicky , sambil mencubit hidung istrinya “ sebenarnya aku menolak perjodohan itu , tapi semua berubah saat aku tau kau orang yang di jodohkan dengan ku ( saat vivi menutup pintu rumah saat melihat dicky di depan rumahnya , kemudian setelah dicky menghubungi ibu nya)” ucapnya sambil menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya
__ADS_1