
Selama bertahun tahun Bagas melakukan segala cara agar penyakit Bryan sembuh , dia tak hanya melakukan pengobatan atau terapi di dalam negeri , sudah ke beberapa negara dengan kemampuan medis yang baik untuk menyembuhkan penyakit itu , namun usahanya gagal Bryan selalu melakukan kegiatan membunuh tanpa sepengetahuan nya , malah semakin menggila .
Sila meminta anak anaknya untuk menginap .
Di salah satu kamar berukuran besar dengan lantai marmer , Vivi sudah tertidur pulas di atas ranjang , Dicky baru saja masuk ke dalam kamar dia melihat perut istrinya yang semakin hari semakin membesar , semoga tak ada hal yang tidak diinginkan terjadi pada istrinya dan anak yang masih dalam kandungan itu.
Dia tak percaya wanita seperti istrinya itu mau mengandung anaknya di usianya yang masih tergolong muda , apalagi kebanyakan model tak akan Mau melahirkan anak karena itu akan membuat perubahan besar pada tubuh mereka.
Pagi hari
Sebelum sarapan Vivi di temani suaminya jalan pagi di sekitar danau ,
sedang kan Bryan sedang berbincang dengan Bagas di ruang kerja pria paruh baya yang sedang membaca koran edisi terbaru hari ini ,
Setelah bertahun-tahun tidak berbicara secara pribadi , akhirnya Bagas mempunyai kesempatan untuk berbicara dengan anak sulungnya.
“ akhir-akhir ini aku tak melihat mu berbuat ulah lagi” ucap Bagas dengan nada rendah , sambil membalik koran yang ada di tangannya ,
__ADS_1
“......” Bryan hanya diam menanggapi ucapan ayahnya itu , dia tahu jika selama ini pria paruh baya itu masih selalu mengawasi nya dari jarak jauh , sikapnya yang cuek tidak akan ada yang percaya jika Bagas memperlihatkan dirinya , apa lagi setelah semua masalah yang dia lakukan selama ini.
“ Aku sudah menduga jika kau tipe orang yang tidak akan bisa menjaga apa yang kau miliki , kau merebut kekasih adik mu dengan cara yang kejam , kemudian kau mencampakkan begitu saja , setelah kau mendapatkan apa yang kau mau” ucapnya, kini dia menatap lekat wajah putra nya yang sangat mirip dengan dirinya , hanya rambut nya yang diturunkan oleh ibu nya.
“ Siapa yang mencampakkan siapa” sahut nya , ku rasa kau juga tahu jika dia yang meninggal kan aku” sahutnya sinis , dari tempat Bryan berdiri dia bisa melihat Dicky dan istrinya berjalan di danau yang letaknya tak begitu jauh dari villa , Iri , kalimat itu yang bisa menggambarkan apa yang sedang dia rasakan saat ini .
Bagas berdecak mendengar kalimat yang diucapkan oleh psikopat dan tak lain adalah putra sulungnya , hanya orang gila yang akan bertahan di dekat seorang psikopat “ aku rasa itu pilihan yang sangat tepat untuknya” sahutnya tanpa memikirkan perasaan Bryan.
Gak anak gak ayah sama saja suka memprovokasi “ jadi kau yang membantu melarikan diri” ucapnya dengan nada tinggi , dia benar benar tak menyangka jika ayah nya lah yang membuat wanita nya itu pergi dari sisinya.
“ pelan kan suaramu ” ucap Bagas dingin , dengan tatapan tajam mengintimidasi , selama ini dia tidak pernah memarahi anaknya , dan ini pertama kali dia berbicara dengan nada tinggi .
“ jangan menyalahkan aku untuk kebodohan mu , kau selalu menyiksa dia selama kau bersamanya , apa aku pikir aku akan tinggal diam melihat kelakuanmu yang semakin hari semakin gila” ucapnya , dia benar berjalan telah muak dengan perlakuan anaknya pada stela , Stella merupakan wanita yang baik berbudi luhur , jika Bryan tidak mengancamnya akan menyakiti Dicky , wanita itu tidak akan Sudi untuk bersama dengan dia (Bryan) “ kau selalu iri dengan adik mu , apa yang kau iri dari dia , uang?” ucapnya dengan nada tinggi “ selama ini aku tak pernah membedakan kalian berdua , apa karena kau terlahir dari wanita itu , sila selalu memperlakukan mu seperti putranya sendiri bahkan dia lebih sering menghabiskan waktu nya denganmu dari pada adikmu” imbuhnya dia menatap Bryan dengan tatapan frustasi , tak tau harus bagaimana bisa membuat putranya hidup normal seperti orang biasa .
“ Dimana dia?” ucap Bryan setelah beberapa saat , dia ingat jika selama ini dia selalu memperlakukan Stella dengan buruk , akan mengikat mencambuk wanita itu saat dia akan menyentuh nya , dan masih ada hal hal gila yang dia lakukan pada wanita itu.
“ Apa kau akan membunuhnya” sahut Bagas .
__ADS_1
Bryan tau jika ayah itu tak akan memberikan informasi mengenai stela “ aku akan mematahkan kedua tangan dan kakinya” sahutnya kemudian segera keluar dari ruangan kerja bagas.
Saat ini Bagas benar benar merasa bersalah pada Stella seharusnya dia tak mengungkit tentang wanita itu di hadapan Bryan , tanpa sepengetahuan Bryan Bagas menyuruh seseorang untuk membantu Stella membuat identitas baru , bodoh nya dia tak tahu identitas baru wanita malang itu
Brang
Bagas terjatuh kelantai Dan tak sengaja menyenggol guci antik yang ada di ruangan itu ,
Dengan sikap Bryan egois seharusnya dia tidak mau menoleh kebelakang , tapi entah kenapa hati nuraninya tergerak “ ayah” ucapnya langsung berlari ke ruangan Bagas .
Beberapa saat kemudian. Bagas sudah diperiksa oleh dokter , sedangkan sila tak berhenti menangis melihat kondisi suaminya yang tiba tiba tak sadar kan diri , di dampingi oleh Vivi.
Herlambang duduk setelah menengahi kedua cucunya yang hampir baju hantam , bukannya hampir Dicky sudah memukul Bryan beberapa kali , dia berpikir jika kejadian ini di sebabkan oleh kakaknya.
__ADS_1