
Dengan langkah cepat Jay masuk ke gedung tinggi yang menjulang ke langit itu, saat ini dia berada di lantai tujuannya, setelah itu dia masuk kedalam apartemen itu.
“ Aku sudah mengingatkan mu sebelum nya kalau tidak ada urusan mendesak kau tak perlu ke Sini” ucap pria berambut pirang itu saat melihat jay masuk ke dalam apartemen miliknya , dengan luka di bagian tubuh nya itu.
“ Ada hal yang harus aku bicarakan dengan anda, melihat kondisimu saat ini kita harus bergerak cepat” ucap jay , karena saat ini peluang mereka menghancurkan keluarga Herlambang sangat besar, apalagi sigila itu belum menyadari tindakan nya selama ini.
“ Kau benar, lebih cepat lebih baik” Sahut pria berambut pirang itu , hanya tinggal selangkah semua rencana yang dia lakukan akan membuahkan hasil, seulas senyum tipis terukir di bibirnya.
Di dalam mobil Nil tersenyum tipis, dia menatap layar smartphone miliknya ,dia mengetahui di mana keberadaan Jay saat ini tanpa sepengetahuan penghianat lebih tepatnya penyusup itu dia sudah menaruh alat GPS pada baju yang di kenakan jay , merasa tugasnya kali ini sudah selesai, dia segera menyuruh sopir meninggalkan lokasi saat ini.
Tegang itu lah yang terjadi saat ini , siapa yang mengira jika basa basi Vivi menuaikan hasil , tanpa di duga Bryan datang ke mansion adiknya tinggal, Tanpa rasa malu pria gila itu berucap jika dia tidak ingin melewatkan ajakan makan Vivi tempo hari.
Mereka bertiga duduk di ruang tamu , sedangkan di dapur beberapa pelayan menyiapkan makan malam untuk mereka, Stella ikut menyiapkan makan malam, sebenarnya dingin sekali melarikan diri atau sembunyi namun maaf si gila itu mengingat wajahnya saat pertemuan di depan perusahaan AH.
“ sebelum kesini aku sempat membeli sesuatu untuk mu” ucap Bryan mengeluar dua kotak berukuran kecil dari saku jasnya
“ apa kau membawa bom kesini” ucap Dicky sinis, saat melihat kakaknya yang gila itu menaruh kotak kecil itu di atas meja.
“ jika aku punya kesempatan” sahut nya santai , pasalnya sebelum masuk ke area mansion adiknya itu dia harus melalui pemeriksaan fisik.
“Kau” sahut Dicky kesal, sudut bibir Bryan tersangka saat mendengar ucapan adiknya.
__ADS_1
“ terima kasih kakak ipar” ucap Vivi , dia merasa sangat tidak nyaman dengan keadaan saat ini.
“ tidak perlu sungkan” sahut Bryan ramah.
“ Tante aku sudah selesai mandi” suara bara mengisi setiap sudut mansion , ketegangan terlihat jelas di wajah vivi dan Dicky mereka segera mencari sumber suara, bara sudah mengenakan baju bersih dan muka di penuhi bedak bayi, sebelum nya dia saya di kebun buah dia terjatuh di lumpur membuat bocah kecil itu menjadi bahan tawa Vivi , bara kini sudah naik keatas pangkuan Dicky dan mencium pipi Dicky “ bagaimana bara udah wangi kan” ucapnya tanpa bisa, setelah membuat sepasang suami istri itu kaget karena ulahnya, pasalnya saat Bryan datang Dicky sudah menyuruh pengasuh untuk membawa bara bermain di kamar.
“ benar kau benar benar wangi bocah” sahut Dicky gemas ingin mencubit pipi anak laki laki itu.
Sedangkan Bryan memperlihatkan kejadian itu.
Bara turun dari pangkuan Dicky kemdian berjalan ke arah Vivi “ Tante cium aku” ucapnya sambil menyodorkan wajah nya, sedang Dicky di buat melongo mendengar kalimat yang keluar dari mulut kecilnya. .
“Tentu saja” sahut Vivi , sedikit membungkuk kemudian mencium pipi bocah menggemaskan itu “ sangat harum, Waw imut sekali dengan penampilan seperti ini siapa yang mendandanimu” puji Vivi
Suara deheman membuat Vivi sadar jika saat ini Bryan berada di ruangan itu, “ siapa paman itu tante, dia lebih tampan tampan” ucap para saat melihat bryan.
Vivi ingin tertawaan namun niatnya dia urungkan, sedangkan baryan tanpa sadar tersenyum mendengar hal itu, “ sayang jangan tidak sopan, dia kakaknya om , sana beri salam” ucap Vivi menaseha bocah dengan wajah yang di penuhi bedak bayi itu.
Bara mengangguk kemudian dia berjalan ke arah Bryan yang duduk berhadapan dengan Dicky “ nama saya bara om” ucap nya saat sudah berada di dekat Bryan, tanpa rasa takut sedikit pun dengan senyum manis di bibir nya.
Entah kenapa perasaan Bryan saat ini di buat tak menentu, saat melihat wajah anak kecil yang ada di depan matanya itu, seulas senyum ramah terukir di bibirnya sebelum dia berucap “ nama om Bryan” ucapnya.
“ Nama kita hampir sama, berawalan huruf B” ucapnya dengan senyum cerah di wajahnya.
“ Kau benar” puji Bryan.
__ADS_1
Melihat kedekatan ayah dan anak itu membuat Dicky dan Vivi tak tenang, bagaimana jika si gila itu menyadari jika bocah kecil yang sedang di ajak bicara itu anaknya,
“ Bara , tadi om sudah belikan mainan baru, coba kau lihat kau suka atau tidak” ucap Dicky, dia a tak ingin membuat bara dekat dekat dengan Bryan sekali pun bara anak Bryan, takut jika bocah kecil itu tertular penyakit kakaknya, walau tak pernah ada penjelasan jika sikap psikopat bisa menular lewat sentuhan.
“ yu hu, terima kasih om” sahutnya girang , dengan buru buru dia meninggalkan Bryan. Sedangkan kan Bryan menatap punggung kecil bocah itu sampai benar benar tak terlihat.
“ aku akan menyusul bara” ucap Vivi , berpamitan pada kedua bersaudara itu.
Jangan pelit like komen dan vote ya kak
__ADS_1