
Hari berikutnya
“Kenapa wajahmu sangat kusut seperti itu” tanya Dicky , saat melihat istrinya yang duduk di kursi penumpang dengan wajah lesu , mereka berencana mencari oleh oleh yang akan di bawa ke villa nanti malam .
“ kau tau tadi malam aku tak bisa tidur , memikirkan kakak mu” sahutnya dengan wajah cemas , melihat ke luar jendela mobil , melihat pemandangan jalan yang di penuhi dengan pohon yang di taman rapi di pinggiran jalan , yang membuat sejuk di pandang mata apa lagi saat musim semi pemandangan jalan seperti di luar negeri , bunga yang bermekaran akan menyejukkan mata .
“ kenapa kau setakut itu , sudah ku bilang kan aku akan melindungi mu , tapi kau malah masih memikirkan dia” sahut Dicky , yang sibuk memperhatikan jalan yang akan dia lalui.
“ masalah nya buka itu , aku lihat foto psikopat di Google sangat mengerikan” sahut, kini dia menghadap ke suaminya yang sibuk melihat jalan , dia tak bisa membayangkan betapa mengerikannya wajah Bryan , apa ada bekas luka pisau di wajahnya , atau ada luka di sebelah matanya , bisa di bilang saat ini Vivi sangat paranoid , kebanyakan nonton film kali ya .
Dicky melihat heran pada istrinya , dia pikir jika istrinya itu takut dengan psikopat karena kekejamannya , apa apaan ini dia hanya takut melihat wajah mengerikan seorang psikopat , Dicky bisa bernafas lega karena hal itu , dengan wajah Bryan yang tampan itu tidak akan membuat istrinya ketakutan “ kau takut jika wajahnya mengerikan?”
“ Hemzz, apalagi yang aku takuti bukannya kau akan melindungi ku , tapi tidak dengan mata ku , apa yang akan terjadi saat aku melihat dia, apa aku perlu pakai kacamata hitam” ucapnya , sambil menggigit jari tangannya
__ADS_1
Ingin rasanya Dicky tertawa mendengar rencana istrinya , namun apa daya , dengan hati lapang dia menyentujui rencana konyol istrinya “ ok , bilang saja kalau anak yang ada di perut mu ini ingin pakai kacamata hitam , ku rasa mereka tidak akan keberatan” sahut nya sambil tersenyum kecil tanpa sepengetahuan Vivi .
Beberapa jam kemudian , Vivi dan Dicky baru saja turun dari pesawat jet pribadi, mereka sudah berada di area villa mewah milik Herlambang , jarak yang lumayan jauh mengharuskan mereka naik mobil terlebih dahulu untuk ke villa , hamparan bunga dan buah terbentang luas di sekitar jalan menuju villa , benar benar tempat yang cocok untuk kamping atau kegiatan alam lainnya, apalagi adanya danau dan hutan di tempat itu menjadi nilai plus , sangat memukau itulah kalimat yang pantas untuk mewakili keindahan area villa .
“ Pemandangan yang indah” ucapnya saat melihat sekeliling jalan yang dilalui .
“ jika kau suka, aku akan memindahkan semua yang ada disini ke mansion kita” ucap Dicky dengan nada datar , toh apa yang tak bisa dia lakukan untuk membahagiakan istrinya sekaligus calon ibu dari anaknya itu, sekalipun itu milik kakeknya apa salahnya jika untuk wanita cantik yang ada di sebelah nya itu pasti akan dia ambil asal wanita itu bahagia.
“ Jangan aneh aneh , seandainya aku ke Paris dan bilang kalau aku suka menara Eiffel apa kau juga akan membawanya ke mansion kita agar aku dapat melihat nya setiap saat” sahut Vivi , dia benar benar heran dengan tingkah suaminya yang kadang nyebelin, ngangenin, arogan , romantis, untungnya dia tak memiliki sifat psikopat.
“ jika kau mau aku bisa membangun menara yang sama di depan mansion , agar kau bisa melihat nya setiap hari , kalau untuk membawa menara yang asli akan membutuhkan waktu yang lama , dan lagi, tak ada kemungkinan untuk bisa membawanya dari tempat itu” sahutnya.
“ Tuan ,kita sudah Sampai” ucap sang sopir sedikit gugup , saat mengingat kan tuan mudanya itu.
“ apa yang harus aku lakukan” tanya Vivi seketika , dia merasa gugup karena harus bertemu dengan seorang psikopat untuk pertama kalinya , semoga tidak ada yang kedua kali ,bisa bisa dia melahirkan sebelum waktunya jika itu terjadi.
“ Lakukan seperti yang aku katakan tadi , ok , gak usah gugup , anggap saja dia seperti manusia normal pada umumnya” ucap Dicky sambil menatap dan menggenggam tangan istrinya, “ tarik nafas tahan ” perintah nya pada sang istri, istrinya itu langsung mengikuti aba aba darinya “ lepas” imbuhnya .
__ADS_1
Vivi bernafas panjang terlebih dulu “ ok , aku sudah siap” ucapnya , sebelum mereka keluar dari mobil .
Beberapa pelayan sudah berada di depan villa untuk menyambut kedatangan sepasang suami-istri itu , mereka menundukkan kepala , ada seorang pria sekitar usia 45 tahun yang menyambut kedatangan mereka ,
“ selamat sore tuan muda dan nyonya muda , semua sudah menunggu kedatangannya kalian di dalam” ucap pria itu .
“ aku mengerti” sahut Dicky memberikan bingkisan yang sudah disiapkan pada pengurus rumah, dia dan istrinya berjalan bersama , tangannya memegang pinggang istrinya, , sedangkan tangan vivi membawa tas tangan.
“ Aku sedikit gugup” bisik Vivi , dia tersenyum ramah saat berpapasan dengan pelayanan di vila itu , mereka melakukan hal yang sama .
“ tak masalah aku bersama mu” sahut Dicky ,
__ADS_1