Menikah Dengan CEO

Menikah Dengan CEO
Episode 128


__ADS_3

Pagi yang kacau , “1sayang cepat bangun , nih udah jam 7 nanti telat ngantor nya” ucap Vivi sambil lbangunkan suaminya , yang masih berbaring di ranjang , sedangkan wanita berpakaian daster itu sibuk membuka jendela , dan merapikan pakaian yang akan di gunakan suaminya untuk ngantor.


“ Sini peluk duluk dulu” ucap Dicky yang masih berbaring tak mau beranjak dari atas ranjang.


“ Janji Lo bangun” sahut Vivi berjalan ke arah ranjang , bukannya memeluk suaminya wanita cantik itu justru mengecup kening pria itu “ sayang kamu demam kenapa gak bilang dari tadi ”ucap Vivi setelah bibirnya menyentuh kening suaminya “ aku mau panggil dokter dulu” imbuhnya namun saat dia mau beranjak dari ranjang suaminya malah memegang pergelangan tangan nya .


“ nanti saja , peluk aku” ucapnya lirih sambil menarik istrinya dalam pelukannya,  sudah beberapa hari ini Dicky kurang istirahat dan akhirnya tumbang .


Dicky masih berbaring di atas ranjang , seorang dokter perempuan berniat untuk mengukur suhu tubuhnya “ permisi tuan aku akan mengukur suhu tubuh anda” ucap dokter itu gugup , dia tahu sikap orang yang akan dia rawat itu , dia harus berhati-hati agar tak menyinggung nya kalau tidak karirnya akan hancur dalam hitungan detik


“ apa yang akan kau lakukan , keluar dari sini ” ucap Dicky pada dokter yang hendak menempelkan pengukur suhu pada dirinya.


Dia tak suka jika orang lain menyentuh tubuhnya , ataupun pengukur suhu tubuhnya seperti anak kecil saja.


Entah kapan Vivi sudah berada di dalam kamar , melihat tingkah suaminya yang kekanakan tanpa ba bi Bu dia langsung menaruh termometer yang ada di tangan dokter ke dalam mulut suaminya “ kau sudah bisa memeriksa suhu tubuh nya dok” ucapnya tanpa memperhatikan suaminya ,


“ Terima kasih atas bantuan nya nyonya” ucapnya , dia bersyukur karena Vivi datang tepat waktu jika tidak tamatlah nasibnya .


“ bagaimana jika dia menaruh racun di benda ini” ucap Dicky setelah beberapa detik dia mengambil termometer dari mulut nya dan melempar ke depan dokter , tepatnya benda itu jatuh di ranjang .


“ jangan berlebihan , mana ada orang yang akan melakukan hal bodoh seperti itu , kau pikir untuk mendapatkan lisensi kedokteran itu mudah , ” ucapnya dia tak menyangka suaminya itu kekanakan Kanakan sekali “  dia dokter keluarga yang baru,   tak perlu hiraukan dia , berapa suhu tubuhnya ” ucapnya pada dokter yang berdiri di sampingnya , Dicky menatap dokter itu dengan tatapan tak suka.


Dokter itu menelan ludah saat merasakan tatapan mata Dicky yang tajam itu “ 37.5 Drajat nyonya ucapnya gugup ,

__ADS_1


Vivi melirik tajam suaminya “ jika dokter tidak memeriksa suhu tubuh mu sudah dapat dipastikan nanti malam suku tubuh mu akan naik 40 Drajat” ucapnya sinis


“ baru juga 37.5 Drajat” Sahut Dicky


Apa-apaan pria itu bisa bisanya meremehkan hal seperti ini “ kau mau menunggu suhu tubuhmu naik 40 derajat trus koma ,  jika hal itu terjadi aku akan mencari ayah  baru untuk anak ku ” ucapnya sinis


“ kau menyumpahiku mati” sahutnya kesal , dicky menatap tajam dokter yang berada di samping istrinya , dia berfikir jika masalah ini terjadi karena kehadiran dokter itu.


Dokter itu tak menyangka akan melihat pemandangan seperti ini, Siapa yang tahu ada orang yang berani memprovokasi pria yang terkenal kejam itu.


“hal itu akan terjadi jika kau tak mau menurut , dokter bisakah kau  suntikkan obat penurun demam dan memasang infus pada pria keras kepala ini, dia tidak bisa merawat dirinya sendiri , dia sangat tergila-gila dengan pekerjaannya” ucapnya sambil menatap suaminya dengan tatapan mengancam agar pria keras kepala itu tak berulah .


Dicky diam seribu bahasa , namun tatapannya pada dokter itu sudah memperwakili apa yang akan dia ucapkan , awas saja jika dokter itu membuat kesalah pikir Dicky , sedangkan dokter itu dengan hati hati melakukan prosedur  penanganan pada pasiennya itu, sedang kan Vivi mengamati hal itu .


Dokter menyarankan Dicky untuk makan makanan yang lunak dan bergizi alhasil Vivi sendiri yang membuat bubur itu , walau sudah di larang oleh pengurus rumah , apa gunanya para chef yang bekerja di mansion itu jika hal sekecil ini majikannya yang mengerjakan nya . Mereka hanya berdiri tak jauh dari Vivi yang sedang memasak bubur , mereka akan membantu saat wanita bertubuh tinggi itu meminta bantuan , walau kemampuan masak Vivi tak bisa di banding kan dengan chef chef itu tapi dilihat dari cara masak wanita itu tak terlalu buruk untuk ukuran orang kaya yang seharusnya tak pernah memegang panci dapur, itu lah pandangan para chef saat melihat aksi masak nyonya muda mereka.


“ kurasa ini cukup enak untuk seorang pemula ( baru pertama membuat bubur)” ucap Vivi setelah mencicipi bubur ayam yang dia buat , setelah itu menuang bibir ke dalam mangkuk “ bantu aku membawanya ke dalam kamar” perintah nya pada salah satu pelayan yang ada di dapur , salah satu pelayan itu mengganguk dan mengerjakan apa yang diperintahkan oleh majikannya . Sedangkan Vivi  berjalan keluar dari dapur dan di ikuti oleh pelayan yang membawa nampan di belakangnya .


Bubur yang di buat Vivi sudah di taruh di meja samping ranjang , sedangkan Vivi sendiri sibuk membersihkan tubuhnya dikamar mandi , setelah selesai Vivi keluar dari kamar mandi dan sudah melihat suaminya membuka laptop nya di atas ranjang “ apa yang kau lakukan , aku sudah menghubungi Dimas, memberi tahu dia jika kamu sedang sakit” ucap Vivi sambil melangkah ke ranjang tempat suaminya duduk bersandar memegang laptop di tangannya .


Tanpa perlawanan Dicky menaruh laptop di tangannya itu ke samping “ Kenapa kau sangat galak , kau tahukan aku sedang sakit” ucapnya dengan nada lemah yang dibuat buat .


“ aku tertular galak dari mu” sahut Vivi kini sudah memegang nampan berisi bubur di tangannya.

__ADS_1


Dicky bernafas panjang , padahal hanya 1 kali dia membentak istrinya dan sampai saat ini masih di ungkit ungkit oleh istrinya itu “ bukannya aku marah hanya sekali kenapa kau selalu menuduhku galak” ucap Dicky


“ pegang nampan ini” ucap Vivi mendengar pernyataan suaminya , bisa bisanya pria itu hanya berpikir jika hanya marah satu kali “ kau makan sendiri aku akan menghubungi dokter , untuk memesan obat untuk memperkuat daya ingat seseorang” cibir Vivi


Dicky berfikir sejenak “ ok aku salah , aku lapar suapi aku” ucapnya dengan nada memelas .


“ Makan sendiri” sahutnya


“ Kau tega, aku kan sedang sakit” ucap Dicky , Bagaimana mungkin Vivi tega melihat suami tampannya itu kelaparan , dengan berat hati dia membuang egonya dan mengambil nampan yang ada di tangan suaminya “ Kau harus bersyukur mempunyai istri yang baik hati seperti ku” Ucap Vivi sambil menyuapi suaminya bubur buatannya , Dicky menelan bubur itu tanpa mengunyah Asin itulah yang dia rasakan , walau tidak terlalu asin   “ dan pandai memasak seperti aku” imbuhnya dengan nada sombong.


“ Apa kau yang membuat bubur ini” ucap Dicky sambil membuka mulutnya saat istrinya menyodorkan sendok padanya .


“ hemzz” sahut Vivi sambil mengangguk kecil “ enak bukan” imbuhnya


“ iya sangat enak” ucap Dicky dan lanjut menerima suap demi suap bubur buatan istri tercintanya.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2