
Beberapa hari kemudian.
Ruang inap rumah sakit
Alex berada di rumah sakit, karena luka tembak yang baru dia dapatkan kemarin, dia harus melakukan operasi kecil di bagian lengan tangan kanan nya.
Mendengar kabar jika alex mendapat musibah, Dicky segera menjenguk ke temannya itu.
“ bagaimana keadaan lengan mu” tanya Dicky, dia duduk di bangku yang terletak di samping ranjang rawat Alex,
Tangan kanan Alex di perban dan di bagian wajah terdapat luka gores “ setelah satu Minggu sudah bisa di gerakkan dengan normal” ucapnya, jika saja Cika tidak meminta nya untuk di rawat inap sudah dapat di pastikan jika dia akan keluar dari rumah sakit setelah selesai mendapat perawatan atau operasi, toh luka seperti ini hanya luka kecil baginya. “ kata dokter” imbuhnya dengan nada datar.
“ Apa kau sudah menemukan petunjuk tentang ******** yang telah melukai mu”
“ kau tahu dia buronan internasional, dia mempunyai banyak identitas palsu dan penyamaran sulit untuk di lacak, dia orang yang sangat berhati-hati dalam melakukan aksinya” ucap Alex kesal.
Di saat yang sama
Seorang pria berambut pirang menerima perawatan di apartemen milik nya, Dia menerima dua luka tembak di bahu dan betisnya.
“ Sial, aku tidak akan melepaskan mu begitu saja” desisnya kesal mengingat apa yang telah terjadi kemarin malam, dia hampir saja mati di tangan orang itu, Dia cukup beruntung karena luka tembak yang dia dapat tidak begitu parah, bodohnya kemarin dia tak mengenakan baju Anti peluru, karena terlalu meremehkan musuhnya “ apa kau sudah mendapatkan identitas orang itu” ucapnya pada seorang pria yang berdiri di depan pintu kamarnya.
“ kami tidak dapat menemukan identitas orang itu, besar kemungkinan dia salah satu pasukan elit yang ada di negara ini” ucap pria itu.
Pria berambut pirang itu berdecak kesal “ Apa kau pikir aku membayarmu dengan harga tinggi, hanya untuk mendengar kalimat seperti itu” sahutnya kesal, menatap tajam pria bodoh di hadapannya itu “ cari tahu secepat mungkin” imbuhnya.
“ Baik tuan saya mengerti” ucapnya , sambil memberi hormat sebelum keluar dari dalam kamar bos besar nya itu.
“ kenapa aku harus memiliki bawahan bodoh seperti dia” umpatnya kesal.
**
__ADS_1
Stella merasa resah , obat yang di berikan untuk bara hanya tinggal beberapa butir, dia harus keluar untuk menebus obat itu.
“ Ada apa dengan mu” sapa Vivi dia sudah bersiap untuk membawa makan siang untuk suami tercintanya,
“ aku harus keluar hari ini untuk membeli sesuatu” ucapnya ragu, dia takut jika dia bertemu dengan Bryan, lebih takut lagi jika putranya tiba-tiba drop.
“ Aku juga mau keluar, bagaimana kalau kita keluar bersama, toh sekarang bara sedang tidur siang, biar supir mengantarkan mu, setelah mengantar kan aku ke kantor” ucap Vivi
“ terima kasih, aku akan berganti pakaian dulu” sahutnya , secepat kilat dia berjalan ke kamar untuk berganti pakaian.
Di depan gedung perusahaan AH , Vivi baru saja keluar dari mobil yang mengantarkan nya, Stella pun ikut turun membantu wanita hamil membawakan kotak makanan Sampai depan pintu kantor perusahaan itu.
“ wah aku tidak menyangka kita akan bertemu secepat ini” sapa seorang pria dari dalam kantor perusahaan AH.
Kedua wanita itu terkejut saat mendengar suara orang yang sedang menyapa mereka , Stella menelan ludah, dia tak berani menatap ke arah pria gila itu, sedangkan Vivi segera menyapa balik pria yang tak lain adalah kakak iparnya itu “ kakak ipar ada di sini, bagaimana kalau kita makan siang bersama dulu” ajak Vivi , walau pun dia sedikit takut tapi dia harus pintar-pintar untuk menyembunyikan perasaannya itu.
“ ku rasa lain kali aku bisa melakukan itu, masih banyak pekerjaan yang harus ku tangani” ucap Bryan dengan nada berteman. Dia menatap seorang wanita yang berdiri di samping adik ipar nya itu.
“ Kalau begitu saya pergi dulu” pamit Stella gugup, dia ingin segera pergi dari tempat ini secepat mungkin.
Bryan sedikit familiar dengan suara wanita itu “ tunggu , angkat wajahmu” ucap Bryan berjalan ke arah Stella.
Vivi menelan ludah ketakutan , begitu pun dengan Stella.
Deg deg , saat ini jantung Stella mau copot, saat melihat Bryan berdiri di depan nya
“ apa kau tidak dengar” ucap Bryan, dia mengangkat dagu Stella, menatap wajah wanita yang ada di hadapannya , harapannya bertemu dengan wanita itu berakhir kecewa, wanita yang ada di depannya itu bukanlah Stella wanita cantik miliknya, sedangkan yang dia dapat wanita dengan bekas luka di wajah, dan warna kulit gelap , Dengan segera di menyingkirkan tangannya dari dagu wanita itu “ maaf , ku rasa aku terlalu banyak pikiran” ucapnya
Vivi bernafas lega , untung nya stella mempunyai keahlian dalam make up karakter , jangan kan Bryan, seandai tadi dia tak menemani Stella mengenakan make up , sudah pasti dia tak akan mengenali wanita itu.
“ tidak masalah tuan” sahut Stella ramah, kemudian menundukkan wajahnya.
__ADS_1
“ ya sudah kalau begitu adik ipar, kalau ada waktu luang aku akan memenuhi undangan mu” pamit Bryan, dia segera melangkah pergi meninggalkan kedua wanita itu.
Stella bernafas lega akhirnya pria itu sudah pergi dengan mobil nya dari perusahaan AH , setelah melihat mobil Bryan keluar dari gerbang besar perusahaan, Stella segera bergegas untuk melanjutkan perjalanan.
__ADS_1