
Setelah pulang dari belanja Vivi kepikiran dengan jenis kelamin bayi yang ada di dalam perut nya , dia ingin segera melakukan USG , apalagi setelah pertemuannya dengan bara bocah laki-laki yang sangat imut itu , buat nya tak sabar ingin segera melakukan USG “ kalau jodoh gak bakal ketemu ” ucap Vivi entah kenapa dia ingin bertemu dengan bara , seolah ada hal yang membuat nya tertarik pada bocah itu , dia tak perduli siapa ibu anak kecil itu yang terpenting kan suaminya tak bertemu dengan stela , jika dia bertemu dengan wanita itu ataupun bara tidak masalah lagi pula seperti nya stela tidak tahu jika dia istri mantan kekasih nya “ apa salahnya menambah saudara , toh seperti nya dia wanita yang baik” ucapnya meyakinkan dirinya sendiri .
Saat di Korsel dia juga mengambil mata kuliah psikologi , walau tidak begitu mendalami tapi dia bisa membaca mimik wajah seseorang dan cara bicara orang itu , hal itu menguntungkan nya saat berada di industri hiburan , dia bisa melihat siapa kawan atau pun lawan dalam waktu singkat.
“ Siapa yang kau bicarakan” ucap Dicky yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat istrinya menatap ke jendela luar sambil menyisir rambutnya.
“ seseorang” Sahut nya “ sini biar aku yang mengering kan rambut mu” ucapnya menawarkan diri, tanpa penolakan Dicky duduk di kursi yang ada di dekat jendela , membiarkan istrinya mengeringkan rambutnya yang basah ,
“ au apa yang kau lakukan” ucap Dicky sambil memegang kepalanya , bisa-bisa istrinya itu mencabut rambut nya tanpa izin .
“ Ada uban” sahut Vivi tanpa rasa bersalah , kemudian berlanjut mengerikan rambut suaminya
“ kau bercanda bahkan lampu ruangan saja belum dinyalakan kau bisa melihat uban” sahut Dicky kemudian menarik istrinya ke dalam pangkuannya “ kadang aku penasaran dengan apa yang sedang kau pikirkan dengan Otak kecil mu ini” ucap Dicky saat mereka saling melihat satu sama lain , tangannya sambil menyentuh kening istrinya.
Vivi menautkan kedua alisnya mendengar pertanyaan suaminya yang meragukan kepintarannya itu “ kau mengejekku” ucapnya tak terima.
“ Tidak , bukannya kebanyakan wanita cantik itu tidak terlalu pintar , tapi kenapa kau berbeda” ucapnya sambil mencubit hidung wanita Yang sedang memanyunkan bibirnya seperti ikan ikan koi “ aku tidak ingin kau berpikir yang tidak-tidak , aku ingin kau fokus pada bayi yang ada di dalam perut mu saja”
__ADS_1
“ maksud mu bodoh , tidak semua wanita itu bodoh dan hanya memikirkan uang shopping atau liburan saja , contoh nya aku” sahut Vivi bangga
“ Iya iya kau adalah contoh nyata” puji Dicky , sambil mengelus perut istrinya yang mulai membesar “ aku harap anak kita memiliki kepribadian yang baik , pintar , nakal juga boleh dari pada pendiam , punya banyak teman tapi harus setia pada pasangannya” ucap Dicky
“ masih kurang , selalu menjadi yang terbaik dalam pekerjaan , tidak melakukan hal hal yang bertentangan dengan hukum , memiliki kehidupan yang normal , bisa main sana sini tanpa ada batasan , akan belajar jika memang sudah waktunya untuk belajar agar bisa menikmati masa kecilnya , tidak terlalu gila kerja agar bisa menikmati kehidupan”
“ Itu terdengar bagus , yang penting sehat” imbuh dicky , raut wajah Diki berubah mengingat beberapa jam yang lalu sila menelponnya , memintanya untuk makan malam bersama di villa Herlambang , Dicky tau persis apa maksud ibunya meminta dirinya untuk makan malam bersama membawa wanita yang sedang berada di pangkuannya , menatap dirinya penuh tanda tanya saat saut wajahnya berubah
“ ada apa” tanya Vivi salah tangannya memegang tengkuk suaminya , menatap nya penuh tanya .
Dicky sebenarnya enggan membawa istrinya menghadiri makan malam keluarga , tapi apa boleh buat dari pada wanita cantik ini berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya tepatnya curiga , lebih baik dia menjelaskan semua nya “ Besok malam kami meminta kita untuk makan malam di villa”
“ Aku mempunyai kakak tiri , besok malam dia akan hadir juga dalam acara makan malam itu” ucapnya sambil menatap intens wajah istrinya, Vivi membuka mulutnya tak percaya kemudian segera mengatur kembali saat jari telunjuk dicky menyentuh bibir tipis itu “ cerita ini sangat rumit , bukan cerita nya yang rumit tapi keluarga ku yang rumit, langsung keintinya saja , namanya Bryan usianya 3 tahun lebih tua dariku , jika di lihat kasat mata dia terlihat normal seperti orang bisa” Dicky menyibak handuk kimono yang dia kenakan memperlihatkan bekas luka yang ada di dadanya yang tidak begitu jelas karena dia melakukan beberapa operasi untuk menghilangkan bekas tembakan yang buat oleh kakak tirinya itu , namun masih bisa terlihat walau tidak begitu jelas “ Ini salah satu yang dia lakukan padaku beberapa tahun lalu” Vivi merambah bekas luka pada dada suaminya itu ada perasaan sedih yang tak bisa di ungkapkan , dia memilih diam mendengarkan cerita suaminya menatap pria itu dengan intens “ tak perlu sedih aku baik baik saja sekarang” ucap Dicky menenangkan istrinya , sambil mengecup kening wanita cantik itu “ dia seorang psikopat ,
“ what? Psikopat” ucap Vivi dia mengidik ngeri mendengar jika kakak ipar nya seorang psikopat ,
“ besok kau bisa tidak menghadiri acara makan malam itu , jika kau tak mau bertemu dengan psikopat gila itu , sekalipun kau ikut aku tak akan membiarkan dia menyakitimu dan anak kita , semua terserah pada mu”
__ADS_1
Bisa-bisanya terperangkap di dua pilihan yang sulit , jika tak mendatangi acara makan malam sama saja menyinggung perasaan psikopat gila , jika datang dia akan bertemu dengan psikopat yang sewaktu waktu akan menggila ' oh tuhan tolong aku' pikir Vivi “ pilihan yang sulit” ucapnya ,Dicky tersenyum melihat raut wajah istrinya “ kenapa kau malah tersenyum” tegur Vivi .
“ Sudah ku bilang aku akan melindungi mu , dia tak akan mengila begitu saja, apalagi didepan kami dan papa” ,imbuh dicky sambil mencium gemas istrinya.
“ Kenapa kau biasa saja, kau tahu kan yang akan kita temui itu psikopat” ucap Vivi
Biasa saja apanya , Dicky sudah menyiapkan rencana yang akan membuat pria gila itu tak menyentuh istrinya, toh sekarang dia sudah tahu titik lemah pria gila itu “ dia tak akan menyakiti mu ” ucapnya
“ apa kau bisa menjamin itu , bahkan kau adiknya tapi dia tega menembakmu , apalagi aku hanya serpihan biskuit di matanya” sahut Vivi sambil menekuk wajahnya.
Dicky terbahak mendengar pernyataan istrinya, sambil mencubit pipi istrinya ,
__ADS_1