Menikah Dengan CEO

Menikah Dengan CEO
Episode 132


__ADS_3

Semua anggota keluarga ada di ruang keluarga , mereka berbincang seperti keluarga pada umumnya , membahas hal hal kecil yang tak berurusan dengan bisnis , seakan Tak pernah terjadi apa apa selama ini , canda tawa terdengar di ruangan itu , semua terdiam saat sepasang suami istri itu datang.


Sila segera menyambut anak dan menantu , dia berjalan ke arah kedua pasangan itu “ akhirnya kalian datang” ucapnya sambil memeluk menantu kesayangan nya .


Sedangkan kan Bryan masih tetap pada posisinya membelakangi kedua pasangan itu .


Dicky memasang wajah datar sepertinya gunung es yang tak kan mencair sama sekali , saat melihat punggung Bryan dari kejauhan .


“ ku rasa kami membuat kalian menunggu terlalu lama , aku minta maaf untuk hal itu” ucap Vivi dengan wajah bersalah.


“ apa yang kau katakan , tidak ada kata terlambat untuk pulang ke rumah sendiri” sahut sila “ bagaimana keadaan cucu mama saat ini , apa dia selalu membuat mu kerepotan” ucapnya saat melihat perut menantunya yang mulai membesar.


“ Anakku tidak pernah membuat ulah” sahut Dicky , yang langsung mendapat sikutan dari istrinya.


“Apa yang sedang kalian lakukan cepat kesini jangan buat cucu menantu kelelahan” ucap Herlambang pada ibu dan anak yang akan beradu argumen itu,


mendengar ucapan Herlambang mereka bertiga berjalan ke sofa tempat pria paruh baya itu duduk bersama Bryan  dan Bagas ,


Dicky menggandeng istrinya seakan tak ingin melepaskan wanita itu, sila merasa geli dengan sikap putranya .


Bryan berdiri untuk menyapa adik dan iparnya ,


sedangkan Vivi menatap tak percaya orang yang ada di hadapan “ Sayang apa yang kau katakan sebelumnya hanya gurawan kan” bisik-bisik pelan pada suaminya, Bagaimana mungkin pria berwajah tampan terlihat ramah di hadapannya ini mempunyai sikap seperti yang suaminya ceritakan .


“jangan tertipu dengan wajahnya yang tampan seperti malaikat sedangkan sikapnya seperti iblis” balas nya dengan nada rendah , dia sudah mengira jika istrinya itu akan mengucapkan kalimat itu ,  saat melihat wajah Bryan yang tampan , bagi orang yang pertama kali melihat pun akan berpikir hal yang sama , jika pria itu pria dengan kepribadian yang baik.


Vivi sejenak berpikir seperti nya pernah bertemu dengan kakak iparnya itu tapi entah di mana.

__ADS_1


“ sudah lama tak bertemu , aku pikir kau sudah mati” ucap Dicky saat bersalaman dengan Bryan , seulas senyum tipis terukir dibibir nya.


Vivi menatap tak percaya pada suaminya bisa bisanya suaminya itu berucap hal seperti itu pada seorang psikopat , bukankah itu sama dengan mengundang maut.


Bryan tertawa mendengar kalimat sapaan yang di ucapkan adiknya “ Kau jangan berbicara seperti itu di hadapan adik ipar , bagaimana jika dia salah paham dengan ucapan mu” ucapnya , sambil menatap Vivi , raut wajah nya berubah saat melihat Vivi sesaat setelah itu kembali menunjukkan senyum ramah, bukankah dia wanita yang membantunya tempo hari , walau cara berpakaiannya jauh beda saat mereka pertama bertemu tapi dia bisa mengenalinya .


“ dia istri ku Sofiana ” ucapnya sambil memeluk pinggang istrinya saat memperkenalkan pada kakak tirinya “  dan dia Bryan ” ucap Dicky memperkenalkan mereka secara singkat .


“ boleh aku panggil via” ucap Bryan sengaja melakukan itu , dia ingin tahu reaksi adik ipar nya itu


Vivi menelan ludah dia baru ingat jika pria yang di hadapannya itu adalah pria yang dia bantu kemarin “ sayang dia blucery yang aku bantu kemarin” ucapnya pada sang suami


“What? Bukannya kau bilang jika namanya Yanto ” sahut Dicky tak percaya ,


“ Aku hanya mengingat nama yan , jadi sekalian aja aku sebut Yanto” sahutnya tanpa rasa bersalah pada orang yang sedang memperhatikan mereka berdua “ siapa yang tahu jika dia bule beneran bukan blucery” imbuhnya


“ iya asal kau suka” ucapnya merasa sedikit kikuk , dia berniat menyalami kakak iparnya , namun tangannya di pengang oleh suaminya itu , alhasil Dicky yang menjabat tangan Bryan “ dia istriku , ku harap kau tidak macam macam” ucapnya singkat.


Bryan tersenyum tipis saat mendengar kalimat itu , dia tahu jika adiknya itu masih membencinya, bukan masih lagi, melainkan sangat membencinya, orang waras mana pun akan melakukan hal yang sama pada orang yang pernah menyakiti nya.


“ Vivi cepat duduk sini jangan hiraukan mereka” ucap Bagas , yang melihat tingkah kedua putranya yang kekanakan Kanakan , dia tak tega melihat menantunya yang sedang hamil harus menemani kedua kakak beradik itu .


Vivi merasa terselamatkan oleh ayah mertua nya , dia segera bergegas menuju Herlambang dan Bagas untuk menyalami kedua pria itu.


Sedangkan Dicky mengekori dari belakang , Bryan kembali duduk di tempat semula.


Sila bernafas lega setelah kedua bocah itu duduk tenang tanpa berulah .

__ADS_1


Sila menanyakan kepada menantu nya kapan dia bertemu dengan kakak iparnya , Vivi menceritakan apa yang terjadi waktu itu dengan detail pada mereka.


Dicky tertawa mengejek Bryan , bisa bisa nya pria itu miskin , tak membawa uang sepeser pun.


“ bukannya karena hal itu aku bisa bertemu dengan adik ipar , mungkin ini yang di namakan takdir” sahut Bryan , sambil tersenyum licik .


Herlambang benar benar tak habis pikir dengan kelakuan cucunya itu , tidak ada kedamaian saat mereka duduk dalam satu ruangan “ aku harap kalian berdua bersikap baik , jangan membuat ulah” ucap Herlambang pada kedua cucunya “ usia ku sudah semakin tua , jangan membuat ku khawatir setiap saat karena ulah kalian , kalian sudah bukan bocah berusia 10 dan 8 tahun lagi ” imbuhnya , sebagai orang yang sudah tua dia hanya berharap jika kedua cucunya bisa akur , dan saling memaafkan untuk hal yang pernah terjadi “ jadilah contoh untuk anak anak kalian ke depan nya” imbuhnya sadar.


Dicky menatap dengan penuh pertanyaan pada pria paruh baya itu , dia berpikir apa mungkin jika pria paruh baya itu melakukan sesuatu tanpa sepengetahuannya , Begitu pun dengan Bryan.


“ Biarkan saja mereka mau berbuat apa , toh mereka sudah pada tua , bisa melihat mana yang baik dan mana yang buruk , aku sudah lelah dengan tingkah mereka” sahut Bagas acuh . Selama ini dia selalu berusaha menutupi kejahatan Bryan di depan publik , begitu pun dengan anak bungsunya, tanpa sepengetahuan  kedua anaknya itu , tujuan mereka sama untuk melindungi keluarga ini namun caranya yang berbeda , banyak orang  yang merasa iri dengan kejayaan keluarga nya dan ingin menghancurkan itu, selama beberapa tahun ini mereka berhasil membuat perselisihan di antara kedua anaknya , terlebih anak bungsunya yang menjadi korban perselisihan itu , apalagi saat Bryan merebut kekasih adiknya  , hal itu membuat Dicky membenci kakak tirinya,  selama ini Bagas membiarkan hal itu terjadi sekalian untuk mengasah kemampuan kedua anak nya , tapi kini dia sudah merasa jika semakin hari kelakuan mereka semakin menggila .


Apa apaan coba , siapa yang berulah siapa yang disalahkan “ katakan itu pada anak mu yang gila itu” sahutnya acuh, Dicky merasa jika semua hal ini terjadi karena Bryan, pria gila yang suka merusak merebut apa yang dia punya.


Bryan berdecik bisa bisanya dia yang di pojokkan , walau sebenarnya dia juga sadar jika hampir semua ini terjadi karena kelakuannya .


“ aku sudah mulai lapar bagaimana kalau kita makan dulu” ucap Vivi sambil memegang perutnya , dia sengaja mencair kan suasana yang mencekam itu,


“ kau benar aku meminta kalian kesini untuk makan malam , bukannya untuk saling menyalahkan satu sama lain” sahut sila , dia bersyukur karena menantunya itu bisa mengalihkan topik pembicaraan para laki laki di keluarga itu ,


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2