
Warning
Dilarang mengedarkan novel ini tanpa ijin penulis dalam bentuk apa pun maupun audio , budidayakan menghargai karya orang lain , biasakan jangan membuat kesimpulan sendiri , sebelum membaca eps yang selanjutnya.
Terima kasih
Stela menelan ludah mendengar ucapan wanita berseragam putih itu , bukan nya dia tak mau menghubungi ayah biologis putra nya itu , namun dia tidak punya pilihan lagi. Susah payah dia berhasil keluar dari tempat itu , jika dia sampai melakukan itu sama saja dia melemparkan anaknya ke dalam kandang singa , lebih baik dia bersabar untuk merawat putri kecilnya itu ,
Sekilas stela mengingat wajah pria yang menyiksanya , memperlakukan dia seperti seorang ******* , dia beruntung masih ada orang yang mau menolongnya , orang itu mengubah semua identitas stela , andai saja tak ada orang yang menolongnya sudah dapat dipastikan saat pria berwajah blasteran itu mengetahui dirinya hamil pasti dirinya akan dikubur hidup-hidup oleh pria jahanam , tak berperasaan , tak mempunyai belas kasih sedikit pun itu.
Seharian jadwal Dicky sangat sibuk harus mengurus dokumen yang menumpuk di atas meja kerja nya , dan harus menghadiri rapat. Bahkan dia tidak sempat untuk membalas chat dari istrinya , Dicky menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi ,
Dia menyalakan smartphone nya melihat pesan yang dikirim oleh istrinya “ beberapa hari ini aku mengabaikan nya” ucapnya setelah membaca pesan singkat itu.
Dicky memencet tombol telepon yang langsung terhubung dengan Dimas “ suruh seseorang untuk membeli bunga mawar” ucap Dicky setelah tersambung dengan Dimas , kemudian dia mengakhiri panggilan itu.
Dimas baru saja mau berucap , tapi Dicky sudah mengakhiri panggilan teleponnya “ dasar semahal itu lah waktu nya Samapi sampai tak mau mendengarkan pertanyaan yang akan dia sampaikan” cibir Dimas , kemudian segera menyuruh seseorang untuk membeli pesanan bos nya itu.
Di tempat perbelanjaan terbesar di ibukota , Vivi sudah memesan ruang VIP untuk dirinya , dia baru saja melangkah masuk ke ruangan yang dipenuhi dengan berbagai macam merek terkenal dunia mulai dari tas sepatu jam tangan perhiasan baju dan aksesoris lainnya tertata dengan rapi pada tempatnya.
Beberapa pramuniaga dan manager menyapa Vivi dengan ramah . Mereka menanyakan apa yang dibutuhkan oleh wanita cantik itu yang mempunyai postur tubuh tinggi walau tanpa mengenakan high heel , mereka cukup berhati-hati untuk melayani kebutuhan Vivi mereka tahu siapa tamu yang mereka layani saat ini .
__ADS_1
Vivi ke tempat itu tak sendiri dia di temani ria , asistennya yang baru ria bertugas untuk menemani dan menyiapkan kebutuhannya , sedang kan Yun jha mengurus usahanya.
Vivi sudah membeli barang yang dia inginkan “ kalian antarkan ke alamat ini” ucap Vivi pada manager tempat itu yang menemaninya keluar dari ruangan VIP itu ,
Manager itu merasa terhormat bisa melayani wanita cantik itu , bagaimana tidak karena wanita berparas cantik itu membeli beberapa tas branded dunia yang terbaru dan barang lainnya v dan tak hanya itu karena sikap Vivi yang tak sombong seperti kebanyakan orang kaya lainnya , yang akan memperlakukan para manajer dan pramuniaga sesuka hati “ tenang saja nyonya , kami akan mengantar barang anda selamat sampai tujuan” ucap manager wanita itu ramah “ aku harap anda tidak bosan datang ke tempat ini” imbuhnya.
Vivi hanya tersenyum menanggapi manager itu “ terima kasih atas kerja keras nya hari ini( karena sudah melayani dengan baik) sampai jumpa” ucap Vivi kemudian melangkah kan kaki nya pergi dari tempat itu. Vivi melihat layar ponselnya yang tidak ada satu pun pesan masuk , Vivi makin dibuat kesal oleh sikap suaminya.
“ Zhu Anna kau disini” ucap seorang pria berambut pirang penampilannya santai , pria itu hanya mengenakan sepatu sport putih , celana panjang hitam yang dilengkapi beberapa kantong , dan kaos putih , wajah nya tertutup dengan masker .
Vivi merasa tak asing dengan suara orang yg baru saja menyapanya itu “ siapa?”
Pria itu langsung membuka masker yang menutupi wajah tampannya “ ini aku” ucapnya sambil tersenyum lebar , sedang kan jari telunjuknya mengarah ke wajah tampan itu.
Vivi benar benar tak menyangka akan bertemu dengan sosok pria tampan itu di sini “ Samuel” ucap Vivi sengaja memanggil nama latin pria itu , agar tidak ada fans yang mengenali pria itu “ ada acara apa kau datang kesini”
“ Boleh” ucap Vivi , dia menoleh ke belakang menatap ria “ ria kau boleh pulang dulu aku masih ada urusan” ucap Vivi pada asistennya itu .
Tanpa sangahan ria mengiyakan ucapan nyonya nya itu “ baik nyonya” ucap ria sambil mengangguk kemudian bergegas pergi.
Keduanya berjalan ke salah satu kedai kopi yang ada di pusat perbelanjaan itu, “ kau mau pesan apa?” tanya Samuel setelah mereka memasuki kedai tersebut , kedai kopi bernuansa klasik , tempat itu tak terlalu ramai.
“ Seperti biasa , aku akan mencari barang empat duduk dulu” sahut Vivi
“ ok” sahut Samuel , kemudian mereka berjalan ke arah tujuan mereka. Setelah duduk di meja nomor 9 Vivi , mengirim pesan ke ria jika malam ini dia tidak akan makan di rumah , dia menyuruh untuk sampai kan ke juru masak agar mereka tak membuat makanan untuk dirinya , dia berpikir untuk menghabiskan waktu di luar sekaligus mencari suasana baru, dia sengaja tak mengirim pesan ke suaminya toh suaminya itu tak ada waktu untuk membalas pesan yang dia kirim.
__ADS_1
“ maaf menunggu lama” ucap Samuel sambil membawa nampan berisi 2 gelas kopi dan piring berisi makanan ringan.
“ Is ok Samuel” jawab Vivi , mereka menghabiskan waktu berbincang berbagai hal , mualai dari pekerjaan dan cerita kehidupan mereka setelah hampir satu tahun tak bertemu
“ Aku tak menyangka kau menikah di usia muda , tapi ku rasa kau tak rugi mendapatkan suami seperti dia” ucap Samuel , ada rasa sedikit kecewa saat pria itu mendengar cerita kehidupan Vivi , ya selama mereka di Korsel mereka cukup dekat saatu sama lain , sedikit banyak tentunya Samuel mempunyai perasaan pada wanita cantik yang saat ini sudah berbadan dua itu .
“ emangnya pernikahan itu perdagangan sampai sampai harus di hitung untung ruginya” sahut Vivi sambil meminum segelas kopi creamy late miliknya
“ Realistis ok”
“ kau tak mempermasalahkan jika wanita menikahimu karena uang yang kau miliki” ucap Vivi
“ no problem , memangnya jaman sekarang ada wanita yang mau hidup seng sara , untuk seorang pria bukannya kita harus bisa memberi kan kebutuhan mereka asal itu masih di bawa batas wajar keperluan manusia pada umumnya” sahut Samuelzn santai “ lagi pula uangku tak akan habis” imbuhnya dengan nada sombong.
Vivi berdecik mendengar jawan pria tampan bermata sedikit sipit itu “ iyaa , secara kau anak pemilik gedung” ejek Vivi
“ kau , sudah lama tak bertemu kau masih saja seperti itu” ucapnya kesal “ bagaimana kalau malam ini kita makan di luar dan kau yang mentraktir aku ingin tahu seperti apa rasanya uang dari sseeorang terkaya di Asia” ucapnya santai .
, Terimakasih sudah membaca hasil coretan saya yang banyak salahnya , semoga kakak kakak terhibur dengan karya saya , dan gak ada bosennya untuk baca ,
__ADS_1