
Pagi pagi Dicky sudah berdiri di depan apartemen Bryan, memencet beberapa kali bel apartemen, hampir 10 menit dia berdiri di depan pintu, karena yang punya tak kunjung keluar.
Bryan menguap beberapa kali , pasalnya dia baru tidur dua jam yang lalu “ siapa orang gila yang tidak tahu aturan” gerutunya berjalan sedikit terhuyung untuk membuka pintu apartemennya.
“ apa yang kau lakukan sepagi ini di depan rumah orang” ucap Bryan sambil menyandarkan tubuhnya di tengah pintu. Ngantuk, tentunya karena sudah beberapa hari dia tidak tidur dengan teratur, jika ada orang yang berniat membunuhnya saat ini, kemungkinan besar impiannya akan terwujud.
“ bahkan monyet sudah bangun dari tadi” sapa Dicky saat melihat penampilan konyol Bryan, tanpa pikir panjang dia menerobos masuk ke dal apartemen Bryan.
“ dan kau monyet nya”’sahut Bryan , dia baru sadar jika orang gila yang mengganggu tidurnya adalah adik nya.
Penjaga an di apartemen ini di lakukan dengan ketat, satu gedung apartemen ini adalah milik nya, mulai dari penjaga pintu, tukang sampah , security semua adalah orang yang bekerja padanya.
Dicky berdecik mendengar ucapan kakak itu “ bisa bisanya orang ceroboh seperti mu bisa hidup sampai saat ini” ucapnya, setelah menemukan sofa dia tanpa pikir panjang duduk di sofa itu, seolah itu rumahnya sendiri.
“ Keberuntungan selalu berpihak pada ku” sahutnya, kemudian duduk berhadapan dengan Dicky “ bukan kah kata kata itu seharusnya ku ucapkan padamu , yang datang ke kandang singa tanpa penjagaan” imbuhnya.
Dicky tersenyum tipi mendengar ucapan Bryan “ aku tak sebodoh itu” sahutnya, tak jauh dari gedung itu, Dicky sudah menyuruh bawahannya berjaga, tepatnya mengintai dari gedung apartemen yang berada tak jauh dari tempat Bryan, seorang sniper sudah siap di sana, yang akan bergerak cepat saat menerima perintah dari dirinya.
__ADS_1
“ terserah kau” sahut bryan, dia melihat keluar jendela, dengan jelas melihat keberadaan bawahan adiknya itu berada di gedung apartemen sebelah yang siap membidiknya dari jauhan “ apa yang membuat mu datang kesini pagi pagi” ucapnya.
“ Ada yang perlu kau jelaskan” ucap Dicky , menatap lekat Bryan yang duduk santai di hadapannya “ mengenai masalah beberapa tahun lalu” ucapnya dengan nada rendah.
Bryan tersenyum tipis mendengar kalimat itu keluar dari mulur adiknya karena selama beberapa tahun terakhir dia berusaha untuk menjelaskan tapi sibodoh yang ada di hadapannya itu selalu menolak untuk berbicara dengannya, dia cukup sadar diri jika semua terjadi karena dari awal dia menutupi semua yang terjadi dari adiknya, karena tak ingin memberikan beban yang berlebihan padanya.
Bryan bernafas lega karena mempunyai kesempatan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada beberapa tahun itu, hari ini dia akan menjelaskan semua yang telah terjadi, tanpa pengecualian dia sudah merasa leleh harus merahasiakan segalanya dari adiknya, dia ingin hidup dengan tenang.
Siang hari setelah membeli beberapa Barang Samuel mengajak Vivi ke tempat makan yang ada di mall , terdengar suara ledakan, hal itu membuat orang orang panik untuk segera menyelamatkan diri mereka, asap hitam mengelilingi tempat itu , kaca kaca pecah sedemikian rupa,
Dengan langkah kilat Samuel memeluk tubuh Vivi yang terkejut karena ledakan tersebut, Menutupi tubuh wanita hamil itu dengan jas miliknya.
“ apa yang sebenarnya terjadi” ucap Vivi menatap sekeliling yang sudah berserakan, wajah yang mulus tergores serpihan kaca membuat darah segar mengalir begitu saja. Wajahnya sok seketika.
__ADS_1
“ tidak apa apa aku akan melindungi mu” ucapnya sambil menenangkan wanita itu, dari jauhan Samuel melihat seseorang melambaikan tangan padanya, Vivi mengangguk paham, seulas senyum licik tersungging di bibir Samuel tanpa sepengetahuan Vivi, Samuel mengajak Vivi keluar melalui tangga darurat, mereka menaiki anak tangga .
Ledakan di mall itu langsung menjadi berita utama , hampir semua stasiun tv menayangkan kejadian itu, sementara pihak keamanan memperkirakan jika ini adalah bom bunuh diri, untuk memastikan hal tersebut mereka masih menindak lanjuti kejadian itu, tidak ada korban jiwa yang di temukan sampai saat ini, para korban hanya mengalami luka ringan.
Di waktu yang bersamaan Dicky baru saja mendapatkan identitas asli Samuel, dia melihat berita tentang ledakan yang terjadi di mall, matanya terbelalak saat mengetahui nama dan tempat mall tersebut sama dengan mall yang di kunjungi oleh istrinya.
“ Sial” umpat membuat Ryan ,Bryan ,dan Dimas serempak menoleh ke arah nya, “ cepat hubungi ria saat ini juga dan beberapa orang yang selalu mengikuti Vivi” ucapnya dengan nada tinggi, Dimas langsung melakukan yang dia suruh, sedangkan dia sendiri langsung menghubungi istrinya, Namun tak dapat respon.
Tanpa di suruh Ryan langsung menyuruh bawahannya yang tadi mencari informasi tentang Samuel untuk segera merestat kamera yang ada di dalam mall,
__ADS_1